Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Gadis Pengantar Makanan


__ADS_3

(POV Aqila)


Setelah kejadian semalam, aku lebih was-was lagi dengan keadaan sekitarku. Aku tak ingin lengah sedikit pun. Setelah kupastikan semua aman, baru aku keluar rumah dengan tenang. Pagi ini aku sengaja datang lebih awal, karena tak bisa tidur dengan nyenyak semalaman. Jadi, aku berniat untuk beristirahat di butik saja.


Jam tujuh kurang aku sudah membuka butik. Aku mengangsur membersihkan toko yang awalnya kubuka hanya untuk mencari kesibukan dan meneruskan hobby. Tidak kusangka, kini hari-hariku aku habiskan di butik yang sederhana ini. Sementara perusahaan ayahku, aku alihkan pada Direktur yang sudah bekerja selama belasan tahun dengan ayahku.


Sebenarnya, Om Syarif sudah sering memperingatiku tentang Mas Adam. Mata nurani orang tua tentu tak bisa di dustai, karena ia sudah banyak makan asam garam kehidupan. Sudah bertemu dan melihat beratus-ratus sifat dan tabiat manusia. Akan tetapi, selama itu pula aku tak pernah mau mempercayainya. Aku menolak untuk menerima bahwa Mas Adam seburuk yang Om Syarif katakan.


Sampai akhirnya semua terbukti, dan kuserahkan semua kepengurusan perusahaan pada Om Syarif. Meski awalnya beliau menolak, tapi akhirnya tetap menerima dengan lapang dada setelah aku memohon dengan sangat padanya.


Karena di dunia ini, mungkin sudah tidak ada lagi orang yang bisa aku percaya untuk mengurus perusahaan itu selain Om Syarif. Sementara aku sendiri, sama sekali tidak berminat untuk bergabung dalam dunia bisnis.


Aku lebih suka dengan dunia desain dan fashionku. Itulah jati diriku, yang sesungguhnya. Di situlah aku bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan.


"Permisi... Dengan Ibu Aqila?" tanya seorang kurir delivery berseragam merah dan topi merah saat menggeser pintu kaca butikku.


"Ya, saya sendiri. Dari Resto Green?" tanyaku ramah.


"Benar, Bu. Saya mengantarkan pesanan Ibu." ucapnya sopan dan masih berdiri di ambang pintu.


"Ya, Mba. Silahkan, masuk saja kesini. Nggak apa-apa,"


"Tapi, sepatu saya kotor, Bu."


"Nggak apa-apa. Nanti karyawan saya datang, lantainya bakalan di pel juga kok."


Setelah mendengar jawabanku, dengan ragu-ragu gadis belia itu berjalan ke arah kursi tempatku duduk. Di depanku ada sebuah meja kaca petak setinggi lutut.

__ADS_1


"Ini pesanannya, Bu. Total semuanya 135 ribu," terang gadis itu sambil menyodorkan sebuah kertas bertuliskan nota bon padaku.


"Itu sudah sama ongkos antarnya?"


"Sudah, Bu. Ongkos antarnya cuma 10 ribu."


"Baik, tunggu sebentar ya," titahku padanya. Lalu berjalan masuk ke dalam ruangan yang kusebut sebagai kamar keduaku setelah kamar di rumah.


Aku keluar sambil membawa dua lembar uang merah pecahan seratus ribu.


"Ini, Mba." ucapku sambil menyodorkan lembaran uang kertas itu padanya.


"Maaf, Bu. Apa tidak ada uang pas? Saya tidak dibekali uang pecahan untuk kembaliannya," jawabnya dengan takut-takut.


"Tidak apa-apa. Nanti kamu tukarkan saja diluar. Lalu, sisanya kamu ambil. Sebagai tips dari saya karena sudah merepotkan kamu pagi-pagi seperti ini."


"Tidak perlu, Bu. Tidak usah. Saya akan menukarkannya dan akan kembali lagi nanti."


"Terima kasih banyak atas kebaikan Ibu. Saya yakin, Ibu orang baik dan pasti banyak orang yang sudah Ibu bantu. Ibu sangat dermawan, pasti hidup Ibu sangat bahagia." ucapan gadis belia itu tiba-tiba saja menyentuh hatiku.


