Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Teror


__ADS_3

Setelah mengantarkanku, lalu Roman mengantarkan Ayu pulang. Meski awalnya, Ayu berniat dan menawarkan diri untuk menemaniku di rumah. Tapi, aku menolaknya secara halus.


Saat ini, yang aku butuhkan hanyalah sebuah ketenangan. Sidang pertama tadi membuat otak dan tubuhku sangat lelah. Aku tidak sabar lagi untuk membaringkan tubuh di atas ranjang empukku.


"Kak, tolong jangan menyalahkanku atas semua yang telah terjadi. Mas Adam lah yang menawarkan diri padaku. Aku sama sekali tidak pernah menggodanya!"


Sebuah pesan masuk ke ponselku, saat aku baru saja akan memejamkan mata. Astri, nama pengirin pesan itu. Tentu saja, siapa lagi jika bukan dia. Pelakor yang telah merusak rumah tanggaku.


"Kamu juga sangat bersalah, Astri. Sejak awal kamu sudah tau bahwa dia adalah suamiku. Kenapa kau masih menyelamatkan diri sendiri, pelakor?" aku membalas dengan tersenyum senang karena pasti dia tak terima aku panggil pelakor.


"Aku bukan pelakor. Semua terjadi begitu saja. Lagi pula, cinta tidak bisa di salahkan."


"Cinta memang tidak pernah salah. Tapi, jika dia datang pada orang yang pandai menggunakan otak, pasti cinta tau dimana dia harus berada!"


"Mas Adam sudah bahagia bersamaku sekarang. Hatinya telah kumiliki. Keputusanmu untuk menggugat cerai Mas Adam sudah tepat, Kak. Terima kasih. Karena anak di dalam rahimku ini butuh sosok seorang ayah yang harus selalu mendampinginya 24 jam."


"Tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya membuang sampah pada tempatnya. Dan kamu begitu bahagia bisa memungutnya? Jika kau sabar sedikit lagi saja, aku bisa memberikan sesuatu yang lebih bagus. Tapi, ternyata kau tidak sabar dan terlalu serakah."


"Itu sama saja kalau Kakak mengatakan selama ini telah menikahi sampah?"


"Tidak, dia menjadi sampah hanya saat bertemu denganmu. Karena sampah, memang cocok berkumpul dengan sampah lainnya. Agar tidak mengotori hal lain yang masih bagus di sekitarnya."


"Ingat lah, Kak. Kamu tidak ada arti apa-apanya jika tanpa Mas Adam."


Aku berbalas pesan dengan Astri. Dan pesannya yang terakhir membuatku tertawa. Menertawai kebodohannya. Pasti dia telah termakan bujuk rayu dan tipu muslihat Mas Adam.


Hah, malah sebaliknya yang akan terjadi. Akan kupastikan, Mas Adam tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa diriku.


"Wah, benarkah? Sehebat itu kah suami sirimu? Ayo kita buktikan. Apa saja yang mampu dia berikan padamu setelah aku mencampakkannya."


Kubalas pesan itu, dan kumatikan ponselku setelahnya. Tak perlu menunggu balasan dari Astri. Aku tau saat ini dia semakin emosi. Usianya yang masih terlalu muda, membuat emosinya belum stabil.


Gampang sekali membuat manusia sepertinya terjebak dalam permainan kata-kata. Pasti dia berusaha membuatku takut dan terluka. Membuatku marah dan emosi membabi buta.

__ADS_1


Astri. Aku yang memungut dan menjadikanmu manusia sebenarnya. Jika tidak, mungkin sudah lama kau hanya tinggal nama. Aku tau bagaimana sifatmu.


Kubiarkan Astri dengan keadaannya yang saat ini sedang mengutukku emosi. Aku melanjutkan istrirahatku yang tertunda.


Sementara itu, di rumah kontrakan yang terbilang cukup sederhana. Astri sedang mengumpat dan memaki-maki ponselnya.


"Aqila, berani sekali kamu mengancamku. Aku tidak akan tinggal diam. Aku pasti akan membalas perlakuanmu ini suatu saat nanti," ucap Astri dengan geram.


Astri mengelus perutnya yang sudah tampak membuncit. Wanita hamil itu sibuk mondar mandir di dalam kamarnya yang tidak terlalu lebar.


Hanya itu lah yang bisa Mas Adam berikan padanya. Dan itu juga hasil dari korupsi diperusahaan dan membohongiku saat meminta sejumlah uang. Mas Adam, hanya seujung kuku bagiku.


Aku tidak pernah berniat merendahkannya sebagai seorang suami. Tapi karena sikapnya kali ini, hilang sudah rasa hormatku padanya.


