Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Tidak Tulus Mencintai


__ADS_3

(POV Adam)


Tak perlu waktu lama, aku sudah sampai di rumah sederhana yang aku kontrak untuk tinggal bersama Astri. Rumah ini memang jauh dari kata mewah. Tapi, saat itu aku hanya berpikir bahwa Astri akan tinggal sementara di rumah ini. Setelah aku mengatakan kebenaran tentang status kami pada Aqila, dan aku yakin Aqila akan menerima meski sedikit terluka, Astri bisa kuboyong ke rumah mewah milik Aqila itu.


Namun, kenyataan tak selalu sesuai dengan harapan. Bukan hanya Astri yang tak bisa masuk ke rumah mewah itu, bahkan aku pun tak bisa tinggal di dalamnya.


Tok... Tok... Tok...


Aku mengetuk pintu kayu di depanku dengan kuat. Meski ini rumah kontrakan, tapi tidak berdempetan dengan rumah tetangga lainnya.


Setelah dua kali aku mengetuk dan memanggil Astri, wanita dengan perut besar itu membukakan pintu untukku.


"Mas..." sapanya dengan senyum mengambang saat aku menunjukkan sebungkus martabak telor spesial yang ia pesan dalam kantong plastik berwarna biru.


"Maaf, ya. Mas baru pulang. Tadi meetingnya lama. Karena klien dari Bogor itu sedikit cerewet. Di tambah lagi pas beli martabak, antrinya luar biasa," aku berbohong agar Astri tak banyak tanya lagi padaku.


"Kenapa nggak bilang aja untuk Ibu hamil, Mas? Biasanya kalau pakai jurus itu, pasti dikasih duluan," jawabnya seraya menggandeng tanganku masuk ke dalam rumah, setelah aku selesai mengunci kembali pintu kayu itu.


"Masa sih, Dek?" tanyaku tak percaya.


"Iya, Mas. Ibu hamil itu istimewa. Makan apa aja boleh, asal sewajarnya. Kalau belanja pasti didahulukan. Minta kurang harga sepantasya, pasti dikasih juga. Pamali ngelepas orang hamil belanja dari warungnya, gitu katanya. Karena Ibu hamil itu di percaya mendatangkan rezeki yang banyak di tempat dia berbelanja,"


"Benar-benar istimewa ya, Sayang. Mas nggak pernah nyangka lo ada mitos seperti itu."


"Makanya, lain kali kalau Mas belanja ajak aku aja!" ucapnya penuh penekanan.

__ADS_1


Aku memang bisa dikatakan jarang sekali membawa Astri berbelanja. Jika dulu, tentu saja alasannya karena takut ketauan dengan Aqila. Tapi setelah bercerai pun, aku belum bisa membawanya ke tempat umum sebagai istri mudaku. Entah karena aku masih sangat mencintai Aqila, atau memang karena aku tak benar-benar serius mencintai Astri sejak awal. Aku sendiri bingung dan tak bisa memahami perasaanku.


Di satu sisi, aku benci saat Aqila dekat dan tersenyum bahagia bersama lelaki bernama Roman itu. Secepat itu kah dia mampu melupakanku dan menerima pria lain dalam hatinya? Atau memang karena pria itu lah Aqila bersikeras ingin bercerai denganku, agar bisa dengan leluasa bersama pria idamannya itu.


"Mas... Mas..." suara panggilan Astri membuyarkan lamunanku.


"Eh... Iya..." jawabku terbata-bata.


"Kok Mas melamun sih? Lagi mikirin apa? Siapa? Kak Aqila ya?" Astri memberondongku dengan pertanyaan.


"Enggak kok, Sayang. Kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh deh. Ngapain juga Mas mikirin dia. Mending Mas mikirin kamu sama calon anak kita aja." aku berkata sambil mengelus perut besarnya yang bulat seperti bola.


"Eh, Mas. Tadi aku nelpon mantan istri kamu itu." Astri berkata dengan suara agak pelan.


"Katanya, dia udah kasih Mas uang sampai tujuh puluh jutaan. Kok Mas kasih aku cuma sepuluh jutaan? Kemana sisanya, Mas?"


