
Hari ini setelah aku membuka butik dan menitipkan segalanya pada Risna, aku kembali ke rumah. Aku ingin merawat Mami yang sedang tidak sehat hari ini. Bagaimana pun, ini hari pertama Mami tInggal kembali di rumah ini. Sedikit banyaknya tentu Mami akan merasa canggung dan tak terbiasa.
Sebelum kembali ke rumah, aku menyempatkan mampir ke toko buah. Aku membeli beberapa macam buah-buahan yang sekiranya Mami sukai. Karena jujur, aku sama sekali tidak tau apa pun tentang kesukaan atau pun yang tidak Mami sukai.
Setelah aku rasa cukup, aku kembali ke mobil. Saat tiba di dalam mobil, aku ingin memesan bubur yang kemarin pagi aku pesan. Aku segera membuka aplikasi Gra*food dan memesan menu yang sama dengan yang kemarin aku beli.
Bedanya, kali ini aku meminta kurirnya langsung mengantar ke alamat rumahku.
Bergegas aku pulang menuju rumah. Akan tetapi, alangkah terkejutnya aku saat memasuki pekarangan rumahku. Ada mobil Mas Adam di sana. Kenapa? Ada apa dia datang ke rumah ini lagi? Apa mungkin, dia melakukan sesuatu pada Mami? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul secara acak di otakku.
Dengan sedikit berlari, aku meninggalkan semua belanjaan di mobil dan masuk ke dalam rumah. Tidak ada siapa pun di ruang tamu dan ruang tengah. Perasaanku semakin tidak karuan. Aku masuk ke kamar Mami, yang sebenarnya adalah kamar Ayahku dulu. Tapi, bisa jadi itu kamar mereka berdua sebelum Mami meninggalkan Ayah.
Dari ambang pintu, aku bisa melihat dengan jelas bahwa Mas Adam berdiri dengan sebuah pisau buah di tangannya. Sementara Mami tampak tertidur dengan pulas.
Deg...
Apa yang terjadi pada Mami? Detak jantungku berpacu dengan cepat seiring dengan langkahku yang mendekat pada Mas Adam dan merebut pisau itu dari tangannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Mas? Kamu apakan Mamiku?" tanyaku sambil menodongkan pisau buah itu ke arahnya.
"Sayang... Kamu sudah pulang? Cepat sekali? Bukankah ini masih terlalu pagi untuk kembali ke rumah?" ucapnya dengan senyum mengejek.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Dan berhenti memanggilku Sayang!" hardikku dengan lantang.
"Ckckck... Kamu semakin kejam dan kasar saja sekarang. Apa karena sahabatmu dan pacarmu itu mengajarimu?"
"Jaga ucapanmu. Kamu tau dengan pasti, Mas. Aku seperti ini karena ulahmu. Jangan malah menyalahkan orang lain."
"Karena ulahku? Bukan karena ulahmu sendiri?"
"Sudah lah, Mas. Jangan mengungkit lagi nasalah yang sudah kuanggap tak pernah ada. Dan segera keluar dari rumahku ini!" usirku pada lelaki tak tau diri di depanku ini.
__ADS_1
Tapi ia malah tertawa dan berjalan ke arah kursi santai di bawah kaki kasur Mami. Dia duduk dengan menyilangkan kakinya.
"Apa kamu tuli, Mas? Aku menyuruhmu untuk pergi, bukan malah duduk di situ. Kamu tak kuizinkan lagi masuk ke rumah ini. Arwah Ayahku pun pasti mengutukmu dengan keras saat ini, karena berani menginjakkan kaki lagi ke rumah ini,"
"Benarkah? Tapi aku di sini karena ada yang mengundangku," jawabnya santai.
"Siapa yang mengundangmu?"
"Siapa lagi, jika bukan Mami. Bukankah aku adalah menantu kesayangan Mami?" ungkapnya dengan menatapku tajam.
Aku membalas tatapannya dengan sorot mata yang tajam pula. Sedikit pun aku tak takut pada pria di depanku ini. Aku tak punya lagi rasa hormat padanya. Semua hilang bersama dengan habisnya status dia sebagai suamiku.
"Apa yang kamu katakan pada Mami? Sampai Mami bersusah payah memanggilmu untuk datang?" tanyaku dengan perasaan curiga.
"Tentu saja, Mami bertanya kenapa aku tidak ada di rumah. Dan aku mengatakan kalau kamu sedang marah padaku, lalu tidak mengizinkanku pulang!" jawabnya dengan enteng.
