Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Pelembab Bibir


__ADS_3

"Selamat malam, Sayang!" sapa Mas Adam padaku, saat baru saja memasuki rumah.


"Selamat malam, Mas. Kok baru pulang?" tanyaku sambil membantunya melepaskan jas.


"Iya, tadi Mas mendadak harus revisi dokumen yang mau di presentasikan besok," jawabnya dengan muka lelah.


Aku tidak tega jika harus memberondonginya dengan pertanyaan lain. Wajahnya terlihat sangat lelah dan lesu sekali.


"Kamu mandi dulu ya, Mas. Biar aku siapkan makan malam untuk kita."


"Makasih, Sayang. Kamu memang istri terbaik yang pernah aku miliki. Aku bahagia sekali memilikimu."


"Mas lebay deh, ya udah sana, mandi dulu. Aku mau masak!"


Cup...


Sebelum pergi ke kamar, Mas Adam mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibirku.


Deg...


Kenapa rasanya aneh begini? Kenapa bibir Mas Adam memiliki rasa manis? Nggak mungkin kan, Mas Adam memakai pelembab bibir?


Sambil memasak, aku terus memikirkan hal itu. Tidak biasanya rasa bibir Mas Adam manis seperti stroberi. Lagi pula, aku tidak memiliki pelembab bibir yang rasa seperti ini. Mungkin, Mas Adam berinisiatif membeli dan memakainya karena pernah juga bibirnya kering dan pecah-pecah, kemudian aku menyarankan memakai pelembab bibir.


Tentu saja itu aman untuk pria dan tidak menimbulkan warna. Hanya membuat bibir lembab dan lebih terjaga tingkat kekeringannya.


Setelah aku selesai memasak. Aku memanggil Mas Adam ke kamar. Dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, bisa kulihat Mas Adam sedang asik mengetikkan jarinya di layar ponsel sambil tersenyum.


"Chat dengan siapa, Mas? Kok sampai senyum-senyum sendiri gitu?" tanyaku saat masuk ke kamar dan duduk di sebelah Mas Adam.


"Aqila... Kapan kamu masuk? Kok Mas nggak dengar kamu buka pintu?" Mas Adam malah balik bertanya, lalu menyembunyikan ponselnya di dalam saku celananya.

__ADS_1


"Tadi pintunya memang nggak tertutup rapat. Oh ya, Mas, kamu udah lapar banget?"


"Belum sih, tadi Mas minun kopi sama cemilan dibeliin Ranti. Kenapa?"


"Kalau gitu, aku mau mandi dulu ya, Mas. Baru kita makan malam. Soalnya pas Mas pulang tadi, aku juga baru sekitar sepuluh menit sampai di rumah."


"Oh ya? Emangnya kamu dari mana?" tanya Mas Adam sambil membelai lembut kepalaku dan menyandarkannya di dada atletisnya itu.


"Aku tadi ke butik, Mas. Ramai sekali di sana, tapi Astri nggak ada di butik." curhatku pada Mas Adam.


"Lo, nggak ada gimana? Kan biasanya Astri yang jaga butik?" Mas Adam terdengar heran.


"Itu dia, Mas. Kata karyawan lain, tadi dia izin keluar tapi nggak balik-balik lagi,"


"Kamu udah coba telfon?"


"Udah, Mas. Tapi nggak aktif nomornya. Aku sampai datangin ke rumahnya, tapi tau nggak Mas?"


"Enggak..."


"Ya kan kamu nanya, Mas tau nggak? Ya, Mas nggak tau, Mas jawabnya nggak dong!"


"Udah ah, Mas bikin mood aku cerita jadi ilang." ucapku sambil berdiri dari sisi ranjang.


"Nah, sebaiknya kamu mandi dulu. Biar nanti habis mandi badannya segar dan bisa lebih fokus ceritanya," ucap Mas Adam padaku.


Mungkin Mas Adam benar, bukannya tadi aku berniat akan mandi. Kenapa malah bercerita tentang Astri? Mungkin nanti saja aku cerita sama Mas Adam setelah selesai makan malam.


