Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Tabrak Lari


__ADS_3

Selesai sudah satu masalah besar yang baru saja kami hadapi. Rahasia besar tentang masa lalu Mami sudah terkuak dan sukses mengalirkan air mata yang tak henti dari pelupuk mata.


Aku dan Kayla bergantian saling memeluk dan mencium Mami. Mami masih menunjukkan wajah haru dan tak percayanya atas semua ini.


Beginilah kehidupan. Akan ada suka dan duka yang datang silih berganti. Akan selalu ada satu rahasia besar yang Tuhan sembunyikan agar kita bisa belajar hidup lebih baik sampai tiba saatnya.


Tentu, sudah Tuhan siapkan pula banyak kemudahan dan kebahagiaan sebagai imbalan perjuangan dalam kesusahan kita selama menjalani ujian dan cobaan itu.


Saat ini kami sudah berada di parkiran. Aku sudah memutuskan bahwa Kayla akan berhenti bekerja sebagai kurir. Dia akan kubawa tinggal bersamaku dan Mami. Dan tentu saja, Kayla juga akan melanjutkan pendidikannya yang sampai terputus. Aku akan mengantarkan Kayla sampai jenjang pendidikan tertinggi.


Kayla layak mendapatkan semuanya setelah puas mencicipi kekejaman hidup seorang diri dan kerja banting tulang demi sesuap nasi. Aku ingin Kayla merasakan kehidupan yang selayaknya anak seusianya dapatkan dan nikmati.


Setelah Mami dan Kayla masuk ke mobil, aku berjalan memutar dari belakang mobil menuju pintu kemudi.


Ciiittt... Braaak...


Suara decit roda yang tergelincir masih terdengar di gendang telingaku seiring dengan ambruknya tubuhku ke lantai parkiran bawah tanah itu. Lambat laun aku juga mendengar suara Mami dan Kayla berteriak histeris memanggil namaku dan meminta tolong.


Setelah itu, gelap dan hitam. Hening. Aku tak tau apa-apa lagi. Tak melihat apa-apa dan tak juga mendengar sedikit pun suara di sekitarku. Aku tak sadarkan diri.


\*\*\*


"Bagaimana keadaan Aqila, Dok?" suara yang kuyakini pemiliknya adalah Mami sayup-sayup mulai terdengar.


"Saat ini, keadaannya sudah mulai membaik. Tapi, kaki pasien masih belum bisa digerakkan karena benturan hebat dari ban mobil itu." jawab suara yang pasti orang yang dipanggil Mami Dokter.


Aku membuka mata perlahan. Meski samar-samar, aku bisa melihat dengan jelas ada Mami dan seorang berpakaian layaknya Dokter di ujung ranjang tempatku berbaring.


Dimana Kayla? Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Namun, gadis yang baru saja kuketahui sebagai adikku itu tidak terlihat. Apa mungkin dia pergi dan meninggalkan kami?

__ADS_1


Tidak mungkin. Tadi kami sudah sepakat akan hidup dengan bahagia bertiga. Mungkin saja Kayla hanya sedang pergi keluar. Nanti dia akan datang kembali ke sini.


Aku tau, saat ini aku sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Tercium aroma khas rumah sakit yang menyengat hidung. Dan juga, tangan kiriku yang kini sedang terpasang infus.


"Mami..." panggilku sambil berusaha untuk mengatur duduk.


"Awww..." aku memekik sambil memegang kaki kananku yang terasa sangat perih dan ngilu. Ada apa ini sebenarnya?


"Sayang, jangan bergerak dulu. Istirahat saja ya, Nak. Dokter akan memberikan pengobatan terbaik untukmu." ucap Mami yang membuatku menjadi semakin bingung.


"Ada apa ini, Mi? Kenapa dengan kakiku?" teriakku mulai tak bisa mengendalikan emosi.


"Bu Aqila, saat ini syaraf kaki anda ada yang terjepit dan mengalami lumpuh sementara. Kita akan melakukan pengobatan terbaik dan operasi untuk memperbaiki syarafnya. Operasi akan dilakukan bertahap selama tiga kali. Mohon ibu bersabar dan menjaga emosi agar tekanan darah tidak naik. Karena itu bisa mempengaruhi jadwal operasi nantinya." jelas Dokter pria paruh baya itu padaku.


