
"Ada apa, Beb?" tanya Ayu saat melihatku menjadi emosi sambil mengepalkan jemariku di atas meja. Jika tidak mengingat ini tempat umum, pasti akan kumaki-maki mereka berdua.
"Kamu lihat yang di sudut sana, siapa mereka." suruhku pada Ayu dengan menggerakkan dagu ke depan.
Ayu patuh dan segera melihat ke arah yang ku maksud. Dia tak kalah kagetnya dari diriku tadi. Ayu mengambil tanganku dan menenangkanku.
"Aku baik-baik saja kok," ucapku, jelas sekali berbohong.
"Coba sekarang kamu telpon suamimu itu, tanya dia ada dimana. Cepat." saran Ayu tak sabar padaku.
Mungkin ada benarnya juga. Aku bisa menguji kejujuran Mas Adam saat ini. Lalu, kuambil ponsel dari tasku. Saat kubuka layar ponsel itu, sudah banyak sekali panggilan dari Mas Adam dan Nisa.
Ada apa ini? Kenapa mereka serempak menghubungiku? Apa ini termasuk dalam rencana mereka untuk mengelabuiku? Pikiranku sudah dipenuhi dengan prasangka-prasangka negatif.
Kucari nama Mas Adam dalam daftar kontakku, lalu kupencet tulisan memanggil. Sambil kedua bola mataku tak henti-hentinya nemandang ke arah sudut ruangan itu.
"Hallo, Sayang!" sapa Mas Adam lembut seperti biasa.
"Hallo, Mas. Kamu dimana? Makan siang di luar yuk, aku bosan nih," ucapku tanpa babibubebo lagi.
"Sayang, aku udah di luar nih makan sama Nisa. Tadi kami telponin kamu kok gk diangkat-angkat sih? Apa ketiduran sambil baca novel lagi?" tanyanya yang tau aku memang sering sekali tertidur saat sedang asyik baca novel.
"Oh, i-iya." jawabku bohong lagi.
"Ya udah, kamu dimana sekarang? Mau langsung ke sini aja atau gimana? Ini makanan kita juga baru nyampe kok," ucapnya tanpa rasa bersalah.
"Nggak usah deh, kalian lanjut aja. Aku makan sama Ayu aja! Bye..." jawabku lalu menutup panggilan telepon itu.
Aku melihat Nisa kembali mengelus tangan Mas Adam di atas meja. Cih, sahabat apa yang menggoda suami sahabatnya di tempat umum seperti ini? Dan, Mas Adam hanya diam saja? Kenapa sepertinya Mas Adam menikmati sekali sentuhan-sentuhan dari Nisa?
"Gimana?" tanya Ayu padaku.
"Mas Adam ngaku kok, dia lagi di sini sama Nisa. Malah tadi mereka memang menelponku, tapi tidak terangkat. Mas Adam malah menyuruhku menyusul," jawabku ketus, bukan pada Ayu. Tapi karena kesal melihat Nisa dan Mas Adam yang semakin intim di pojok sana.
"Jadi gimana, Beb? Apa kita ganti tempat makan aja?" tanya Ayu padaku lagi.
__ADS_1
"Yuk, aku udah ga nafsu makan di sini," ketusku. Tapi belum sempat kami berjalan, sebuah ide tiba-tiba muncul di otakku.
"Beb, gimana kalau kita gabung sama mereka? Aku mau lihat, gimana reaksi mereka saat kita gabung. Terus, aku akan berusaha bersikap sangat manis pada Mas Adam. Kita akan lihat, apa mereka akan merasa canggung atau tidak," ucapku pada Ayu.
"Boleh juga tuh dicoba, jadi kita kesana nih?" tanya Ayu meyakinkanku lagi, dan langsung kujawab dengan anggukan sempurna.
Kami berjalan ke meja tempat Nisa dan Mas Adam sedang makan sambil suap-suapan. Persis seperti orang yang sedang berkencan. Jika diperhatikan, wajah Nisa memang tidak kalah cantik dengan wajahku. Malah bisa dibilang ia lebih cantik dari aku. Karena selain melakukan perawatan, selama Nisa diluar Negeri ia juga sudah melakukan beberapa operasi plastik pada bagian-bagian tertentu wajahnya.
"Ehem... Mesra banget sih kalian, makan suap-suapan kaya orang lagi pacaran?" tanyaku diiringi deheman yang sengaja kuperjelas nadanya.
"Aqila..." sapa Nisa merentangkan tangan dan berdiri bersiap untuk memelukku. Tapi terhenti saat aku memberikan isyarat stop menggunakan telapak tanganku.
"Sa-Sayang... Tadi katanya nggak mau ke sini?" Mas Adam terlihat sangat gugup dan berdiri dari kursinya. Memberikanku sebuah pelukan hangat. Tampak Nisa membuang muka kesalnya melihat Mas Adam memeluk dan menciumku.
