
Aku mulai melupakan kejadian hari itu. Karena Mas Adam pun sudah kembali seperti Mas Adam yang aku kenal sejak pertama menikah dulu. Dua minggu berlalu sejak kejadian malam itu, Mas Adam berusaha pulang lebih awal setiap harinya. Akhir pekan kami juga dinner di luar seperti dulu. Mas Adam berhasil membuatku kembali terlena dengan sikap lembutnya.
Aku bahkan lupa, bahwa aku pernah nenempel chip pelacak di ponsel Mas Adam. Sampai siang ini, Ayu menelfonku.
"Beb, kamu dimana?" tanya Ayu di ujung telepon.
"Aku di rumah dong, kenapa emangnya?" aku balik bertanya pada Ayu.
"Aku lagi di klinik, nganterin klienku yang tadi pingsan saat pengadilan."
"Trus?"
"Di sini ada suami kamu..."
"Mas Adam? Ngapain dia di klinik?"
"Itu dia yang mau aku bilang... Dia sama wanita hamil. Apa mungkin dia punya saudara yang lagi hamil?"
"Nggak. Mas Adam nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ya udah, kamu tolong pantau terus ya. Kalau bisa kamu ambil foto wanita itu." titahku pada Ayu.
"Oke-oke. Nanti aku kabarin kamu lagi, ya!"
Ayu menutup teleponnya. Siang ini aku kembali merasa tidak tenang. Aku kepikiran Mas Adam dan wanita hamil yang disebutkan oleh Ayu di telfon tadi.
'Siapa wanita hamil yang diantar oleh Mas Adam ke klinik, jika itu Nisa, pasti Ayu tau saat melihatnya tadi.' aku bertanya-tanya dalam hati.
Kemudian, aku putuskan untuk menghubungi Mas Adam. Lebih baik aku bertanya langsung pada Mas Adam. Dari pada curiga tak menentu, bisa-bisa hubunganku rusak seperti terakhir kali aku mencurigainya waktu itu.
Tuuutt... Tuuutt...
Setelah dua kali berbunyi, telfonku langsung diangkat oleh Mas Adam. Hatiku menjadi lega, setidaknya Mas Adam masih memprioritaskan diriku sebagai istrinya.
__ADS_1
"Hallo, Sayang." sapanya di ujung sana.
"Hallo, Mas. Mas dimana sekarang?"
"Mas lagi di kantor dong Sayang, memang dimana lagi Mas berada jam segini?"
Dari caranya bicara, Mas Adam tidak menunjukkan gelagat orang yang sedang berbohong. Tapi mengapa Ayu mengatakan kalau dia melihat Mas Adam di klinik?
"Oh gitu, nggak sih, Mas. Aku rencananya mau ke kantor kamu. Aku mau bawain makan siang buat kamu. Sekalian nanti mau ke butik juga, jadi kan aku searah,"
"Eehh, nggak usah, Sayang. Mas siang ini mau makan sama teman-teman kantor. Em, itu... Mas kan menang proyek besar, jadi bawahan minta traktiran. Jadi Mas Pikir, nggak masalahlah sekali-sekali," ucap Mas Adam mulai terbata-bata.
Dari sini aku bisa mengira bahwa mungkin yang dikatakan Ayu benar, tadinya aku hanya ingin mengetes Mas Adam. Apa benar dia ada di kantor, karena sejujurnya aku sama sekali tak berniat akan ke kantornya siang ini.
"Loh, kok gitu sih, Mas? Jadi kalau makan sama bawahan, aku nggak boleh ikut? Aku nggak bisa diajak ya?" rengekku sengaja membuat Mas Adam merasa bersalah.
"Bu-bukan gitu... Nanti ya, Mas telfon kamu lagi. Mas dipanggil sama Direktur dulu, nih. Daaa..." ucapnya seiring dengan putusnya sambungan telfon itu.
'Awas saja kalau kamu berani berbohong sama aku, Mas. Kamu akan tau akibatnya!' rutukku dalam hati.
Lalu aku segera bersiap untuk pergi ke butik yang memang sudah kumiliki sejak masih kuliah. Butikku lumayan laris, karena aku memang khusus menjual produk-produk berkualitas. Dan, tak sedikit pula artis Ibukota yang sengaja datang ke sini untuk berbelanja.
