Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Rahasia Besar


__ADS_3

Aku mencoba untuk tenang dan tidak gegabah. Kubiarkan Mami menetralkan kembali suasana hati dan sikapnya. Aku yakin, Mami pasti sedang mempersiapkan jawaban terbaik untukku.


Sebenarnya, aku sendiri tidak yakin bahwa aku memiliki seorang adik. Karena selama ini, ayah tidak pernah bercerita apapun padaku. Dan seingatku memang Mami pergi sendiri dari rumah. Tanpa ada anak lain yang ia bawa. Adik atau kakak yang mungkin satu darah denganku.


Aku pun menanyakan hal itu hanya asal-asalan. Tidak terlalu serius. Hanya karena nama gadis muda itu sama denganku, bukan berarti dia adikku, kan?


"Aqila, apa yang kamu tanyakan? Bagaimana mungkin kamu memiliki seorang adik. Kamu anak tunggal. Kamu nggak pernah punya adik, Nak!" jawaban Mami terdengar sangat kaku dan dibuat-buat.


Saat mengatakannya pun, Mami tak berani menatap ke arahku. Matanya sibuk memandang ke layar ponselnya dan jari jemarinya terlihat menggeser layar itu asal-asalan juga.


"Mami... Aku tau, selama ini aku adalah anak tunggal dari Ayah dan Mami. Mana tau kan, Mami menikah lagi dan punya anak," celotehku tak sadar.


Kembali raut wajah Mami berubah merah dan keringat jelas terlihat mengucur di keningnya. Ada apa sebenarnya dengan Mami? Apa mungkin aku benar-benar memiliki seorang adik yang bisa saja Mami rahasiakan keberadaannya selama ini?


"Jangan asal bicara kamu, Qil! Tidak ada adik-adikkan. Sudah lah, kenapa kita malah membahas masalah yang tidak penting ini. Jika sudah selesai, ayo kita segera pulang atau kembali ke butik saja." ajak Mami sambil mengemasi ponselnya dan memasukkan ke dalam tas bermerek yang tadi di jinjingnya.


"It's okay, Mom. I'am just kidding. Enjoy, okey?" balasku dengan sesekali menggunakan bahasa asing itu.


"Yes. I'am okay, Baby. Come on, lets go!" jawab Mami seraya berdiri dari duduknya.


Aku membiarkan Mami berjalan terlebih dahulu ke luar resto. Sementara aku memanggil pelayan dan membayar tagihan pesananku. Setelah selesai proses pembayaran, aku berjalan dengan langkah santai menuju tempat dimana mobilku sedang terparkir.


Samar-samar aku melihat Mami sedang berbicara dengan seseorang yang berpakaian persis seperti kurir pengantar makanan di resto ini.

__ADS_1


'Siapa dia? Dan apa yang sedang dibicarakan Mami dengan kurir resto ini? Apa mereka saling mengenal?' pikiranku penuh dengan tanda tanya.


Aku berniat menguping pembicaraan mereka. Lalu berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke mobil sebelah mobilku. Kebetulan sekali mobil ini memakai kaca hitam, sehingga meski aku berdiri di sisi kanan, maka tak akan terlihat oleh orang di sisi kiri.


"Jangan keras kepala lagi, Kay! Turuti kata-kata Mami. Jangan membuat Mami semakin merasa bersalah padamu." suara Mami terdengar pelan tapi masih bisa kudengar.


"Maaf, Bu. Keputusanku masih sama dengan sebelumnya. Aku bisa hidup dengan hasil keringatku sendiri. Aku tidak akan memakai satu rupiah pun uang darimu!" jawab lawan bicara Mami itu dengan tegas.


Jelas sekali dari suaranya, bahwa dia seorang perempuan. Dan, sepertinya suara itu sangat mirip dengan suara gadis yang mengantar makanan ke butikku saat itu.


Aku mendekatkan lagi tubuhku ke belakang mobil itu. Agar bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas selanjutnya.


