
****
Alfiya berlari cepat menuju kamar. Gadis itu lalu menutup pintu kamar dengan cepat. Jantungnya terus berdegub-degub tak menentu. Ini adalah hal tergila yang pernah ia lakukan.
Astaga,
Dia tidak mimpi bukan, tadi dia mencium Elvan!
Aaaa.... rasanya Alfiya semakin ingin memekik kencang. Perempuan macam apa sih, kamu Alfiya?
Alfiya apa yang kamu lakukan? Kamu gila? Tidak waraskah? Kenapa kamu jadi begini Alfiya? Bukankah kamu sendiri yang berpikir kalau hal tadi tidak seharusnya dilakukan.
Hei, sadarlah! Itu tadi bukan dia kan?!
Ia rasa otaknya benar-benar konslet karena permasalahannya akhir-akhir ini.
Alfiya terus uring-uringan tidak percaya akan tingkah ya sendiri. Baiklah apa yang harus ia katakan pada Elvan nantinya. Akankah Elvan menganggap dirinya adalah seorang gadis yang tidak berpendirian.
Baiklah, Alfiya rasa dia harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga. Gadis itu lantas berkali-kali mengatur nafasnya yang terus berdegub-degub kencang. Baiklah, dia pasti bisa mengatakan sesuatu yang masuk akal kepada Elvan kenapa ia melakukan itu tadi. Katakan saja kalau dirinya masih mengantuk dan masih berada dalam dunia mimpi.
Bergegas Alfiya pun berjalan keluar kamar dengan langkah cepat dan, tiba-tiba....
Ia berpapasan dengan Elvan saat hendak menuju dapur untuk menemui laki-laki tersebut. Keduanya pun sama-sama tersentak kaget. Canggung dan Alfiya tidak berani untuk melihat laki-laki dihadapnnya itu.
Elvan pasti akan mengatainya bukan? Wanita tidak berpendirian, tidak jelas, aneh, terserah katakan saja. Ia akan menerima apa pun itu.
Hening!
Alfiya kebingungan, kenapa Elvan tidak bertanya apa pun padanya. Atau menertawakannya dengan sinis mungkin. Baiklah ini salahnya, dia yang berulah tadi. Maka dengan mengumpulkan segenap keberaniannya Alfiya pun memberanikan diri untuk menatap Elvan.
pelan, pelan ia berusaha untuk bertatapan dengan Elvan. Dan, saat mata itu mulai menatap sosok lelaki dihadapannya.
Set!
Gadis itu memutar kepalanya dengan cepat. Deg! Mata elang itu tengah menyorotinya dengan tajam dan menampakkan wajah seriusnya.
Alfiya mendadak gugup. Jantungnya terus memompa cepat tak bertempo. Seolah akan segera melompat jatuh kedasar perutnya.
"M-mas...." Alfiya mendadak kesulitan berkata-kata. Ditambah lagi oleh tatapan mata Elvan yang semakin menusuknya. Seolah berkata, hei Alfiya kamu masih waraskah?
"I-itu tadi.... aku gak...." Ayo, Alfiya jelaskan. Katakan, katakan, kenapa kamu tiba-tiba jadi gugup begini. Ayolah, bukankah kamu selalu bisa memberikan alasan kepada Elvan. Kamu sering berbohong bukan, saat ingin menemui Joe.
Hah, Alfiya benar-benar kesal pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Hingga akhirnya Elvan lah yang bergerak, laki-laki itu berjalan mendekat kearahnya. Membuat Alfiya perlahan mundur kebelakang. Gadis itu mengerjap dengan menundukkan kepalanya.
"Mas tadi aku gak sadar...." Akhirnya ia berhasil mengatakan satu alasannya.
Namun sepertinya Elvan tidak tidak bergeming, laki-laki itu terus melangkah pelan membuat Alfiya semakin gelagapan.
"A-aku serius mas...." Duh, salah siapa Alfiya? Kamu sendiri yang memancing singa yang sedang tenang.
Aaaa.... tolong berhenti!
"Mas!" Sentak Alfiya akhirnya dan membuat Elvan segera menghentikan langkah kakinya.