'Harusnya aku yang kesal, kenapa malah Nisa yang terlihat seperti istri terdzolimi?' ucapku dalam hati, melihat tingkah Nisa yang tidak pada tempatnya.
"Oh, itu... Aku tiba-tiba berubah pikiran. Kebetulan aku dan Ayu lewat dekat-dekat sini, jadi kami mampir," jawabku dengan senyuman.
"Hai, Mas... Hallo, Nis..." sapa Ayu satu persatu pada Mas Adam dan Nisa.
"Makasih, kamu juga tambah cantik. Yah aku sibuk, banyak klien, jadi susah mau ketemu kamu," jawab Ayu yang langsung menerima pelukan Nisa.
"Ayo-ayo... Silahkan duduk, aku pesanin kalian makan ya," ucap Mas Adam menawarkan.
"Nggak usah, Mas. Sepertinya pesanan kami sudah datang lebih cepat!" jawabku saat melihat seorang pelayan datang ke meja yang tadi kami duduki. Membawa beberapa piring makanan di tangannya.
Aku menepukkan kedua tanganku, membuat pelayan yang kebingungan karena meja itu kosong segera melihat dan tersenyum lega. Dua orang pelayan berjalan ke arah kami.
"Mba, kami makan di meja ini aja. Kebetulan saya bertemu dengan suami saya di sini. Jadi kami memutuskan untuk makan satu meja." ucapku pada salah seorang pelayan.
"Baik, Nyonya. Kami akan menghidangkan semuanya di sini kalau begitu," balasnya sopan dan ramah.
"Terima kasih." sahutku, lalu duduk di samping Mas Adam.
Ayu duduk di samping Nisa. Ayu sangat pandai memainkan situasi. Dia berusaha keras membuat Nisa bosan dan tak banyak menggangguku berbicara dengan Mas Adam. Bahkan setiap kali Nisa ingin mengatakan sesuatu pada Mas Adam, Ayu lebih dulu menanyakan hal lain pada Nisa.
__ADS_1
Dengan wajah kesal, akhirnya Nisa makan dengan menusuk-nusuk garpu pada steaknya. Dan dia hanya memutar-mutar spagheti di pringnya satu lagi.
"Nisa, kenapa nggak dimakan? Sayang banget lo, itu makanannya masih banyak," tegurku, saat melihat Nisa yang bersiap menutup makan siangnya dengan menelungkupkan sendok dan garpunya.
"Ngak kok, Qila. Aku dah kenyang," jawabnya dengan enggan.
"Oh iya, Mas. Kamu tadi pagi meeting dimana?" tanyaku dengan mengalihkan pandangan pada Mas Adam.
"Oo... Itu, di apartemen klien. Tiba-tiba dia sakit perut dan nggak bisa datang ke tempat yang udah di jadwalkan. Jadi, Mas datangi saja apartemennya. Kenapa, Sayang?"
"Nggak apa-apa sih, cuma aku tadi liat, kok kayaknya meja dan background di foto itu mirip sama yang di apartemen Nisa?"
"Ah, masa sih, Sayang? Perasaan kamu aja kali,"
"Tapi aku liat juga foto IG Nisa, sama kok."
"Aqila, apartemen aku itu kan belum di renov sejak kalian berikan. Mungkin saja masih sama dengan isi apartemen lainnya," Nisa membantu Mas Adam mencari alasan.
"Nah, benar juga tuh, Sayang."
"Oo... Gitu ya. Jadi, kenapa kalian bisa makan siang bareng di sini?"
"Tadi, kami ketemu di jalan..."
"Adam ngajakin aku..."
Mas Adam dan Nisa serempak saling menjawab, namun sayangnya jawaban mereka tidak sama.
"Ehem, jadi mana nih yang jujur dan mana yang bohong? Atau jangan-jangan keduanya bohong ya?" tanya Ayu dengan wajah datar dan masih sibuk dengan ponselnya.
Aku memandang Nisa dan Mas Adam bergantian. Tapi Nisa malah dengan sengaja tersenyum genit pada Mas Adam dan mengambil tasnya. Berdiri dari duduknya untuk bersiap pergi.
"Tanya aja ya, Qila, sama suamimu yang perkasa itu," ucap Nisa dan berjalan melewati Ayu dan kemudian saat melewati Mas Adam, dia masih menyempatkan jari jahilnya itu membelai wajah suamiku.
Melihat Nisa yang melalukan itu, aku makin merasa Nisa benar-benar mirip wanita penggoda. Ya, sejak kepulangannya dari luar Negeri, Nisa benar-benar berubah. Sikap dan pakaiannya yang terbuka benar-benar membuatku mencap dia sebagai wanita penggoda, apalagi dengan perlakuannya pada Mas Adam.
__ADS_1