
****
Elvan tengah duduk berhadapan berdua dengan Alfiya saat itu. Mereka berdua berniat berbicara empat mata diruang tamu. Laki-laki yang hampir berkepala tiga itu membenahi letak kacamata minusnya sejenak. Keheningan masih menyelimuti mereka beberapa saat.
Elvan tahu mereka berdua sama-sama tidak yakin tentang apa yang mereka setujui tadi bersama bapak. Pada akhrinya dengan terpaksa mereka berdua setuju untuk menikah. Tapi mau bagaimana lagi, seorang Elvan adalah sosok menantu yang sangat patuh. Biar bagaimana pun Elvan tidak akan pernah bisa menolak permintaan ketua mertuanya yang sudah berjasa sangat besar kepada dirinya dan juga Rian. Elvan tahu ia memiliki hutang budi yang sangat besar kepada keluarga ini.
Bapak dan ibuk sangat menyayanginya, ia punya alasan tersendiri kenapa tidak bisa menolak permintaan bapak dan ibuk, hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk memilih menerima menikahi Alfiya.
Alfiya masih menatap Elvan dengan seksama. Jadi, mereka benar-benar akan segera menikah? Dia akan menikahi kakak iparnya sendiri? Sungguh sesuatu yang aneh baginya, ia tidak bisa memikirkan bagaimana bisa ia hidup bersama dengan kakak iparnya sendiri dalam sebuah pernikahan hingga satu tahun kedepan.
"Fiya...." kata pertama yang Elvan lontarkan setelah hanya mereka berdua saja disana. "Dek.... mas tau kamu sebenarnya sulit menerima semua ini. Begitu juga dengan mas."
Alfiya masih bungkam. Ia rasanya benar-benar tidak sanggup untuk berbicara dengan Alvian saat ini. Pertanyaan yang sama selalu ia ulang didalam kepalanya sendiri. Bagaimana bisa? Kakak iparnya sendiri menjadi suaminya. Suatu hubungan yang akan terasa aneh baginya, lagi pula dia sekarang punya Joe. Kekasihnya selama enam tahun lebih, sungguh hatinya ini hanya milik Joe. Dia akan menikah sementara masih memiliki hubungan dengan Joe
"Fi...." Elvan kembali memanggil adik iparnya itu.
Alfiya kemudian mendesah cepat. "Hanya satu tahun, kan Mas." Ucapnya kemudian. "Dan, aku mohon.... jangan sampai ada orang yang tahu." rengeknya kemudian memelas. "Aku nggak mau nyakitin Joe, setelah satu tahun berlalu aku harap kita berpisah. Aku dan Joe sudah sepakat untuk menikah."
__ADS_1
Elvan mengangguk paham. "Mas tau itu...."
"Kami berdua akan segera bertunangan." Alfiya kembali melanjutkan ucapannnya."Dan kita melakukan perikahan ini hanya demi ibuk...." Alfiya menjeda ucapannya sejenak. "Aku juga minta, jika hanya sedang berdua saja tolonglah mas akan terus menganggap aku sebagai seorang adik." ia menatap Elvan penuh harap.
Elvan menghela nafas kemudian menyunggingkan senyumnya. Ia tertawa geli, bagaimana mungkin ia akan menganggap Alfiya lebih dari seorang adik. Dirinya saja sudah mengenal Alfiya sedari gadis dihadapannya ini masih bersuara cempreng dan belum bisa berdandan secantik sekarang.
"Kenapa mas senyum-senyum?!" ujar Alfiya kemudian dengan tatapan melotot. "Kita berperilaku sebagian pasangan hanya dihadapan bapak dan ibuk saja." jelasnya lagi untuk memastikan bahwa ia benar-benar hanya menganggap pernikahan ini sebagai sebuah syarat kesembuhan sang ibu. "Aku gak mungkin anggap mas sebagai suami beneran."
Elvan yang masih tersenyum dengan tingkah Alfiya, ia mengangguk-angguk pelan. "Mas setuju...." Ia mengerjap sejenak. "Dan, sampai kapan pun mas akan terus menganggap kamu sebagai adik. Mari kita lakukan ini hanya dalam waktu satu tahun, demi bapak dan ibuk." Elvan mengintip wajah perempuan yang masih ia anggap adik ipar itu sejenak. "Gimana?"
Alfiya tersenyum, ia sangat senang karena Elvan ternyata bisa diajak bekerja sama. Pada dasarnya selama ini ia dan Elva memang selalu berhubungan baik. Ia sering dibelikan banyak barang, meminta uang jajan dan melakukan hal lainnya sebagai seorang kakak.
"Lagi pula sampai saat ini Anggita masih wanita nomor satu dihati Mas.... sampai kapan pun." Elvann menatap nanar dengan suara yang merendah. "Fiya, nggak mudah untuk membuka hati dengan orang baru. Itu yang mas rasakan saat ini, jadi kamu nggak usah takut." suaranya terus menjadi pelan kala ia mengingat luka pada hari itu. Luka yang tertanam dan belum hilang hingga saat ini
Anggita! Elvan menghela nafas, ia harap istrinya yang sudah berada disurga mengerti kenapa ia melakukan hal ini. Demi ayah dan ibunya. Dia tidak akan marah, kan? Pasti tidak, mendiang istrinya adalah sosok yang baik.
"Mas bener kan, janji. Nggak akan menganggap aku lebih dari seorang adik...." Alfiya menjulurkan kelingkingnya selayaknya anak kecil. Demi apa pun ia tidak ingin hubungan mereka berubah walaupun nantinya mereka telah melakukan suatu pernikahan. "Mas nggak akan menganggap aku lebih dari hubungan kita selama ini." tambah Alfiya penuh harap.
__ADS_1
Elvan tersenyum dan perlahan mengaitkan kelingking mereka. "Janji, dan mas nggak akan mengingkari ini.... Dan, kamu pun begitu. Sampai kapan pun mas adalah kakak laki-laki bagi kamu." Ia kemudian mengusap rambut halus Alfiya pelan. Hal memang selalu ia lakukan sedari dulu. "
"Itu pasti...." Ucap Alfiya mantap. "Mas akan selamanya jadi kakak laki-laki aku dan Joe adalah seorang suami yang aku harapkan sebenarnya."
Elvan kemudian menarik sudut bibirnya. "Iya, kamu tenang saja." Ha, gadis ini! Elvan baru tahu ternyata gadis dihadapannya ini bisa juga berpikir dengan licik.
Tenang saja Alfiya, kakak ipar-nya ini berjanji tidak akan pernah membawa hubungan ini lebih dalam dan merasuk ke dalam hatinya. Ia benar-benar berharap tidak akan terbawa perasaan nantinya.
Alfiya merasa lega, ia tidak menyangka bahwa bekerja sama dengan Elvan akan benar-benar semudah ini. Akhirnya ia akan memulai semuanya. Sebuah sandiwara didalam pernikahan. Akankah semuanya berjalan dengan sempurna?
*
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading!
Jangan lupa Like, Vote, Komen Ges!