
Jangan lupa baca episode sebelum ini, selamat membaca!!!!
...Bab 72...
...Elvan Takut Lagi...
*
*
Elvan menggerakkan kedua tangannya untuk memeluk Alfiya lebih erat lagi. Dadanya juga bergetar dengan apa yang Alfiya ucapkan saat itu. Pernyataan yang baru saja Alfiya tuturkan sungguh sangat menyentuh hatinya.
Akhirnya setelah itu Joe kemudian entah kenapa tiba-tiba terlihat lebih tenang. Amarah yang memuncak pada diri laki-laki itu tadi seketika surut. Ia termangu dalam diam atas apa yang Alfiya ucapkan. Belum ia bisa pahami kenapa, Joe tidak tidak tahu alasannya.
Tak berapa lama tiba-tiba, dari balik kerumunan yang ada disana semua orang memberi jalan pada seorang lelaki yang saat itu tengah menggendong anak kecil yang nampak kebingungan dengan suasana disana. Apalagi semua pandangan seperti tertuju pada anak lelaki berusia hampir tiga tahun itu.
Anggian ada disana saat ini, berpegangan erat pada bahu Rian. Ia melihat Alfiya ada disana yang tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Entah untuk apa tujuannya Rian menyusul sampai ke cafe tersebut sambil membawa Anggian. Sepertinya apa yang dilakukan adik kandung Elvan itu memang sengaja dan memang ada maksudnya.
Dan melihat kedatangan Rian yang membawa Anggian juga membuat Joe makin terpaku di tempat. Apalagi terlihat Rian kemudian mendekati Alfiya, sama seperti tadi sengaja untuk mempertemukan kakak iparnya itu pada sang keponakan untuk maksud tertentu.
"Mbak." Ia berikan tatapan penuh arti pada Alfiya sembari menyodorkan Anggian.
Melihat Alfiya ada didekatnya Anggian pun memutar tubuhnya untuk menghadap sang bunda.
"Bunda." Panggil Anggian lembut. Ia memang belum bisa mengerti banyak hal seperti orang dewasa. Namun, batita itu sepertinya paham kalau sang bunda sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Sifatnya yang memang seorang anak pemberani membuat Anggian walau pun merasa heran dengan keadaan sekeliling tapi ia tidak terlalu takut meski tengah banyak orang memperhatikan kehadiran dirinya di sana.
"Gian." Lirih Alfiya sembari berusaha menguasai diri untuk tidak menangis kembali. Naluri untuk meraih Anggian dan membawa dalam pelukannya pun timbul.
Ingin wanita yang telah dianggapnya ibu kandung itu juga meraihnya. Anggian lalu merentangkan tangan. "Bunda." Bagi Anggian Alfiya adalah sosok lekatnya, sosok seorang ibu yang ia anggap akan selalu ada kapan pun ia membutuhkan.
Alfiya melepaskan diri dari tubuh Elvan lalu membawa Anggian dalam pelukannya.
"Bunda kenapa? " Tanya Anggian polos saat Alfiya sudah menggendongnya. Karena ia dapat melihat jelas wajah wanita itu tengah memerah sembab.
"Bunda nggak apa-apa sayang." Jawab Alfiya sembari berusaha tersenyum.
Anggian lalu memperhatikan sekitarnya. Ia lalu mendekatkan wajah pada telinga Alfiya untuk berbisik. "Bunda banyak olang liatin kita." Kedua tangannya bahkan menutupi antara mulutnya telinga Alfiya seperti orang berbisik. Lalu setelah itu Anggian memundurkan kepalanya lagi
"Iya, disini banyak orang." Jawab Alfiya seadanya. Karena jujur saja saat itu bisa memberikan penjelasan apapun.
Sementara itu Elvan sepertinya tak ingin Alfiya dan Anggian ada lebih lama lagi disini. Sudah cukup sepertinya mempertontonkan masalah ini pada semua orang.
Namun, Joe paham akan apa yang Elvan lakukan maka dari itu tak butuh waktu lama kini ia sudah berdiri benar-benar dekat pada sosok Alfiya yang tengah menggendong Anggian.
"Hai Gian. " Tentu saja Joe masih ingat nama anak kecil itu.
Mata Anggian semakin membulat.
"Masih ingat aku." Tanya Joe kemudian walau hatinya tengah menahan getaran saat itu. "Kita pernah bertemu beberapa kali."
Perkataan Joe tersebut lantas membuat Elvan akhirnya benar-benar menjauhkan Alfiya beserta Anggian dari sana.
__ADS_1
"Sudah cukup." Ujar Elvan yang kini berdiri berhadapan pada Joe untuk menghalanginya mendekati Alfiya dan Anggian.
"Rian, bawa Alfiya dan Gian pulang." Ujarnya masih mengunci tatapan pada Joe.
Rian lantas menuruti hal itu, ia kemudian segera merangkul Alfiya dengan sebelah tangannya untuk pergi dari sana.
Dalam diamnya Alfiya pun berjalan, ia sekarang sudah merasa tidak ada urusan lagi disana karena menurutnya ia sudah menjelaskan semuanya pada Joe. Sementara kakinya terus melangkah dirinya membiarkan Elvan masih disana, walaupun Alfiya tentu tidak tahu apa yang akan Elvan katakan dan apa yang akan terjadi. Namun ia percaya pada suaminya itu.
...****...
Elvan sengaja mengulur waktu untuk sampai ke rumah. Lebih tepatnya ketika semua orang, yakni Alfiya dan Anggian sudah tidur. Iya, Elvan memberitahu Rian agar menjaga istri dan anaknya sampai nanti dia pulang, dan Rian pun mengiyakan itu.
Sementara itu, sedari pulang dari cafe Alfiya tidak bisa banyak berkata-kata. Tenaganya seperti terkuras habis. Kejadian tadi cukup membuatnya syok. Hingga membuat wanita tersebut meminta Rian untuk mengurus beberapa keperluan Anggian sementara ia sedang tidak bisa.
Mengetahui sang bunda terus berdiam diri dikamar membuat Anggian cemas. Anak itu tadi ingin menemani bundanya dikamar. Sampai akhirnya membuat mereka tertidur lelap, tidur berdua saling berpelukan diatas ranjang.
Dan saat itu, hanya lampu ruangan depan yang masih menyala terang selain lampu teras rumah. Ketika itu juga Elvan pun baru sampai kerumah.
Ada yang Elvan bicarakan tadi pada Joe, ia berusaha menjelaskan banyak hal penting. Mulai dari menceritakan sebagian penting mengenai penjelasan Alfiya dirumah sakit bahkan ada cerita masa lalu yang menurut Elvan juga harus ia jelaskan agar Joe mengerti kenapa ia tidak mau melepaskan Alfiya hingga membuat wanita yang adalah istrinya itu harus bertahan untuk terus bersamanya.
Sebenarnya saat Joe memberikan pertanyaan pada Anggian tadi, Elvan diliputi rasa cemas seketika. Ia takut jika Anggian ingat siapa Joe, maka berarti anaknya itu bisa saja mengingat kembali siapa Alfiya sebenarnya.
Bagaimana kalau Anggian ingat kalau Alfiya bukan ibu kandungnya dan kembali mengingat kalau Alfiya adalah tantenya. Elvan tidak ingin ada hal yang bisa mengguncang jiwa Anggian. Jika Anggian harus tahu siapa ibu kandungnya, menurut Elvan tidak harus sekarang tapi nanti mungkin saat Anggian sudah dewasa dan bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
...****...
Next aku akan kasih episode flashback, jangan lupa nantikan 😉
__ADS_1