Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Membawa Mami Pulang


__ADS_3

Jam sembilan malam, semua karyawanku sudah pulang. Aku pun sudah bersiap untuk pulang, saat tiba-tiba ponselku berdering. Panggilan dari Mami masuk ke ponselku. Tumben sekali Mami menelfonku, setelah beberapa bulan pergi tanpa kabar, sekarang baru ingat lagi punya anak?


"Hallo..." sapaku ketus saat panggilan itu terhubung.


"Hai, Sayang. Apa kabarmu?" suara Mami terdengar sangat serak dari ujung telepon.


"Baik, bagaimana dengan Mami? Apakah Mami sedang sakit?" tanyaku lagi.


Meski bagaimana pun Mami telah menyakiti hatiku dan meninggalkanku, dia tetaplah Ibuku. Di dalam rahimnya aku berada selama sembilan bulan sepuluh hari. Atas perjuangannya pula lah aku bisa lahir ke dunia ini. Tentu saja ikatan batin itu akan tetap ada meski tidak terlalu erat.


"Mami baru datang dari London kemarin sore. Tapi, pagi ini tiba-tiba Mami merasa tidak enak badan. Apa kamu bisa mengantarkan Mami ke Rumah Sakit?"


"Tentu. Aku akan menjemput Mami sebentar lagi. Bersiaplah!"


"Apa kamu tahu Mami ada dimana?"


"Bukankah di apartemen yang dulu itu juga?" ucapku yakin.


Mami pasti berada di apartemen yang telah dibelikan oleh Mas Adam untuk Mami karena aku tidak mau tinggal bersama Mami.


"Good, Baby. Mami tunggu, ya." ucapnya dengan bersemangat.


Tadi saat baru menelfonku, suaranya terdengar lemas dan lesu. Tapi setelah aku mengatakan akan menjemputnya, Mami terdengar begitu sangat bersemangat.


Tapi aku tidak begitu memikirkan hal itu. Setelah selesai berkemas, aku keluar dan mengunci pintu dua lapis itu dengan rentetan gembok dari atas sampai ke bawah. Lalu, dengan sigap aku memacu mobilku menuju apartemen Mami.


Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Mami. Dia wanita yang telah melahirkanku dan membuatku mengenal kejamnya dunia ini. Sesalah apapun seorang ibu, surga tetap berada di bawah telapak kakinya.


Biarlah aku lupakan semua yang telah terjadi, meski luka itu tetap berbekas. Aku akan mencoba menjadi anak yang berbakti untuk Mami. Siapa lagi di dunia ini yang aku miliki selain sahabat-sahabatku, dan juga Mami. Hanya Mami yang setali darah denganku sekarang ini. Mana mungkin aku tega menganggapnya tak ada.

__ADS_1


20 menit kemudian, aku sampai di gedung mewah tempat Mami tinggal. Aku menaiki lift menuju lantai kamar Mami. Tak butuh waktu lama, aku langsung sampai di lorong-lorong kamar itu. Saat ini, sudah ada papan nama bertuliskan nama Mami di pintu kamar apartemen itu.


Kupencet bel beberapa kali. Hingga sosok Mami dengan wajah pucat dan pakaian minim seadanya muncul dari balik pintu.


"ya ampun, Mi. Kok bisa gini?" pekikku reflek saat melihat kondisi Mami yang memang menyedihkan.


"Baby, kamu datang." jawab Mami dengan seulas senyum.


"Ayo masuk dulu, aku bantu Mami merapikan diri sebelum kita ke Rumah Sakit. Aku nggak mau Mami keluar dengan keadaan dan pakaian seperti ini!" tegasku dan membopong tubuh Mami kembali ke dalam, setelah menutup pintu baja itu tentunya.


"Astaga, Mami. Apa-apaan ini? Kenapa semuanya berantakan? Apa yang Mami lakukan di dalam sini?" tanyaku tak percaya setelah melihat keadaan dalam apartemen itu kacau balau.


"Mami bosan sendirian, jadi Mami mengerjakan dan makan apa saja sejak semalam," jawabnya dengan nada tak berdosa.


