
Sudah dua jam aku mengaktifkan aplikasi pelacak itu, tapi sepertinya saat ini Mas Adam masih di kantornya. Titik merah itu sama sekali tidak bergerak. Itu tandanya, Mas Adam tidak kemana-mana. Aku berharap, semoga kecurigaanku ini salah.
Sampai jam makan siang, aku melihat bahwa titik merah itu mulai bergerak. Aku menunggu saja di rumah. Tidak ingin terlalu gegabah mengambil langkah. Kubiarkan saja Mas Adam pergi, mungkin dia pergi makan siang bersama para bawahannya. Mas Adam memang terkenal sangat baik dan bersahabat pada bawahannya. Itu juga yang membuat mereka senang bekerja di bawah pimpinan Mas Adam. Terlebih, Mas Adam sangat ahli mengambil hati para karyawan hanya dengan sesekali mentraktir mereka makan siang bersama.
Satu jam berlalu, Mas Adam tidak bergerak dari posisinya tadi. Kucoba perbesar layar, untuk mengetahui posisi Mas Adam berada saat ini.
'Hotel Claro?' ucapku lirih saat mengetahui dimana Mas Adam berada saat ini.
Hotel itu terletak tidak jauh dari kantor Mas Adam, ada keperluan apa Mas Adam siang-siang ke Hotel dan belum keluar dari sana sejak tadi? Sama siapa dia di sana? Apa Mas Adam mulai bermain api denganku?
Aku menelfon Ayu, tapi tidak di angkat. Mungkin dia sedang sibuk. Ah, salahku juga yang tidak berpikir sebelum bertindak. Tentu dia sibuk di jam-jam seperti ini. Rasanya aku ingin datang ke Hotel tempat Mas Adam berada saat ini, tapi aku takut berkendara saat sedang emosi seperti ini. Aku takut jika benar yang kukhawatirkan terjadi, bagaimana tubuh ini akan kubawa pulang? Apakah aku sanggup?
Namun, setelah mempertimbangkan selama sepuluh menit, dan ternyata posisi ponsel Mas Adam masih berada di sana. Aku nemutuskan untuk datang ke hotel itu sendirian.
Selama perjalanan, aku terus memperhatikan aplikasi pelacak itu. Takut andai aku datang nanti, ternyata Mas Adam sudah pergi. Tapi tidak, lima belas menit kemudian aku sudah berada di lobby Hotel. Aku bingung, harus berjalan menuju ke arah mana. Untung saja, aplikasi ini canggih seperti maps. Secara otomatis dia menuntun jalanku menuju ke sebuah kamar di lantai sepuluh.
Saat ini aku berdiri pas di depan kamar nomor 1020. Aku berdiri di depan pintu dengan perasaan yang sangat bimbang. Aku ragu, jangan-jangan di dalam Mas Adam sedang meeting dengan klien penting. Tapi, bagaimana jika dia malah sedang bersama wanita lain.
Sayup-sayup kudengar suara d^s^han dan rint^han seorang wanita. Suara yang cukup kukenal baik sedang mend^sah kenikmatan. Mereka bercinta? Gemuruh di dadaku sudah tak dapat kutahan lagi.
"Nisaa... Mas Adam... Nisaa... Buka pintunya." aku berteriak seperti orang yang sudah kehilangan akal sehat, tak lupa kedua tanganku memukul pintu kamar itu dengan sekuat tenaga.
"Nisa, apa yang kau lakukan di dalam? Buka pintunya!" aku semakin menjadi-jadi berteriak membayangkan suamiku sedang memadu cinta dengan sahabatku sendiri.
Tak butuh waktu lama, pintu kamar Hotel terbuka. Kulihat Nisa mengenakan jubah tidur berdiri di belakang pintu.
"Aqila? Ada apa ini?" tanya Nisa heran padaku.
Aku tak menjawabnya, aku malah menerobos masuk ke dalam kamar itu. Dan kudapati seorang pria sedang berdiri menatapku tak percaya. Pria yang menggunakan jubah tidur berwarna putih itu, bukan Mas Adam. Dia seorang pria bule.
__ADS_1
"Dimana suamiku? Dimana Mas Adam?" tanyaku berbalik ke arah Nisa yang masih menatapku tidak percaya.
