
Nisa adalah sahabat masa kecilku, kami selalu bersama. Tapi saat kami kelas dua SMA, Nisa pindah ke London karena Ayahnya kerja disana. Walaupun kami saling berjauhan tapi kami selalu berkomunikasi.
Saat pernikahanku Nisa tidak bisa hadir. Tapi setelah lima bulan pernikahanku, Nisa pindah kesini dengan alasan ia ingin cari kerja disini.
Nisa meminta tolong kepada kami untuk dicarikan tempat tinggal. Kami pun mencarikan sebuah apartemen untuknya.
"Sayang, tolong ambilkan handuk. Mas lupa!" teriak Mas Adam dari dalam kamar mandi.
Aku bergegas meletakkan kembali ponsel Mas Adam, dan mengambilkannya handuk. Kemudian mengetuk pintu kamar mandi. Kulihat tangan Mas Adam keluar dari balik pintu yang terbuka sedikit.
'Tumben' pikirku.
Setelah mengambil handuk, Mas Adam langsung menutup pintu kamar mandi. Ada apa dengan Mas Adam sebenarnya? Apa yang coba ia sembunyikan? Biasanya ia akan membuka pintu kamar mandi dengan lebar, lalu mempertontonkan tubuhnya yang polos tanpa sehelai pakaian. Atau dia akan menarikku untuk ikut masuk kedalam kamar mandi. Dan seingatku, sudah satu minggu Mas Adam tidak mengajakku bercinta. Hal ini Semakin menguatkan tekadku untuk menyelidikinya.
Setelah Mas Adam selesai mandi, aku pun langsung mandi. Kemudian membuatkan kopi dan roti bakar untuk sarapan Mas Adam.
"Mas, siapa yang kamu video call semalam?" tanyaku saat menyodorkan rotinya.
"Oh, itu Nisa." jawabnya santai.
__ADS_1
"Ngapain kamu video call sama Nisa jam tiga malam?" tanyaku lagi dengan memperlihatkan raut curiga.
"Nisa tiba-tiba nanyain gimana caranya nyalain alarm otomatis di apartemen itu, Sayang. Kamu kenapa sih? Kok sama temannya sendiri curigaan gitu?" tanya Mas Adam seolah saat ini akulah yang terlihat bersalah karena terlalu curigaan.
Memang benar, selama ini aku percaya dan tak pernah berpikir kalau Mas Adam adalah pria yang akan berselingkuh. Tapi, kali ini aku benar-benar tak bisa menahan perasaanku untuk tidak curiga.
"Nggak, aku kan cuma nanya." jawabku, lalu meneguk susu promil yang sudah rutin aku minum satu tahun ini.
"Ya sudah, jangan berpikiran yang macam-macam lagi. Mas nggak akan berpaling dari kamu kok. Mas sayang banget sama kamu, Aqila. Kamu pelengkap hidup, Mas." ucapnys dengan mengelus tanganku.
"Semoga saja kamu benar, Mas." balasku dengan ketus.
"Nanti kamu pulang jam berapa?" tanyaku setelah menyalim tangannya.
"Mas usahakan pulang cepat, Mas berangkat dulu ya, istriku yang cantik," pamitnya, sambil mengecup keningku.
"Hati-hati di jalan, Mas." Teriakku saat melihat Mas Adam sudah sampai di depan pintu.
Mas Adam berbalik dan mengacungkan jempolnya sambil tersenyum manis. Aku sama sekali sulit untuk bersikap manis padanya sejak kemarin. Setelah lima belas menit kepergian Mas Adam, aku selesai membersihkan meja bekas kami sarapan.
__ADS_1
Kami tidak memakai jasa Asisten Rumah Tangga, meski beberapa kali Mas Adam menawarkannya padaku aku berpikir bisa melakukan semuanya sendiri. Toh kami hanya hidup berdua, tidak akan banyak pekerjaan yang akan aku lakukan di rumah ini.
Aku kembali ke kamar, lalu memutuskan untuk menghubungi sahabatku, ya selain Nisa aku juga punya sahabat bernama Ayu.
Tuuut...Tuuut...Tuuut...
Setelah tiga kali panggilan teleponku berbunyi, terdengar suara malas dari seberang sana, "Kamu nggak ada kerjaan lain ya pagi-pagi gini, selain gangguin aku tidur?" tanya Ayu dengan nada khas baru bangun tidurnya.
"Beb, kamu harus bantuin aku. Aku curiga Mas Adam selingkuh," ucapku tanpa menghiraukan pertanyaan Ayu.
"What?" teriaknya memekakkan telinga.
"Jangan ngarang deh, Beb. Nggak mungkinlah suamimu selingkuh. Dia kan cinta banget sama kamu, Beb!" ucapnya tak percaya. Aku yakin saat ini Ayu sudah dalam keadaan duduk dan sadar penuh dari tidurnya, setelah mendengar ucapanku tadi.
Tentu saja Ayu kaget, sudah kukatakan sebelumnya, suamiku itu tipe suami idaman. Dia sempurna banget di mata para wanita. Banyak wanita yang terang-terangan menggodanya, tapi dengan gentle Mas Adam mengatakan bahwa dia hanya mencintai istrinya, yaitu aku. Dan tak akan pernah tergoda oleh wanita secantik dan seseksi apapun diluar sana.
"Makanya, kamu cepat ke sini. Nanti aku kasih tau semuanya. Sekalian, kamu juga coba cari informasi siapa yang bisa memasang pelacak pada ponsel Mas Adan. Supaya aku tau dimana saja dia berada selama di luar rumah!" ucapku serius pada Ayu.
"Oke-oke. Kalau gitu, aku mandi dulu. Setelah itu aku langsung ke rumah kamu. Jangan lupa, buatkan aku sarapan," pintanya sebelum menutup telepon.
__ADS_1
Ayu memang sahabat yang paling pengertian. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Ayu belum menikah, karena ia masih ingin fokus pada pekerjaannya. Ya, dia seorang pengacara. Sikapnya saat di luar pengadilan sangat jauh berbeda dengan saat ia menjadi kuasa hukum untuk kasus-kasus yang terpilih untuk ditanganinya.