
(POV Ayu)
Aqila masih saja diam setelah lima menit Dokter muda itu bertanya padanya. Sepertinya Aqila mencoba dengan keras untuk mengingat atau mungkin lidahnya yang kelu tak mampu lagi untuk mengungkapkan bagaimana awal mula retak rumah tangganya dengan bajingan itu.
Aku menatap cemas dari kursi sofa yang kududuki sejak tadi. Sementara Aqila sudah bersandar di sebuah kursi khusus untuk konseling dan terapi kejiwaan yang berada tepat di depan Dokter Yusuf duduk.
Ya, Dokter Yusuf adalah Dokter yang akan membantu Aqila keluar dari rasa trauma dan depresinya. Aku berharap Dokter Yusuf bisa meyakinkan dan membuat Aqila merasa nyaman selama masa konseling ini. Dokter muda kerurunan arab itu terlihat sabar menunggu cerita yang belum juga keluar dari mulut Aqila.
"Bagaimana, Bu Aqila? Jika Anda memang merasa tidak nyaman dan belum siap menceritakan semuanya, nggak masalah kok. Santai aja. Kita di sini tidak ada pemaksaan dan penekanan. Jadi, Anda bisa berbicara senyaman dan serileks Anda saja." ucap Dokter Yusuf dan mengatur jarak duduknya dan sedikit menjauh dari kursi terapi Aqila.
"Ta-tapi... Aku bingung, mau mulai cerita ini dari mana. Semuanya begitu menyakitkan. Aku merasa seolah semuanya baru saja terjadi kemarin sore," jawab Aqila yang mendadak buka suara, setelah hampir 10 menit bungkam.
"Ceritakan semuanya padaku. Kita adalah teman dan antara teman harus saling berbagi suka dan duka, bukan?" Dokter Yusuf kembali membujuk Aqila dengan pendekatan yang biasa digunakan oleh para psikiater atau psikolog dalam membujuk pasiennya agar mau menceritakan masalah yang membuatnya depresi atau trauma.
Akhirnya, perlahan tapi pasti Aqila mulai bercerita pada Dokter Yusuf. Dengan tingkat kesulitan yang sulit kupahami, tampak Dokter Yusuf mendengarkan cerita Aqila sambil mencatat poin-poin penting yang dikatakan Aqila. Lalu sesekali mengangguk dan menimpali cerita Aqila agar Aqila merasa didengar dan didukung dalam kisahnya.
Aku hanya diam dan juga fokus memyaksikan interaksi keduanya. Sepertinya Aqila lebih nyaman dan enjoy saat berbicara pada Dokter Yusuf. Aku bisa melihat hal itu dengan jelas. Tentu saja karena aku adalah sahabat Aqila sejak dulu. Aku tau bagaimana sahabatku itu bersikap pada orang lain. Apalagi pada orang yang baru saja ia kenal.
Biasanya Aqila tak akan mudah akrab seperti itu. Terlebih usia pertemuan mereka belum 2 jam berlalu. Aku rasa, Dokter Yusuf bisa menguasai emosi dalam diri Aqila agar menjadi nyaman saat bercerita padanya.
"Cukup! Mungkin hari ini ceritanya sampai di situ ya, Qil. Eh, tidak apa-apakan aku panggil nama aja? Meski sebenarnya usiaku 2 tahun lebih muda dari kamu. Ini supaya kita bisa lebih akrab dan kamu bisa lebih nyaman bercerita padaku," Dokter Yusuf berkata pada Aqila sambil berdiri dan meletakkan buka catatannya di atas meja kerjanya.
"Iya. Nggak masalah, dan aku memang lebih suka seperti ini. Aku tidak suka dipanggil Ibu sebenarnya. Kelihatan tua dan aku memang belum Ibu-Ibu sih, kan belum punya anak!" jawab Aqila cepat.
Aku mulai berdiri dan menghampiri Dokter Yusuf. Aku memang sudah mengenal Dokter Yusuf sejak lama. Aku pernah mendampingi beberapa orang yang menjadi klien ku untuk berkonsultasi pada Dokter Yusuf. Itu sebabnya aku tau bahwa kinerja Dokter Yusuf sangat bagus dan memuaskan sejauh yang aku tau.
"Jadi kapan kami bisa kembali, Dok?" tanyaku pada Dokter Yusuf.
__ADS_1
"3 hari lagi. Biarkan Aqila merileks-kan pikirannya sejenak. Agar tidak terlalu fokus pada hal-hal yang membuatnya depreai." jawab Dokter Yusuf padaku.
"Baiklah. Aku harap Aqila bisa pulih lebih cepat dari yang kita prediksikan."
"Sssttt... Kamu pikir aku sakit?" Aqila menegurku sambil berbisik.
Aku menjadi tidak enak pada Dokter Yusuf. Dan terpaksa melempar senyum kaku. "Kamu nggak sakit, cuma sedikit error. Puas?" jawabku sambil memutar bola mataku dengan malas.
'Aneh-aneh aja nih si Aqila. Malu kan sama Dokter Yusuf bisik-bisik gini. Ntar disangkain dia kita lagi gosipin dia lagi.' ucapku dalam hati.
"Kalau begitu, kamu tebus resep ini di apotek nanti, ya. Dan pastikan kamu meinumnya rutin dan sesuai dengan takaran yang diberikan." titah Dokter Yusuf sambil menyodorkan secarik kertas pada Aqila.
