Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Berhasil Masuk Ke Dalam Rumah Aqila


__ADS_3

(POV Adam)


Setelah Mami membukakan pintu pagar otomatis yang dulu tak pernah ada itu, aku melesat masuk dan memarkirkan mobil di pekarangan depan rumah. Sengaja tak kuparkirkan di dalam garasi. Biar saat Aqila pulang nanti, ia bisa langsung melihat dan tau bahwa aku ada di rumahnya saat ini.


Aku turun dari mobil dan segera membuka pintu utama. Tapi sayangnya pintu itu tidak bisa aku buka. Aku yakin, Aqila sudah mengganti semua kunci pintu di rumah ini agar aku tak bisa menyelinap masuk seperti dulu lagi. Cukup cerdik juga wanita itu.


Kembali ku telepon Mami sambil terus mengawasi sekeliling rumah. Terlihat banyak sekali kamera pengintai atau CCTV yang terpasang di setiap sudut rumah ini.


"Aqila... Aqila... Segitu takutnya kah kamu jika aku kembali ke sini?" ucapku dengan tawa yang miris.


Tak berselang lama, pintu kembali terbuka. Aku masuk dengan langkah santai. Nampak Mami sedang berdiri di sudut kursi sambil meletakkan kembali remot yang ia pegang. Tiba-tiba aku melihat gerak-gerik Mami mulai tak wajar.


Dengan sigap, aku berlari ke arah Mami dan menyambut tubuhnya yang hampir jatuh ke lantai. Jika tidak kusambut, pasti kepala Mami akan lebih dulu terbentur pada sudut meja hias yang ada di sebelahnya sebelum akhirnya mendarat di lantai.


"Mami nggak apa-apa?" tanyaku mencoba seperhatian mungkin.


"Kepala Mami pusing lagi. Tolong antar Mami ke kamar, Dam!" titah Mami dengan masih memegang kepalanya.


"Baik, Mi. Ayo jalan pelan-pelan," ucapku sambil memapah Mami kembali kekamarnya, membaringkan Mami ke kasur dan menyelimuti tubuhnya.


Aku bersikap layaknya anak yang berbakti pada Mami. Bagaimana pun juga, aku harus tetap memberikan kesan yang baik pada Mami. Jika tidak, dia bisa marah besar padaku. Belum lagi jika kekasih bulenya, Leon itu tau. Bisa kacau semua yang sudah aku rencanakan selama ini.


"Apa Mami ingin makan buah? Aku bisa mengupaskannya untuk Mami," tawarku pada Mami Meri.


"Tidak usah, Nak. Mami sudah makan buah, Aqila mengurus Mami dengan baik sebelum berangkat ke Butik," tolaknya dengan suara pelan.


"Ya sudah, kalau begitu Mami tidurlah dulu. Aku akan menjaga Mami di sini."


"Oke, terima kasih." jawab Mami dengan mata mulai meredup.


Mami tertidur dengan pulas dalam waktu singkat. Aku masih duduk di kursi di bawah kaki kasurnya dengan perasaan ragu. Aku ingin menggeledah kamar utama di lantai atas. Aqila pasti menyembunyikan semua surat-surat berharga itu di brankas yang ada di kamar kami dulu.


Aku ingat dulu pernah mengambil segepok uang dari brankas itu diam-diam. Karena Aqila tak pernah mau memberitahukan padaku kode brankas itu. Terpaksa aku mencoba berbagai macam cara untuk bisa membukanya. Dan cara terakhir ternyata cukup mudah dan berakhir. Aku menggunakan ujung pisau buah untuk membukanya saat itu.


Jadi aku berpikir untuk melakukannya dengan menggunakan pisau buah itu lagi kali ini. Aku berdiri ke arah keranjang buah yang terletak di atas nakas di samping ranjang Mami. Aku mengambil pisau itu dan mulai mengamati ujung pisau buah itu.


Tapi tiba-tiba terdengar suara langkah dari luar kamar. Terlihat wajah mantan istriku yang semakin cantik itu mendekat. Di saat aku terpana pada kecantikannya yang sempat aku abaikan, dia mendekat dan merebut pisau itu dari tanganku.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di sini, Mas? Kamu apakan Mamiku?" tanya Aqila sambil menodongkan pisau buah itu ke arahku.


"Sayang... Kamu sudah pulang? Cepat sekali? Bukankah ini masih terlalu pagi untuk kembali ke rumah?" tanyaku dengan senyum mengejek.


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Dan berhenti memanggilku sayang!" hardiknya dengan lantang.


"Ckckck... Kamu semakin kejam dan kasar saja sekarang. Apa karena sahabatmu dan pacarmu itu mengajarimu?"


"Jaga ucapanmu. Kamu tau dengan pasti, Mas. Aku seperti ini karena ulahmu. Jangan malah menyalahkan orang lain."


"Karena ulahku? Bukan karena ulahmu sendiri?"


"Sudah lah, Mas. Jangan mengungkit lagi masalah yang sudah kuanggap tak pernah ada. Dan segera keluar dari rumahku ini!" tak kusangka, dia malah mengusirku dengan lantang.


Aku tertawa dan berjalan ke arah kursi santai di bawah kaki kasur Mami tadi. Lalu duduk dengan menyilangkan kaki.


