Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Pergi Ke Psikolog


__ADS_3

(POV Ayu)


Seminggu sudah berita tertangkapnya Adam tersebar. Aku yakin saat ini hidup istri mudanya itu dalam kesulitan. Bagaimana tidak? Dia baru saja melahirkan anak pertamanya dan Adam. Pria yang dia bangga-banggakan dan sombongkakan pada Aqila karena telah memilihnya. Tapi kini Adam mendekam di penjara.


Begitu pula dengan Adam. Lama sudah dia mendambakan seorang anak sebagai keturunan, yang belum dapat diberikan oleh sahabatku, Aqila.


Memilih untuk menduakan cinta dan mengkhianati pernikahannya dengan Aqila demi memilih Astri yang ternyata sedang mengandung benih yang memang tak sengaja ia tanamkan di rahim wanita muda yang hidup sebatang kara itu.


Tapi kini, buah dari perbuatan mereka berdua telah diberikan ganjaran setimpal oleh Yang Maha Kuasa. Di saat bayi yang dia tunggu-tunggu telah lahir, ia harus menerima hukuman atas kejahatannya pada Aqila. Dia bahkan tak dapat sekedar menimang anak pertamanya. Miris sekali memang hidupmu Adam.


Hari ini, aku memutuskan untuk membawa Aqila konsultasi pada seorang Dokter Psikolog muda yang kukenal cukup baik. Trauma akan kejadian waktu itu membuat Aqila masih sering berhalusinasi. Tak jarang Aqila mencoba melukai orang-orang yang menurutnya berbahaya dan berniat melukai dirinya.


Aku sedih melihat keadaan Aqila. Dengan sabar, setiap hari Mami Meri dan Kayla merawatnya. Aku dan Roman juga selalu menyempatkan untuk hadir setiap hari, agar Aqila tak merasa sendirian. Agar Aqila tak perlu merasa takut.


"Kamu sudah siap, Beb?" tanyaku pada Aqila yang sudah mendorong kursi rodanya keluar kamar.


"Udah. Tapi, sepertinya aku nggak perlu ke psikolog deh. Aku nggak apa-apa kok." tolaknya selalu dengan alasan yang sama.


Kami sudah bersusah payah membujuknya selama dua hari ini. Karena ingin Aqila sembuh lebih cepat. Apalagi, di sana nanti dia juga akan diberi pelatihan dan terapi agar otot-otot kakinya bisa lebih cepat pulih dan bisa berjalan seperti semula lagi.


"Iya, kamu emang nggak apa-apa. Kita cuma mau cerita-cerita aja kok sama Dokternya. Nggak bakalan di apa-apain kok. Tenang aja deh." bujukku padanya lagi.


"Tapi..."


"Udah, nggak usah tapi-tapi. Nanti kalau kamu nggak nyaman, kita pulang. Oke?"


"Hmm... Oke deh."


"Nah, gitu dong. Baru namanya kesayangan aku." aku mendaratkan sebuah kecupan sayang di pipi Aqila.

__ADS_1


Aqila memang sudah kuanggap lebih dari sekedar sahabat. Dia sudah layaknya saudara perempuanku sendiri. Aku mendorong kursi roda Aqila ke depan rumah.


Ada Mami Meri yang sedang menyiram tanaman. Mami mengumbar senyumannya yang indah. Karena insiden yang dialami Aqila, sengaja Mami menunda kepergiannya kembali ke London menemui Leon.


Mami Meri ingin merawat Aqila dengan kedua tangannya sendiri. Bersama Kayla ia menjaga Aqila dengan baik, hingga Aqila mulai berangsur pulih lebih cepat dari yang diperkirakan oleh Dokter saat itu.


"Sayangku, kalian jadi pergi?" tanya Mami dan berjalan menghampiri kami.


"Iya, Mi. Jadi nih." jawabku membalas senyuman Mami.


"Ayu nih Mi, maksa aku terus. Aku takut keseringan nolak, ntar aku malah dijewer sama dia." sahut Aqila dengan bibir yang meruncing ke depan.


