
Beberapa saat setelah kata-kata itu lolos dari tenggorokanku, semua masih tetap diam di posisinya masing-masing.
Mami yang tadinya ingin kembali beristirahat, kini terlihat kembali mengatur duduk dan menyandar pada kepala kasur yang empuk. Mami masih terlihat pucat dan terlebih lagi dengan yang baru saja ia dengar. Wajah syoknya terlihat jelas bagiku.
Aku mendekati Mami dan memegang tangan Mami dengan lembut. Aku sungguh tak ingin membuat Mami salah paham dan kecewa. Apalagi, hubungan kami baru saja membaik setelah belasan tahun berlalu. Meski aku tau, Mami selalu menyayangi dan sangat peduli padaku.
"Mi, semua tidak semudah dan seindah yang aku bayangkan. Semua tak sebaik yang Mami lihat dan pikirkan. Pria itu, dia telah mengkhianatiku!" lirihku tak berdaya di depan ibu kandungku itu.
Entah atas dorongan apa, hatiku kembali sakit. Tubuhku bergetar menahan isak tangis yang sudah lama kupendam. Aku pernah berjanji tak akan menangisi pria brengsek itu lagi. Nyatanya, di depan Mami aku tetaplah seorang anak yang lemah dan butuh perlindungannya.
Mami memelukku dengan erat. Aku menumpahkan semua tangisku di pundaknya. Dengan lembut Mami mengusap punggungku. Setelah puas, aku kembali mengatur posisi dudukku di depan Mami.
"Mungkin, dulu dia adalah suami idaman semua wanita. Dia suami yang lembut dan setia. Dia suami yang membuat banyak teman-temanku merasa iri dan mungkin banyak pula wanita yang meminta diberikan suami sepertinya dalam doa-doa. Bisa jadi, Tuhan menjawab salah satu doa seorang wanita yang lemah dan tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Seorang wanita yang pernah aku bantu dan selamatkan kehidupannya menjadi layak.
Tapi apa yang terjadi, Mi? Mereka berdua telah mengkhianatiku. Di belakangku, mereka telah menikah siri tanpa izinku. Bahkan, wanita itu sedang mengandung saat ini. Tentu saja dia tak akan mau meninggalkan wanita itu. Karena, memang itulah yang selama ini tak bisa aku berikan padanya. Seorang anak. Keturunannya. Darah dagingnya.
Terlepas semua itu. Aku bersyukur, Mi. Aku memiliki segalanya yang diberikan ayah padaku. Bahkan, dia bukanlah siapa-siapa jika bukan karena bantuan ayah. Jadi mereka sangat cocok. Sampah dengan tong sampah. Benalu dengan benalu. Saling bersatu dan melengkapi. Sudah berkali-kali aku katakan padanya. Mungkin aku bisa memaafkan apa pun kesalahannya, kecuali pengkhiantan. Tapi sepertinya, dia menganggap kata-kataku. Hanya angin lalu. Dia pikir aku hanya wanita lemah yang bisa dia tindas dan atur.
Bahkan, tahukah Mami apa yang sempat dia katakan padaku? Biarkan wanita itu tinggal di sini dan melahirkan anaknya. Anak itu akan menjadi anakku juga. Lalu aku bisa turut mengasuh dan membesarkannya. Wanita itu akan mengurus butikku. Apakah Mami pikir itu masuk akal? Apakah Mami pikir aku akan menerima semua itu dengan mudah? Tidak, Mi. Bahkan untuk bermimpi tentang itu saja dia tak akan kuizinkan!" akhirnya aku mengeluarkan semua beban dan sesak di hatiku.
Mami termenung mendengar semua penuturanku. Aku pun melirik ke arah Mas Adam dengan tatapan sinis dan benci. Apalagi yang harus kusembunyikan dari Mami? Semua sudah berlalu.
"Bohong, Mi. Aqila hanya cemburu saja karena Astri dekat denganku. Terlebih lagi Astri itu hamil tanpa suami. Jadi dia mengira aku yang menghamili Astri dan sudah menikah dengannya. Aqila sangat berlebihan, Mi!" tegas Mas Adam membela dirinya di depan Mami.
__ADS_1
Pandai sekali dia menarik simpati Mami. Sebenarnya, apa yang dia harapkan dengan mencari pembelaan dari Mami? Aku curiga bahwa Mas Adam merencanakan sesuatu. Karena itu dia mati-matian mendapatkan simpati dari Mami.
"Sudah lah, Mas. Tak perlu mengelak lagi, semua ucapanku ada buktinya. Apa perlu aku memperlihatkan surat cerai kita pada Mami? Apa perlu aku menelfon gundikmu yang bernama Astri itu sekarang juga?" ancamku pada lelaki yang mulai tampak cemas itu.
"Sayang... Apa yang kamu bicarakan? Jangan membuat Mami tambah stress dengan masalah ini. Ayo kita keluar dan biarkan Mami melanjutkan istirahatnya," ajak Mas Adam dan mencoba menggapai lenganku.
