
(POV Adam)
"Ini pesanannya, Pak." ucap seorang pelayan wanita yang baru saja mengantarkan seporsi makan siang padaku.
"Baik, terima kasih," jawabku seraya mengambil sepiring nasi berisi lauk pauk itu dengan cepat.
Perutku sudah sangat lapar. Saat keluar dari rumah Aqila tadi, jam sudah menunjukkan jam satu siang. Tentu saja perutku keroncongan karena lapar. Terlebih lagi karena pagi tadi aku tidak sempat sarapan di rumah, karena bergegas ingin bertemu Mami.
Namun, siapa sangka semua malah menjadi petaka yang tak bisa kuhindari. Aku keluar dari rumah itu dengan penghinaan yang bertubi-tubi. Aku diusir dan dicaci maki oleh Mami dan Aqila. Harga diriku serasa dipijak-dipijak oleh kedua wanita itu.
Telepon yang terus berdering tak lagi kuhiraukan. Aku tau, Astri menelepon hanya untuk menanyakan masalah di rumah Aqila tadi. Aku sudah muak mendengar ocehannya yang tak pernah habis.
Aku melajukan mobil dan berakhir di Rumah Makan Padang ini. Akhir-akhir ini aku menikmati makan nasi padang yang memang rasanya tak ada tanding. Maka di sinilah aku sekarang, memanjakan lidahku dengan masakan Padang yang khas dengan rendang dan gulai kepala ikannya.
Aku makan dengan lahap dan sampai meminta nasi tambah pada pelayan wanita itu. Segelas es teh menyegarkan juga dahagaku di siang hari yang terik ini.
Setelah selesai makan. Aku bersandar ke dinding kursi sambil menghirup racun di dalam rokok yang kuhisap. Sudah tau rokok itu mengandung racun, masih saja aku candu menikmatinya. Belum lama aku bersantai, ponselku kembali berdering yang menandakan bahwa Astri kembali menelepon.
"Apa kamu nggak bisa biarin aku tenang sehari aja?" hardikku dengan kasar begitu panggilan telepon itu sudah terhubung.
"Mas... Mas berteriak padaku? Mas memarahiku? Kenapa? Harusnya aku yang marah!" jawabnya dengan nada bergetar.
Mungkin hatinya terluka oleh ucapanku tadi.
Lagian, siapa suruh terus menggangguku sejak tadi. Aqila saja tak pernah seposesif itu saat menjadi istriku. Dasar Astri ini gadis muda yang labil dan sensian sekali.
__ADS_1
"Sudahlah, nanti saja bicaranya. Aku sebentar lagi pulang. Sekarang perutku masih kenyang sehabis makan. Kalau mau nangis, ya nangis aja dulu sebelum aku pulang." ujarku dengan nada tak peduli lagi padanya.
Tuuut... Tuuut...
Terdengar suara panggilan itu sudah terputus. Astri pasti kesal dengan sikap dan ucapanku barusan. Tapi apa peduliku? Toh masalahku sendiri saat ini lebih besar dan rumit. Dan Astri sama sekali tidak akan bisa membantuku menyelesaikannya.
"Dasar, perempuan egois. Tak tau diri. Enak saja mematikan telpon tanpa persetujuan dariku." gerutuku dan kembali menyimpan ponsel di saku celana dasar yang ku kenakan.
Setelah aku rasa cukup rileks diriku untuk kembali ke rumah, aku berjalan ke arah kasir dan membayar semua yang aku makan dan minum. Bayangkan saja, dengan semua yang aku makan dan minum hingga kenyang, tak menghabiskan uang selembar uang 50 ribuan. Beda sekali jika aku makan di caffe atau Resto yang menelan bujet sampai ratusan ribu.
Apa sekarang aku baru menyadari semua itu karena sudah tak memiliki uang yang banyak seperti dulu lagi? Entahlah, rasanya aku menjadi lebih perhitungan dalam segala hal sejak tak lagi memegang kendali di perusahaan Alm ayah Aqila.