"Berapa umurnya, Mba?" tanyaku lancang.


"17 tahun, Bu." jawabnya dengan menunduk.


Sejak tadi aku tak bisa melihat dengan jelas wajah gadis ini. Karena ia selalu menunduk sejak berbicara denganku tadi. Terlebih lagi, ia juga mengenakan topi dan masker.


"Masih sangat muda. Apa kamu tidak bersekolah? Kenapa sudah bekerja di resto?" tanyaku semakin lancang.

__ADS_1


"Saya putus sekolah, Bu. Karena satu hal yang tak bisa saya jelaskan!"


"Baik. Maaf ya, aku lancang menanyakan urusan pribadimu,"


"Nggak apa-apa kok, Bu."


"Apa kamu sudah sarapan? Bagaimana jika kita makan bersama? Temani aku sarapan di sini," tawarku sambil tersenyum dan mulai membuka bingkisan yang ia antar itu.


"Maaf, Bu. Terima kasih sekali lagi atas tawarannya. Tapi saya harus kembali bekerja. Karena masih ada pesanan yang harus saya antar. Dan kembalian uangnya, nanti akan saya anatar kembali. Permisi!" pamitnya seraya berbalik dan berjalan keluar meninggalkanku sendiri.


Suasana butik kembali terasa sepi sejak gadis muda itu pergi. Aku sempat berpikir, apa yang membuat gadis itu berhenti sekolah dan menjadi kurir pengantar makanan. Lalu kemudian aku menemukan jawabanku sendiri, tentu saja karena faktor ekonomi. Memang apalagi?


"Meski sedang dalan kondisi keuangan yang sulit, ia bahkan tidak begitu antusias saat aku berikan tips antar. Sungguh wanita tangguh yang sangat menjunjung tinggi harga diri." gumamku sambil melanjutkan membuka menu sarapan pagiku.


Aku makan perlahan sambil menjelajah media sosial. Tampak Astri mengunggah foto perut besarnya 15 menit yang lalu. Tak terasa, sudah sebesar itu saja kehamilannya. Pasti sebentar lagi dia melahirkan dan Mas Adam sangat bahagia.


Tapi aneh, aku sama sekali tidak lagi merasakan sakit atau tersiksa saat melihat dan membayangkan hal-hal itu. Mungkin, itu pertanda rasaku pada Mas Adam sudah hilang. Entah lah, semoga saja begitu.


Setelah menyelesaikan sarapan. Aku membiarkan 6 kotak bubur lagi terletak di atas meja. Memang sengaja aku membeli lebih agar nanti para karyawanku juga dapat menikmatinya sebagai sarapan pagi ini.


Hari ini, semua berjalan seperti biasa. Ada banyak pelanggan lama dan baru yang datang berbelanja. Karyawanku melayani mereka semua dengan ramah dan sepenuh hati.


Hingga tak terasa, hari sudah menunjukkan pukul enam sore. Saatnya istirahat dan butik tutup hingga jam tujuh malam. Baru kemudian buka lagi hingga jam sembilan, sambil menunggu para karyawan itu satu persatu dijemput anggota keluarganya atau kekasihnya. Tak jarang, aku mengantarkan mereka pulang jika ada yang tak bisa dijemput oleh keluarganya.


Tiba-tiba, saat aku sedang berbaring sendiri di dalam kamar butik ini, aku teringat pada gadis muda pengantar sarapan pagi tadi.


Dia sama sekali tidak datang lagi untuk mengembalikan sisa uangku. Meski pun aku aku memang berniat memberikan itu untuknya sejak awal, tapi dia bersikeras menolak dan mengatakan akan mengantarkannya kembali.

__ADS_1


Tapi, sampai selarut ini tidak terlihat juga batang hidungnya. Aku tersenyum simpul mengingat kegigihan gadis itu saat menolak tips dariku.


"Dasar munafik. Sama saja dengan Astri. Apa gadis-gadis muda zaman sekarang memiliki sifat seperti itu? Sungguh sangat disayangkan. Padahal jika tadi dia langsung menerima, itu tidak akan memberikan kesan buruk untuknya dariku," lirihku dan kembali menggeser-geser layar ponsel mencoba mencari berita apa yang sekiranya aku lewatkan hari ini.


__ADS_2