Aku segera menepis lengannya sebelum berhasil menggapai lenganku. Tak sudi aku disentuh lagi oleh pria pengkhianat ini. Dengan cepat pula, aku mengeluarkan ponsel dari saku celanaku. Mencari nama Astri dan menekan tulisan panggil pada layar ponselku itu.
Mas Adam menatapku dengan panik. Aku tau, dia tidak berpikir bahwa aku akan melakukan hal ini sekarang. Selama ini aku terlalu lemah dan menurut padanya. Hanya sedikit sisi kasarku yang dia tau, sekarang akan kuperlihatkan semuanya. Agar dia tau dengan siapa dia berurusan.
"Hallo, Astri." sapaku dengan suara keras dan sengaja menyalakan tombol speaker.
"Iya, Kak. Ada apa? Tumben menelfonku duluan?" tanya wanita pelakor itu di seberang telepon.
Sekaligus, agar Mami mendengar langsung dari Astri. Jawaban Astri akan memperkuat kebenaran yang aku katakan tadi. Tak akan aku biarkan Mami percaya dengan mulut manis pria kere dan pengkhianat ini lagi.
"Mas Adam, di sana? Untuk apa suamiku datang ke rumahmu, Kak? Apa Kakak dan Mas Adam akan rujuk kembali? Apa Kak Aqila sudah bisa menerimaku sebagai madu?" tanya gadis polos itu bertubi-tubi.
Senyum puas tersungging dari sudut bibir tipis ini. Aku menang kali ini. Mas Adam tak bisa berkata apa-apa lagi sekarang.
"Tidak. Aku tidak sudi kembali hidup bersamanya. Dan menerimamu sebagai madu? Jangan bermimpi. Kalian hanya akan hanya menjadi benalu yang menggerogoti diriku jika aku membiarkan kalian kembali mendekati kehidupanku!" jawabku dengan sinis.
Plak... Plak...
__ADS_1
Belum selesai perbincanganku dengan Astri, ternyata Mami sudah terlebih dulu bergerak turun dari kasur dan menghadiahkan dua tamparan beruntun di pipi Mas Adam.
Anehnya, Mas Adam sama sekali tak berkutik pada Mami. Apa yang Mas Adam takutkan pada Mami? Sebenarnya ada apa antara mereka berdua?
"Beraninya kau mempermainkan anakku? Dan cukup berani juga ternyata kau menciptakan kebohongan padaku hem?" hardik Mami dengan suara keras.
Aku tak menyangka, Mami bisa bertindak dan berbicara sekasar itu. Selama ini, yang aku tau Mami adalah sosok wanita yang lembut dan tak pernah marah.
"Tak kusangka kau berani berbohong padaku selama ini. Kau akan menanggung akibatnya, Adam. Aku memberikanmu kepercayaan, dan kau mengkhianatinya. Semua yang aku berikan, tidak sebanding dengan terlukanya hati anakku karena ulahmu. Akan kupastikan, kau akan menanggung akibat dari perbuatanmu ini." ancam Mami terlihat tak main-main pada Mas Adam.
"Sekarang, pergi kau dari sini. Dan jangan pernah kau ganggu anakku lagi. Kau akan berurusan dengan Leon untuk hal ini. Ingat, Leon bukan seseorang yang murah hati. Kau tau itu dengan jelas, Adam!" ucap Mami lagi melanjutkan amarahnya.
"Mi, biar aku jelaskan dulu semuanya. Aku memang salah, Mi. Tapi semua ini bukan murni kesalahanku. Aku bahkan tidak pernah berniat melakukan hal itu sebelumnya. Semua ini hanya kesalah pahaman saja." Mas Adam masih punya muka untuk membela diri dan mencuri rasa iba Mami.
"Kau tidak dengar apa yang baru saja Mami katakan, Mas? Keluarlah dari rumah ini. Aku selaku pemilik rumah ini bahkan tak mengizinkanmu menginjakkan kaki lagi di sini." aku menyela pembicaraan keduanya.
Telepon yang tersambung pada Astri belum terputus. Aku yakin dia mendengarkan dengan jelas bagaimana Mas Adam diperlakukan dengan hina di sini.
"Aqila... Sayang... Tolong, jelaskan pada Mami. Astri hanya sebuah kesalahan. Dan aku berjanji akan meninggalkannya setelah anak itu lahir. Kita akan merawat anak itu berdua,"
"Buanglah mimpimu itu jauh-jauh ke dasar laut. Jangan kau pikir, aku akan membiarkan putriku merawat anak dari pelacur itu!" hardik Mami lagi.
Mas Adam terdiam. Aku segera mematikan panggilan dengan Astri barusan. Sudah cukup. Aku rasa dia sudah cukup mendengar sampai di situ saja.
__ADS_1