Aku pun langsung masuk ke kamar mandi yang memang berada di dalan kamar utama kami. Kamar mandi kami sangat luas, jadi di dalam kamar mandi aku menempatkan satu buah bathtub dan sebuah tivi layar datar di atasnya. Agar saat aku sedang beendam, aku tetap bisa menonton berita atau mendengarkan musik.


Meski saat ini sebenarnya aku sangat ingin berendam, tapi aku takut Mas Adam menungguku terlalu lama. Badanku yang lelah membuatku cepat-cepat ingin selesai mandi, makan lalu tidur.

__ADS_1


Selesai mandi dan memakai lingerie merah, aku melihat Mas Adam yang sudah tertidur dengan ponsel di tangannya. Ponsel itu masih menyala, aku melihat ponsel itu dengan menunduk-nunduk dari belakang punggungnya.


Sekilas aku membaca isi chat itu, ada kata-kata janji bertemu besok jam satu siang di Caffe. Tidak ada nama pengirim, hanya nomornya saja yang tertera di sana.


'Dengan siapa Mas Adam janji bertemu besok siang? Kenapa, sesorang di dalam chat itu memanggil Mas Adam dengan sebutan Papi?' pikirku dalam hati.


Belum sempat aku menyalin nomor itu ke ponselku, layar ponsel Mas Adam padam. Kuputuskan untuk membangunkan Mas Adam, aku menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan.


"Mas... Mas... Nggak makan dulu baru tidur?" tanyaku sambil terus memanggilnya dan menggoyang tubuhnya.


"Hem... Iya, Mi..." jawab Mas Adam antara sadar dan tidak sadar akibat rasa kantuknya.


'Mi? Siapa yang dipanggil Mas Adam dengan sebutan Mi?' Mungkin hampir satu bulan ini aku lengah karena perubahan sikap Mas Adam yang kembali manis padaku. Tapi, sepertinya aku salah karena mengabaikan hal penting ini.


'Besok aku akan mengaktifkan kembali chip pelacak itu. Akan kubuktikan, apakah semua ini sungguh benar terjadi atau mungkin hanya ketakutan saja,'


Kubiarkan Mas Adam kembali tertidur, lalu aku pergi makan malam sendiri. Sayang sekali jika masakanku sama sekali tidak tersentuh. Aku sudah membuatnya dengan penuh cinta tadi.


Bagian Mas Adam aku masukkan ke dalam mesin penghangat. Kubiarkan di sana hingga besok pagi, jika dia meminta makan akan kuberikan saja itu. Siapa suruh dia tidur saat aku sudah menyiapkan makan malam untuknya.


Aku belum bisa tidur saat kulihat jam sudah menunjukkan angka sepuluh malam. Kucoba untuk kembali menelfon Astri, panggilannya masuk tapi tidak diangkat oleh Astri.


Kemudian masuk pesan di aplikasi whatsaap dari Astri. "Kak, maaf ya aku bikin Kakak cemas seharian tadi. Aku tau dari chat Risna. Tadi aku sakit perut, Kak. Jadi aku nggak balik lagi ke butik. Ponselku juga habis batrai."


Akupun membalasnya. "Ya udah, nggak masalah. Sekarang udah baikan? Kamu dimana sekarang?"


Tak sampai dua menit, balasan chat dari Astri kembali masuk.


"Aku di kontrakan kok, Kak. Dimana lagi, hehe."


Tak lupa emot nyengir ia sisipkan di ujung kalimat hehenya itu. Membuatku rasanya ingin sekali memarahinya saat ini karena sudah berani berbohong padaku.

__ADS_1


Namun, kucoba tahan. Mungkin saja, Astri punya alasannya sendiri melakukan hal itu. Aku juga tak boleh terlalu dalam mencampuri urusan pribadinya.


Toh kenyataannya, aku dan dia tidak memiliki hubungan darah apapun. Aku berusaha untuk berpura-pura tidak tahu kejadian sebenarnya tentang kepindahan dan pernikahan Astri. Aku ingin, dia memberi tahukanku sendiri nanti. Saat hati dan mentalnya sudah kuat. Itu pasti. Aku hanya perlu waktu sedikit lagi untuk bersabar.


__ADS_2