"Ya sudah, tidak usah pikirkan itu dulu. Besok aku akan meminta petugas kebersihan apartemen untuk datang dan membersihkan kekacauan ini. Sekarang, ayo ganti baju Mami dan berkemas,"


"Tentu saja itu tidak mungkin!"


"Baiklah, tunggu sebentar. Mami akan berganti pakaian."


"Jangan lupa keluarkan beberapa pasang pakaian dan dalaman Mami yang pantas dipakai. Masukkan ke dalam koper ini." aku berkata sambil menyodorkan sebuah koper besar berwarna hitam dari sudut ruangan itu.


"Why?" tanya Mami heran dan berhenti melangkah.


Aku tau akan seperti ini ekspresi dan pertanyaan Mami. Tapi aku merasa sudah tidak bisa lagi membiarkan Mami hidup sendirian seperti orang tua yang terlunta-lunta dan dicampakkan anaknya.


"Mulai sekarang, Mami akan tinggal bersamaku. Untuk apa Mami tinggal disini sendirian?"


"Tapi... Apakah kamu serius, Sayang? Bukankah selama ini kamu sangat membenci Mami dan sangat berharap Mami tak pernah hadir lagi dalam hidupmu?" Mami bertanya dengan air mata yang sudah berlinang.

__ADS_1


Melihat ekspresi Mami yang mendadak sedih dan melankolis, aku ikut-ikutan merasa sedih dan terharu.


"Tentu saja aku serius! Saat ini, hanya Mami lah satu-satunya orang yang memiliki hubungan darah denganku. Setahuku pula, sih!"


"Sayang... Terima kasih! Mami sudah menyesali keputusan Mami dulu, seumur hidup Mami. Terima kasih sudah memberikan Mami satu kesempatan lagi." ucapnya haru dan langsung memeluk tubuhku.


Aku yang tidak memiliki persiapan apa-apa, lantas sedikit terhuyung ke belakang sebelum berhasil mempertahankan berat tubuhku dengan bertumpu pada kedua kaki.


Dengan perasaan mengharu biru pula, aku membalas pelukan Mami. Dengan hati yang sama-sama tersentuh dan bahagia karena akhirnya bisa berkumpul lagi.


"Sudah, Mi. Nanti kita lanjutkan di rumah. Kita punya waktu yang banyak mulai saat ini, untuk saling bercerita, dan lain sebagainya. Sekarang ayo berkemas. Aku akan membawa Mami ke Dokter terlebih dahulu." ujarku setelah berhasil mencairkan suasana dan mengurai pelukan hangat dari Mami itu.


Mami mengangguk dan segera kembali berkemas. Tak butuh waktu lama kami berhasil memasukkan ke koper semua barang bawaan yang akan dibawa Mami ke rumahku.


"Apa semua udah siap Qil?" tanya Mami saat melihatku sudah selesai mengemasi dua koper barang-barang Mami.


"Sudah, Mi. Ayo sekarang kita periksa keadaan Mami dulu ke Rumah Sakit. Setelah itu kita pulang ke rumah," jawabku serius.


Aku mulai menyeret kedua koper itu keluar. Mami mengambil tas sampingnya dan segera menyusulku. Mengunci apartemen dan kami pun menuju Rumah Sakit terdekat.


Setelah Dokter memeriksa keadaan Mami, ternyata Mami mengalami gelaja asam lambung dan tekanan darah rendah. Dokter memberikan resep untuk kami tebus.


Segera, aku dan Mami menuju apotik dan menebus resep obat itu. Aku terus memegang lengan Mami saat berjalan. Takut kalau-kalau Mami tiba-tiba pusing dan tumbang.


Setelah menebus obat, kami segera pulang ke rumah. Tak lupa, aku berhenti untuk membeli nasi goreng spesial di sebuah warung kaki lima yang sangat terkenal akan kelezatan masakannya.


Mami harus makan dulu sebelum minum obat. Dan sepertinya, nasi goreng itu akan menjadi penggugah selera yang pas untuk Mami malam ini.


Perlahan, aku akan memperbaiki pola hidup dan pola makan Mami yang berantakan. Aku ingin menjaga dan merawat Mami dengan sangat baik mulai saat ini. Mungkin, hanya inilah yang bisa aku lakukan sebagai bakti seorang anak.

__ADS_1


__ADS_2