
(POV Aqila)
"Ayo makan lagi, Kak. Supaya tenaga Kakak kembali fit dan Kakak bisa pulih lebih cepat," ucap Kayla padaku yang sudah berhenti mengunyah.
"Kakak sudah kenyang, Dek." jawabku dengan lembut.
"Tapi Kakak baru makan sedikit. Masa' sih udah kenyang?"
"Iya, udah kenyang. Nanti kalau lapar lagi, Kakak makan lagi kok,"
"Beneran ya? Ini banyak banget makanannya udah aku beliin. Mami nih yang punya kerjaan, beliin segala macam udah kayak mau jualan aja." Kayla berkata sambil tertawa lepas.
Akhirnya aku bisa melihat Kayla tertawa seperti itu juga. Lepas tanpa beban. Terlihat sangat natural dan menikmati hidup ini.
Kayla memang sudah sepantasnya hidup bahagia dan tertawa lepas seperti itu. Aku akan membantunya melupakan semua masa-masa kelam yang pernah ia lalui dulu.
"Kamu tau nggak Dek? Itu alasan Mami aja beliin ini itu supaya aku mau makan. Mana mungkin kan orang sakit makan sebanyak itu. Sebenarnya itu selera Mami semua lho." aku berbicara dengan suara yang sengaja dibesar-besarkan.
Kayla kembali tertawa lepas. Kali ini dia terbahak-bahak sambil memegangi perutnya dan menutup mulut dengan telapak tangan satunya. Sungguh gadis kecil yang masih sangat polos dan lugu sekali. Bisa bahagia dan tertawa hanya karena hal sepele seperti itu.
"Eh, siapa tadi yang bilangin Mami gitu? Kamu Qil? Atau kamu Kay?" tanya Mami sambil jalan mendekat ke arah kami.
Aku dan Kayla saling memandang, lalu tertawa bersama. Mami memasang wajah kesal dan merajuk yang dibuat-buat.
"Lihat tuh Mami kamu, Dek. Kelakuannya kayak anak kecil tuh. Pake merajuk segala." ucapku pada Kayla.
"Ih, kan Kakak duluan yang lahir. Mami Kakak dulu dong berarti," jawabnya dengan tawa menggoda.
"Jadi, nggak ada yang senang nih jadi anak Mami?" tanya Mami padaku dan Kayla.
Sontak kami berdua serempak diam dan saling memandang ke arah Mami. Mami terlihat serius dengan pertanyaannya. Apa mungkin Mami tersinggung dengan candaan kami?
"Bukan gitu, Mi. Aku sama Kayla cuma bercanda kok, Mi." terangku pada Mami.
"Iya, Mi. Jangan marah dong, Mi. Kami senang kok jadi anak Mami. Mami adalah ibu terhebat dan terkuat di dunia. Kami bangga memiliki Mami." sela Kayla dengan menggenggam tangan Mami.
Namun, tanpa di duga Mami menepis tangan Kayla dan berjalan menjauh ke ranjang kosong yang memang disediakan untuk pihak keluarga yang menemani pasien rawat inap.
__ADS_1
"Jika kalian tidak suka menjadi anak Mami, katakan saja terus terang. Jadi Mami bisa mengambil sikap untuk ke depannya." ucap Mami dengan membelakangi aku dan Kayla.
"Apa maksud Mami?" tanyaku heran.
"Jika kalian tidak suka menjadi anak Mami lagi, maka Mami akan..."
"Akan apa?" tanya Kayla yang sudah menatap Mami dengan sinis.
Tatapan yang sama saat pertama kali aku melihatnya menatap Mami. Tatapan penuh amarah dan kekecewaan. Kali ini tatapan itu terpancar kembali dari kedua bola matanya yang indah.
Aku takut, Kayla kembali membenci Mami. "Mi, please! Jangan bercanda." pintaku dengan raut wajah serius.
"Makdud Mami, Mami akan melahirkan adik untuk kalian. Siapa tau dia akan senang memiliki ibu seperti Mami." ucapa Mami dengan gelak tawa yang terhambur keluar dari rongga mulutnya.
"Mamiii...!!!" teriakku dan Kayla bersamaan.
Sejenak kami lupa kalau ini adalah rumah sakit.
Mami sengaja mengerjai kami rupanya. Sungguh aku tak menginginkan apa-apa lagi di dunia ini selain kebahagiaan seperti ini. Bersama Mami dan adikku, kayla. Semua kesedihanku hilang sudah seiring dengan hadirnya mereka berdua dalam hidupku.
Awalnya mereka ingin pulang bergantian karena takut aku sendirian di sini. Tapi aku lebih takut lagi kalau Mami atau Kayla sendirian di rumah itu. Bisa saja Mas Adam kembali datang dan mengganggu keluargaku.
Firasatku juga tidak enak setiap kali memikirkan Mas Adam. Seolah-olah akan ada hal besar yang bisa saja dilakukan pria itu padaku atau pada keluargaku.
