Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Aqila Depresi


__ADS_3

(POV Ayu)


Saat aku dan Roman sampai di kamar tempat Aqila di rawat, dia sedang dalam keadaan tak sadarkan diri. Roman segera berlari memanggil dokter dan memeriksa keadaan Aqila. Aku menangis tak henti, dan tak lupa langsung menghubungi Mami Meri melalui ponsel Aqila.


Mami Meri sama terkejutnya denganku saat mendengar kabar keadaan Aqila. Aqila sudah dibawa dan ditangani di ruang gawat darurat. Untung aku dan Roman datang lebih cepat dari yang seharusnya. Jika tidak, aku tak tau lagi apa yang akan terjadi pada Aqila.


Sahabatku sayang, malang betul nasibmu. Tak henti-hentinya cobaan datang silih berganti dalam hidupmu. Roman segera melaporkan kejadian ini pada pihak berwenang. Tim penyidik segera pula mengusut dan mengumpulkan bukti. Tak lupa semua rekaman CCTV yang ada di rumah sakit ini.


"Rom... Aku takut Aqila kenapa-napa," isakku dalam pelukan Roman.


Aku tak tau lagi harus bertindak bagaimana. Saat aku menangis dan histeris, Roman merentangkan tangannya. Aku segera menghambur dalam pelukannya. Meski aku merasa ada getaran yang berbeda saat Roman memelukku, tapi itu bukan lah jadi masalah utamaku saat ini.


"Aqila, Rom. Aqila..." lirihku lagi.


"Sudah, tenang dulu. Dokter sedang menangani Aqila. Kita harus yakin Aqila baik-baik saja. Dia wanita yang kuat. Aku yakin dia mampu bertahan. Dia bukan wanita lemah. Yakin, Ayu. Yakin!" tegas Roman padaku.


"Tapi, apa salah Aqila sampai ada yang berniat mencelakainya seperti ini? Jika kita 15 menit saja terlambat, Dokter bilang nyawa Aqila sudah bisa dipastikan tidak akan bisa tertolong. Kamu dengar itu tadi kan Rom?"


"Iya, aku dengar. Tapi buktinya Tuhan memberi kita kesempatan dan Aqila juga diberi satu kesempatan lagi. Karena apa? Karena Tuhan yakin Aqila mampu melewati semua ini dengan baik. Kita harus percaya itu. Oke?"


"Iya... Aqilaku sayang..."


Aku masih duduk dan bersandar pada dada bidang Roman saat Mami Meri datang bersama seorang gadis muda yang sangat mirip dengan Aqila. Tidak, mereka bertiga mirip. Mami Meri, Aqila dan gadis ini. Apakah ini yang disebut Aqila dengan Kayla tadi? Apakah dia adik Aqila?


Kenapa aku malah memikirkan masalah itu sekarang? Harusnya aku fokus pada kondisi sahabatku saja. Bukan kah Aqila mengatakan akan menceritakan semuanya padaku? Aqila, kamu berhutang penjelasan padaku. Maka, kamu harus segera pulih kembali.


"Dimana Aqila? Ayu, apa yang terjadi pada Aqila?"

__ADS_1


"Bagaimana ini bisa terjadi pada Kakakku? Tadi saat kami meninggalkannya, dia baik-baik saja dan mengatakan bahwa tak takut kami tinggal karena ada sahabatnya yang akan datang menemani dia!" ucap gadis itu pula mengimbangi pertanyaan Mami Meri.


"Tolong, Ibu dan Adik ini tenang dulu. Kita tidak boleh berteriak di sini. Ini rumah sakit," jelas Roman dengan sabar dan aku juga sudah duduk sendiri dengan menegakkan badan sebisaku.


"Bagaimana kami bisa tenang, jika keadaan kak Aqila masih belum bisa dipastikan di dalam sana!" balas gadis itu dengan sengit dan telah meneteskan air mata tanda kesedihannya.


"Sayang, tenang lah. Benar kata pria ini. Kita harus menjaga ketertiban rumah sakit ini."


"Mami, saat aku datang Aqila sudah seperti itu. Dokter mengatakan ada aroma racun dan obat bius di sekitar mulutnya. Aku tidak melihat siapa pun dalam kamar itu saat datang. Tapi Roman sudah mengurus semuanya dan kita tunggu hasil dari tim kepolisian." jelasku dengan suara serak yang masih bisa kuperjuangkan untuk keluar.


