Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Menerima Kenyataan


__ADS_3

Kayla kembali duduk setelah aku memintanya dengan lembut. Kali ini aku harus bisa bersikap dewasa agar menjadi contoh juga untuk adikku nanti. Sebesar apapun kesalahan yang Mami lakukan di masa lalu, ia melakukannya karena alasan yang kuat.


Aku tidak bisa menyalahkan Mami sepenuhnya. Sama seperti Mas Adam yang memilih untuk tetap bersama Astri daripada mempertahankan pernikahan kami.


Dari situlah aku mengerti dan menyadari, bahwa memang perasaan itu tak bisa dipaksakan. Selama apa pun kita bersamanya, jika tidak ada cinta hanya akan terasa hampa dan percuma.


"Mami... Sudah cukup bagiku membenci Mami selama belasan tahun ini. Aku sungguh sudah mengeluarkan semua amarah dan kebencianku seiring berjalannya waktu. Luka pasti tersisa, tapi cinta juga akan selalu ada. Apalagi dalam darahku mengalir pula darah Mami." terangku dengan sebijaksana mungkin.


"Nak..." lirih Mami dengan derai air mata.


"Kayla... Tak peduli seperti apa ayahmu, kamu tetap adikku. Kita berasal dari rahim yang sama. Jangan membenci Mami lagi. Bukankah Mami sendiri telah berjuang untuk bisa terus mengandung dan melahirkanmu dengan selamat?" lanjutku lagi mencoba meyakinkan Kayla.


"Benar, Kay. Mami berjuang keras agar bisa kembali Ke Indonesia dalam keadaan sedang hamil besar. Uang pun Mami nggak punya saat itu. Untung ada Leon. Dia memberi Mami sejumlah uang karena Mami membantunya lepas dari kejaran seorang wanita yang tergila-gila padanya. Dengan uang itu Mami pulang dan melahirkanmu. Saat Mami berniat menitipkanmu di panti asuhan, nenek yang menjadi penolong bersalin Mami bersedia merawatmu sepenuh hati dan menganggapmu sebagai cucunya. Mami juga mengatakan padanya agar tidak merahasiakan apapun pada nenek itu tentang Mami padamu. Mami ingin kamu tau segalanya. Tetap menunggu atau membenci Mami, itu adalah keputusanmu.


Karena kondisi keuangan Mami yang tak memungkinkan, sejak kamu berumur tiga bulan Mami pergi. Mami kemana saja dan bekerja apa saja asal Mami mendapatkan uang untuk dikirim pada nenek yang merawatmu. Ketahuilah, Nak, tidak sepersen pun uang yang Mami kirim untuk biayamu dari hasil kerja yang haram. Mami tidak ingin, keharaman mengalir pada darahmu. Mami hanya memikirkan bagaimana caranya agar kamu bisa hidup dengan layak.


Bukan berarti Mami nggak khawatir pada Kakakmu, tapi hidup kakakmu sudah terjamin karena memiliki seorang ayah yang bertanggung jawab dan sangat mencintainya." Mami kembali menjelaskan segalanya pada Kayla.


Gadis itu menatap Mami dengan sengit dan mata yang berlinang.

__ADS_1


"Kenapa kamu harus pergi meninggalkan anak dan suamimu demi pria brengsek itu? Jika kamu nggak pergi, aku nggak mungkin ada. Dan hidupku nggak akan seperti ini!" Kayla berteriak histeris dan menangis di sana.


Ya Tuhan. Apa begitu berat beban hati yang ditanggung gadis kecil itu? Sesulit itu kah selama ini dia mencoba melupakan dan berusaha hidup dengan baik? Berarti, nasibku tak lebih beruntung darinya karena setidaknya aku memiliki ayah sebagai pelindungku. Benar, sosok ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Dan sosok ayah juga bisa jadi penyebab patah hati terparah bagi anak perempuannya.


Itu terjadi pada kami berdua. Memiliki ayah yang berbeda meski satu ibu yang sama. Nasib kami pun jauh berbeda. Namun, belum terlambat bagiku untuk memperbaiki segalanya. Meski bagaimana pun dia adalah adikku.


Walaupun aku tau, semua harta peninggalan ayahku tak mungkin aku bagi dua untuknya, setidaknya aku bisa membantu mengurus dan membiayai pendidikannya. Dia bisa ikut mengelola beberapa bisnisku.


