Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Tidak Punya Perasaan


__ADS_3

Aku membuka mata perlahan, dan kupandangi sekelilingku. Sepertinya aku berada di sebuah kamar Rumah Sakit. Karena, bau obat-obatan dan alkohol pembersih luka tercium sangat menyengat di indera penciumanku.


"Ke-kenapa kalian ada di sini?" tanyaku, saat melihat Mas Adam dan Astri berdiri berdampingan di samping kasur pasien yang kutempati.


"Sayang... Aku akan menjagamu, tentu saja aku di sini," jawab Mas Adam sambil berusaha memegang tanganku, tapi langsung saja kutepis.


"Jangan memanggilku dengan sebutan sayang lagi!" titahku mengalihkan pandangan dari mereka.


"Sayang, tolonglah..."


"Dan, kamu bilang akan menjagaku? Jangankan menjagaku, menjaga kesetiaan dan kejujuran saja kamu tak mampu, Mas!" bisikku dan tak terasa mataku sudah menumpahkan butiran hangatnya di sudut pipi.


"Kak, jangan salahkan Mas Adam terus. Kami juga nggak mau ini terjadi," Astri yang sejak tadi diam, ikut bicara.


"Kamu... Nggak usah ikut campur, ini urusanku dengan suamiku," tegasku pada Astri.


"Tapi, sekarang dia juga suamiku!" jawab Astri tak tau diri.


"Sudahlah, sebaiknya kamu pulang dulu. Mas akan menyelesaikan masalah ini dengan Aqila. Aqila hanya syok dan emosi saja saat ini," titah Mas Adam lembut pada Astri.


Hanya syok dan emosi saja katanya? Cih, jadi dia pikir nanti aku akan memaafkannya setelah emosiku mereda? Apa dia lupa dengan yang baru saja kukatakan beberapa hari lalu? Tidak ada maaf untuk pengkhianat.


"Kak, aku pulang dulu. Masalah Butik nggak usah cemas, aku sudah mengurusnya tadi sebelum menyusul ke sini," ucap Astri padaku.


Mengurusnya? Dia pikir, siapa dirinya? Apa dia berpikir untuk mulai menguasai satu persatu asetku? Jangan mimpi kamu, Astri.


Karena aku tidak menjawabnya, Astri meninggalkan kamar rawat inapku. Aku melihatnya menutup pintu. Dapat kurasakan, telapak tangan Mas Adam memijit-mijit kakiku dari balik selimut Rumah Sakit yang kukenakan.


"Sudahlah, Mas. Jangan menyentuhku lagi, meski terbalut kain, aku nggak sudi disentuh oleh tanganmu lagi," ucapku dengan nada kasar.


Mas Adam menghentikan pijitannya. "Baiklah, mungkin saat ini kamu masih emosi dan belum bisa menerima semua kenyataan ini. Sebaiknya, Mas menunggu di luar. Jika kamu perlu sesuatu, telfon saja Mas ya. Itu ponsel kamu di samping bantal." Mas Adam berdiri dari kursi yang tadi sempat didudukinya.


"Aku tidak perlu bantuanmu lagi. Dan aku tidak ingin mendengar apapun penjelasan darimu. Yang kamu katakan saat di Butik, semua sudah jelas bagiku,"


"Syukurlah, jika kamu sudah dapat memahami situasi ini,"

__ADS_1


"Ya, aku sangat memahaminya dengan sangat jelas."


"Terima kasih, Sayang. Mas janji, akan bersikap adil pada kalian berdua. Tapi, Mas tetap akan menomor satukanmu."


"Itu namanya tidak adil, Mas. Apakah Mas tau definisi kata adil itu sebenarnya?"


"Mas tidak akan membeda-bedakan kasih sayang dan materi pada kalian berdua."


"Tidak, Mas. Aku tidak bisa!"


"Apa maksudmu, Aqila?"


Jarang sekali Mas Adam memanggilku dengan sebutan nama seperti itu. Biasanya, hanya jika dia benar-benar sedang marah atau kesal saja. Tapi, saat seperti ini, kenapa malah dia yang marah padaku? Seharusnya aku yang marah padanya.


"Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini." ucapku dengan berat hati.


"A-apa maksud ucapanmu itu? Apakah kamu sadar, Aqila? Pernikahan ini bukan mainan, yang bisa kamu lepaskan saat sedang emosi,"


Cih...


Aku jijik mendengar Mas Adam mengatakan tentang hal itu. Lalu, apa yang dia lakukan pada pernikahan kami?


"Tapi, aku sudah mengatakan alasan sebenarnya. Kamu juga tadi bilang sudah memahami keadaan ini." jawab Mas Adam, dia mencoba meraih tanganku. Tapi, selalu kutepis tangannya dari tanganku.


"Aku memahamimu, bukan berarti aku menerimanya, Mas. Tolong bedakan itu!"


