Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Roman


__ADS_3

Tidak sampai tiga puluh menit, kami sudah sampai di depan sebuah rumah bercat putih yang tampak minimalis. Tapi, rumah ini sudah dilengkapi dengan teknologi canggih. Mungkin, karena pemiliknya seorang yang hebat dalam bidangnya juga. Dari luar pagar, kulihat Ayu berbicara pada layar kecil di sudut pagar. Tak lama kemudian, pintu pagar terbuka. Ayu kembali masuk ke mobil dan menyetir masuk ke halaman rumah itu.


Tepat saat mobil Ayu berhenti di depan pintu rumah itu, pintu rumah terbuka. Terlihat sosok tampan dengan celana pendek di bawah lutut, dan kaos oblong hitam berdiri di depan pintu. Aku dan Ayu segera turun dan menghampirinya.


"Hai, Roman. Kita nggak ganggu, kan?" sapa Ayu sambil menepuk pangkal lengan Roman dengan santai.


"Nggak lah, aku lagi free job sih beberapa hari ini. Kenapa? Mau ngasih aku kerjaan? Lumayan nih, buat nambah-nambah kesibukan," jawabnya sambil tertawa pada Ayu.


"Alah, kamu nggak kerja berbulan-bulan pun paling cuma mengurangi dari nol koma sekian dari kekayaanmu itu," sindir Ayu dengan candaan.


"Haha... Bisa aja nih!"


"Oh ya, aku sampai lupa, masih ingat nggak sama idola kamu waktu SMA ini?" tanya Ayu dengan menaik-naikkan alisnya pada Roman.


"Hmmm... Aqila?" tebaknya setelah sesaat ragu. Mungkin aku terlihat berbeda, dulu SMA masih natural. Sejak menikah aku sudah mulai mengenal beberapa macam produk kecantikan dan rutin merawat diri di salon kecantikan. Aku ingin selalu membuat Mas Adam juga bangga memilikiku sebagai istrinya. Dan tak malu jika membawaku di berbagai macam pertemuan kerja atau bertemu teman-teman mainnya.


"Hai, kak Roman," sapaku mengulurkan tangan padanya. Dia pun menyambut dengan senyuman yang merekah dari sudut bibirnya.


"Wah, tambah cantik aja nih sekarang. Nggak terasa ya, udah lama banget nggak ketemu," pujinya padaku.


"Eehh... Eeehh... Kok pada ngobrol di sini? Kami nggak di ajak masuk, nih? Lama-lama kaki aku pegal juga, nih berdiri," protes Ayu.


"Astaga... Iya-iya... Sorry, aku lupa. Ayo, silahkan masuk!" ajaknya pada kami.


Kami masuk kedalam rumah dengan interior yang bisa dibilang cukup wow untuk rumah yang terlihat biasa saja dari luar. Aku merasa takjub memandangi sekeliling ruangan itu.


Setelah dipersilahkan duduk, kami ditinggal sebentar oleh Roman. Lalu ia datang kembali dengan membawa tiga kaleng minuman dingin.

__ADS_1


"Sorry ya, aku cuma punya ini di rumah," ucapnya saat memberikan minuman itu padaku dan Ayu.


"Its oke. Namanya juga perjaka tua!" ledek Ayu diiringi gelak tawanya.


"Jadi, Kak Roman belum menikah?" tanyaku penasaran.


"Belum. Kan, aku nungguin kamu!" jawabnya sambil menatapku serius.


Deg...


Ada apa ini? Memang dia jauh berbeda dengan dirinya yang dulu, tapi bukan berarti aku lantas menyukai gombalannya kali ini, kan? Bagaimana pun aku masih bersuami. Dan aku ke sini semata-mata hanya karena ingin meminta bantuan padanya.


"Aku bercanda..." lanjutnya santai dan meneguk minuman kaleng di tangannya.


"I-iya, Kak. Santai saja!" jawabku.