"Kayla, itu semua sudah menjadi bagian dalam takdir. Kita tidak bisa menyalahkan Mami. Mami juga nggak mau kan berada dalam posisi itu? Jika Mami tau akan jadi begitu dulunya, pasti Mami nggak akan melangkah ke jalan yang salah. Kita nggak pernah tau bagaimana takdir akan membawa hidup kita di kemudian hari." terangku pada Kayla.


Kayla terdiam tak dapat bicara. Ia masih merenung apa yang baru saja aku katakan. Mungkin sedang menimbang dan bimbang saat ini. Aku tidak ingin memaksa Kayla. Biarlah dia memutuskan sendiri pilihannya. Aku yakin dia sudah cukup dewasa untuk mengerti dengan semua keadaan ini.


"Aku sudah bilang itu nggak perlu. Aku mencarimu karena aku merasa tidak asing denganmu. Bisa kamu buka masker mu itu? Aku ingin melihat wajahmu dengan jelas." jawabku tulus.


Meski sempat ragu, Kayla akhirnya membuka topi dan maskernya. Rambut hitam panjang tergerai indah hingga ke batas pinggang. Wajahnya yang mungil dengan hidung mancung sama sepertiku. Gadis ini benar-benar 90% mirip denganku. Inikah yang dinamakan takdir? Berasal dari satu rahim yang sama, meski hidup terpisah dan tak pernah saling mengenal sebelumnya.


"Aku sudah tau tentang kakak sejak lama. Aku bahkan tau kalau kakak baru saja bercerai. Pria itu bajingan. Aku tau sejak awal tentang perselingkuhannya. Tapi..." kata-katanya terputus.


"Sudah lah, aku nggak peduli lagi masalah itu. Biarlah semua menjadi masa lalu saja. Kini aku ingin memulai hidup yang baru. Menjalani hidupku yang sempat tersandung batu besar, kini sudah terlepas dan sudah bisa berjalan bebas," aku mencoba berlapang dada dan memang ingin melupakan semuanya.

__ADS_1


"Bisakah aku sepertimu, kak?" tanya Kayla dengan menutup wajahnya menahan tangis.


"Tentu saja bisa. Dan harus bisa. Sekarang, kita bertiga. Kekuatan kita besar dan kuat untuk menghadapi semua masalah yang akan datang. Asal... Kita saling berpegang tangan. Maafkan lah Mami. Kita buka lembaran baru dalam hidup ini."


Mami masih tetap diam dan memandang kami bergantian. Mami mungkin sudah tak punya lagi kosa kata yang akan diungkapkan atau dibicarakan. Semua sudah Mami tumpahkan sejak awal bertemu tadi. Semua ini memang berat untukku. Tapi itu pasti lebih berat untuk Mami.


Berpisah dengan dua orang putri yang ia lahirkan. Aku yakin Mami merasa tersiksa setiap hari di sela gelak tawa kebahagiaan yang ia jalani. Terlepas semua itu, banyak orang yang terlihat bahagia sebenarnya adalah orang yang menyimpan luka paling dalam di hatinya.


"Sayang... Mami minta maaf karena telah menelantarkan hidup kalian berdua. Hanya itu yang bisa Mami katakan. Meski kata maaf saja pasti tak pernah cukup. Lusa, Mami akan pergi kembali ke London bersama Leon. Dan... Mami nggak akan pernah kembali dan mengusik hidup kalian lagi!" ucap Mami dengan mimik wajah yang serius.


Aku tercengang mendengar ucapan Mami. Hatiku serasa tak rela jika Mami pergi lagi dalam hidupku.


"Jangan pergi lagi dari hidupku... Mami..." ucap Kayla tiba-tiba menambah keterkejutanku.


Pertama kalinya sejak tadi, aku mendengar Kayla memanggil Mami dengan sebutan Mami. Mungkin kah hatinya sudah luluh? Sudah bisakah Kayla memaafkan Mami sepenuhnya.


"Kay... Panggil Mami sekali lagi, Nak. Itu panggilan pertamamu pada Mami setelah 15 tahun berlalu." pinta Mami dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


"Mami... Jangan pernah pergi lagi. Aku... Aku sudah memaafkan Mami. Jangan tinggalkan aku lagi. Ayo, kita hidup dengan baik bersama kak Aqila juga!"

__ADS_1


Serempak kami berdua menghambur ke tempat Kayla duduk. Aku dan Mami memeluk tubuh gadis kecil yang sudah bermata sembab itu. Kami bertiga saling menangis dalam pelukan. Akhirnya, semua masalah ini hampir terselesaikan.


__ADS_2