"Tolonglah, Aqila. Jangan seperti anak kecil lagi. Kita hadapi semua ini bersama-sama," pintanya padaku dengan nada memelas.


"Maaf, Mas. Kamu hadapi saja sendiri, kan saat berbuat kamu melakukannya sendiri. Bahkan, kalian merahasiakan hal sebesar ini dariku sekian lama,"


"Ini semua demi kebaikan kita, Mas takut jika kamu tau, kamu akan marah dan meninggalkan Mas. Mas nggak bisa hidup tanpa kamu," rayuan pulau kelapa di gencarkan. Tapi sorry sorry jek, aku bukan cewek murahan. Hihi.


"Pada akhirnya, aku tetap akan tau. Dan aku akan tetap meninggalkanmu. Cepat atau lambat, sama saja. Hanya masalah waktu, Mas." jawabku dengan suara bergetar.


"Sayang, Astri sedang hamil saat ini. Kita bisa membawanya tinggal bersama kita. Anaknya, akan menjadi anakmu juga. Anak kita bersama!" ucapan Mas Adam benar-benar seperti menabur asam pada hati yang baru saja terluka.

__ADS_1


"Apa kamu bilang, Mas? Membawanya ke rumah dan merawat anaknya bersama? Jangan mimpi kamu, Mas! Itu rumah orang tuaku, kalau kamu mau bawa dia pulang, bawa dia kerumahmu!" jawabku dengan setengah berteriak.


Dasar laki-laki yang tak punya perasaan. Mudah sekali dia mengatakan itu padaku? Untung saja aku sedang di infus saat ini, jika tidak, sudah kutampar mulutnya itu.


"Sebaiknya kamu pergi saja dari sini, Mas. Aku muak melihat dan mendengar ocehanmu itu. Pergi sana, pulang pada gundikmu itu!" ucapku kasar.


"Aqila..." sahutnya tak percaya aku mengatakan kata-kata kasar itu.


"Apa? Benarkan? Aku baru tau, ternyata duda kaya yang dikatakan tetangga gadis itu ternyata pria yang masih beristri dan tega menduakan istrinya," aku teringat dengan perbincanganku dengan Ibu paruh baya tetangga Astri kemarin.


Mas Adam hanya diam, kurasa dia pasti tau maksud dari ucapanku. Tentu saja, ****** itu pasti sudah merancang semua cerita itu demi menyelamatkan nama baiknya. Dan aku sangat yakin, Mas Adam tau semua cerita itu.


"Baiklah, aku pergi dulu. Besok aku akan datang lagi untuk menjengukmu. Sekalian, besok kamu sudah bisa pulang kok," Mas Adam menarik napas dalam dan membuangnya kasar.


Kulihat dia keluar dari kamar inap ini. Saat pintu sudah tertutup rapat, air mataku langsung jatuh berderai. Tumpah sejadi-jadinya. Aku berusaha menahannya sejak tadi. Tak ingin aku terlihat lemah dan rapuh di hadapan pria yang telah mengkhianati kepercayaanku itu.


Aku tak sudi dalam kegundahan hatiku, aku ingat pada Ayu. Gegas aku mengambil ponsel dan melakukan panggilan pada nomor ponselnya. Cukup lama, hingga panggilanku terjawab.


"Hai, Qil. Apa kabar? Udah lama nggak ketemu, pasti kangen sama aku yaa," candanya dari ujung sambungan telepon.


"Eh... Iya... Kangen banget tau!"


"Sorry ya, aku lagi banyak kerjaan. Lagi ngurus kasus pelecehan anak di bawah umur. Udah dua minggu belum ketemu titik terangnya tentang pelaku," keluh Ayu padaku. Jarang sekali Ayu mengeluhkan pekerjaannya padaku.


"Sorry, soal itu aku tak bisa membantumu!"


"Its okay, Beb. Pasti ada sesutu yang penting bukan? Jika tidak, mana mungkin kamu telfon aku," Ayu memang paling mengerti dan memahami diriku.


"Benar. Aku mau memakai jasamu, dalam mengurus perceraianku dengan Mas Adam," ucapku sangat yakin.


"Tunggu dulu... Cerai? Sama Mas Adam? Ada apa ini, Aqila?" tanya Ayu semakin penasaran.


"Besok akan kuceritakan semuanya. Jangan kemana-mana besok sore. Oke?"


"Oke, aku akan menunggumu datang besok sore. Kamu harus ceritain semuanya sama aku. Sekarang kamu tenang, jangan gegabah dan ikuti saja alurnya!" Ayu masih sempat untuk menasehatiku.

__ADS_1


"Baiklah, tak perlu khawatir." jawabku, lalu mematikan telfon.


'Maafkan aku, Mas. Kurasa inilah jalan terbaik untuk kita lalui sekarang. Aku, tidak siap berbagi cinta dan suami dengan wanita lain,' bathinku berkata.


__ADS_2