Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Akhir Pelarianku


__ADS_3

(POV Adam)


Aku masih bersembunyi di dalam aprtemen milik mantan mertuaku, Mami Meri. Aku tidak tau bagaimana kabarnya Aqila saat ini. Semalam, aku mencecoki mulutnya dengan cairan beracun dan membekap hidungnya dengan obat bius yang bisa menimbulkan halusinasi tingkat tinggi.


Jika dia tidak mati, minimal sudah gila lah saat ini. Aku meninggalkan semua barang berhargaku di dalam mobil. Dan mobil itu sendiri aku tinggalkan di parkiran bawah tanah rumah sakit. Aku ke sini menggunakan sebuah taxi yang ku stop di jalanan.


Tidak akan ada yang menyangka bahwa aku bersembunyi di sini. Aku bahkan telah mempersiapkan kebutuhan makanku untuk beberapa hari ke depan.


Aku bisa tinggal di sini dulu sebelum mendapatkan uang atau seseorang yang bisa kutipu untuk mendapatkan uang, lalu kabur ke luar Negeri. Pasti, cepat atau lambat, polisi akan menemukan bukti kejahatanku itu.


Mondar mandir di dalam ruangan yang tidak terlalu besar ini pun ternyata cukup membuatku merasa bosan juga. Aku berjalan hilir mudik di dalam kamar itu. Tak tau lagi apa yang harus kuperbuat.


Aku makan, tidur, menonton tivi dengan siaran dewasa yang memang tersedia langsung ketika aku menyalakannya. 'Dasar simpanan bule, tontonannya tak jauh-jauh dari film po*no." ucapku dalam hati.


Aku menonton film adegan ranjang yang panas itu hingga tertidur. Entah mungkin karena aku tidak terlalu tertarik pada tontonan seperti itu, entah karena aku yang memang sudah lelah.


Saat aku baru saja tertidur, samar-samar kudengar suara berisik di ruangan luar kamar tempat aku tertidur. Dengan langkah gontai dan muka sayu, aku berjalan keluar kamar.


Tepat saat aku membuka pintu kamar, saat itu pula sebuah senjata api mengarah tepat di depan keningku.


"Jangan bergerak! Anda sudah kami kepung." ucap seoramg pria berpakaian layaknya preman pemalak itu.


"Apa-apaan ini, Pak? Apa salahku? Dan siapa kalian semua?" tanyaku tak henti sambil melihat satu persatu wajah keempat orang berapakaian biasa, tapi masing-masing memiliki senjata api di pinggangnya.


"Anda ditangkap atas dugaan kasus perencanaan pembunuhan pada Saudari Aqila." jawab pria itu.


"Kami dari pihak kepolisian." jawab pria bersenjata lainnya.


"Aku tidak melakukan apa-apa pada Aqila. Dia mantan istriku, mana mungkin aku melukainya. Aku sangat mencintainya, Pak." aku mencoba membela diri.

__ADS_1


Tapi dua orang pria yang mengaku polisi itu malah memelintir tanganku ke belakang dan memasang borgol. Seorang lagi menunjukkan sebuah kertas.


"Ini surat penangkapan Anda!" ucapnya padaku.


"Siapa yang membuat laporan palsu ini?" tanyaku dengan sengit.


"Aku!" sebuah suara yang aku kenal muncul dari balik pintu.


"Ma-Mami?" tanyaku tak percaya.


"Jangan panggil aku dengan sebutan Mami lagi! Aku tidak sudi dipanggil Mami oleh manusia terkutuk seperti dirimu. Kau sudah menghancurkan hidup putriku. Aku pastikan kau akan mendapatkan hukuman yang berat."


"Tapi, Mi. Semua ini hanya salah paham. Aku tidak mungkin menyakiti Aqila, Mi. Aku mencintainya."


"Jangan mengelak lagi. Semua bukti sudah ada. Kau tau bukan kehebatan seorang Leon? Dia bahkan akan menemukan bukti sampai sekecil butiran debu sekali pun. Sudah kukatakan sejak awal, jangan main-main denganku!"


"Aku tidak mau memaafkanmu dan memberimu peluang untuk kembali menyakiti anakku." jawabnya dengan tatapan membunuh padaku.


Dari jawabannya itu, bisa aku pastikan bahwa Aqila masih hidup. Entah mengapa aku merasa lega mengetahui fakta itu. Aku tidak mengerti mengapa kemarin begitu berambisi ingin membunuhnya. Padahal aku sendiri, masih mencintainya.