Lagi pula, Roman dan Ayu sedang dalam perjalanan ke sini. Itulah sebabnya aku tak perlu merasa khawatir jika Mami dan Kayla pulang.
Sebenarnya aku juga kasihan pada Mami karena harus menjagaku di rumah sakit. Sementara Mami sendiri baru pulih dari sakit. Aku tak mau kesehatan Mami kembali drop karena harus menjagaku siang malam.
"Rom, kalian udah dimana? Kok nomor Ayu nggak bisa dihubungi?" tanyaku pada Roman dalam panggilan telepon.
"Iya, sorry ya. Kami agak telat nih datangnya. Ayu tiba-tiba nabrak anak kecil waktu jalan keluar dari resto. Jadi aku ngantar dia pulang dulu buat ganti baju." jawab Roman dari seberang sana.
"Ada-ada aja. Emang tuh si Ayu ceroboh banget. Nggak bisa sehari aja nggak bikin onar." ejekku dengan tawa berderai.
"Kamu bener, Qil. Tadi aja dia tiba-tiba manggil aku Beb terus jadi salah tingkah sendiri."
"Mungkin dia udah bosan dengan kejombloannya. Kamu tembak dia jadi pacar ajalah Rom. Kalian cocok kok. Banyak kesamaan."
__ADS_1
"Sama-sama masih jomblo maksudnya kan?" tanya Roman yang membuatku kembali tertawa.
"Ya udah, buruan deh kesini. Aku sendiri nih. Mami sama Kayla aku suruh pulang aja dulu, istirahat."
"Kayla? Siapa tuh? Kembaran kamu? Cantik nggak? Masih single kan? Dia mau nggak kira-kira sama aku?" pertanyaan Roman bertubi-tubi membuatku memijit tengkuk yang tidak pegal sama sekali.
"Ntar deh aku ceritain semuanya. Bilang sama Ayu, jangan bawa apa-apa kesini. Lihat tu foto yang aku kirim ke aplikasi WA nya. Udah kayak toko kue di sini."
"Hahaha... Oke deh kalau gitu. Baik-baik ya disana. Aku akan datang secepatnya. Kalau ada yang mencurigakan langsung aja telepon aku."
"Siap, Boss. Aman deh kalau soal itu." jawabku singkat. Dan langsung memutus panggilan telepon itu.
Kakiku sudah lumayan bisa digerakkan jari-jarinya. Tapi masih belum bisa berjalan. Aku masih duduk menyandar di ranjang pasien ini tanpa bisa melakukan apa-apa.
Saat aku sedang bermain ponsel, pintu ruanganku terbuka. Tampak seorang pria yang tak lain adalah Mas Adam datang mendekati ranjangku. Jantungku berdegup kencang. Ada rasa takut yang menyelimuti hatiku saat ini. Tapi aku mencoba untuk tetap terlihat tenang.
"Mau apa kamu datang kesini?" tanyaku dengan sinis.
"Ckckck... Sudah lama tak bertemu semakin galak saja mantan istriku," ucapnya dengan langkah yang terus mendekat padaku.
Aku hanya bisa bergerak sedikit ke kiri dan ke kanan saja. Kakiku sama sekali tak bisa aku angkat. Aku merasa menjadi manusia yang tak berguna sekali saat ini.
"Kakinya kenapa? Sakit ya? Kasihan!" ucapnya dengan nada mengejek.
Tanganku bergerak cepat dibalik selimut. Menekan sembarangan pada layar ponsel. Yang jelas saat ini aku hanya ingin meminta bantuan pada siapa saja yang bisa aku hubungi.
Dengan sedikit kesabaran dalam meraba layar ponselku, aku yakin saat ini sudah ada satu nomor yang berhasil kupanggil.
"Pergi! Jangan pernah muncul lagi di depanku. Atau kamu akan menanggung akibatnya!" ancamku pada pria yang mulai tampak tak terurus itu.
Apa peduliku jika istrinya tak pandai merawat dirinya. Tapi dari situ saja sudah jelas tampak berbeda. Suami yang dicintai sepenuh hati dengan suami yang diinginkan karena materi.
"Tenang, Sayang. Aku akan pergi. Tapi, setelah melenyapkanmu!" ucapnya lalu dengan kasar mencecoki sesuatu dalam mulutku.
Sekuat apa pun aku berusaha, aku sama sekali tak bisa menandingi tenaganya. Mas Adam pria berbadan besar dengan tenaga yang tak perlu diragukan lagi. Aku hanya wanita dengan segala keterbatasan, ditambah lagi kakiku sama sekali tidak bisa bergerak saat ini.
"Bertemulah dengan ayahmu di neraka. Dan sampaikan salamku padanya. Kalian sama saja. Sekian tahun aku berbakti sebagai menantu dan suami idaman, tapi tidak setetespun saham yang mengalir atas namaku. Sekarang aku datang untuk membalas dendam." itu lah kata-kata Mas Adam yang masih bisa kudengar sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri.
__ADS_1