"Sampai kapan, Kayla? Sampai kapan kamu akan terus hidup seperti ini? Jauh dari kata layak, bahkan harus berhenti sekolah. Nenek yang merawatmu sejak bayi pun sudah meninggal seminggu yang lalu. Hidup lah dengan layak, Nak. Biarkan Mami mengurusmu mulai sekarang. Mami akan memberitahu pada kakakmu tentang hal ini."


"Mana mungkin kakakmu seperti itu. Mami yakin dia akan merangkul dan menjagamu dengan baik. Aqila orang baik. Dia bahkan sudah bertanya apakah dia memiliki seorang adik pada Mami barusan ini. Apa kamu pernah bertemu dengannya?"


"Kak Aqila bertanya tentang aku? Apa itu benar? Apa yang dia katakan? Aku... Aku memang pernah nekat bertemu dengannya satu kali. Dari situ aku tau dia benar-benar orang yang baik."


"Apa dia melihat wajahmu?" tanya Mami dengan sedikit terkejut.


"Tidak. Aku menutup semua wajahku dengan topi dan masker. Tapi aku melirik wajahnya diam-diam. Tanpa tanda tanya lagi, aku tau dia adalah kakakku. Wajah kami sangat mirip. Dan aku menyesal. Bukan karena memilki wajah yang mirip dengannya. Tapi karena aku memiliki wajah yang turun dari gen mu." ucapnya dengan nada penuh penekanan.


Sepertinya gadis itu sangat membenci Mami. Benarkah dia adikku? Jadi benar aku memiliki adik? Apakah Ayah kami sama? Sebanyak apa rahasia yang telah Mami sembunyikan dariku?

__ADS_1


Ternyata inilah jawanan dari instingku yang merasa sangat dekat dengan gadis itu. Ya, aku tau dia adalah Kayla Khazanah. Gadis yang mengantar pesananku ke butik waktu itu. Karena perdebatan panas tadi, Mami menyebutkan nama Kayla saat memanggilnya.


Air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mataku. Pipiku sudah basah dan mataku terasa sembab. Namun, perdebatan kedua orang itu belum juga selesai. Seakan Mami lupa bahwa aku bisa saja datang sewaktu-waktu dan memergokinya sedang berbicara dengan gadis itu.


"Maaf, Mba. Ini ada tisu, untuk ngapus air matanya. Dan maaf, bisa pindah tempat nangisnya? Karena saya mau keluar." ucap seorang pria berjas putih dan sebuah kacamata perak bertengger di batang hidungnya.


Sontak aku menjadi malu dan kikuk karena ketauan sedang menangis dan bersandar di mobil orang asing ini. Otakku bekerja cepat dan mencari alasan.


"Eh, mobil kamu ya. Sorry, aku kira mobilku. Soalnya tipe dan warnanya sama banget!" jawabku jujur setelah memperhatikan bahwa jenis dan warna mobil pria ini memang sama persis dengan mobilku.


"Benarkah? Wah kebetulan sekali ya." jawabnya dengan senyum tipis.


Ya Tuhan. Manis sekali senyuman pria ini. Sepertinya dia seorang Dokter. Terlihat dari jas putih dan sebuah teleskop yang bergantung manja di lehernya.


Aku mengeluarkan kunci mobilku dan memencet alarmnya. Agar pria ini percaya bahwa aku tidak sedang berbohong.


"Itu, mobilku di sebelah mobil Anda, Pak Dokter." ucapku sambil tersenyum dan mengacungkan remot mobil yang kupencet.


"Kalau begitu, silahkan pindah ke mobil Anda. Karena saya harus segera pergi sekarang."


"Baik, terima kasih untuk tisunya dan maaf sudah menyender pada mobil Anda."


"Tidak masalah, Mba." jawabnya lalu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Mobil itu mundur dan segera melaju meninggalkan lahan parkiran. Sementara, dari tempatku berdiri aku melihat Mami dan Kayla menatapku dengan wajah cemas dan tingkah yang seba salah.


__ADS_2