Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Wanita Tidak Tahu Balas Budi


__ADS_3

Sebulan sudah setelah aku resmi bercerai dengan Mas Adam. Terus terang aku katakan, masih sulit bagiku menghapus bayang-bayang dirinya di dalam ingatanku.


Mungkin, aku bebas sekarang. Sudah tidak harus menderita karena telah dibohongi dan dikhianati. Tapi, di satu sisi aku juga merasa sangat kehilangan. Setelah kepergian kedua orang tuaku, Mas Adam lah yang menjadi tempat sandaranku. Kini, dia pun telah pergi. Karena aku yang mengusirnya dari hidupku. Kesalahannya sungguh tak dapat aku maafkan.


Biarlah, akan aku coba menata hati perlahan-lahan. Membiasakan diri. Dan sepertinya, satu bulan ini dia tidak pernah lagi datang mengusikku. Tidak ada lagi teror meneror yang seperti saat itu dia lakukan.


Aku bersyukur karena hal itu. Karena sekarang aku bisa tinggal dengan aman dan nyaman di rumah peninggalan orang tuaku. Semua harta benda yang pernah aku beli bersamanya selama masa pernikahan, telah aku lelang. Bagiannya aku transfer ke rekeningnya. Dan bagianku, aku sumbangkan ke Yayasan atau Panti Asuhan.


Aku sedang menikmati secangkir teh dan panekuk pagi ini di teras rumah. Pagar yang haya besi-besi berjarak, membuatku dapat melihat dengan jelas lalu lalang kendaraan maupun tetangga yang melintas di depan rumahku.


Drrrttt... Drrrttt...


Getaran ponselku di atas meja sangat kuat. Aku buru-buru mengambilnya.


"Astri?" tanyaku dengan alis yang hampir bertaut saking herannya melihat nama pemanggil di layar ponselku itu.


"Ada apa?" tanyaku ketus, saat sudah menggeser tombol hijau untuk menjawab telfonnya.


"Kak, tolong kirimkan Mas Adam uang sisa penjualan barang-barang yang Kak Aqila jual." jawab Astri tanpa rasa hormat dan sopan lagi padaku.


"Uang apa yang kau maksud, gundik?" tanyaku dengan kasar pula.


"Kak! Jangan keterlaluan. Aku ini istri Mas Adam juga. Dan saat ini Mas Adam sudah tidak punya uang lagi, karena kami baru saja membeli semua perlengkapan bayi."

__ADS_1


"Lalu, apa hubungannya denganku?"


"Segera transfer jatah bagian Mas Adam!"


"Aku sudah mentransfernya setiap kali ada barang yang terjual. Malah, aku melebihkan bagiannya. Karena kupikir, aku ingin sekalian beramal pada kalian."


"Tapi, kenapa Mas Adam bilang cuma sekali saja Kak Aqila mengirimkan uang? Dan itu pun hanya 10 juta."


"Ya, mana aku tau. Kamu tanya aja sendiri sama suamimu itu. Sekarang kan, kamu istri satu-satunya. Masa, jaga suami sendiri aja nggak becus. Dulu, pas ngerebut jago banget!" sindirku yang masih kesal pada wanita tak tahu diri ini.


"Aku tidak pernah merebut Mas Adam dari Kak Aqila. Mas Adam sendiri yang datang padaku." bantahnya dengan kata-kata yang selalu itu-itu saja.


"Udah pasti dong, maling mana ada yang mau ngaku. Kalau ngaku, bisa-bisa penjara penuh dan polisi nggak punya tugas lagi buat nangkap orang-orang meresahkan seperti kalian!"


"Cobalah mengikhlaskan bahwa Mas Adam sudah memilihku dari pada Kak Aqila. Move on dong, Kak. Jangan hidup dalam bayang masa lalu terus!" sindir wanita itu padaku.


Entah apa yang akan terjadi pada hidupnya. Entah sudah berapa puluh, bahkan ratusan pria yang mencicipi tubuh mungilnya itu. Manusia tidak tau balas guna. Aku menyesal pernah baik dan percaya padamu Astri.


