
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Aqila baru menutup pintu kaca butiknya dari luar dan menggemboknya. Para karyawan sudah lebih dulu pulang jam sepuluh tadi. Karena tadi siang butik tutup agak lama karena kedatangan Roman dan Ayu, maka Aqila dan karyawannya harus lembur untuk membereskan isi butiknya setelah kedatangan beberapa pelanggan yang berbelanja.
Setelah semua karyawannya pulang, Aqila masih harus melihat lagi stok barang keluar dan sisanya. Serta mencocokkan uang masuk dengan item barang yang keluar. Karena itu, Aqila tinggal lebih lama di butik setelah semua karyawannya pulang.
Saat masuk ke dalam mobil, dari kaca spionnya Aqila dapat melihat seseorang dengan jaket tebal berwarna hitam, topi hitam, masker hitam, dan juga kacamata hitam sedang berdiri di belakang mobilnya.
"Siapa orang yang berdiri di belakang mobilku itu?" lirih Aqila sambil terus melirik ke kaca spion.
Aqila bergegas menyalakan mesin mobilnya, tapi tidak bisa bergerak. Karena untuk keluar dari parkirannya ini, ia harus memundurkan mobil itu terlebih dahulu. Sementara di belakang mobil ada seseorang yang seperti terus mengawasinya.
Drrrttt... Drrrttt.
Ponsel Aqila bergetar di saat yang tepat. Di saat rasa takut melanda dirinya, Aqila sampai lupa bahwa ponsel bisa memberikan solusi terbaik baginya.
Roman, nama yang tertera pada layar ponsel itu. Aqila segera menjawab panggilan dari Roman,
"Hallo, Rom."
"Kamu udah pulang, Qil?" tanya Roman langsung. Seolah tau bahwa Aqila dalam bahaya saat ini.
"Ini, aku masih di depan butik. Tapi, Rom. Sepertinya ada penguntit yang sejak tadi berdiri di belakang mobilku. Aku tidak bisa kemana-mana saat ini."
"Penguntit? Apa kamu bisa melihat ciri-cirinya? Apa mungkin mantan suamimu?"
"Aku tidak tau. Tubuh dan wajahnya tertutup dengan atribut serba hitam. Tapi jelas, dia mengawasiku sejak tadi. Aku takut!" ucap Aqila dengan suara bergetar.
"Tenang. Aku kesana, sekarang, ya." ucap Roman dan langsung mematikan telfonnya.
Aku masih menunggu dengan cemas di dalam mobil. Dan tampaknya orang tersebut mulai bergerak meninggalkan tempatnya berdiri. Mungkin, dia mendengar atau melihat aku berbicara di telepon tadi. Sehingga menimbulkan rasa takut pada dirinya.
__ADS_1
Saat melihat orang tersebut benar-benar terlihat berjalan jauh dari belakang mobilku, aku lega.
Karena Roman mengatakan akan segera ke sini, aku memutuskan untuk menunggunya datang. Tidak etis rasanya jika aku langsung pulang sekarang, tanpa menunggunya.
Tak butuh waktu lama, aku melihat mobil Roman memasuki area parkir butikku. Segera aku keluar dari mobil dan menghampirinya. Dia pun tampak langsung keluar dan berlari ke arahku.
"Kamu nggak apa-apa kan? Dimana orang itu?" tanyanya sambil memegang kedua pundakku dan dengan ekspresi cemas.
"Aku baik-baik saja. Dia udah pergi waktu kamu nelfon aku. Mungkin dia takut," jawabku jujur.
"Syukurlah kalau gitu. Ayo aku antar kamu pulang. Mobil tinggal aja disini. Besok pagi aku jemput dan antar ke butik,"
"Nggak usah, Rom. Aku pulang sendiri aja. Kamu ikutin aku aja dari belakang. Gimana?"
"Ya udah, gitu juga nggak masalah. Ayo." ajaknya seraya mengantarku ke mobil.
Setelah aku masuk ke mobil, Roman segera menuju mobilnya pula. Jadilah malam ini aku pulang ke rumah dikawal oleh Roman. Meski aku sudah menolaknya berkali-kali, ia masih tetap peduli padaku. 'Terima kasih, Rom." batinku berkata saat melirik mobilnya di belakang mobilku dari kaca spion.