Serasa kena sambar petir di siang bolong saat aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulut sang Dokter. Apa lagi ini sekarang? Baru saja aku akan menjalani hidup yang bahagia bersama Mami dan Kayla, kenapa Tuhan beri lagi aku cobaan?


"Nak, nggak usah mikirin yang aneh-aneh ya. Ini cuma sementara kok. Kamu pasti sembuh lagi seperti semula. Kamu dengar kan yang Dokter katakan. Dia akan memberikan pengobatan terbaik dan ini hanya lumpuh sementara." Mami menguatkanku setelah kulihat Dokter pria itu meninggalkan ruanganku.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Mi? Kenapa aku bisa sampai seperti ini?" tanyaku dengan dada sesak menahan agar tak menangis histeris.


"Kamu korban tabrak lari. Mami nggak lihat siapa yang nabrak kamu kemarin. Tapi Mami yakin itu disengaja dan Mami udah lapor polisi."


"Siapa yang ingin membunuhku? Aku tidak punya musuh, Mi. Aku... Aku selama ini berusaha untuk selalu baik dengan semua orang."


"Tenang, Nak. Tenang. Polisi sedang mengusut kasus ini. Ada rekaman CCTV yang akan membantu kita untuk mencari tau siapa yang tanpa atau dengan sengaja telah menabrakmu dan menyebabkan kondisimu menjadi seperti sekarang ini."


"Dimana Kayla?" tanyaku seketika saat teringat pada adikku itu.


"Kayla sedang pergi mengurus administrasimu setelah itu keluar untuk membeli makan siang." jawab Mami sambil membelai lembut rambut di kepalaku.

__ADS_1


Sudah lama sekali, tak kurasakan belaian lembut seperti itu. Sejak ayah meninggal dan Mas Adam mengkhianatiku.


Mas Adam. Apa mungkin pria itu yang dengan sengaja ingin mencelakaiku? Apa dia sudah punya cukup nyali untuk berurusan dengan Leon, kekasih Mami? Tapi, aku tidak bisa sembarang menuduhnya saat ini. Aku sama sekali tidak punya bukti akan hal itu.


Biarlah petugas kepolisian menyelesaikan tugasnya dengan baik. Aku percayakan semuanya pada pihak yang berwajib. Siapa pun dia, sengaja atau tidak sengaja tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia juga harus menanggung semua biaya pengobatanku di Rumah Sakit.


Aku tak ingin lagi menjadi orang yang selalu bermurah hati pada penjahat. Harus kuperlihatkan pula sisi kejam dan tak peduliku pada mereka. Agar aku tak selalu diinjak dan direndahkan karena lebih sering memilih diam dan menurut saja dengan apa yang terjadi.


"Mi... Bagaimana jika orang yang ingin mencelakaiku adalah Mas Adam?" tanyaku pada Mami yang sedang mengupas sebuah apel di atas nakas samping ranjangku.


"Tidak masalah. Cepat atau lambat dia akan mendapatkan hukumannya. Mami akan laporkan pada Leon tentang hal ini." jawab Mami singkat dan masih melanjutkan aktifitasnya.


"Apakah Mami serius dengan Leon?"


Tangan Mami terhenti dari kegiatannya mengupas buah apel yang berwarna merah ranum itu. Aku melihat gelagat tak enak dari tubuh dan wajah Mami. Seperti tidak nyaman.


"Sorry... Aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Mami." lanjutku sebelum Mami semakin merasa tak nyaman.


"Nggak masalah, Sayang. Mami senang kamu menanyakannya. Setidaknya itu memperlihatkan sikap pedulimu pada Mami."


"Aku akan mencoba jadi anak yang baik mulai saat ini, Mi."


"Terima kasih, Sayang. Kalian berdua adalah jantung hati Mami saat ini. Kalian hidup dan mati Mami. Tak akan Mami biarkan satu apa pun yang akan merenggut kebahagiaan kalian. Mami akan menjadi orang pertama yang akan mengorbankan segalanya asal kalian bisa hidup bahagia. Mami orang pertama yang akan siap menggantikan kalian agar tidak terluka!"


"I love you, Mom."


"I live you too, Baby."


Mami menggenggam tanganku dan meneteskan air mata. Kemudian kami sama-sama tersenyum bahagia. Aku percaya, dibalik setiap musibah pasti ada hikmahnya.

__ADS_1


__ADS_2