"Sudahlah, kamu jangan bodoh, Astri. Aku yang menceraikan suamimu. Dia bahkan tidak datang sekali pun pada persidangan perceraian kami. Apa harus aku katakan dan jelaskan lagi? Bahwa sebenarnya aku telah memberi kalian satu kesempatan untuk bertobat. Dengan tidak melaporkan kalian ke polisi."


"Lapor polisi? Atas tuduhan apa?" suara Astri terdengar panik.


"Tentu saja, kasus perselingkuhan, perzinahan, menikah di bawah tangan, tanpa seizin istri pertama. Kamu lupa, atau memang benar-benar nggak tau? Semua itu ada pasalnya lo!" aku semakin gencar membuatnya takut.

__ADS_1


"Sudahlah, jika memang tidak mau mengirimkan uang, nggak usah banyak gaya deh. Aku akan katakan pada Mas Adam semua ini." jawabnya dengan nada sedikit gemetar. Aku tau, hatinya goyah saat ini. Takut lebih tepatnya.


"Ingat ya, Astri. Aku, wanita yang... Maaf nih ya, memiliki segalanya aja, rela buat dia bohongi dan khianati. Apalah daya kamu yang sebenarnya hanyalah seorang gelandangan!" ucapku penuh penekanan.


"Seorang pendusta, akan terus berdusta selama hidupnya. Demi mencapai apa yang dia inginkan. Dan, sekedar informasi saja, total uang yang udah aku kirim pada suamimu itu sudah mencapai sekitar 70 juta. Kamu hanya diberi tau 10 juta? Kemana sisanya ya?" tanyaku dengan nada yang dibuat-buat.


Sebelum Astri mengatakan hal lain, aku mematikan telfon itu.


Huft...


'Lega sekali rasanya. Aku telah membuat wanita itu mati kutu tadi. Enak saja dia merendahkan dan meminta uang padaku. Istri Mas Adam juga katanya? Apa dia lupa aku sudah menceraikan pria psikopat itu?' batinku.


Kemudian, aku melanjutkan aktifitas pagiku seperti biasa. Pergi ke butik dan mengecek semua stok dan persediaan barang-barang jualanku.


Akhir-akhir ini minat pembeli sangat meningkat. Aku harus menstok barang tiga kali lipat lebih banyak dari biasanya. Syukurlah, aku sudah mendapatkan satu orang lagi karyawan pengganti si pengkhianat.


Aku selalu menghabiskan waktu di butik hingga malam hari. Dari pada hanya sendiri di rumah, lebih baik aku ikut andil dalam melayani pembeli di tokoku. Sesekali aku keluar dan menitipkan butik pada Risna, karyawan kepercayaanku setelah Astri.


Aku dan Ayu sesekali pergi makan dan berbelanja bersama. Terkadang kami juga pergi bersama Roman. Meski Roman masih menunjukkan ketertarikannya padaku, tapi aku masih belum bisa membuka hatiku pada siapa pun. Terlebih lagi, aku hanya menganggap Roman tak lebih dari seorang teman. Aku juga tidak pernah memberikannya harapan palsu atau semacamnya, agar ia tak pernah berharap lebih dariku.


Tak jarang mereka datang ke butik dengan membawakanku makan siang, jika sesekali aku tidak bisa keluar karena butik sedang ramai pembeli. Sekarang, Ayu dan Roman adalah sahabatku. Orang terdekatku yang selalu ada untukku.


Seperti siang ini, mereka berdua datang dengan membawakan banyak sekali makanan dan minuman. Bukan hanya untukku, tapi juga untuk enam orang karyawan butikku.

__ADS_1


"Ris, setelah pelanggan terakhir keluar, segera pasang label tutup pada pintu. Dua manusia gila makan itu sudah datang. Kita akan istrahat dan makan bersama." ucapku pada Risna dengan senyuman tipis saat melihat mobil Roman sudah berhasil parkir di depan butikku.


"Baik, Bu. Mereka sangat menyayangi Ibu. Karena itu, mereka nggak membiarkan Ibu merasa sendirian setelah melalui semua hal menyakitkan itu," jawab Risna pula membuatku menyadari segalanya dengan cepat.


__ADS_2