Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Bagaimana Dia Bisa Masuk?


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa menit ada panggilan masuk di ponselku, dan itu dari Roman. Aku pun langsung mengangkatnya.


"Aku sudah di depan, bisa kau buka pagarnya?" tanya Roman saat telfonnya aku angkat.


"Baik." jawabku ragu-ragu karena sedikit takut untuk keluar dari kamar.


"Jangan takut. Sudah ada aku di sini, okey?"


"Oke. Jangan matikan telfonnya. Biarkan aku tetap mendengar suaramu." pintaku sambil memutar kunci pintu dan menarik kenopnya perlahan.


.


Aku berjalan menyusuri lorong rumah dengan langkah cepat. Lampu-lampu menyala otomatis saat aku berada di ruangan itu. Dengan sedikit berlari aku menuruni anak tangga.


"Jangan berlari, jalan saja dengan santai. Jangan sampai kamu jatuh terguling dari tangga," ucap Roman seolah bisa tau bahwa saat ini aku sedang menuruni anak tangga.


"Ya, aku sudah di bawah. Aku akan membuka pintu sebentar lagi. Aku lupa dimana meletakkan remot pagar," jawabku sambil berusaha mencari-cari dimana terakhir aku meletakkan remot pagarku itu.


Aku sempat berpikir, jika pagarku saja menggunakan remot khusus, bagaimana mungkin Mas Adam bisa datang dan masuk ke dalam rumah ini? Apalagi sampai masuk ke dalam kamar dan melihatku sedang tidur.


Apa mungkin dia masuk melalui pintu belakang yang memang belum sempat aku ganti kuncinya? Tapi, semua kunci utama di rumah ini sudah kuganti dengan yang baru. Jika hanya masuk melalui pintu belakang, harusnya dia tetap tidak bisa masuk ke dalam rumah.


Saat aku sedang asik mencari-cari, aku melihat remot pagar itu ada di atas lemari hias. Segera aku mendekat dan berniat mengambilnya. Tapi, lagi-lagi aku dikejutkan dengan kondisi ruangan bawah yang menandakan seperti telah di datangi seseorang.


Sofa yang tadinya rapi, kini sedikit berantakan dengan bantal yang sudah berpindah tempat. Di atas meja kaca itu juga terdapat sebuah gelas dengan sekaleng botol bir berwarna hijau.


Ada asbak rokok dan puntung rokok bekas dihisap juga di dalamnya. Aku bisa memastikan itu adalah rokok yang sesekali dihisap oleh Mas Adam saat ia sedang buntu dalam berpikir perihal pekerjaannya di kantor.

__ADS_1


"Roman... Dia ada di sini!" teriakku dengan tubuh gemetar dan tangan yang reflek memencet tombol open pada remot yang kugenggam.


.....


"Dia ada di sini!" teriakku tiba-tiba dan langsung terduduk dari tidurku.


"Qila, tenanglah. Aku di sini. Kamu sudah aman, Beb." ucap Ayu yang langsung memelukku erat.


Ada Roman yang berdiri di samping kasur tempatku terbaring lemah. Aku tidak tau apa yang terjadi setelah aku teriak tadi.


Tapi, aku tau dengan pasti saat ini aku sedang berada di kamar Ayu, sahabat terbaikku.


"Beb... Dia mengikutiku sampai ke rumah. Dia menerorku! Bagaimana dia masuk saat sistem keamanan di rumah sudah kuganti dengan yang lebih canggih?" aku masih syok dan terus bertanya dengan panik.


"Aqila... Istirahatlah dulu. Kamu masih sangat syok. Jangan pikirkan hal itu. Orang-orangku sudah memeriksa sistem keamanan yang kamu pasang di sekitar rumah. Aku akan segera mengurus masalah ini." sela Roman mencoba membuatku tenang dan yakin.


Aku merasakan kesungguhan dari kata-kata Roman. Sehingga dengan cepat tubuh dan pikiranku menjadi aman dan nyaman.


Sahabatku ini memang sangat berani dan tak segan-segan menghadapi sendiri masalah yang datang pada kliennya. Apalagi aku yang notabenenya adalah sahabat tetbaiknya.