Kulajukan mobil kembali ke rumah, dimana Astri sudah pasti menungguku dengan setumpuk pertanyaan dan omelan tak jelasnya. Hanya mobil ini satu-satunya harta yang bisa kupertahankan karena surat kepemilikan atas namaku. Meski dulu Aqila lah yang membayar cash untuk mobil ini. Lagi pula, Aqila tak sedikit pun membahas tentang mobil ini saat perceraian dan pembagian harta gono gini.
"Mas, kamu makan di luar? Kamu nggak mikirin perasaan aku gimana? Aku udah bela-belain masak untuk kamu lho!" omelan Astri langsung menyambutku di depan pintu.
Aku menuju kamar dan berbaring di kasur setelah melepas jas hitam yang membungkus tubuhku sejak tadi pagi.
"Mas... Kamu ngapain ke rumah Kak Aqila?" tanya Astri dan duduk di sisi ranjang yang kosong.
"Bukan urusanmu!" jawabku dengan ketus.
"Mas, aku istrimu. Tentu aku perlu tau untuk apa kamu datang ke rumah jandamu itu?"
"Astri! Tutup mulutmu. Kalau bukan karena dirimu, Aqila tidak akan pernah menjadi jandaku. Dia akan tetap menjadi istriku sampai saat ini. Harusnya kamu bersyukur aku sudah memperjuangkanmu sejauh ini." aku mencecarnya dengan ocehan yang pedas.
__ADS_1
Kudengar, wanita yang sedang mengandung anakku itu sedang terisak. Ia menangis dengan wajah tertunduk. Aku akui, baru kali ini ucapanku kasar dan mungkin sangat menusuk ke ulu hatinya. Biasanya aku akan selalu bersikap lembut padanya.
"Maafkan Mas ya, Sayang. Mas tidak bermaksud bicara kasar dan menyakitimu," aku berkata sambil menarik tangannya dan ikut berbaring di sampingku.
Astri tak menjawab ucapanku. Ia masih menangis sesenggukan di dalam dekapanku. Aku kadang bingung dengan perasaanku sendiri. Entah aku benar-benar mencintai Astri, atau hanya karena dia sedang mengandung anakku saja?
"Sayang... Udah dong. Nanti dedek bayinya jadi cengeng juga lho kalau Maminya sering nangis gini," aku mencoba menggodanya.
"Mas... Apa benar, jika anak kita ini sudah lahir. Mas akan meninggalkan aku?" tanya Astri tanpa aku duga.
"Sssttt... Mana mungkun Mas ninggalin kamu dan anak kita,"
"Tapi, aku mendengarnya tadi saat di telepon,"
"Itu nggak serius. Mas hanya sedang mengambil hati Maminya Aqila supaya proyek dari Leon itu tetap jatuh ke tangan Mas."
"Benarkan, Mas nggak akan ninggalin Aku meski anak kita sudah lahir?"
"Iya, Mas janji deh sama kamu. Mas nggak akan pernah ninggalin kamu sama anak kita. Kamu udah beri Mas kebahagiaan yang selama ini Mas dambakan. Mana mungkin Mas meninggalkanmu, Sayang." aku menggodanya dan mencium ceruk lehernya yang wangi.
Astri memang pandai sekali membuatku terus bernafsu. Ia rajin sekali memakai aroma wewangian yang membuat jiwa fantasiku menari liar di dalam pikiran.
Ci*man itu berlanjut dengan ci*man ke arah dada. Kemudia, mel*mat bibirnya yang manis. Siang menjelang sore itu aku habiskan dengan men*gagahi wanita berbadan dua itu dengan permainan yang men*ga*rahkan
Astri menguasai permainan karena selama hamil ia tak pernah berada di bawahku. Beberapa kali, kami akan melakukan posisi d*gg* yang sangat aman untuk kehamilannya.
__ADS_1
Dalam hentakan irama syahdu yang sedang menguasai diri di pikiranku, aku memikirkan Aqila. "Aqila, aku pasti akan membalasmu!" batinku berkata sambil terus membantu Astri mengg*yang tubuhnya di*tas tubuhku.