Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Aku Belum Yakin


__ADS_3

(POV Aqila)


Setelah selesai makan, aku langsung diantar pulang oleh Yusuf. Karena memang, masing-masing kami ada tugas penting besok pagi. Aku akan sibuk karena barang butik masuk banyak besok pagi, sementara Kayla harus sekolah tatap muka. Jadi aku yang harus menghandle nya besok.


Yusuf juga mengatakan bahwa besok ada janji temu dengan seorang pasien usia 12 tahun korban pelecehan seksual. Gadis remaja itu butuh penanganan khusus dari psikolog ahli agar mau menceritakan semua kejadian yang telah ia alami.


Tidak butuh waktu lama, kami sudah sampai kembali di depan rumahku. Yusuf berlari keluar mengitari mobil dan membukakan pintu untukku. Aku serasa menjadi seorang Nyonya besar dibuatnya.


Yusuf sangat pandai menarik perhatianku. Hal-hal sederhana yang ia lakukan terasa sangat spesial bagiku. Aku masih belum yakin dengan perasaanku sendiri. Tapi, jelas ada yang berbeda. Jika aku katakan aku menyukainya. Ya, itu benar. Namun, jika aku mengatakan aku mencintainya, aku belum yakin.


"Makasih ya, Qil. Karena udah mau aku ajakin dinner malam ini." ucap Yusuf saat aku sudah keluar dari mobil.


"Iya, sama-sama. Makasih juga ya, udah buat aku bahagia malam ini." jawabku sembari melempar senyum terbaik untuknya.


"Aku ingin selalu membuatmu bahagia, Qil. Andai kamu mengizinkannya." lirih Yusuf dengan helaan napas yang berat.


Aku menyadari betapa seriusnya Yusuf padaku. Tapi aku masih belum ingin menjalin satu komitmen lagi setelah apa yang sudah terjadi selama ini. Bagaimana pun juga, semua terasa masih baru terjadi kemarin padaku.


Pengkhianatan, perceraian, luka dan kecewa, air mata derita, teror sampai nyawaku yang hampir saja melayang. Semua masih jelas di pelupuk mata. Aku belum bisa memberikan kepercayaan kepada siapa pun untuk menyerahkan hati dan segenap jiwa ragaku.


"Maaf, Qil. Aku nggak bermaksud membuatmu merasa nggak nyaman."


"Nggak kok, Suf. Santai aja. Tapi memang semua terlalu cepat bagiku. Aku masih trauma dengan segalanya."


"Ya, aku ngerti yang kamu rasain. Aku juga nggak maksa kamu, kok. Kita akan menjalin hubungan senyaman dan seenjoy kamu aja. Yang pasti aku akan terus nunggu sampai hati kamu benar-benar siap dan yakin padaku."


"Sekali lagi, makasih ya. Aku banyak utang budi sama kamu, Suf. Aku nggak tau akan balas dengan cara apa lagi."


"Kamu nggak perlu balas apa-apa. Kamu nggak utang apa pun sama aku. Jangan kamu ngerasa gitu lagi, ya. Aku nggak mau kamu terbebani dengan pikiran seperti itu."

__ADS_1


"Hem... Iya deh, iya. Dokter yang satu ini cerewet banget ya aslinya. Beda banget sama di klinik." candaku mencairkam suasana malam yang dingin mencekam.


"Urusan pekerjaan dan pribadi, tentu saja harus berbeda. Nggak bisa di samain dong." jawabnya dengan senyum mengambang.


Senyum yang akhir-akhir ini sangat aku sukai dan mampu membuatku merasakan rindu pada pemiliknya.


"Jadi, benaran nggak mau masuk dulu nih? Jumpa Mami sama Kayla dulu, ngobrol?" tawaranku yang sangat jelas sekali basa-basinya.


"Ga usah. Besok kita sibuk banget kan? Jadi harus istirahat lebih awal. Sebaiknya aku pulang sekarang. Kalau sama kamu, aku bisa lupa waktu," ucapnya dengan diiringi tawa yang renyah.


Aku ikut tertawa ringan. Sebelum akhirnya aku mengangguk setuju. "Hati-hati di jalan, ya." aku berkata dengan serius.


"Hati-hati menjaga hati, ya." jawabnya yang memang sengaja menggodaku lagi.


"Sudah, pulang sana. Bisa sampai pagi kalau terus dilanjutkan seperti ini."


"Kamu benar. Tak akan pernah cukup waktu jika bersamamu," jawab Yusuf yang kuanggap sebagai gombalan semata.


