
"Sayang, mulai sekarang jangan sungkan meminta apa pun padaku. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu," ucap Mas Aris saat kami sudah selesai menyantap semua hidangan yang tadi aku pesan.
"Baik, Mas. Aku boleh meminta apa pun kan?" jawabku dengan hati yang senang.
Jika saja tidak ada orang di sini, ingin sekali aku melompat-lompat saking senangnya mendengar ucapan Mas Aris tadi. Sebelumnya, saat bersama Mas Adam pun aku memang sudah biasa dimanjakan dengan barang-barang mewah dan makanan Restoran.
Aku juga rutin perawatan kecantikan ke salon. Semua itu tentu saja atas permintaanku dan Mas Adam tak pernah menolaknya. Setidaknya aku sudah terbiasa menikmati fasilitas mewah dan makanan ala orang kaya.
"Mas, apa benar nanti kita akan menikah siri?" tanyaku mengulang kembali perkataan Mas Aris tadi.
"Tentu saja, Sayang. Kenapa? Apa kamu meragukan aku?"
"Bu-bukan begitu, Mas. Aku ga mau nanti tiba-tiba di grebek dan ga bisa membela diri. Karna Mas kan akan sering datang nantinya."
"Iya. Mas ngerti kok maksud kamu. Kamu tenang aja, ya. Kita lihat gimana kondisi ke depannya. Kalau Mas berhasil ngambil alih bisnis properti Papa, Mas akan sewakan kamu apartemen saja." Mas Aris mengiming-imingi aku dengan tinggal di apartemen.
"Benaran kamu, Mas? Wah, makasih banget ya, Mas." jawabku dengan raut bahagia yang tak terkira.
Mas Aris memangku Ferdi yang sudah kembali terlelap. Aku mempererat genggaman tangan kami di atas meja. Mas Aris tersenyum ke arahku. Aku yang memang hidup serba kekurangan sejak kecil, tentu saja merasa sangat bahagia mendapatkan semua kemewahan yang dijanjikan Mas Aris.
Awalnya, aku kira Mas Adam lah yang akan selalu memanjakanku dengan semua kemewahan itu. Tapi, nyatanya itu hanya sebentar saja. Sekarang, aku malah hanya menanggung beban dan malu karena dia di penjara. Belum lagi nasibku dan Ferdi yang hampir saja tak tau akan bagaimana.
Untung saja ada Mas Aris yang rela memberikan segalanya untukku. Ya, aku tau sejak awal. Tidak ada di dunia ini yang gratis. Mas Aris suatu saat pasti meminta sesuatu dariku sebagai balasan atas semua yang sudah ia berikan dan lakukan.
Dulu aku sempat berpikir bahwa ia akan meminta anakku, Ferdi. Aku sempat sangat takut jika membayangkan hal itu. Sejahat dan sekotor apa pun diriku, aku tidak akan pernah menukar atau menjual anakku demi uang dan kesenangan.
__ADS_1
"Mas, Ferdi udah tidur. Gimana kalau kita pulang?" ajakku karena tak tega melihat Mas Aris terlalu lama memangkunya. Pasti rasanya cukup pegal.
"Oke. Tapi, nanti di rumah aku minta lagi, ya." jawabnya dengan mengedipkan sebelah mata padaku.
Sebenarnya aku mengerti maksud ucapan Mas Aris, tapi kucoba untuk berpura-pura lugu di depannya. "Minta apa Mas? Mas masih lapar? Nanti aku masakin mie instan aja, ya."
"Hmmm... Kamu ini... Mas mie instan sih? Aku memang masih lapar banget, tapi aku ga mau makan mie instan," jawabnya dengan nada sedikit mengeluh.
"Jadi, Mas maunya makan apa?"
"Mas mau makan kamu. Kamu mau kan jadi santapan lezat Mas Malam ini?" jawabnya dengan tatapan penuh nafsu padaku.
Aku yang memang sudah menduga jawaban itu, hanya bisa tersenyum malu dan mengangguk pelan. Dasar, pria hidung belang. Ternyata semua sama saja. Asal ada service yang memuaskan, apa pun rela dia berikan. Tapi tak mengapa, yang penting hidupku dan Ferdi sudah ada yang menjamin. Aku ga perlu pusing lagi mikirin soal biaya.
