Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Menolak


__ADS_3

"Qila, dia nggak ada ganggu kamu kan hari ini?" tanya Roman setelah kami selesai makan siang bersama di butikku.


"Tidak. Mana berani lagi dia. Ada kalian yang selalu menjagaku, takutlah dia. Cuman, barusan istrinya telfon aku," jawabku dengan jujur.


"Ngapain lagi pelakor itu nelfon-nelfon kamu?" tanya Ayu sedikit emosi.


"Lucu sekali gundiknya itu, dan cukup tebal muka juga dia. Dia memintaku mengirimkan uang pada Adam."


"Apa? Tidak salah? Apa dia sudah gila? Aku rasa, dia benar-benar perlu test kejiwaan!"


Aku hanya bisa tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Ayu. Aku memang sudah lelah menghapi masalah yang tak pernah ada habisnya ini. Jadi, setelah kupikir-pikir lagi, biarlah mereka menjalani hidupya sendiri. Sebab itu aku menjual semua barang yang pernah aku beli saat bersama Mas Adam.


Meski hatiku sakit, masih tersisa sedikit jiwa kemanusiaan di dalam diriku sebagai seorang wanita. Meski aku belum pernah hamil dan melahirkan, aku tau biaya untuk itu tidaklah sedikit. Maka, berkali-kali aku kirim uang ke rekening Mas Adam. Uang hasil penjualan barang-barang yang aku beli saat bersamanya. Tak jarang, aku memberi lebih banyak untuknya, agar ia bisa lebih fokus membiayai istrinya yang sedang mengandung. Juga menyimpan dana untuk biaya persalinan Astri kelak.


Tapi, sepertinya semua itu sia-sia. Mas Adam sedikit pun tidak melihat sisi baikku. Saat ini, aku benar-benar merasa Mas Adam adalah orang asing yang sama sekali tidak aku kenal. Sifat dan sikapnya sangat jauh berbeda. Entah apa yang sedang dia kerjakan dan rencanakan saat ini.


"Sepertinya, Mas Adam sudah membohonginya masalah uang yang selama ini aku kirim. Pembohong, akan tetap jadi seorang pembohong sampai kapan pun. Tidak menutup kemungkinan, saat ini dia sedang bermain gila dengan gadis muda lainnya," ucapku perlahan.


"Ya sudah, tidak usah terus-terus memikirkan mereka. Masalahmu dan masalah mereka sudah selesai. Sudah berlalu. Sekarang, kamu jalani saja hidupmu yang baru."


"Mungkin berat, tapi aku yakin, kamu pasti bisa melewatinya. Dan jangan lupa, aku selalu ada untukmu," lanjut Ayu dan merangkulku.


Roman tersenyum sambil menyantap puding coklat yang tadi ia beli. Sesekali ia melirik ke arahku, tapi aku pura-pura tidak melihat saja. Karena aku takut, Roman akan menyatakan cintanya lagi padaku.

__ADS_1


Risna datang dan membantu mengemasi sampah-sampah sisa makan siang kami. Risna memang gadis yang baik dan rajin. Tapi, aku tentu tidak mau masuk dalam lobang yang sama untuk kedua kalinya. Meski pun saat ini aku tidak memiliki suami atau kekasih, tapi ternyata dulu Astri sering meminjam uang kasir dan sampai saat ini tidak pernah ia kembalikan.


Aku yang terlalu percaya menyerahkan perbendaharaan padanya, memang tidak pernah mengecek keuangan kasir. Itu sebabnya, saat ini aku masih enggan untuk menyerahkan kekuasaan itu pada Risna. Lagi pula, aku tidak memiliki kegiatan lain. Jadi untuk saat ini, biarlah aku yang mengambil alih kembali masalah keuangan butik.


"Qila, nanti malam keluar yuk," ajak Roman padaku.


Ayu yang sedang menguyah sebuah donat, menghentikan aktifitasnya dan melirikku bergantian dengan Roman.


"Apalagi sih yang kamu takutkan? Kamu tuh single sekarang, Qila. Sekali-kali nyenangin diri sendiri apa salahnya?" bujuk Ayu saat aku masih memikirkan jawaban apa yang akan aku beri pada Roman.


"Iya. Santai ajalah. Aku cuma mau minta temanin belanja keperluan bulananku kok. Kamu kan cewek, lebih tau mana yang harus dan nggak harus di beli. Kalau aku belanja, pasti semua kuborong. Ntar aku traktir deh. Gimana? Mau kan? Ya... Ya...!" Roman kembali membujukku dengan rayuannya yang kadang terlihat sedikit konyol.