"Mas kamu dimana?" Astri mengirim pesan pada Mas Adam.


"Lagi di jalan. Ada apa?" jawab Mas Adam singkat.


"Aku pengen makan di restoran seafood, Mas. Malam ini kita pergi, ya?" tanya Astri lagi.


"Tapi, ada satu yang nggak bisa Mas lakuin untuk kami!"


"Apa?"


"Menjadikanku istri Mas satu-satunya yang sah secara hukum dan agama!"


Tidak ada balasan dari Mas Adam. Astri harusnya sadar, sejak awal ia memang harus bisa menerima bahwa cinta Mas Adam padaku jauh lebih besar.


Astri semakin menjadi-jadi. Dan semakin berani, juga lancang.


"Kamu tau kan, Mas juga sangat mencintai Aqila." balas Mas Adam setelah beberapa saat. Sungguh, laki-laki yang tidak tau diri dan serakah sekali.


Membuat wajah Astri berubah murung sesaat setelah membacanya. Astri membanting ponselnya ke atas kasur dan mengepalkan semua jarinya karena geram.

__ADS_1


"Aqila... Lihat saja nanti. Aku pasti bisa menggantikan posisimu. Baik di dalam sebuah status, apalagi di dalam hati Mas Adam," gerutu Astri dan keluar dari kamarnya.


Aku tertidur cukup lama. Hingga saat terbangun, sudah jam 10 malam. Suasana rumah yang sunyi dan sepi membuatku sesekali merasakan rindu pada orang tuaku.


Aku mengaktifkan kembali ponselku, ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari Ayu. Belum lagi pesan dari Ayu dan Roman. Ada juga balasan pesan dari Astri yang kutinggal tidur tadi.


Pesan Astri enggan kubuka. Aku hanya membuka pesan dari Ayu dan Roman. Lalu membalasnya. Mengatakan bahwa aku ketiduran sejak pulang persidangan tadi dan baru saja terbangun.


Mataku melihat ada satu lagi pesan dari satu nomor baru. Dengan dahi yang berkerut, aku membuka pesan itu.


"Hai, Sayang. Apa tidurmu nyenyak? Kamu pasti lelah seharian berurusan dengan pengadilan. Untung aku menjagamu selama tidurmu. Jika tidak, akan berapa banyak bahaya yang bisa datang padamu yang tinggal sendirian di rumah besar ini?"


"Aqila, Kekasih Hatiku. Lupakan egomu, Sayang. Mas akan selalu menjagamu dengan baik. Sama seperti dulu."


"Saat kamu membaca pesan ini, jangan mencari Mas kemana-mana ya. Mas sudah pergi sebelum kamu bangun."


Tiga pesan beruntun itu aku baca satu persatu dan secara perlahan. Mataku melirik ke kanan mencoba mencari jejak keberadaan Mas Adam.


Tidak ada satupun tanda-tanda bahwa ada orang lain yang masuk ke kamar ini selama aku tidur. Aku yakin, Mas Adam hanya menggertakku saja. Tapi, darimana ia tau bahwa aku tidur?


Tanpa menunggu lama, aku menekan nomor ponsel Ayu. Entah sahabatku itu sudah tidur atau belum saat ini. Yang jelas aku harus mengabarkannya hal ini. Karena, balasan pesanku tadi saja belum ia balas.


Aku juga mencoba menelfon Roman. Akhirnya telfonku dijawab oleh Roman.


"Ada apa, Qil?" tanya Roman dengan nada khawatir.


"Rom, aku merasa Mas Adam terus mengawasiku. Dia bahkan mengirimiku pesan seakan dia selalu ada di dekatku!" aduku pada Roman.


"Adam... Berani sekali dia memainkan teror ini terang-terangan. Akan aku pastikan dia mendapatkan balasan dan tak akan melakukannya lagi. Tenanglah Qil. Aku akan menjemputmu. Sebaiknya, kamu tidur di rumah Ayu malam ini." ucap Roman lagi.


"Benar, Rom. Aku tidak merasa nyaman di rumah saat ini. Tolong cepat datang. Aku bahkan tidak berani keluar dari kamarku. Ayu tidak mengangkat telfon dariku!"


"Baiklah, tunggu saja di sana. Jangan kemana-mana. Jika ada seseorang yang datang, jangan bukakan pintu sebelum aku datang. Aku kesana sekarang."

__ADS_1


"Oke, terima kasih, Rom. Kali ini aku benar-benar mengandalkanmu."


Aku menutup telepon dan menunggu Roman dengan sabar sambil duduk di atas ranjangku.


__ADS_2