Akhirnya aku dan Mas Aris pulang. Gantian, aku yang memangku Ferdi. Bayi gembul itu tidur dengan lelap. Meski tidak menikmati ASI dariku, Ferdi tetap saja tumbuh seperti anak yang normal. ASI ku sama sekali tidak bisa keluar. Mungkin karena aku sempat mengalami stress setelah melahirkan Ferdi.
"Oke, Sayang. Besok kita belanja ke mall, ya." jawab Mas Aris membuat hatiku berbunga-bunga.
"Iya, Mas. Makasih, ya."
"Sama-sama. Jangan lupa nanti kita..."
"Iya, aku tau. Aku pasti akan kasih kamu service yang memuaskan malam ini. Yang ga pernah istri kamu berikan."
"Kamu memang berbeda dari Santi. Aku sudah lama tertarik padamu. Setiap melihatmu, celanaku tiba-tiba menjadi sangat sempit."
__ADS_1
"Benar, kah? Lalu, pakai lah celana yang longgar. Kenapa masih memakai celana yang ketat." aku sengaja memperolok-olok Mas Aris.
"Hmmm... Kalau celana itu jadi sempit, solusinya hanya menanggalkannya. Sayang, jangan membuatku menghentikan mobil di tengah jalan dan memangsamu sekarang juga."
Aku tertawa lepas mendengar jawaban Mas Aris. Meski hanya menjadi simpanannya saat ini, tapi dia memperlakukanku dengan sangat manis. Berbeda sekali dengan Mas Adam dulu.
"Fokus saja pada kemudimu, Mas. Jangan melakukan hal konyol. Andai Ferdi tidak dalam pengkuanku saat ini, aku sendiri yang akan membuka kancing celanamu,"
"Kamu menggodaku terus, hum? Liat aja nanti. Kamu pasti akan mendapatkan serangan ganas dariku!"
"Duh, aku jadi takut. Jangan ganas dong, kan malu kalau dengar tetangga aku teriak-teriak keni*matan karena seranganmu,"
"Kalau begitu, kita akan membuka kamar hotel malam ini. Besok kita juga akan cari baby sister untuk mengasuh Ferdi supaya kita bisa bebas."
Saat Mas Aris mengatakan itu, ada perasaan keberatan dalam hatiku. Aku tidak bisa mempercayakan siapa pun untuk mengasuh Ferdi. Karena banyak sekali kasus kekerasan dan pembunuhan oleh pengasuh yang aku nonton di youtu*e.
Mungkin, Mas Aris menyadari perubahan pada garis wajahku. Dia mendehem dan mengelus pahaku yang terbuka. Aku menikmati sentuhannya itu dengan memejamkan mata.
Sentuhan yang selalu aku rindukan beberapa bulan belakangan ini, kini aku dapatkan kembali. Meski bukan dari Mas Adam. Aku tidak bisa menunggunya lagi. Apalagi Mas Aris sudah datang menawarkan diri dan kemewahan itu padaku. Bagaimana mungkin aku bisa menolaknya?
"Mas..." des*hku di sela sentuhannya.
"Jangan mendes*h seperti itu, Ast. Aku tidak tahan mendengarnya," jawab Mas Aris sambil terus menyetir. Aku rasa memang ini bukan lah jalan menuju ke kontrakanku lagi.
Mungkin Mas Aris benar-benar akan membuka kamar hotel untuk malam ini. "Kalau begitu, berhenti lah menyentuhku. Atau... Hmmph..." ucapanku terhenti saat tangan Mas Aris berhasil menyentuh pangkal pahaku.
__ADS_1
"Mas fokus lah ke jalan. Kita lanjutkan nanti. Oke?" aku menepis tangan Mas Aris segera karena takut terjadi kecelakaan.
Sudah terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Aku akan menjadi pemuas nafsu Mas Aris. Asal hidupku dan Ferdi terjamin. Bagaimana dengan Mas Adam? Anggap saja dia sudah mati!