Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Salah Tingkah


__ADS_3

Dengan langkah tegap, Roman kembali hadir di tengah-tengah kami. Aku segera menyimpan ponselku ke dalam tas. Begitu pun dengan Ayu yang tampak sangat antusias menantikan apa yang selanjutnya akan diberitahu oleh Roman.


"Ini, chip kecil ini sangat banyak manfaatnya. Apa suamimu memakai pelindung ponsel?" tanya Roman padaku.


"Iya, dia selalu memakainya. Karena dia sangat ceroboh, jadi aku memintanya memakai pelindung ponsel agar saat ponsel itu jatuh, tidak langsung pecah," jelasku pada Roman.


"Bagus, kamu sisipkan ini di belakang ponselnya. Tinggal tempel saja, lalu pasang kembali pelindung ponselnya. Aku akan menambahkan fitur pengaturannya di ponselmu setelah itu!" ucap Roman sambil menyerahkan sebuah chip yang sangat kecil dan tipis itu padaku.


"Hati-hati, Beb. Jangan sampai hilang, dan jangan sampai ketahuan saat kamu memasangnya. Sebaiknya kamu pasang itu nanti saat dia pulang kerja. Jadi besok kita ke sini lagi, untuk mengatur programnya dari ponselmu. Bukan begitu, Mister?" canda Ayu menanyai Roman.


"Yap, benar sekali. Selamat menjalankan tugas pertamamu," ucapnya padaku sambil tersenyum manis.


Aku merasa bahwa senyum Roman bukan senyum yang sama seperti yang dia berikan pada Ayu. Apa mungkin pria ini benar-benar masih menyimpan perasaan untukku? Apa benar dia masih sendiri karena menungguku selama ini? Bermacam pertanyaan konyol muncul di kepalaku, tapi berhasil kutepis denga cepat.


"Baiklah, Rom. Aku akan membayar jasamu setelah semua ini selesai. Atau, kamu ingin menerima uang muka terlebih dahulu? Aku takut, kamu berpikir aku tidak serius dan mungkin saja kabur nanti setelah misi ini sudah berhasil," ucapku sengaja bercanda dengannya.


"Haha... Aku akan mengejarmu hingga ke ujung dunia jika kau lari lagi kali ini!" bisiknya, tapi masih bisa kudengar dengan kedua indera pendengaranku.


Hanya Ayu yang tampak tak begitu peduli, karena tiba-tiba ponselnya berdering. Ayu izin keluar untuk mengangkat panggilannya padaku, dan aku mengangguk setuju. Setelah Ayu pergi, Roman tampak menatapku dengan lekat. Aku merasa sangat canggung saat diperhatikan oleh pria yang bukan suamiku dengan begitu dekat seperti ini.


"Kenapa kamu menatapku terus sejak tadi? Jangan bilang kamu suka sama istri orang!" ucapku lagi dengan maksud hanya bercanda.


"Kalau benar gimana?" tanya Roman balik, membuatku salah tingkah.


"Eh, apa-apaan sih? Aku-aku cuma bercanda, jangan dibawa ke hati," lanjutku padanya.


"Dari dulu, kamu selalu di hatiku!" jawabnya pelan.


Aku semakin canggung berada di dalam ruangan ini hanya berdua dengan Roman. Aku melirik ke arah pintu dan ponsel bergantian, menanti Ayu yang tak kunjung masuk kembali.

__ADS_1


"Kenapa kamu terlihat sangat gugup? Tenanglah, aku tidak akan macam-macam padamu. Bagaimana pun, aku ini pria baik-baik," pujinya pada dirinya sendiri.


"Terima kasih," balasku dengan senyuman lega.


"Eh, ngomong-ngomong udah berapa lama kamu menikah dengan pria itu?" tanya Roman padaku.


"Sudah tiga tahun, kami juga awalnya hanya dijodohkan oleh Ayahku. Karena dia pria yang menurutku tipe suami idaman, maka aku menyetujui perjodohan itu." jawabku, kembali mengenang saat-saat pertama kami dijodohkan.


"Wah, masih zaman juga ya perjodohan?" ledeknya dengan nada yang sumbang.


"Waktu itu, Ayahku baru berhasil melewati masa-masa kritisnya. Jadi, aku tak punya pilihan lain. Demi kesehatan Ayahku, biarlah aku mengalah. Tapi, sehari setelah aku resmi menikah dengan Mas Adam, Ayah meninggal dunia," aku mengatakan kalimat itu dengan mata yang sudah mulai basah.