"Sayang, siapa dia?" tanya pria bule itu pada Nisa dengan logat khasnya.
"Sorry, Darl. She is my friend." jawab Nisa padanya.
"Oh, okay." sahut pria itu lalu duduk di atas ranjang.
Aku menatap Nisa, menunggu jawaban darinya.
"Jawab saja pertanyaanku. Dimana Mas Adam?"
"Dia tak di sini, Aqila. Kenapa kau mencarinya sampai ke sini?"
"Aku tau dia ada di sini."
Lalu aku mengeluarkan ponselku, membuka aplikasi itu dan menunjukkannya pada Nisa.
"Oh My God. Aqila, tadi Adam memang ke sini. Mereka membicarakan sebuah rencana proyek besar."
"Mereka? Siapa?"
"Maksud aku, Adam dan Jack itu." jawab Nisa sambil menggerakkan dagunya ke depan, ke arah pria bule yang sedang duduk merokok di pinggir ranjang.
"Lalu, dimana Mas Adam sekarang?"
"Dia sudah pergi setengah jam yang lalu. Mungkin, ponselnya tertinggal. Ayo, kita lihat!" ucap Nisa meyakinkanku.
Kemudian Nisa berjalan ke arah ruang tamu. Sepertinya tadi di sana mereka duduk dan berbincang. Karena terlihat beberapa dokumen di atas meja dan tiga gelas kosong bekas munim. Dan... Ada handphone Mas Adam di atas meja itu.
__ADS_1
"Ini..." belum sempat Nisa menyelesaikan kalimatnya, aku sudah menyambar ponsel itu dengan emosi. Lalu berjalan ke arah pintu, bersiap meninggalkan kamar hotel itu.
"I'am sorry, Nis." ucapku tulus sebelum benar-benar menjauh dari kamar dan Hotel itu.
Aku yakin, Nisa pasti syok mendengar ucapanku tadi. Kata-kata yang tak pernah aku ucapkan seumur hidupku padanya.
Aku mengendarai mobil menuju Butik. Saat masuk, kulihat Astri sudah kembali masuk bekerja. Dia sedang duduk di meja kasir sambil makan rujak. Rujak? Apakah Astri sedang hamil? Melihatku datang, Astri berdiri dari tempat duduknya. Dan membiarkanku duduk di meja kasir. Ia lantas duduk di meja sudut yang memang kupersiapkan untuknya jika sewaktu-waktu aku datang ke Butik.
Dengan raut wajah kesal, aku meletakkan ponselku dan ponsel Mas Adam di atas meja. Aku malu sekali rasanya. Niat hati ingin melabrak suami yang berselingkuh, malah aku yang malu karena ulahku sendiri.
"Kak... Apa Kakak kurang sehat?" tanya Astri yang entah kapan sudah ada di depanku.
"Tidak... Aku hanya sedikit lelah, tadi habis bertemu dengan teman-teman." jawabku berbohong.
"Kamu udah sehat kan?"
"Udah, Kak. Hanya perlu banyak makan buah dan vitamin."
"Memang, sebenarnya kamu sakit apa, Astri?"
"Eh, itu... Em... Nggak sakit apa-apa kok, Kak. Cuma asam lambung biasa." jawaban Astri terbata-bata.
"Kamu kayaknya makin gemuk Ast?"
"Ah, masa sih, Kak? Mungkin perasaan Kakak saja."
Aku malas untuk melanjutkan basa basi bersama Astri. Toh dia juga enggan bicara jujur padaku. Jadi aku diam saja, tak menanggapi lebih lanjut obrolan kami. Aku menghidupkan layar ponsel Mas Adam. Tampak di sana fotoku dan Mas Adam saat kami sedang berlibur ke Paris. Aku tersenyum mengingat momen indah setahun yang lalu itu.
"Kak, bukannya itu... Ponsel Mas Adam?" tanya Astri padaku, yang langsung membuatku merasa heran dan juga bingung.
__ADS_1
"Darimana kamu tau, kalau ini ponsel Mas Adam?" pertanyaannya, kubalas dengan pertanyaan pula. Seketika wajah Astri berubah menjadi tegang dan memucat.