"Apa kamu tuli, Mas? Aku menyuruhmu untuk pergi, bukan malah duduk di situ. Kamu tak kuizinkan lagi masuk ke rumah ini. Arwah ayahku pun pasti mengutukmu dengan keras saat ini, karena berani menginjakkan kaki lagi ke rumah ini,"


"Benarkah? Tapi aku di sini karena ada yang mengundangku." jawabku santai.


"Siapa lagi, jika bukan Mami! Bukankah aku adalah menantu kesayangan Mami?" ungkapku dengan memandang wajah Aqila tajam.


Aqila membalas tatapanku dengan sorot mata yang tajam pula. Aku tak melihat ada guratan takut di raut wajahnya. Aqila bahkan tak punya lagi rasa hormat padaku. Aqila sudah berubah total. Bukan seperti Aqila yang saat dia masih menjadi istriku dulu. Meski dia seorang wanita yang tegas, Aqila tak pernah sekasar dan sekejam itu padaku.


"Apa yang kamu katakan pada Mami? Sampai Mami bersusah payah memanggilmu untuk datang?" tanyanya lagi dengan perasaan curiga.


"Tentu saja, Mami bertanya kenapa aku tidak ada di rumah. Dan aku mengatakan kalau kamu sedang marah padaku, lalu tidak mengizinkanku pulang!" jawabku dengan enteng.


"Pintar sekali kamu bersandiwara di depan Mamiku, Mas. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan apa pun sesuka hatimu di sini," tukasnya tak mau kalah.


Aku sebenarnya sangat geram dengan tingkah dan ucapan Aqila yang semakin menjadi-jadi ini. Ingin sekali aku menamparnya agar dia tau bahwa aku bisa bertindak kasar jika aku mau.


Saat aku mendekatinya dan hendak memberinya sebuah pelajaran agar tak kurang ajar lagi padaku, aku melihat Mami bergerak seperti akan bangun dari tidurnya. Gegas aku mengubah strategi dengan membelai lembut kepalanya.


"Baby, kamu sudah pulang? Apakah sudah sore?" tanya Mami yang baru saja terbangun. Mungkin efek minum obat, Mami langsung mengantuk dan tidur dengan nyenyak.


"Mami... Apa Mami baik-baik saja?" tanya Aqila dan langsung mendekati Mami.

__ADS_1


"Mami baik-baik saja. Untung Adam datang tepat waktu tadi. Jika tidak, mungkin Mami sudah gegar otak karena jatuh,"


"Mami, tidak perlu berkata seperti itu. Jika bukan kami yang menjaga Mami, siapa lagi?" jawabku dengan sengaja merendahkan diri di depan Mami.


"Benar. Kalian memang pasangan serasi, Nak. Mami bersyukur kamu memiliki Adam sebagai pendamping hidupmu," ungkap Mami saat melirik ke arah Aqila.


"Terima kasih, Mi. Mami memang benar. Mas Adam adalah suami yang sangat baik dan pengertian. Siapa pun yang menjadi istrinya pasti bangga dan bahagia. Punya suami tampan, keren, kerjaan mapan dan banyak uang," ujar Aqila dengan ekspresi yang tak aku duga. Apa maksud Aqila mengatakan semua itu pada Mami aku pun tak tau.


"Apa maksudmu dengan siapa pun, Qil? Bukan kah hanya kamu istrinya Adam? Ada-ada saja kamu ini,"


"Iya. Memang hanya aku satu-satunya istri Mas Adam. Mami tak perlu khawatir. Dan fokus saja pada kesembuhan Mami, ya."


"Baik lah. Kalian jangan bertengkar lagi. Mami mungkin tidak akan lama tinggal di sini, Qil."


"Lho, kenapa? Apa Mami tidak senang tinggal bersamaku?" tanya Aqila dengan heran.


Mungkin Aqila belum tau jika Mami pulang hanya ingin meminta restu darinya karena ingin menikah dengan Leon. Tentu saja, Mami harus meminta izin pada Aqila. Jika tak ingin Aqila membencinya untuk kedua kalinya.


"Hmmm... Sebenarnya, Mami memang hanya sebentar kembali ke sini. Mami hanya ingin meminta restumu, Nak."


"Restu? Untuk apa?" Aqila terlihat semakin bingung dengan ucapan Mami.


"Sudah lah, Mi. Sebaiknya Mami istirahat dulu. Nanti kita lanjut bicara lagi saat Mami sudah benar-benar pulih. Oke?" aku menyela kata-kata Mami.


"Diam kamu, Mas! Jangan ikut campur lagi dengan urusan keluargaku. Sebaiknya kamu pulang dan urus gundikmu yang sedang hamil itu. Kamu bukan siapa-siapa lagi di sini. Sudah cukup aku menahan diri sejak tadi. Tapi, sepertinya kamu semakin menjadi dan tak tau diri," hardiknya dengan suara keras dan kupastikan Mami syok mendengarnya.


"Sayang, apa yang kamu katakan? Jangan mengatakan yang tidak-tidak." jawabku dengan perasaan cemas yang tak bisa aku sembunyikan.


Aku sungguh tak menyangka bahwa Aqila akan berani berbicara seperti itu padaku di depan Mami saat ini.


Aku sudah berusaha menghindari topik pembicaraan yang mengarah ke masalah hubunganku dengan Aqila sekarang ini.


"Nak, apa maksudmu?" tanya Mami dengan raut wajah heran.


"Kami sudah bercerai!" ucap Aqila yakin dan tegas.


Seketika tubuhku terasa dingin dan bergetar. Terasa bulir keringat mengisi ruang di dahiku saat ini.

__ADS_1


__ADS_2