"Hmmm... Okey. Tapi, nggak lama-lama, ya. Bentaran aja, aku nggak suka keluar lama-lama. Lebih enak di rumah, rebahan, baca novel atau dengerin musik." jawabku terus terang.


"Udah-udah. Nggak masalah, nanti aku jemput jam 7 malam, ya. Dandan yang biasa aja. Jadi dirimu sendiri, biar kamu enjoy,"


"Ya iyalah. Emang kamu pikir, Aqila bakal dandan menor gitu demi pergi jalan sama kamu? Mimpi deh kamu, Rom!" ucap Ayu dengan tawa garing.


Aku pun tak bisa menahan tawa, begitu pun Roman. Kami bertiga tertawa lepas bersama. Seperti inilah hidup yang aku inginkan. Bebas, lepas dan tak ada beban.


"Kalau gitu, ayo kita pergi sekarang. Biarkan Nyonya ini meneruskan pekerjaannya. Jika tidak, bagaimana nasib semua karyawan-karyawan ini," seru Ayu dan beranjak dari tempat duduknya.


Roman mengikuti berdiri. Kemudian setelah berpelukan, Ayu berjalan ke arah pintu keluar terlebih dahulu. Roman masih berdiri mematung di depanku. Aku tau, sejak tadi dia ingin mengatakan sesuatu padaku. Tapi ia tahan karena adanya Ayu diantara kami.

__ADS_1


"Qila... Aku tau ini terlalu cepat. Tapi, aku takut jika tidak sempat mengatakan hal ini padamu," Roman berkata dengan tangan bergetar di balik saku celananya.


"Maaf, Rom. Aku tau apa yang akan kanu katakan. Dan jawabanku akan selalu sama untukmu," aku langsung to the point kan saja ucapan Roman tersebut.


"Dengar dulu, Qila. Kali ini aku bukan hanya sekedar mengatakan perasaanku saja. Tapi... Aku ingin melamarmu. Tidak masalah jika aku harus menunggumu. Setidaknya, aku hanya ingin memastikan kau selalu ada dalam pengawasanku."


"Rom, aku tau maksudmu baik. Tapi, aku tidak bisa menerima seseorang dalam hidupku hanya karena dia merasa iba padaku. Atau sebatas rasa ingin melindungi saja. Pernikahan bukanlah lelucon yang bisa dimainkan seperti itu."


"Aku banar-benar menyukaimu, Qila. Sejak dulu, dan aku yakin kamu tau hal itu!"


"Perasaan suka itu bisa karena beberapa faktor. Mungkin hanya sekedar tertarik pada paras saja, tutur kata atau semacamnya. Dan itu bisa hilang sewaktu-waktu, Rom. Maaf, aku tidak bisa!" aku bersikeras menolak dengan sehalus mungkin pernyataan Roman.


"Qila, meski aku melamarmu saat ini, bukan berarti kita akan menikah secepatnya. Kita akan menunggu waktu yang benar-benar tepat. Saat hatimu sudah benar-benar yakin untuk membina kembali rumah tangga. Bersamaku, kita mulai hidup yang baru." Roman masih berusaha meyakinkanku.


Entah mengapa aku sama sekali tidak bisa merasakan getaran istimewa saat bersama Roman. Untuk mengatakannya terus terang, aku pun tak sanggup. Aku takut Roman terlalu terluka hatinya.


"Aku tidak yakin, apakah suatu saat nanti aku bisa membuka hati untuk sebuah pernikahan atau tidak. Tolong jangan memaksaku lagi." ucapku dengan nada sedikit memohon padanya.


Sepertinya, Roman mengerti kegundahan hatiku. Dia dengan lembut mengusap lengan kananku dan tersenyum manis.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu lagi jika memang seperti itu keputusanmu. Jangan lupa, nanti malam, ya." ucapnya mengingatkanku dan berlalu keluar dari butik


Mungkin Ayu sudah menunggunya dengan segudang pertanyaan.

__ADS_1


'Bagaimana aku bisa menerima pria setulus dan sebaik dirimu, Rom? Andai aku menaruh rasa padamu, aku pasti tetap tidak bisa bersamamu. Kau terlalu sempurna untuk diriku ini.' batinku barkata.


__ADS_2