Tentu saja aksinya itu mengundang tawa antara aku dan Mami Meri. Aku memang sering memarahi Aqila untuk hal-hal tertentu. Begitu pun sebaliknya, Aqila juga sering memarahiku dalam hal kebaikan. Ia sering menasehatiku dan mengajariku banyak hal.


"Ya sudah kalau begitu, ayo segera pergi. Sebelum nanti dia benar-benar menjewer telingamu yang indah itu." titah Mami Meri dengan kembali tersenyun manis.


"Baiklah, Mi. Kita pergi sekarang." pamit Aqila lagi.


Aqila sudah bisa menggerakkan kakinya sedikit demi sedikit. Jadi aku hanya perlu memapahnya untuk naik ke mobil. Kemudian sopir bertugas melipat kursi roda dan menyimpannya di dalam bagasi.


Ya, sejak beberapa hari ini sudah ada sopir yang bertugas mengantar Mami Meri, Kayla, dan Aqila kemana-mana. Siapa lagi yang memberikan perintah khusus itu kalau bukan Leon, kekasih Mami yang sampai saat ini aku pun belum pernah bertemu dengannya. Aqila pun belum pernah bertemu dengannya.


"Beb, kamu udah dengar dari Mami kalau Leon itu mau datang besok?" tanya Aqila saat kami masih dalam perjalanan ke tempat praktek psikolog.


"Belum. Emang benar dia besok mau datang?" tanyaku mengulang pertanyaan Aqila.


"Nggak tau juga sih. Kata Mami besok pagi dia udah mendarat di Indonesia. Mami bakalan jemput dia ke Bandara besok pagi."


"Berarti benar dong, ya. Aku juga penasaran gimana sih wajah si berondong Mami itu."

__ADS_1


"Dia pasti tampan, putih, dan tinggi."


"Itu mah udah pasti, namanya juga bule!"


"Awas jangan naksir! Saingan sama Mami lho nanti. Ntar Roman patah hati juga tuh!" ucapan Aqila mengejutkan detak jantungku.


Roman. Kenapa aku merasakan getaran lain saat Aqila menyebut namanya? Dan lagi pula, akhir-akhir ini saat bersamanya aku menjadi salah tingkah. Entah lah perasaan ini apa namanya.


Roman yang baik dan selalu siaga dalam membantuku dan juga Aqila. Dia tak pernah mengeluh dan mengharap imbalan dalam membantuku, juga Aqila. Ketulusannya menyentuh hatiku. Mungkin ini rasa simpatik karena perilaku baiknya. Atau... Bisa jadi ini, memang getaran cinta. Ya tuhan, mana mungkin!


"Heh, malah melamun." tegur Aqila membuyarkan lamunanku.


"Aku lagi ngelamunin andai punya pacar bule juga." jawabku asal dengan tawa renyah.


"Huuu... Ngarep ya? Asal jangan mikir buat ngerebut Leon aja lah ya." Aqila kembali mengingatkanku dengan candaan.


"Yeee... Nggak mungkin lah, kan bule nggak cuma dia seorang. Bulan depan aku ke Bali. Di sana banyak tuh bule berkeliaran. Aku tinggal pilih mau yang mana." jawabku juga dengan candaan pada Aqila.


"Emang baju, bisa kamu pilih sesuka hati?"


"Bule itu kebanyakan suka sama perempuan Indonesia. Kulit kita itu menurut mereka exotic. Beda sama kulit perempuan di Negara mereka."


"Iya, aku tau. Nggak perlu dijelasin juga kali,"


"Non, kita sudah sampai!" ucap sopir utusan Leon itu memutuskan pembiraan antara aku dan Aqila.


"Kita udah sampai, Tuan Putri. Aku turun duluan ya." ucapku pada Aqila, lalu menbuka pintu dan turun.


Aku berputar ke sisi pintu sebelahnya. Pintu sudah dibuka oleh sopir. Kursi roda juga sudah siap untuk di duduki oleh Aqila. Sopir ini memang sangat gercep alias gerak cepat.

__ADS_1


"Aku takut!" bisik Aqila saat aku membantunya duduk di kursi roda.


"Bisa yuk, bisa. Kamu Aqilaku yang strong!" aku menyemangati Aqila dan mulai mendorong kursi roda ke dalam gedung praktek psikologis itu.


__ADS_2