Kemudian aku berjalan keluar dan menghampiri Roman yang sudah bersandar pada mobil sport sederhananya. Tapi, dengan sedikit modif di bagian bodi dan ban, mobil itu terlihat sangat mewah dan canggih.
"Thank you ya, Rom. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku masih mendem aja dalam mobil," ucapku demgan tawa renyah.
"It's okay. Lain kali, kalau ada apa-apa langsung telfon aku aja," titahnya dengan mimik wajah yang serius.
"Iya. Tadi aku juga nggak nyangka bakalan gitu. Tapi, kira-kira siapa ya orang itu?"
"Bisa jadi orang yang ga rela kamu ceraiin itu." jawab Roman asal.
Aku merenungkan jawaban Roman. Mungkin ada benarnya juga. Sejauh ini yang selalu memberinya teror dan kesusahan baru Mas Adam atau Astri. Selama ini, aku sama sekali tidak merasa punya masalah dengan orang lain. Kecuali dengan sepasang sejoli pengkhianat itu.
__ADS_1
"Hei... Jangan dibawa serius. Aku bercanda. Lagian, kita nggak punya bukti kalau itu dia. Jadi intinya mulai sekarang kamu harus lebih waspada lagi. Dimana pun kamu berada, awasi sekelilingmu!"
"Ih, kok jadi horor gitu kalimat akhirnya?"
"Ya, sengaja sih. Biar kamu takut, terus meluk aku. Tapi kayaknya kamu berani banget deh. Haha..." Roman mulai terdengar humoris lagi. Sudah lama sekali dia tak mengeluarkan sisi asli dirinya yang seperti ini.
"Berani dong. Tinggal di rumah sendirian aja aku berani!" jawabku menyombongkan diri dengan maksud bercanda.
"Kalau udah nggak berani, bilang aja sama aku. Aku siap kapan aja jadi teman hidupmu, yang diiket dalam sebuah komitmen yaitu ikatan pernikahan!" bisik Roman di telinga kiriku.
Aku merinding menerima hembusan nafasnya di area sensitifku itu. Nafasnya yang hangat menyapu bagian telinga dan leherku. Aku merasa gugup seketika. Suasana malam ini pun seakan memberikan kami waktu untuk lebih dekat lagi.
"Rom..." lirihku yang belum sempat selesai. Namun, sudah disambut dengan kec*pan lembut di bibir basahku.
Ya, hanya sebuah kec*pan. Tapi, entah mengapa aku seolah merasa seperti seorang istri yang berdosa karena telah dikecup oleh pria lain. Padahal aku saat ini sudah berstatus janda. Meski pun begitu, aku tetap harus menjaga diri dan harga diriku.
Aku tak ingin, image janda ganjen melekat pada diriku ini. Setelah mengalihkan pandangan ke arah lain, aku merasakan kalau Roman mulai mengatur jarak lagi denganku.
"Sorry, Qil. Aku... Terbawa suasana!" ucapnya dengn kikuk.
"Ehem... Iya, nggak apa-apa. Em, Rom. Sebaiknya kamu pulang sekarang. Udah tengah malam juga kan. Aku juga mau istirahat. Besok kan harus ke butik lagi, usirku secara halus. Mau tak mau aku harus mengatakan hal itu.
"Iya, aku tau. Makasih lo, udah ngusir aku yang nggak tau diri ini." jawabnya sambil bercanda.
"Roman! Jangan ngomong gitu, ih."
"Haha... Iya, bawel. Aku bercanda kok. Ya udah, kamu masuk duluan. Kalau kamu udah di dalam aku langsung tancap gas pulang kok."
"Beneran ya?"
__ADS_1
Roman mengusap kepalaku dan mengangguk sambil tersenyum manis. Aku gegas masuk ke dalam rumah dan mengunci kembali pintunya. Kuintip dari balik tirai saat Roman meninggalkan rumahku. Tak lupa, aku menekan kembali penutup pagar otomatisku. Dengan rasa lega, aku menaiki anak tangga menuju kamarku. Aku butuh istirahat.