Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Ke Butik


__ADS_3

(POV Aqila)


Kesehatanku semakin hari semakin membaik, karena ada orang-orang yang sangat mencintaiku di sini dan mereka merawatku dengan sangat baik. Setelah dua minggu berlalu, aku sudah bisa berjalan kembali. Semua itu tak lain dan tak bukan karena semangat dan dukungan dari Mamiku dan Kayla, Adikku.


Selain mereka berdua, Ayu dan Roman juga ikut andil dalam penyembuhanku. Mereka selalu ada bersamaku kapan pun aku membutuhkan mereka untuk hadir menemaniku. Roman dan Ayu juga mengurus kasus yang menimpaku hingga selesai. Kudengar, Mas Adam sudah selesai sidang dan dijatuhi hukuman 7 tahun penjara.


Aku juga masih terus konsultasi ke Dokter Yusuf seminggu sekali. Karena aku masih sering merasa ketakutan dan tiba-tiba seperti ada orang yang sedang mengawasi. Aku sungguh sangat trauma dengan kejadian teror dari Mas Adam waktu itu. Apalagi aksinya yang hampir saja membuatku kehilangan nyawa.


Dokter Yusuf memang sangat ramah dan sabar. Ia tak pernah menyela pembicaraanku dan selalu mendengarkan ceritaku dengan senyum yang ringan di bibirnya. Meski mungkin, cerita itu sudah berkali-kali ia dengar dari mulutku.


"Apa Kakak serius sudah bisa untuk ikut ke Butik bersamaku?" tanya Kayla saat aku sedang mengoles selai cokelat di roti tawarku.


"Tentu saja! Kakak sudah bosan selalu di rumah selama hampir satu bulan ini." jawabku dengan raut wajah yang sengaja kubuat sedikit merengut.


"Baik lah kalau begitu. Kita akan berangkat bersama hari ini."


"Cepat makan sarapanmu dan segera berangkat. Kita akan memakai jasa supir untuk saat ini, karena Kakak belum yakin bisa kembali menyetir dalam keadaan seperti ini."


"Tenang saja, Kak. Supir Leon masih selalu ada untuk kita."


"Hahaha... Kamu benar! Kenapa Kakak bisa lupa."


Kedua Kakak beradik itu sarapan dengan suasana yang nyaman. Mami Meri memang tidak ikut sarapan bersama kedua putrinya pagi ini. Karena pagi-pagi sekali dia sudah keluar bersama Leon. Entah kemana mereka pergi. Yang aku lihat, Leon benar-benar tulus pada Mami. Setidaknya aku tidak perlu khawatir tentang Mami saat ini.

__ADS_1


Leon memang sudah 2 minggu pula datang ke negara ini. Leon menginap di apartemen tempat Mami biasa tinggal dulu sebelum kembali ke rumah. Namun, hampir setiap hari Leon datang ke rumahku untuk menemui Mami dan menjenguk diriku.


Sebenarnya aku sedikit malu mengakui bahwa Leon bisa saja menjadi ayah tiriku suatu hari nanti. Bukan karena aku malu mempunyai ayah tiri, akan tetapi karena usia Leon yang jauh lebih muda dari Mami. Bahkan tak jarang Mami bercanda saat kami di meja makan, bahwa Leon sebenarnya lebih cocok denganku. Karena usia kami yang tak jauh berbeda.


Namun, aku tak pernah menanggapi hal itu dengan serius. Bagiku saat ini, kebahagian Mami adalah yang terpenting. Lagi pula, meski Leon adalah bule yang tampan, kaya dan sangat menarik bagi kaum wanita, aku tak mempunyai rasa tertarik sedikit pun padanya.


Terus terang saja, aku lebih menyukai pria lokal dari pada bule-bule itu. Maka sebab itu, meski Leon terlihat sangat menggoda dengan fisiknya yang mendekati sempurna, hatiku tak goyah sedikit pun. Mana mungkin aku menyukai kekasih ibu kandungku sendiri. Kecuali aku sudah benar-benar gila.


"Kak, aku selesai. Aku akan ke kamar dulu untuk mengambil tas dan laptop ku. Aku ada ujian online hari ini." Kayla berkata padaku sambil berdiri dari kursi tempatnya duduk.


"Apa kamu belajar cukup baik beberapa hari ini?" tanyaku pada Kayla dengan raut wajah yang serius.


"Tentu saja. Aku akan mengambil kembali gelar siswa dengan prestasi terbaik di provinsi ini, Kak."


"Pasti!" jawabnya sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arahku. Lalu ia berjalan menuju kamarnya.


