Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Pernikahan Astri


__ADS_3

Aku memutuskan untuk ke rumah kontrakan yang disewa oleh Astri selama ini. Aku yang mencarikan rumah ini untuk Astri, dan aku juga pernah beberapa kali mengantarkannya pulang. Saat tiba di sana, rumah itu dalam keadaan kosong dan terkunci dari luar. Aku mengintip dari kaca, rumah itu memang sudah kosong sampai ke dalam. Seperti rumah yang sudah tidak berpenghuni lagi.


'Apa mungkin Astri pindah? Kemana dia pindah? Kenapa dia tidak memberitahu padaku?' gumamku dalam hati.


Sekitar lima menit aku duduk di teras rumah kontrakan Astri itu, akhirnya aku memilih untuk pulang. Aku takut, Mas Adam sudah duluan pulang dari kantor. Saat aku berdiri, ada seorang ibu-ibu yang menegurku dengan sopan.


"Mba lagi nyari Neng Astri, ya?" tanya si Ibu padaku.


"Eh. Iya, Bu. Ibu kenal Astri?" tanyaku, setelah lebih dulu menjawab pertanyaan si Ibu.


"Ya kenal atuh, Mba. Neng Astri kan lama tinggal di sini. Semua orang di sini juga pada kenal," jawab ibu itu padaku.


"Tapi, Bu, ini Astri kok nggak ada di rumah ya? Dan sepertinya rumah ini sudah kosong,"


"Iya, Mba. Neng Astri sudah pindah dua bulan yang lalu!"


"Pindah, Bu?"


"Betul, Mba. Katanya, capek kalau terus harus jauh-jauhan sama suami. Jadi mau pindah ke runah yang dibeli suaminya. Supaya suaminya juga nggak capek bolak balik terus,"


"Maksud Ibu, Astri punya suami?"


Tentu saja aku terkejut mendengar pengakuan Ibu itu, karena selama bekerja denganku Astri belum pernah menikah. Jangankan menikah, memiliki seorang pacar saja dia tidak. Bagaimana mungkin tiba-tiba sekarang dia sudah punya suami? Jika memang benar, kenapa Astri tidak pernah cerita padaku? Apa sebenarnya yang Astri sembunyikan dariku?


"Mba... Kok ngelamun? Mba dengar nggak yang Ibu bilang tadi?" suara si Ibu membuyarkan lamunanku.


"Eh, apa tadi Bu? Coba diulang, maaf tadi saya kepikiran Astri," pintaku pada si Ibu.

__ADS_1


Sepertinya si Ibu tidak terlalu sibuk, dia lalu bergabung duduk di teras rumah kosong itu bersamaku. Kebetulan, memang ada dua buah kursi di teras itu sejak dulu.


"Begini, Mba, sebenarnya Neng Astri itu sudah lama menikah. Mungkin sudah lima atau enam bulan yang lalu. Dapat suami Duda sih katanya, tapi masih muda dan ganteng banget, Mba."


"Terus, Bu, apa Astri menikah di rumah ini?"


"Iya, Mba. Di rumah ini, cuma panggil Pak KUA dan warga setempat untuk doa dan makan bersama. Kata Neng Astri, nggak mau buat acara mewah-mewah. Yang penting syakral. Padahal suaminya kelihatan sangat kaya."


"Lanjutkan, Bu. Saya ingin tau semuanya."


"Jadi kan, suami Neng Astri ini kerjanya di pusat kota. Jadi pagi-pagi sekali sudah harus berangkat. Makanya selama ini, suaminya tetap tinggal di kota dan dia di sini. Paling ya, malem saja suaminya di sini sampe tengah malam gitu. Terus pergi, nggak pernah nginap. Pas kami tanyain, katanya kalau nginap takut terlambat sampat di kantor, kalau berangkatnya dari sini,"


"Kok Astri nggak pernah cerita ya sama aku, Bu. Memang dulu seingatku dia pernah minta izin tiga hari, katanya mau pulang kampung jenguk paman dan bibinya yang masuk rumah sakit!"


"Kalau boleh tau, Mba ini siapanya Neng Astri?"