Pertanyaan Astri sontak membuatku terkejut. Aku yang sedang menuangkan kuah cuka ke dalam mangkuk pun terdiam sesaat. Kemudian, berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan melanjutkan aktifitasku.


"Sudah... Tak perlu kamu dengarkan ucapan dia. Dia berbohong padamu. Mana mungkin dia memberi Mas uang sebanyak itu, jika dia saja sakit hati pada kita berdua. Iya kan?" ucapku meyakinkan Astri bahwa ucapanku benar.


Aku sengaja menyalahkan Aqila, karena tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya pada Astri.


"Aku juga udah feeling gitu sih, Mas. Nggak mungkin kan dia ngasih kamu uang sebanyak itu, dan lebih nggak mungkin lagi kamu nggak ngasih tau aku uang sebanyak itu kalau memang dia ada ngasih!" gerutu Astri sambil mencomot satu potong martabak telor dan mencocolnya ke kuah cuka pedas itu.


"Iya, Sayang. Iya... Udah lah, jangan bahas dia lagi. Mas males banget dengar namanya."

__ADS_1


"Iya, Mas. Ini aku suapin, mau nggak?" Astri menyodorkan sepotong martabak ke mulutku.


Aku melahap makanan itu, kemudian membiarkan Astri menghabiskan sisanya. Aku menungguinya sampai selesai makan dan kemudian kami gegas tidur. Astri tidak boleh banyak pikiran dan aktifitas pada usia kandungan ini, karena akan rentan melahirkan bayi prematur.


Jadi, aku sebisa mungkin menjaga hati dan pikirannya agar tetap tenang dan nyaman. Meski hatiku tidak terlalu mencintai Astri, tapi dia sedang mengandung darah dagingku. Aku berusaha bersikap dan demi keturunanku.


Setelah memastikan Astri tertidur dengan pulas, aku bergerak pelan meninggalkan ranjang dengan ukuran sedang itu. Sejujurnya, aku sangat merindukan tidur di ranjang empuk bersama Aqila. Menghabiskan malam panjang dengan des*han Aqila yang selalu membuatku tak pernah merasa puas mengg*rayangi tubuhnya yang molek.


Aku duduk di ruang tengah dan menyalakan sebatang rokok. Kemudian, kembali menatap ponsel yang menampilkan wajah cantik Aqila. Rasanya hatiku masih belum bisa menerima perpisahan ini.


Di satu sisi, aku sangat mencintai Aqila hingga saat ini. Namun, di sisi lain aku juga merasa sakit hati pada sikap dan perilakunya yang merendahkan harga diriku ini.


"Aqila sayang... Kamu nggak rindu sama aku? Aku suami yang selalu kau bangga-banggakan pada semua orang. Aku suami yang membuat teman-temanmu iri dan berdecak kagum. Kau membuangku karena aku memintamu menerima Astri?"


Aku menghembuskan asap rokok ke udara dan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar. Apa yang akan aku lakukan pada wanita itu besok adalah hal yang paling aku hindari beberapa hari ini.


Namun, aku tak bisa lagi membiarkannya masih tertawa lepas di atas penderitaanku. Aku harus memberinya sedikit pelajaran. Mungkin, dengan sedikit ancaman akan membuatnya kembali takluk dan tunduk padaku.


Aku sudah memikirkan hal ini baik-baik. Demi harga diriku, aku harus bertindak tegas dan terbuka mulai saat ini. Besok aku akan menemui Mami. Aku mendapat kabar bahwa Mami sudah kembali lagi ke sini.


Untungnya Aqila masih memiliki Mami, walaupun Mami meninggalkan dia dan ayahnya demi bersama lelaki lain tapi Aqila sudah memaafkannya. Pada pernikahan kami Mami datang meminta maaf pada Aqila, dan karena bujukanku akhirnya Aqila mau memaafkannya. Walaupun mereka tetap tidak tinggal bersama, dan Mami tinggal di London saat ini.


"Mami tidak tau kami telah bercerai. Aku akan meminta bantuan Mami agar besok bisa masuk ke dalam rumah Aqila." lirihku dan mematikan api rokok yang masih menyala.


Setelah berkumur-kumur dan minum segelas air putih, aku kembali ke kamar dan tidur di samping Astri.

__ADS_1


__ADS_2