Aku memiliki Astri, sebagai karyawan tetapku di sana. Astri adalah karyawan yang bekerja padaku sejak aku membuka butikku. Astri adalah seorang murid SMA, saat itu ia butuh sekali banyak biaya untuk masuk ke Universitas impiannya. Jadi, aku mempekerjakan dia. Namun, saat ujian kelulusan Orang tuanya meninggal dunia akibat kecelakaan. Dan hal itu membuat semangatnya untuk kuliah menjadi sirna.
Aku pun tetap mempekerjakan dia dibutikku, selain karena rasa kasihan aku juga sudah percaya sama kinerjanya selama dia bekerja dibutikku.
Dan sepertinya, aku belum pernah memperkenalkan Astri pada Ayu selama ini. Karena aku memang jarang sekali ke butik, apalagi setelah menikah. Aku hanya datang beberapa kali saja dalam sebulan. Ayu pun banyak kasus yang harus dia tangani, jadi aku juga jarang mengajak Ayu kebutikku. Itupun setiap kali kuajak ia pasti sibuk.
Dibutik Astri dibantu empat orang karyawanku yang lain. Biasaya Astri hanya melayani pelanggan-pelanggan tertentu saja.
Saat aku datang keempat karyawanku sedang melayani pembeli yang memang cukup ramai siang ini.
__ADS_1
"Dimana Astri?" tanyaku pada Risna, salah satu karyawanku yang berada dekat dengan pisisi dudukku di meja kasir.
"Tadi katanya mau keluar sebentar, Bu." jawab gadis itu dengan agak takut-takut.
"Dari jam berapa dia pergi?"
"Jam sebelas, Bu."
"Sekarang sudah jam dua siang, dan dia belum kembali?" aku bertanya heran, namun enggan untuk membicarakan lebih lanjut.
Karena itu adalah masalah pribadiku dan karyawanku, tidak enak jika para pelangganku mendengarnya. Kubiarkan mereka melayani pelanggan sampai selesai. Dan tak terasa, sudah jam lima sore saat butik kembali sepi. Hanya menyisakan kami berlima di dalamnya.
"Risna, coba kamu telfon Astri!" titahku pada Risna.
"Tapi nomornya nggak bisa di telfon, Bu. Saya whatsaap juga masih centang satu," jawab gadis polos itu padaku.
Aku khawatir Astri kenapa-napa, karena tak biasanya dia pergi dari butik dan tak kunjung kembali. Aku memang menyayangi Astri seperti adikku sendiri. Mungkin karena dia juga yatim piatu, aku merasa nasibku hampir mirip dengannya.
Bahkan, kubiasakan dia dekat dan meminta pertolongan pada Mas Adam jika sewaktu-waktu memang dibutuhkan. Meski tetap saja, sampai saat ini belum pernah kudengar Mas Adam bercerita bahwa Astri meminta bantuan apapun padanya.
Aku menelfon Astri dengan ponselku sendiri, tapi sama saja. Panggilan itu tidak terhubung. Aku mencoba untuk menelfon Mas Adam, hasilnya sama saja.
'Kenapa kedua orang ini tidak bisa dihubungi dalam waktu bersamaan? Apa ada hubungannya? Ah, mana mungkin. Mas Adam dan Astri, bertemu saja mereka jarang. Mas Adam juga sudah menganggap Astri sebagai adiknya.'
"Semoga Astri baik-baik saja. Aku takut banget terjadi apa-apa sama Astri. Karena terakhir dia bilang, ada nomor yang selalu neror dia beberapa minggu belakangan ini," ucapku pada karyawan lain, yang sama-sama menunggu dan mencemaskan keadaan dan keberadaan Astri.
"Aminn," ucap mereka serempak.
"Ya sudah, kalian segera beres-beres. Kita tutup cepat hari ini. Saya mau mencari tau dulu dimana Astri." ucapku, kemudian meninggalkan kembali Butik itu dan keempat karyawan teladan yang kupilih.
"Baik, Bu... Hati-hati di jalan." Risna mengingatkanku, yang langsung kuangguki tanda setuju.
__ADS_1