Aku sangat yakin Ayu akan melakukan semua yang terbaik untukku. Ayu mengelus-elus rambutku. Menenangkanku layaknya seorang kakak pada sang adik.


"Apa sebenarnya yang ingin dia coba buktikan? Kenapa dia sekarang malah mencoba merusak kehidupanku? Bukankah dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan?" tanyaku sambil menatap pada Roman dan Ayu secara bergantian. Dan keduanya tampak diam saling memandang.


"Aqila sayang... Jangan memikirkan hal itu dulu, ya. Sekarang istirahatlah. Aku akan menemanimu di sini. Roman akan berjaga di luar. Benarkan, Rom?" tanya Ayu dengan menganggukkan kepala pada Roman.


"Tapi, aku takut. Dia bisa datang kapan saja. Dia sengaja menggangguku." kurasakan tubuh ini menggigil saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


Yang paling tak bisa aku percaya adalah Mas Adam yang bisa masuk dan bersikap santai seperti biasanya di dalam rumahku itu. Bagaimana sebenarnya cara dia bisa masuk ke dalam rumahku.


Setelah Roman benar-benar keluar dari kamar ini, aku baru mulai bisa santai memejamkan mataku. Sesungguhnya tubuhku sangat lelah, juga lapar.


Ayu yang selalu lebih mengetahui bagaimana diriku, segera pamit undur diri hendak ke dapur. Tentu saja aku langsung menolaknya. Karena aku sangat takut dengan kejadian tadi. Namun, setelah Ayu meyakinkanku bahwa ada Roman di luar aku baru bisa sedikit tenang. Tak lama setelah itu, Ayu kembali lagi dengan senampan makanan lezat.


"Beb, ayo makan dulu. Aku tau kamu pasti sangat lapar bukan?" tanya Ayu dengan membelai rambutku lembut.


"Kau tau, aku bangun saat merasakan lapar. Tapi karena semua kejadian tadi, rasa laparku mendadak hilang. Baru setelah kau membawa banyak makanan ini aku merasakan kembali kelaparan yang tadi sangat menyiksaku," kubalas dengan sedikit sunggingan senyum di ujung bibirku.


Ayu tertawa bahagia. Seperti baru saja terlepas dari satu beban yang membuatnya susah selama ini.


"Teruslah tersenyim indah seperti ini, Qila. Jangan rusak hidupmu hanya karena satu pria bajingan dan pengecut seperti Mas Adam!" pinta Ayu padaku, saat aku tengah asik menyendok nasi dan sop daging itu ke dalam mulutku.


Aku hanya mengangguk lalu menghabiskan semua makanan di atas nampan. Sama sekali tak ada rasa malu ataupun jaga image.


Setelah aku menghabiskan semua isi nampan yang dibawa oleh Ayu, kucoba mencari ponselku. Dan Ayu selalu tau apa yang ada dalam pikiranku.


"Kau mencari ini, bukan?" tanya Ayu sambil menunjukkan sebuah ponsel berwarna merah muda itu padaku.


Aku merebutnya lalu mengecek semua isi dalam ponselku. Saat akan membuka aplikasi whatsaap dan memeriksa pesan, tidak ada apapun yang aneh di sana. Aku sedikit lega.


"Terima kasih, Beb. Karena sudah selalu ada untukku. Terlebih pada saat-saat seperti ini." ucapku tulus pada Ayu.


"Sudahlah, apa itu perlu, hum?" tanya Ayu seraya tersenyum.


"Hidup ini lucu bukan? Orang yang selalu aku bangga-banggakan padamu dulunya, kini dialah yang membuat hidupku hancur berantakan!"

__ADS_1


"Hidupmu mungkin memang hancur untuk saat ini, tapi tidak berantakan. Kita akan memperbaikinya perlahan, oke?"


Aku mengangguk haru mendengar ucapan Ayu. Kalimatnya itu sungguh mampu membuat hatiku menjadi tenang. Sekali lagi, aku memeluk Ayu dengan penuh rasa syukur.


__ADS_2