Roman berdiri dari tempatnya duduk, dan duduk didekatku. Dia menyodorkan selembar tisu padaku, kuambil dan kuusap mataku yang basah.


"Sorry, aku nggak bermaksud," ucapnya tulus.


Tiba-tiba Ayu kembali masuk dan menatapku dengan heran.


"Rom, kamu apain Aqila? Kok dia nangis? Aku baru tinggal nelpon bentar aja lo," tanya Ayu dengan khawatir dan kemudian duduk di sampingku.


"Udah, aku nggak kenapa-napa kok. Cuma tadi sedih aja, tiba-tiba ingat Ayah," jawabku meredakan kekhawatiran sahabat karibku itu.


"Ouh Baby... Udah dong, nggak usah sedih terus. Ayah kamu udah bahagia kok di Surga," kata-kata Ayu membuat hatiku tenang. Aku tersenyum mengiyakan ucapan Ayu.


Setelah rasanya cukup lama kami bertukar cerita, bertukar ide dan pendapat, aku dan Ayu pamit untuk pergi. Karena tak terasa, sudah jam dua belas siang. Pantas saja perutku terasa sangat lapar.


"Rom, sekali lagi terima kasih banyak. Aku pasti akan menghubungimu secepatnya," ucapku sebelum beranjak dari kediaman Roman.


"Menghubungiku? Kamu punya nomor ponselku?" tanya Roman heran.

__ADS_1


Pertanyaan Roman itu sekaligus membuatku sadar atas kebodohanku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa menghubunginya jika aku saja tak memiliki nomor ponselnya. Namun, alih-alih mengakui kecerobohanku. Aku memilih mengkambing hitamkan Ayu kali ini.


"Tenang saja, aku tinggal memintanya pada Ayu,"


"Kenapa tidak langsung padaku? Mumpung aku ada di depanmu saat ini!"


"Eh, itu... Nanti saja, atau besok. Besok kan aku ke sini lagi sama Ayu. Iya kan, Beb?"


"Mudah-mudahan ya, kalau aku nggak sibuk. Soalnya tadi itu yang nelpon calon klienku. Aku nggak bisa pastiin nih kalau besok." tolak Ayu halus, membuatku tersenyum kikuk di depan Roman.


"Ya udah, kalau gitu besok aku datang sendiri aja." jawabku, lalu meninggalkan Ayu dan Roman.


Sebenarnya aku sangat malu saat ini, tapi aku berusaha menutupinya di depan Roman. Malu dong, seorang Aqila terlihat salah di depan cowok. Karena itu, aku memilih gaya sok merajuk pada Ayu dan bergegas masuk ke mobilnya.


Tak lama kemudian, Ayu pun datang dan masuk ke mobilnya itu. Aku merasa lega, karena Roman hanya berdiri sebentar di pintu lalu menutup pintu rumahnya kembali.


"Lama banget sih? Aku nungguin dari tadi, udah laper banget nih. Yuk, ke Restoran Korea di ujung Jalan Melati itu. Katanya di sana baru buka dan enak," ajakku tak sabar pada Ayu.


"Iya, Nyonya Besar. Segera berangkat!" jawab Ayu dengan ala supir bicara pada majikannya.


Setelah sampai di Restoran Korea yang baru saja di buka itu, aku dan Ayu melirik meja kosong. Karena mungkin masih baru, pengunjungnya sangat ramai hari ini.


"Beb, ayo duduk di sebelah situ," ajakku pada Ayu, saat melihat ada sebuah meja kosong tak berpenghuni. Kami segera duduk dan pelayan datang membawa daftar menu. Aku dan Ayu memilih beberapa makanan kesukaan kami, lalu menunggu dengan serius.


Namum, tiba-tiba mataku terfokus pada tubuh kekar yang duduk di meja paling sudut ruangan ini. Dari pakaiannya, aku tidak kenal. Tapi aku seperti tidak asing dengan postur tubuh dan potongan rambut pria itu. Di depan pria itu, kulihat Nisa. Saat kulihat Nisa mengelus-ngeluskan kakinya di paha pria itu di bawah meja, aku merasa jijik pada kelakuannya.


Lalu, saat seorang pelayan menghampiri mereka membawakan sejumlah menu dalam nampan, pria itu menoleh. Dan aku bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas.


"Mas Adam..." lirihku pelan dan menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2