"Oh, oke kalau gitu. Jadi, udah bisa kita mulai belum nih tentang maksud dan tujuan kami datang ke sini?" tanyaku pada Roman.


"Nah iya, aku hampir lupa. Gini, Rom, Aqila mau memberi pelacak pada handphone suaminya. Karena menurut Aqila, suaminya itu mencurigakan akhir-akhir ini. Seperti ada wanita lain!" ucap Ayu pada Roman.


"Wanita lain?" tanya Roman heran.


"Itu baru dugaanku saja, aku belum punya bukti apa-apa. Makanya aku minta tolong Ayu carikan orang yang ahli, ternyata itu kamu," jawabku dan kembali meminum seteguk air dalam kaleng itu.


"Apa ada orang terdekat yang mungkin kamu curigai?" tanya Roman penasaran.


"Ada..."

__ADS_1


"Siapa? Kok kamu nggak bilang apa-apa sama aku dari tadi?" sela Ayu tak kalah penasarannya.


"Bukannya tadi aku udah bilang sama kamu? Kok belum tua udah pelupa sih?" ledekku pada Ayu.


"Oh ya, siapa? Kenapa aku bisa lupa?"


"Nisa..."


"Aku curiga Nisa sudah menggoda Mas Adam, karena jika Mas Adam yang menggoda Nisa, itu nggak mungkin banget!"


Aku berpikiran begitu juga ada alasannya. Karena, pernah satu kali aku mengiyakan ajakan Nisa, berujung dengan berlama-lamanya Nisa di rumah kami. Hingga akhirnya menginap dengan alasan terlalu lelah jika harus kembali ke apartemen. Sepanjang malam Nisa selalu mengganggu tidurku dan Mas Adam dengan alasan-alasan konyol, kecoa lah, tikus lah, temenin ke dapur lah.


Aku menceritakan hubunganku dan Nisa. Aku juga menceritkan semua itu pada Roman. Dan juga menceritakan sikap Mas Adam yang video call dengan Nisa tengah malam. Aku menunggu respon apa yang kira-kira akan diberikan oleh Roman.


"Pantas saja kamu sangat mencurigainya. Jika itu aku, pasti aku juga berpikiran yang sama denganmu," ucapnya mengejutkanku.


"Jadi apa ada alat yang aku sebutkan tadi, Rom?" tanya Ayu pada Roman.


"Tentu... Tunggu sebentar, aku akan mengambilnya ke dalam," ucap Roman sambil berlalu meninggalkan aku dan Ayu.


"Beb, apa dia bisa dipercaya? Bisa diandalkan?" tanyaku penasaran pada Ayu.


"Kamu tenang saja. Dia biasa bekerja sama denganku di berbagai macam kasus. Dia itu jago, cuma gayanya aja tuh yang selengekan. Mungkin, karena masih sendiri." jawab Ayu sambil memperhatikan ponselnya.


Aku pun memilih untuk diam, dan memeriksa ponsel yang dari tadi kusimpan. Biasanya aku selalu memeriksa sosial mediaku setiap ada kesempata. Karena jujur saja, aku adalah tipe wanita yang tak bisa jauh-jauh dari ponsel dengan teknologi canggih ini.


Aku fokus memggulir layar ponselku, sampai jariku terhenti pada postingan suamiku di akun instagramnya. Dia baru saja mengunggah sebuah gambar, beberapa dokumen di atas meja dan dua gelas minuman, dengan caption "Rapat Penting," di bawahnya. Aku merasa tidak asing dengan meja dan baskground foto itu. Entah mengapa instingku langsung mencari akun instagram Nisa. Aku mulai memperhatikan satu persatu foto yang pernah Nisa unggah. Dan, ketemu. Satu gambar memperlihatkan dengan jelas, meja dan background yang sama dengan gambar di instagram Mas Adam barusan.

__ADS_1


'Ya Tuhan. Kuatkan aku jika semua ketakutanku ini menjadi kenyataan,' desahku lemas.


__ADS_2