Mungkin karena aku tidak ingin dia pergi dari hidupku dan tidak rela jika dia bersama pria lain. Jadi aku memilih jalan itu agar sama-sama tak bisa memilikinya.


Akhirnya aku digiring ke kantor polisi. Mantan mertuaku itu terlihat mengikuti dengan mobil kesayangan Aqila. Aku duduk dalam mobil diapit oleh dua orang polisi dan tangan diborgol.


Jika dibandingkan dengan bentuk tubuhku, kedua polisi ini masih tertinggal. Mungkin jika berkelahi menggunakan tangan kosong, aku bisa melumpuhkan mereka berdua sekaligus. Saat ini mereka hanya menang karena memegang senjata api.


Sesampai di kantor polisi, aku langsung dimasukkan dalam sel tahanan sementara. Sementara Mami Meri sedang memberikan kesaksiannya bersama petugas. Aku yakin sekali saat ini dia sudah memiliki bukti yang kuat untuk menjebloskanku ke dalam penjara.


Itu bukan perkara sulit baginya. Bahkan, jika ia tak memiliki bukti sekali pun, bukti yang direkayasa pun bisa terlihat sangat asli tanpa cacat jika Leon sudah sudah turun tangan. Aku tak akan pernah bisa melawan kekuatan Leon dalan hal ini.

__ADS_1


Ah, tiba-tiba saja aku teringat pada istri dan anakku yang baru saja lahir. Apa kabar mereka sekarang? Bagaimana Astri bisa memdapatkan uang untuk membayar administrasi agar bisa pulang membawa bayi kami? Kemarin saat aku akan pergi mengambil uang, aku melIhat Aqila sendirian di kamarnya.


Terlintas fikiran untuk mencelakainya begitu saja. Aku lupa bahwa belum mengambil uang untuk membayar biaya persalinan Astri. Semoga Astri bisa mengahadapi masalah itu dengan mudah. Pasti Astri bisa menemukan cara untuk meminta bantuan pada orang-orang yang mungkin bisa di percayainya.


Aku masih duduk di sudut ruang tahanan itu saat Mami kembali datang dan menghampiriku. Aku sudah tak punya energi lagi untuk berdebat dengannya. Banyak bicara untuk membela diri pun percuma saja. Aku tetap akan kalah darinya.


Mami Meri memang lembut dan terkesan seperti wanita yang mudah dirayu, tapi itu sama sekali bukan sifat aslinya. Aku bahkan bisa takut dengan ancamannya tanpa dia membawa-bawa Leon.


"Apa kau sudah puas sekarang?" tanya wanita itu dengan senyum kemenangan.


"Lakukan apa saja padaku. Tapi tolong, jangan pernah usik anakku. Biarkan Astri menjaga dan merawat bayiku dengan baik. Tolong jangan pernah usik mereka." pintaku dengan nada sedikit memohon.


"Kau pikir aku bodoh dan tak punya perasaan? Aku tidak akan pernah mencampur adukkan kejahatanmu dengan bayi tak berdosa itu." jawabnya dengan raut wajah serius.


Sepertinya aku bisa mempercayai kata-kata Mami Meri. Aku tak ingin jika nanti Leon menyapu habis semua orang yang berhubungan denganku. Termasuk bayi yang baru lahir itu. Jangan sampai itu terjadi.


"Terima kasih." lirihku dengan tak berdaya.


"Jangan memancing rasa simpatiku. Kau juga akan kena pasal lainnya. Karena sudah lancang masuk dan menggunakan fasilitas apartemenku tanpa izin." tukasnya lagi dengan sengit.


"Aku akan menerima semua hukuman itu dengan lapang dada."


"Jangn beepikir untuk bunuh diri atau mati lebih cepat. Karena aku tak akan pernah membiarkanmu hidup atau mati dengan mudah." ucapnya lagi dan berlalu meninggalkanku yang tak bisa berkata apa-apa lagi.


Inilah akhir dari pelarianku. Jeruji besi dan lantai dingin akan menjadi teman tidurku setiap malam mulai saat ini. Aku hanya dapat memeluk kerinduan pada bayi kecil yang kutinggalkan bersama istriku.


Aku pria pendosa. Masih adakah harapan untukku bisa menebus segalanya dan hidup bahagia bersama anak dan istriku? Tentu jika aku sudah bebas nanti. Sementara itu, aku belum tau berapa lama aku akan mendekam dalam tahanan ini. Bisa saja belasan bahkan puluhan tahun.


Tuhan... Maafkanlah diriku yang penuh dosa ini.

__ADS_1


__ADS_2