"Ooo... Jadi, Mba ini pemilik butik tempat Neng Astri bekerja, ya? Kok beda banget sama yang sering di ceritakan sama Neng Astri sama Ibu-Ibu di sini... Aslinya lebih cantik dan baik, kok." ucap si Ibu yang langsung mengundang rasa ingin tahuku.


"Emang, Astri bilang apa saja Bu tentang aku?"


"Eh, enggak Mba. Enggak ngomong apa-apa, kok." jawab si Ibu, yang sepertinya sungkan untuk memberitahuku.


Ya sudah, akupun tak mau membahas masalah itu lagi. Saat kulirik jam tanganku, sudah jam enam sore. Pikiranku langsung dipenuhi oleh Mas Adam. Aku khawatir Mas Adam sudah di rumah dan aku malah tidak ada di rumah.


Tapi, jika memang Mas Adam sudah di rumah, pasti dia menelfonku. Kuambil ponsel dari dalam tasku, kulihat layar ponsel itu. Tidak ada satupun panggilan atau pesan dari Mas Adam. Bahkan sejak siang tadi dia memutuskan panggilan telfonnya, dia belum menghubungiku lagi.


"Bu, terima kasih banyak ya sudah memberikan informasi pada saya. Mungkin, besok saat Astri masuk kerja kembali, saya akan menanyakannya kemana dia pindah sekarang," aku berdiri dan pamit pada Ibu paruh baya itu.

__ADS_1


"Iya, Mba. Tapi jangan bilang ya kalau Ibu udah cerita tentang pernikahannya. Sepertinya Neng Astri nggak suka ada orang luar yang tau dia sudah menikah."


"Lo, kok gitu ya, Bu?"


"Mungkin malu, Mba."


"Malu kenapa, Bu? Kan menikahnya sah?"


"Em, mungkin saja karena dia masih gadis muda, tapi menikah dengan duda kaya. Neng Astri takut disangka hanya menikah karena kepincut rupa dan harta. Jadi dia selalu mencoba merahasiakannya, Mba, kecuali dari warga sekitar sini, yang memang datang pas meraka ijab qabul.


"Oh gitu. Ya, mungkin saja ya, Bu. Baiklah kalau begitu, Bu, saya pamit pupang dulu. Takut keburu malam dan suami saya sudah menunggu di rumah!" ucapku sedikit berbohong.


"Iya, Mba. Hati-hati di jalan. Nanti kapan-kapan main saja ke sini, kalau nggak ketemu sama Neng Astri. Mungkin Pak RT bisa membantu, karena data-data mereka saat menikah kan ada sama Pak RT." Ibu itu sungguh baik, benar-benar mau membantuku.


"Baik, Bu. Sekali lagi, terima kasih banyak. Saya pamit dulu." aku berjalan dan masuk ke mobil dengan senyuman hambar.


Kutinggalkan gang kecil tempat Astri tinggal dulu dengan perasaan campur aduk. Apa yang Astri coba sembunyikan dariku? Bukankah aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri? Lalu kenapa dia sama sekali tidak memeberitahuku bahwa dia sudah lama menikah.


Lima sampai enam bulan yang lalu, bukan seminggu atau dua minggu. Kenapa dia menyembunyikan pernikahannya selama itu dariku? Apa sebegitu malunya dia menikah dengan seorang duda? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiranku saat ini. Hingga membuatku beberapa kali hampir menabrak pengendara lain karena kurang fokus menyetir.


'Baiklah, sebaiknya besok kutanyakan saja pada Astri. Aku yakin, besok dia pasti masuk kerja. Lagi pula, selama ini aku selalu baik dan tidak pernah kasar padanya. Mana mungkin dia tega tiba-tiba berhenti bekerja begitu saja.' ucapku dalam hati.


Lalu kembali fokus menatap jalan menuju ke rumahku. Saat aku sampai di rumah, sudah jam tujuh malam. Dan Mas Adam ternyata belum sampai di rumah.


Ada apa dengan orang-orang hari ini? Kenapa aku seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa? Saat aku merasa kesal pada diriku sendiri, kudengar suara mesin mobil Mas Adam memasuki garasi rumah ini.


"Itu, Mas Adam sudah pulang," lirihku sambil tersenyum bahagia menyambut suamiku.

__ADS_1


__ADS_2