
(POV Adam)
Sudah lama rasanya, aku sengaja menghilang dari kehidupan Aqila. Aku ingin memberinya sedikit ketenangan, sebelum memberikan kejutan besar ini. Rasa sakit atas sikap angkuh dan sombongnya itu, tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.
Sejak siang tadi, aku sudah mengawasi gerak geriknya. Akhir-akhir ini sepasang sahabatnya itu terlihat sering mengunjunginya ke butik. Membuat rencanaku mengerjainya selalu gagal.
Sebelum sidang perceraian, beberapa kali aku melakukan teror padanya. Aku ingin wanita itu takut dan mencariku untuk melindunginya. Seperti dulu saat masih bersamaku. Atau setidaknya, jika dia tau aku yang menerornya, dia akan datang dan memohon padaku untuk menghentikan semua itu. Aku akan memintanya mencabut gugatan cerai itu sebagai syaratnya. Tapi, ternyata Aqila cukup keras kepala.
Belum lagi hari-hari yang aku jalani bersama Astri tidak seindah yang aku bayangkan. Gadis kecil yang kusangka lugu dan polos itu, ternyata sudah mulai menampakkan belangnya. Saat aku mulai didepak dari hidup dan bisnis keluarga Aqila, Astri pun mulai banyak tingkah. Entah memang begitu sifatnya, atau karena bawaan kehamilannya.
Aku duduk di caffe seberang Butik milik Aqila. Butik yang pernah juga aku urus. "Mba, tolong tambahkan segelas capucino hangat lagi." pintaku pada seorang pelayan wanita yang lewat.
"Baik, Pak. Silahkan menunggu, kami akan mengantarnya sebentar lagi," jawab pelayan itu ramah, lalu berlalu meninggalkanku.
Aku kembali duduk sendirian. Menatap dalam pada tiga cangkir yang sudah kosong di atas meja. Sengaja aku tidak memperbolehkan mereka mengangkut cangkir-cangkir kosong itu, agar aku tau sudah berapa lama aku menunggu kesempatan untuk mengganggu Aqila.
Aku membuka layar ponselku, menatap kembali foto-foto kebersamaanku bersama Aqila dulu.
"Sayang, beraninya kau membuangku? Apakah aku sampah bagimu? Apakah kebersamaan kita selama tiga tahun ini sudah tak ada artinya lagi bagimu?" aku berucap pelan dan mengusap wajah manisnya di layar ponselku.
"Lihat lah, bagaimana aku akan membuatnu menyesal karena telah menyingkirkanku dari hidupmu. Kau tak akan pernah bisa hidup tenang, setelah membuatku menderita begini." lirihku lagi dengan mengurai senyum tipis di sudut bibirku.
__ADS_1
Aku tidak terima dengan semua penghinaan yang Aqila berikan padaku. Memang, selama ini dia lah yang memiliki segalanya. Aku hanyalah bekas karyawan alm ayahnya. Memang aku bukanlah pria kaya yang memberikannya hidup mewah. Justru dia sudah memiliki segalanya saat menjadi istriku.
Tapi, bukan berarti setelah semua itu dia bebas merendahkan dan menginjak-injak harga diriku. Bukankah setelah menikah, semua harta menjadi milik bersama? Enak saja dia hanya memberiku tujuh puluh juta.
Tentu saja, tidak semua uang itu kuberikan pada Astri. Istri mudaku itu terlihat sangat boros. Mungkin, karena biasa hidup susah. Jadi sekali melihat uang banyak, semua ingin dibelinya. Beda sekali dengan Aqila.
Tiba-tiba layar ponselku berkedip dan memunculkan fotoku dan Astri, panggilan masuk dari istriku yang sedang mengandung tujuh bulan. Tidak terasa, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Status yang selama ini sangat kudambakan. Tapi, kenapa rasanya sangat hambar? Apakah karena Aqila telah pergi dari hidupku?
"Hallo, Sayang. Ada apa?" tanyaku dengan ramah saat menjawab panggilan Astri.