Aku masuk ke rumah dan segera menuju kamarku. Di sana, aku melihat Kayla sedang duduk di meja kerjaku sambil membaca sebuah buku di tangannya.


"Kamu belum tidur, Dek?" tanyaku sambil melepas pakaianku dan ingin menggantinya dengan baju tidur.


"Belum. Maaf ya, Kak. Aku masuk kamar Kakak tanpa izin. Tadinya aku mau chat Kakak, tapi takut ganggu. Aku cuma pinjem novel kok, Kak. Suntuk ga ada yang mau di baca." jawabnya menjelaskan kenapa dia bisa ada di kamarku.


"Iya, ga apa-apa kok, Dek. Santai aja. Kamu boleh masuk ke kamar Kakak sesuka hatimu. Nggak ada yang spesial atau gimana-gimana juga di sini."


"Kamar kan privasi, Kak. Aku takut aja dikira lancang."


"Iya, kamu benar. Tapi saat ini nggak ada yang Kakak privasi kan di kamar ini."

__ADS_1


"Ntar kalau Kakak udah nikah, baru ya privasi banget. Hehe." jawabnya cengengesan.


Aku menjewer telinga Kayla pelan. Gadis ini memang suka sekali menggodaku. Tapi aku bahagia karena memiliki dia. Setidaknya, aku tidak sendiri lagi menanggung beban dalam hatiku. Mami dan Kayla menjadi pelengkap hidupku setelah kepergian Papi dan Mas Adam dari hidupku.


Memang aku akui, kami belum lama ini bersama setelah berbelas-belas tahun tidak saling mengenal. Tapi aku sangat yakin, Kayla sangat baik dan tulus. Dia seorang gadis yang jujur dan berhati mulia. Aku bisa merasakannya dari sejak pertama bertemu dengannya. Saat ia pertama kali mengantarkan pesanan bubur ke butikku beberapa bulan yang lalu.


"Kak, aku ke kamarku aja ya. Kakak butuh istirahat kan? Iya dong, kan habis kencan," selorohnya lagi dengan nada menggodaku.


"Apaan sih kamu, Kay. Anak kecil ngomongin kencan segala. Kayak yang ngerti aja kamu tuh,"


"Yeee... Aku udah 15 tahun kali, Kak. Ya udah ngerti lah. Malahan, teman-temanku udah banyak yang punya pacar. Aku aja nih yang masih jomblo."


"Husttt... Awas ya kalau kamu berani pacar-pacaran. Nggak boleh dulu saat ini. Nanti kalau udah tamat SMA baru boleh. Kakak nggak mau sekolah kamu terganggu karna percintaan lebay ala anak remaja sekarang ini,"


"Iya, Kakakku yang cantik. Lagi pula, mana yang suka sama aku. Di sekolah aku tuh, murid cewek nya cantik dan populer. Banyak anak pejabat, artis atau penyanyi kondang."


"Kamu kan juga anak pejabat. Asal kamu tau aja, Papi itu pengusaha sukses. Siapa sih yang nggak tau Papi di kota ini." ucapku mencoba menepis keminderan Kayla.


"Kamu tuh juga cantik banget tau, ala-ala bule gitu wajahnya. Masa minder sama yang wajah lokal. Mereka aja pasti ngiri sama kamu," lanjutku lagi.


"Ah, masa sih, Kak? Kakak jago banget nih nyenengin hati aku, sama kayak Mami." balasnya dengan tersipu malu.


"Iyaa... Kakak dan Mami nggak mungkin bohong. Ya udah, sekarang balik kamar sana. Besok sekolah kan?"


"Iya, Kak. Besok berangkat jam 9 kok. Masih bisa santai paginya."


"Tapi tetap nggak boleh begadang. Besok lanjutin baca bukunya. Sekarang, waktunya tidur. Buruan!" titahku padanya.


Kayla menuruti perkataanku. Kayla memang tak pernah membantah apa yang aku katakan. Aku semakin menyayanginya. Aku tak pernah mengira bahwa akan memiliki seorang adik yang bisa kujadikan sahabat sekaligus.

__ADS_1


Tempatku bercerita dan berkeluh kesah. Tempatku saling bercanda ria dan tawa manja. Mami sangat beruntung memiliki Kayla. Meski, dulu ia sempat meninggalkan gadis kecil itu.


Setelah Kayla keluar dari kamarku, aku mengunci pintu dan menuju singgasana tempatku beristirahat. Aku sudah sangat lelah. Aku ingin segera tidur. Tak butuh waktu lama, baru saja tubuh ini terhempas di atas kasur, mata sudah berat dan aku sudah terbuai ke alam mimpi yang indah.


__ADS_2