Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Ban Kempes


__ADS_3

Seminggu sudah aku lalui tanpa gangguan Mas Adam. Entah mengapa, meskipun ia tak menggangguku beberapa hari ini, aku merasakan kecemasan yang tidak biasanya aku rasakan sebelumnya.


Dan kebetulan, hari ini sidang pertama kami di pengadilan agama. Aku sudah bersiap-siap untuk pergi. Setelah membuka butik, aku berpesan pada seluruh karyawan agar terus waspada.


Aku juga berpesan, jika Mas Adam datang dan membuat keributan, segera menelfonku. Atau laporkan pada polisi jika memang sangat membahayakan.


Aku memjemput Ayu di rumahnya. Karena memang, Ayu lah pengacaraku dalam kasus perceraian ini. Roman turut serta menemaniku dengan mengatakan akan datang menyusul setelah selesai mengantarkan berkas penting ke Kantor Dinas Perlindungan Anak. Kebetulan, Roman sedang membantu pihak terkait dalam mengurus kasus kekerasan pada anak di bawah umur.


Aku dan Ayu terlebih dahulu memasuki ruang persidangan. Ayu duduk di sampingku. Dan tak lama kemudian Roman masuk ke dalam ruangan sidang, dia duduk tak jauh dari tempatku duduk.


Tak ada tanda-tanda kehadiran Mas Adam di persidangan pertama ini. Aku menang sudah memprediksinya. Karena memang, Mas Adam sama sekali tidak menginginkan perpisahan ini.


"Sabar ya, Qil. Tinggal selangkah lagi, semuanya berakhir." ucap Ayu menguatkanku, saat persidangan pertama itu telah selesai.


"Iya, aku nggak apa-apa kok. Malahan, rasanya sekarang aku sangat lega sudah hampir lepas dari status sebagai istrinya." jawabku dengan seulas senyuman.


"Wah, aku akan antri di barisan paling depan nih buat jadi penghuni hati kamu yang baru," sela Roman yang berjalan di samping Ayu.


"Apaan sih, Rom. Aku malah nggak mikirin ke arah sana dulu untuk saat ini. Dan sepertinya aku akan sulit membuka hati untuk pria lain." jawabku berterus terang.


Aku sungguh tak ingin memberi harapan palsu pada Roman. Biarlah aku bicara apa adanya. Mungkin menyakitkan, tapi itu lebih baik dari pada menunggu dalam ketidak pastian.


"Hem... Kalau gitu, aku akan tetap nunggu. Sampai kamu benar-benar bisa untuk menerima cinta baru dalam hidupmu!"


"Eh, kalau mau gombal mikir-mikir dong. Aku nih, ada di sini. Jomblo, nggak di godain? Malah godain istri orang!" gerutu Ayu dengan nada bercanda.


"Mantan istri orang!" aku meralat kalimat Ayu.

__ADS_1


"Nah, itu. Mantan istri orang, Ayu. Bukan istri orang lagi. Ya, wajar dong kalau aku udah mulai ambil langkah. Dari pada keduluan orang lain. Secara kan, Aqila ini idaman para lelaki sejak masih di sekolah dulu."


"Kamu ada-ada aja, Rom. Aku nggak seperti yang kamu bilang. Aku perempuan biasa, sama seperti Ayu dan teman-teman yang lainnya."


"Kamu berbeda, Qil. Karena itu, sejak dulu aku masih menaruh hati padamu. Aku belum bisa melupakan perasaanku yang dulu. Dan sepertinya, perasaan yang lama tersimpan sudah kembali muncul di permukaan lagi."


"Udah-udah. Kamu jangan gombalin Aqila terus dong, Rom. Yang punya badan ngerasa nggak enak tuh." Ayu berusaha mengakhiri pembicaraan Roman.


Mungkin, Ayu melihat gelagat tidak senang dalam diriku saat Roman membahas tentang perasaannya. Sejujurnya, aku memang tidak terlalu suka jika Roman membahas tentang cinta saat ini. Terlebih lagi, saat ini aku masih dalam proses perceraian.


Luka yang Mas Adam berikan padaku, masih terasa menyakitkan di ulu hatiku. Aku bahkan tidak berani membayangkan akan ada lagi cinta dan pernikahan lagi di kemudian harinya dalam hidupku.