"Hallo, Mas. Kenapa belum pulang? Mas dimana sekarang?" tanya istri mudaku itu dengan nada cemas.
"Tenanglah, Sayang. Mas sedang di luar, menunggu klien yang datang. Doakan semoga proyek kali ini berhasil Mas menangkan ya," jawabku dengan berbohong.
Apa lagi yang bisa kulakukan selain mengamankan uang tabunganku dan uang yang sudah dikirim Aqila tempo hari lalu. Jika Astri tau semua uang itu, tentu saja akan habis dalam waktu singkat.
"Amin. Semoga aja ya, Mas. Ini, dedek bayi minta dibelikan martabak telor spesial lo, Mas. Mas jam berapa sih pulangnya?" rengek Astri dengan manja.
Inilah alasan kenapa aku sampai tergoda untuk tetap bersamanya, sampai-sampai tak lagi menghiraukan perasaan Aqila yang terluka karena aku khianati. Apakah sejahat itu aku padanya? Atau hanya Aqila saja yang kurang pengertian?
"Mas mungkin pulang tengah malam, Sayang. Apa kamu masih mau menunggu? Atau, Mas pesankan lewat online saja?"
__ADS_1
"Nggak mau, Mas. Aku maunya Mas Adam yang bawa martabak telor spesial itu pulang!"
"Kalau begitu, kamu harus sabar. Apa kamu sudah makan nasi?"
"Belum, aku nggak selera makan nasi. Tadi hanya minum jus jeruk dengan roti selai kacang yang ada di kulkas."
"Setidaknya, ada yang kamu makan. Jangan sampai tidak makan apa-apa. Kasian dedek bayinya di dalam perut, kan dia lapar juga."
"Iya, Papi cerewet. Tenang aja deh. Meski pun Maminya ini tidak selera makan nasi, tapi tetap diusahakan makan dan minum yang bisa membuat tenaga kembali fit kok,"
"Nah, gitu dong. Itu baru Mami yang baik namanya. Ya udah, Mas tutup dulu ya teleponnya. Kalau ngantuk, kamu tidur aja duluan. Pokoknya nanti pas pulang, Mas pasti bawain pesanan kamu. Oke honey!" aku buru-buru mematikan telepon saat melihat Aqila keluar dari Butiknya.
Kulirik jam tangan, sudah hampir jam sebelas malam. Tumben sekali Aqila pulang sampai larut malam begini. Apa dia begitu kesepian di rumah, sampai harus menghabiskan waktu di butik seharian penuh? Salahnya sendiri, mengapa menolak aku poligami. Padahal, sudah jelas jika Astri melahirkan nanti, dia juga bisa ikut mengasuh bayi itu.
Dia bisa menghabiskan waktunya di rumah bersama bayi mungil itu. Jika sudah bisa ditinggal, Astri bisa kembali bekerja di butik dan Aqila mengurus bayi itu di rumah. Bukankah, anakku juga anaknya. Lantas kenapa dia sangat keberatan saat kutawarkan pilihan itu. Sungguh wanita yang keras kepala sekali dia itu.
Setelah membayar semua minuman yang telah aku pesan, aku langsung berdiri di belakang mobil Aqila. Saat mantan istriku itu masuk ke dalam mobil, aku yakin dia melihatku dengan jelas dari spion mobilnya.
Pakaianku serba hitam, dengan hampir seluruh bagian wajah tertutup. Pasti dia tidak akan mengenaliku. Aku hanya ingin sedikit menakut-nakutinya. Bukankah selama ini dia terlihat sangat kuat dan tak gentar pada apapun?
Dapat kulihat dari sisi samping mobil, raut wajah cemas Aqila. Tak lama setelah itu, dia berbicara di telepon dengan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Roman atau Ayu. Sahabat yang selalu mendampinginya sejak perceraian kami.
__ADS_1
"Sialan!" umpatku dan segera berlalu dari tempat itu.
Aku menuju mobil yang terparkir tak jauh dari butiknya. Lalu bergegas pulang setelah membelikan martabak telor spesial untuk istriku di rumah.