
Setelah berbalas pesan dengan Astri semalam, aku langsung tidur. Saat aku bangun, masih jam lima subuh. Kulihat wajah Mas Adam yang sangat tenang dalam tidurnya. Entah kapan Mas Adam membuka bajunya, aku tak menyadari. Karena memang Mas Adam terbiasa tidur tanpa memakai baju, hanya menggunakan celana pendek. Saat aku ingin bergerak, kurasakan tubuhku berat. Seperti ada sesuatu yang menghimpit di bagian pinggangku.
Aku melirik ke bawah, tangan kekar berbulu milik Mas Adam ternyata sedang melingkar dipinggangku. Pantas saja aku merasa berat dan susah untuk beranjak dari ranjang empukku. Aku kembali menatap wajah Mas Adam. Kali ini, tanganku tak mau diam. Aku menyentuh matanya, lalu bibirnya. Rasanya, baru kemarin aku canggung tidur di sebelah pria tampan yang mempesona ini.
Jariku lama terhenti di bibir Mas Adam, mungkin itu membuatnya tidak nyaman. Lalu, Mas Adam membuka matanya. Menatapku dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dengan sekali gerakan, Mas Adam menarik pinggangku lebih merapat padanya. Kemudian, dia mengecup bibirku dengan lembut.
Ya, perlakuannya seperti ini yang membuatku dimabuk kepayang. Dia selalu bertindak dengan lembut dan manis. Kecupan itu berubah menjadi *******-******* lembut.
Ciuman itu akhirnya semakin menuntut untuk melakukan lebih jauh. Aku membiarkan Mas Adam menyentuh setiap inci tubuhku. Dia mencumbuku, mengecup dan mulai menindihku. Akhirnya kami mulai bercinta pagi itu.
Kutatap Mas Adam yang kelelahan. Tidak seperti Mas Adam biasanya. Mas Adam tidak pernah lelah, hanya karena sekali saja bercinta denganku. Biasanya kami akan melakukannya dua sampai tiga kali itupun belum jelas tampak tanda-tanda lelah dari wajah Mas Adam. Kenapa sekarang, baru sekali saja Mas Adam sudah kelihatan sangat lelah?
Aku tak ingin terus-terusan berprasangka buruk pada suamiku. Kuputuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Selesai mandi, aku memakai celana pendek dan kaus oblong warna merah. Kemudian aku membangunkan Mas Adam.
"Buruan, Mas. Nanti kamu telat ke kantor. Udah setengah tujuh lo," tegurku lagi, karena Mas Adam seperti enggan untuk bangun dari kasur.
"Iya-iyaa... Cerewet banget sih?" ucapnya sambil bangkit dan menuju kamar mandi.
Mas Adam mengatakanku cerewet? Ya Tuhan, apa lagi ini. Sudahlah, lebih baik aku menyiapkan kopi dan roti untuk sarapan kami.
__ADS_1
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Mas Adam pun sudah rapi dengan kemeja dan jas kantornya. Dengan senyum sumringah, ia datang menghampiriku yang sedang menata meja makan.
"Rajin banget istriku yang cantik," ucapnya, lalu mengecup keningku.
"Kan, memang selalu seperti ini setiap pagi!" jawabku tersenyum, lalu merapikan sedikit dasinya.
"Iya. Mas bersyukur sekali memiliki kamu. Terima kasih, Sayang. Mas nggak tau deh, kalau dulu Mas Nggak ketemu dan nikah sama kamu,"
Mas Adam tumben sekali bermelankolis pagi-pagi begini. Dia menggenggam tanganku lembut. Aku bisa merasakan kehangatan menjalar melalui pori-pori tanganku.
"Aku akan selalu ada untuk kamu, Mas. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Aku bisa memaafkan semua kesalahan kamu, kecuali satu hal, Mas!"
"Berkhianat."
"Sa-Sayang..."
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, jika kamu sampai mengkhianatiku, Mas. Hanya itu yang perlu kamu jaga. Cinta, jujur dan setia. Cukup tiga hal itu saja. Aku tidak meminta hal lainnya lagi darimu,"
"Bukankah selama ini, Mas selalu setia padamu." Mas Adam melepaskan genggaman tangannya, tapi dapat kurasakan telapak tangannya mendadak terasa dingin.
__ADS_1
"Iya, Mas. Kamu suami yang setia. Makasih, ya." ucapku tulus.
Kami melanjutkan sarapan dengan keadaan hening. Mas Adam tidak lagi mengatakan apa-apa setelah percakapan kami tadi. Dia berubah jadi agak pendiam. Biarlah, kurasa dia sedang memikirkan tentang perkataanku tadi. Bagus juga sih aku mengatakannya, jadi andai Mas Adam baru saja terniat, dia bisa langsung mengurungkan niatnya itu.
Setelah selesai sarapan, Mas Adam berangkat ke kantor. Aku mengantarnya sampai ke depan rumah. Saat ini, aku bingung mau ngapain. Selalu saja begini setiap pagi, bosan juga jika tidak bekerja kantoran. Aku kembali masuk ke kamar, berbaring dan bermain dengan laptopku. Membuka sosial mediaku dari sana, rasanya lebih puas jika dibuka dari laptop.
Iseng, aku mengetikkan nama Astri di kolom pencarian. Kami memang sudah lama berteman di facebook. Tapi, Astri jarang sekali mengupload sesuatu di berandanya.
Unggahan terakhirnya sekitar lima bulan yang lalu. Hanya ada sebuah foto sepasang tangan dengan cincin berlian di jari manisnya dan cincin polos di tangan yang sepertinya milik seorang pria itu. Melihat jari-jarinya, aku seperti tak asing dengan pemilik tangan itu.
Saat aku memperbesar gambar itu, aku melihat ada bekas luka kecil di ujung jari telunjuk tangan pria dalam foto itu. Aku sempat berpikir sesaat, sebelum mengingat siapa yang memiliki luka seperti itu.
"Mas Adam?" lirihku tak percaya.
"Apa mungkin, suami Astri adalah Mas Adam? Kenapa mirip sekali?" aku bermonolog.
Aku melihat-lihat foto Astri yang lain, tidak ada. Mungkin dia tidak terlalu suka berbagi di sosial media. Lagi pula, tidak mungkin itu Mas Adam. Mereka saja bertemu bisa di hitung jari. Aku menepis pikiran buruk itu dari otakku. Kemudian aku teringat untuk mengaktifkan program pelacak ponsel Mas Adam yang ada diponselku.
"Tidak asa salahnya aku mencoba, setidaknya hatiku menjadi tenang. Jika kecurigaanku salah, aku akan meminta maaf pada Mas Adam. Jika ternyata benar? Ah... Entahlah, aku tidak tau akan melakukan apa nanti." ucapku lalu mengambil ponsel dan mengaktifkan aplikasi yang sudah di programkan oleh Roman waktu itu.
__ADS_1