Kayla memang sudah mulai melanjutkan kembali pendidikannya yang sempat terputus. Namun, karena pandemi yang sedang melanda negeri ini, terpaksa semua kegiatan sekolah dilakukan secara online. Hanya 3x dalam seminggu mereka datang dan bertatap muka dengan para guru dan teman-teman sekelas. Dan itu pun hanya dua jam saja.


Selebihnya, Kayla menghabiskan waktu untuk membantuku mengurus butik. Di butik, Kayla juga tak pernah lupa mengerjakan tugas sekolahnya atau sekedar membaca pelajarannya. Dia memang terkenal dengan anak yang giat dan rajin belajar. Tak heran selama ini ia selalu menjadi juara kelas. Aku baru mengetahui hal itu baru-baru ini, sejak aku memasukkannya kembali ke sekolah favorit yang ada di kota ini.


Saat aku sedang menikmati secangkir jeruk peras hangatku, sebuah pesan masuk di aplikasi WA ku. Aku memang membedakan aplikasi WA untuk bisnis dan untuk pribadiku. Akun pribadiku, hanya orang-orang terdekat saja yang akan kuberitahu.


Entah mengapa, saat Dokter Yusuf meminta nomor WAku minggu lalu, aku langsung saja memberikan nomor pribadiku tanpa pikir panjang. Aku membuka pesan itu dan tersenyum melihat isi pesan dari Dokter yang kini sudah rutin mengirimiku pesan setiap pagi. Aku tidak tau, apakah dia seperti ini pada semua pasien yang ia tangani atau memang hanya padaku saja.

__ADS_1


"Selamat pagi, pasienku yang cantik. Tetap semangat jalani hari dan jangan lupa sarapan biar tetap kuat menunggu jam makan siang."


Begitu pesan yang ia kirimkan padaku pagi ini. Aku memabalasnya dengan segera, "Selamat pagi kembali, Dokter Yusuf yang tampan. Aku baru saja selesai sarapan dan akan berangkat ke butik sebentar lagi."


"Apa kamu sudah yakin? Jangan melakukan hal yang berat untuk saat ini. Karena otot dan persendian kakimu masih dalam proses penyembuhan."


"Aku di sana hanya duduk saja. Aku pemiliknya, tidak mungkin aku akan mengerjakan semua pekerjaan berat. Hahaha?" tak lupa aku menyematkan emot tertawa terpingkal-pingkal itu.


Cukup lama pesan itu baru dibaca oleh Dokter Yusuf. Aqila merasa tidak sabar menunggu balasan dari Dokter Yusuf. Secara tidak sengaja, hatinya mulai merasakan sesuatu yang aneh saat berbicara dengan pria itu. Entah perasaan apa itu, Aqila tidak mau terlalu mendalaminya.


"Baik lah, aku ada pasien dadakan pagi ini. Semoga harimu menyenangkan! Dan jangan lupa besok pagi jadwalmu mengunjungiku." balas Dokter Yusuf setelah beberapa menit Aqila menunggu.


Pasien dadakan? Kenapa Dokter Yusuf sudah membuka praktek di jam 8 pagi? Biasanya Dokter Yusuf baru menerima pasien jam 10 pagi ke atas. Meski Aqila sedikit meragukan isi pesan itu, ia juga tidak berhak terlalu mencampuri urusan pribadi Dokter Yusuf.


Hubungan mereka sejauh ini hanya sebatas pasien dan Dokter saja. Lagi pula, mereka baru 3x bertemu dalam 2 pekan terakhir. Aqila mengusir semua pertanyaan yang menghampiri otaknya itu.


"Apa kita akan berangkat sekarang, Kak?" tanya Kayla memecah lamunan Aqila.


" Lats go!" jawab Aqila sambil tersenyum dan mulai jalan perlahan.


Aqila bahkan tak membiarkan Kayla memapahnya saat berjalan. Aqila ingin dia berjalan sesuai kemampuannya sendiri. Sebisa dirinya dan sekuat kakinya. Itu adalah semangat yang Aqila punya di dalam dirinya agar sembuh lebih cepat dari yang Dokter katakan.


Perlahan tapi pasti, Aqila sampai di mobil khusus yang diberikan Leon untuk mengantar jemput keluarganya. Ada seorang sopir juga yang diperintahkan Leon untuk mengendarai mobil itu. Aku berharap, sikap Leon itu bukan semata-mata karena ingin mengambil restu aku dan Kayla untuk hubungannya dengan Mami. Semoga Leon benar-benar melakukan semua ini dengan ketulusan.

__ADS_1


__ADS_2