"Aku yakin, pasti bajingan itu yang melakukannya. Sejak Aqila meninggalkannya karena pengkhianatan yang dia lakukan, hidup Aqila menjadi nggak pernah tenang."


"Maksud Mami siapa? Mas Adam?" tanyaku spontan.


"Siapa lagi kalau bukan dia?" tanya Mami dengan sengit. Aku tau Mami menyimpan kemarahan dan kebencian yang besar untuk Adam saat ini.


"Benar, Mi. Jika terdengar oleh orang yang berniat jahat dan dia merekamnya, itu bisa menjadi bukti untuk menyerang dan menjatuhkan pihak kita dengan mudah!" aku membenarkan ucapan Roman.


Mami mengangguk tanda mengerti. Lalu mengambil gadis muda itu dalam pelukannya. Gadis itu terisak dalam pelukan Mami Meri.


"Keluarga pasien!" ucap Dokter yang tau-tau sudah berdiri di depan pintu Unit Gawat Darurat itu.


"Saya!" jawab Mami Meri cepat dan tegas.


"Saya Ibunya!" lanjutnya lagi menjelaskan.


"Baik, Anda sudah boleh masuk. Pasien sudah melewati masa kritis. Tapi, pikirannya masih tidak stabil. Efek obat bius yang terhirup dan racun yang tertelan oleh pasien Aqila, menyebabkan dia akan sering berhalusinasi. Dan mungkin saja dia akan bereaksi di luar dugaan jika melihat atau berada di posisi yang hampir mirip dengan kejadian terakhir yang dia alami!" terang sang Dokter dengan sabar.

__ADS_1


Aku dan semua yang ada di sini mendengarkan dengan baik dan hati yang teriris perih. Bagaimana mungkin, sahabatku yang masih mengalami lumpuh sementara, kini telah ditambah pula dengan depresi ringan pasca percobaan pembunuhan yang dialaminya.


"Terima kasih, Dok. Apa kami semua boleh masuk dan melihat keadaannya?" tanya Mami Meri seakan mengerti bahwa aku juga sangat ingin bertemu dan memeluk sahabatku itu.


"Silahkan. Satu jam lagi pasien akan kembali dipindahkan ke kamar rawat inap agar lebih nyaman dan tenang." jawab Dokter itu ramah.


"Baik, Dok. Sekali lagi terima kasih banyak, Dok." ucap Mami Meri dengan tulus.


Dokter itu mengangguk dan tersenyum pada kami, kemudian berlalu meninggalkan kami berempat. Tanpa aba-aba, kami segera menyerbu pintu dan masuk ke dalam untuk bertemu dan melihat keadaan Aqila.


"Aqila... Sayang..." lirihku dengan deraian air mata yang tak kuasa aku bendung lagi. Aku berlari dan memeluk Aqila. Aqila menangis dan membalas pelukanku.


"Baby, maafkan Mami. Harusnya Mami nggak dengerin kamu dan ninggalin kamu sendirian." ungkap Mami Meri dan gantian memeluk Aqila setelah aku.


"Kak... apa Kakak ingin makan bubur itu?" tanya gadis muda yang mungkin benar bernama Kayla itu.


"Sini... Peluk Kakak, Dek." panggilnya pada Kayla dan merentangkan tangan. Kayla menghambur pula dalam pelukannya dan menangis tanpa mengeluarkan suara.


"Rom, kamu kok disana aja? Nggak mau gombalin aku?" tanya Aqila yang tiba-tiba menyadari bahwa Roman masih berdiri di ambang pintu.


Roman tersenyum, mungkin karena mendengar ucapan Aqila. Lalu perlahan berjalan mendekat ke arah kami.


"Tidaaak... Jangaaan... Tolong jangan mendekat. Pergi... Jangan ganggu aku lagi... Pergi dari sini!" tiba-tiba Aqila berteriak histeris sambil memegangi kedua kakinya yang masih belum bisa digerakkan itu.


Kami semua terpana dan saling diam memandang Aqila dan Roman reflek diam di tempat dan tak melanjutkan lagi langkah kakinya.


Aqila...

__ADS_1


__ADS_2