Enak sekali dia mengatakan alasan konyol itu pada Mami? Lihat saja nanti, saat Mami sudah bangun, aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Mami.
Tepat setelah aku selesai mengatakan itu, Mas Adam berdiri dengan muka merah padam. Mungkinkah pria ini marah besar padaku? Apa yang akan dia lakukan padaku?
Dia mendekat padaku dan tangannya melayang di udara, seperti ingin menamparku. Aku sudah bersiap dengan menutupi wajahku dengan kedua tangan. Namun, kejadian berikutnya membuatku menjadi bingung.
Aku merasakan Mas Adam membelai rambutku dengan lembut. Seperti dulu dia selalu melakukannya padaku. Ada apa dengan pria ini sebenarnya.
"Baby, kamu sudah pulang? Apakah sudah sore?" tanya Mami yang ternyata sudah bangun dari tidur. Mungkin efek obat yang Mami minum sebelum aku pergi tadi, Mami langsung mengantuk dan tidur dengan nyenyak.
Mungkin juga, ini alasan perubahan sikap Mas Adam yang tiba-tiba ini. Dasar lelaki licik yang tak tau diri. Aku pasti akan membuatmu mati kutu nanti.
"Mami... Apa Mami baik-baik saja?" tanyaku dan langsung mendekati Mami.
"Mami baik-baik saja. Untung Adam datang tepat waktu tadi. Jika tidak, mungkin Mami sudah geger otak karena jatuh dan terbentur lantai,"
__ADS_1
"Mami, tidak perlu berkata seperti itu. Jika bukan kami yang menjaga Mami, siapa lagi?" ujar pria bermuka dua itu.
"Benar. Kalian memang pasangan serasi, Nak. Mami bersyukur kamu memiliki Adam sebagai pendamping hidupmu," ungkap Mami saat melirik ke arahku.
"Terima kasih, Mi. Mami memang benar. Mas Adam adalah suami yang sangat baik dan pengertian. Siapa pun yang menjadi istrinya pasti bangga dan bahagia. Punya suami tampan, keren, kerjaan mapan dan uang banyak," ujarku menjadi-jadi dan membuat Mas Adam tampak heran.
"Apa maksudmu dengan siapa pun, Qil? Bukankah hanya kamu istrinya Adam? Ada-ada saja kamu ini."
"Iya. Memang hanya aku satu-satunya istri Mas Adam. Mami tak perlu khawatir. Dan fokus saja pada kesembuhan Mami, ya."
"Baiklah. Kalian jangan bertengkar lagi. Mami mungkin tidak akan lama timggal di sini, Qil."
"Lho, kenapa? Apa Mami tidak senang tinggal bersamaku?"
Aku menatap Mami dengan heran. Baru semalam Mami terlihat sangat bahagia karena bisa kembali tinggal bersamaku di rumah besar ini. Rumah yang pernah kami tempati bertiga bersama alm ayah. Lantas, kenapa sekarang Mami mengatakan tidak akan tinggal lama di rumah ini?
"Hmmm... Sebenarnya, Mami memang hanya sebentar kembali ke sini. Mami hanya ingin meminta restumu, Nak."
"Restu? Untuk apa?" aku semakin bingung dengan ucapan Mami.
"Sudahlah, Mi. Sebaiknya Mami istirahat dulu. Nanti kita lanjut bicara lagi saat Mami sudah benar-benar pulih. Oke?" sela Mas Adam seperti tak ingin mendengar Mami melanjutkan ucapannya.
"Diam kamu, Mas! Jangan ikut campur lagi dengan urusan keluargaku. Sebaiknya kamu pulang dan urus gundikmu yang sedang hamil itu. Kamu bukan siapa-siapa lagi di sini. Sudah cukup aku menahan diri sejak tadi. Tapi, sepertinya kamu semakin menjadi dan tak tau diri." hardikku dengan suara keras dan kupastikan Mami syok mendengarnya.
"Sayang, apa yang kamu katakan? Jangan mengatakan yang tidak-tidak." jawab Mas Adam dengan wajah pucat.
Pasti dia tak menyangka bahwa aku akan berani berbicara seperti itu padanya di depan Mami saat ini. Aku memang sengaja menunggu momen yang pas seperti ini.
"Nak, apa maksudmu?" tanya Mami dengan raut wajah heran.
"Kami sudah berceri!" ucapku yakin dan tegas.
__ADS_1
Terlihat wajah Mami sangat kaget dan begitu pula dengan Mas Adam. Aku tak peduli lagi. Aku tak akan menyembunyikan kebenaran ini lebih lama.