"Eh, kok ban mobilku kempes?" tanyaku tiba-tiba saat sudah sampai di parkiran. Dan memang, ban mobilku semuanya dalam keadaan kempes.


"Sepertinya ini memang dilakukan dengan sengaja," jawab Roman yang sudah berjongkok mengecek keadaan ban mobilku.


Darahku berdesir. Seolah tau siapa pelakunya. Kemudian, saat aku mengitari mobil untuk melihat apakah ada hal lainnya yang pelaku lakukan, ada sepucuk surat yang tertempel di kaca mobil bagian mengemudi.


'Tarik lagi surat perceraian itu, atau kamu tidak akan pernah hidup tenang. Meskipun akhirnya kita bercerai, aku jamin kamu tidak akan pernah memdapatkan kebahagiaan dalam hidupmu!'


Begitu tulisan dalam kertas yang kubaca. Tidak salah lagi, dialah pelakunya, "Mas Adam!" lirihku tak percaya dengan apa yang telah ia lakukan.


"Qil, simpan kertas itu sebagai barang bukti." titah Roman padaku.


Aku mengangguk yakin. Aku juga memotret ban mobilku yang kempes. Jika saja sewaktu-waktu hal itu bisa berguna.


"Benar-benar lelaki brengsek. Bajingan, syukurlah kamu bisa melihat kebusukan dan lepas darinya lebih cepat, Qil. Dan untungnya lagi, kamu nggak bucin-bucin banget sama dia," ucap Ayu membuatku meliriknya kesal.

__ADS_1


"Aku kalau cinta sama orang emang bucin banget. Kamu kan tau. Tapi, sekali aku dikhianati, tiada maaf baginya. Cintaku bisa berubah menjadi kebencian saat itu juga." jawabku dan mencari nomor mekanik yang biasa merawat mobilku secara khusus.


Aku menghubunginya dan memintanya segera datang ke parkiran pengadilan agama dan memperbaiki semua yang mungkin telah rusak dari mobilku. Aku tentu tidak tau, entah apa lagi yang telah Mas Adam lakukan pada mobilku ini.


"Kalau gitu, aku antar kalian berdua pulang." usul Roman padaku dan Ayu.


"Boleh juga tuh, lagian rumah kita kan emang searah juga." Ayu menyetujui tawaran Roman.


Aku masih menimbang-nimbang. Karena sejujurnya, aku merasa tidak enak terus-terusan merepotkan Roman.


"Udah, nggak usah kelamaan mikir. Setuju aja deh. Aku deh yang bakal duduk di depan kalau kamu nggak mau jadi omongan orang-orang." Ayu seakan mengerti kegundahan hatiku.


"Tapi, aku tidak berniat pulang ke rumah. Aku harus ke butik. Karena, mulai sekarang aku ingin menyibukkan diri lagi di butik." jawabku apa adanya.


"Ya udah, kalau gitu aku antar kamu ke butik. Sekalian, aku mau liat-liat juga barang di butik kamu. Siapa tau ada yang cocok untukku." Roman tersenyum dengan manis padaku.


Tiba-tiba ponselku berdering, menandakan ada sebuah pesan masuk. Mas Adam, nama yang tertulis sebagai pengirim pesan itu.


"Berlagak sok suci. Mati-matian ingin bercerai karena aku telah menikah siri dengan Astri. Ternyata, itu hanya akal-akalanmu saja agar bisa bebas dekat dengan pria lain. Dasar wanita murahan. Kamu tidak akan tenang mulai saat ini. Karena hatiku sudah sangat sakit oleh sikapmu!"


Pesan panjang dari Mas Adam membuat jantungku berdetak tak karuan. Apalagi yang akan Mas Adam lakukan setelah ini?


Ayu melihat pesan itu dan segera menscreenshoot layar ponselku.


"Ini juga bisa jadi bukti, Beb. Adam sudah keterlaluan. Dia sudah terang-terangan meneror kamu!" ucap Ayu dengan geram.


"Jika bertemu dengannya. Aku akan memberinya satu hadiah mentah dari tangan kekarku ini," Roman tak kalah geramnya dari Ayu.

__ADS_1


'Terima kasih, Tuhan. Di saat terpurukku, masih ada sahabat dan orang yang mendukung dan menyemangatiku dengan tulus.' batinku dengan mata berbinar sambil memeluk Ayu erat.


__ADS_2