"Baik Dok." jawabnya singkat.
"Panggil aja aku Yusuf. Bukannya sekarang kita sudah menjadi teman? Nggak usah panggil Dokter dong. Aku aja manggil nama kamu, Aqila." balas Dokter Yusuf sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Oh, gitu. Oke, Dok. Eh, Suf." Aqila menjawab dengan kikuk.
"Kami permisi, Dok. Terima kasih untuk waktunya hari ini," aku pamit dan berdiri, bersiap mendorong kursi roda Aqila.
"Panggilan nama tanpa gelar, juga berlaku padamu, Ayu. Bukan kah kita sudah kenal cukup lama? Meskipun tidak akrab karena hanya pertemuan dengan klien. Tapi tidak ada salahnya kan mulai saat ini kita berteman akrab?"
"Oke. Tidak masalah. Aku suka punya banyak teman. Apalagi dari beberapa profesi yang berbeda. Jadi, apa pun masalah dalam hidupku akan selalu ada yang membantuku meringankannya." jawabku blak-blak an pada Yusuf.
Dokter Yusuf tertawa lepas. Memang sejak bertemu beberapa kali sebelumnya, baru hari ini Yusuf seperti bisa mengekspresikan perasaannya dengan lepas. Padahal awalnya aku kira, Dokter Yusuf adalah pria yang kaku dan pendiam. Ternyata dia sangat humoris dan pandai mendekatkan diri secara pribadi dengan pasiennya. Aku rasa kami bisa berteman baik ditambah dengan Roman akan lebih baik pastinya.
Kunjungan berikutnya aku akan membawa Roman untuk menemani kami. Hari ini Roman ingin ikut, tapi mendadak ada panggilan dari kantor pusat yang memintanya mengantarkan beberapa dokumen penting yang akan dijadikan barang bukti di persidangan pada kasus pelecehan anak di bawah umur yang kemarin sedang aku tangani.
__ADS_1
Aku membawa Aqila kembali pulang ke rumahnya. Pertemuan pertama ini hanya berlangsung selama 3 jam. Yang mana seharusnya akan memakan waktu kurang lebih 5 jam. Itu karena Aqila yang secara tak diduga mulai linglung dalam bercerita. Mungkin memang terlalu cepat membawanya ke psikiater atau psikolog.
Mungkin karena hal itu Dokter Yusuf menyudahi sesi curhatan hati Aqila itu. Agar pikirannya tidak terlalu terfokus pada kejadian masa lalu. Aku percaya, apa pun yang dilakukan Dokter Yusuf pasti akan membawa kebaikan pada Aqila.
"Beb, aku langsung pulang aja ya. Roman ngechat aku nih, katanya minta ditemenin ke pengadilan negeri. Soalnya kuasa hukum yang satunya berhalangan hadir. Jadi aku harus segera kesana." ucapku pada Aqila saat kami sudah duduk di ruang tamu rumahnya.
"Cieee, yang makin lengket nih. Awas kejebak cinlok alias cinta lokasi." jawabnya dengan mencoel pinggangku dan tertawa bahagia.
"Terserah kamu deh mau bilang apa, asal kamu ketawa gitu terus aku mah nggak masalah dibilangin gimana juga."
"So sweet banget sih tayang aku yang satu ini. Kok kamu harus perempuan sih, Beb?"
"Kalau aku laki-laki pun, aku nggak bakalan mau sama kamu!"
"Ih, kok gitu? Aku kurang apa coba? Cantik, pintar, kaya, punya usaha. Rugi dong kalau kamu nggak mau sama aku," balasnya sambil mencibir padaku.
"Iya, tapi kalau aku laki-laki pasti kamunya juga laki-laki. Kita kan ditakdirkan jadi best friend forever!" aku pun mencibir tak mau kalah.
Kayla yang kebetulan baru datang pun ikut bergabung bersama kami duduk di ruangan itu. Dan ikut tertawa mendengar ocehan kami yang mungkin sudah terdengar olehnya sejak dari luar tadi.
"Baru pulang, Dek?" tanya Aqila pada Kayla.
"Iya, Kak. Tadi pagi barang-barang masuk dan langsung diserbu sama langganan. Karyawan sampe telat makan siang saking ramenya. Jadi aku pikir, hari ini tutup sore ajalah. Biarkan mereka istirahat lebih awal malam ini. Soalnya barang yang mau dibongkar masih banyak besok pagi." jelas Kayla panjang lebar.
"Iya, Dek. Bagus juga seperti itu." jawab Aqila mengurai senyum.
Akhirnya aku pamit pergi dan menyerahkan Aqila pada Kayla untuk dibantu masuk ke kamarnya. Roman pasti sudah mengomel karna aku belum juga sampai.
__ADS_1
Tentu saja dia akan mengomeliku, karena saat dia mengirim pesan padaku tadi, aku langsung mengatakan otw padanya. Nyatanya aku malah duduk dan bersenda gurau dulu dengan Aqila. Begitu memang jika sudah bersama sahabat yang klop bersama kita. Bisa lupa waktu dalam bercerita dan berbagi tawa.
Aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Untung saja sore ini jalanan belum terlalu padat merayap, karena jam pulang kerja masih satu jam lagi. Aku segera menuju ke pengadilan negri karena Roman tak henti-henti menelponku sejak aku meninggalkan rumah Aqila tadi.