Elvan menghela nafas sembari bersidekap. Ia terus memperhatikan gadis yang tengah memalingkah wajahnya itu. Keningnya mengkerut seperti ia juga tidak mengerti akan tingkah gadis dihadapannya ini.
"Alfiya...." Elvan bersuara.
"I-iya...."
"Jujur mas nggak ngerti kenapa kamu seperti ini, waktu itu kamu bilang mas jangan menyentuh kamu sedikit pun. Kamu masih mencintai pacar kamu. Lalu tadi kamu sendiri yang mencium mas?!"
"Hmm...." sahut Alfiya pelan. Dia juga tidak mengerti sebenarnya dengan dirinya sendiri. "Aku minta maaf, aku juga gak ngerti kenapa tiba-tiba aku ngelakuin itu. Maafin aku mas, aku gak bisa mengendalikan diri. Maaf." Gadis itu tertunduk malu, nyalinya mendadak ciut.
Elvan masih bungkam. Laki-laki itu masih nampak memandangi Alfiya lama. Menelisik dan menerka. Mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi pada gadis ini sebenarnya. Apa ada yang salah? Mungkinkah ia sedang mempunyai masalah besar? Atau Alfiya stres karena pernikahan ini membuatnya tertekan?
"Mas, aku.... akan kembali kekamar."
Namun, sebelum Alfiya benar-benar melangkah. Tiba-tiba tangan Elvan dengan pelan mencekal tangannya. Hingga akhirnya membuat langkah kaki Alfiya terhenti.
Alfiya mendongak menatap Elvan yang memang lebih tinggi darinya. Raut wajah laki-laki itu tampak serius.
"Fi, mas ingin agar kamu memahami perasaan kamu terlebih dahulu. Sebelum nantinya keadaan ini akan membuat salah paham satu sama lain."
Alfiya termangu, sesaat. "Maksudnya?"
Elvan tidak lantas menjawab, ia kemudian memegang kedua bahu Alfiya dan menghadapkan wajah gadis itu kearahnya. Sepertinya ia sedang mencari sesuatu dibalik raut wajah gadis yang baru saja melakukan hal tidak terduga itu tadi.
Ia tatap mata indah itu dalam-dalam. Ia barus sadar ternyata mata Alfiya seindah dan sebening ini. Mengingatkannya pada seseorang yang pernah ada dalam hidupnya. Mata seseorang yang dulu ia tatap setiap hari.
Mata itu tidak mengerjap sama sekali. Membuat Elvan semakin ingin melihat binarnya. Membuat sesuati merasuk dalam relung hatinya yang terdalam.
Hingga akhirnya seketika Elvan sadar, mereka sudah menikah, bukan. Nyatanya tidak ada yang salah dengan apa yang Alfiya lakukan tadi. Sudah jelas mereka adalah suami istri yang sah. Siapa pun tidak bisa menyalahkan tindakan gadis itu tadi. Termasuk dirinya sendiri. Nyatanya jika melihat pernikahan mereka, tubuhnya adalah milik gadis itu sepenuhnya.
Bahkan, dirinya pun sebenarnya berhak atas Alfiya sepenuhnya. Atas jiwa dan juga raganya.
__ADS_1
Akhirnya kedua tangan Elvan pun perlahan terangkat untuk mengelus kedua sisi pipi Alfiya pelan. Halus dan mulus. Elvan semakin mengikuti nalurinya. Hingga akhirnya laki-laki tersebut menunduk perlahan.
Alfiya termangu, Elvan mendekatkan wajah mereka. Lalu mulutnya yang tengah ternganga itu pun bungkam oleh sebuah benda lembut yang menempel padanya.
Alfiya memejamkan matanya tatkala Elvan mulai memaut bibirnya dengan lembut dan mesra. Gadis itu lantas terbuai, hingga tanpa sadar melingkarkan kedua tangannya dipinggang laki-laki itu dengan erat.
Sementara itu sebelah tangan Elvan mengelus bagian punggung gadis itu dengan mesra. Ia lantas menyusupkan lidahnya untuk mengeksplor didalam sana. Menuntun gadisnya untuk melakukan hal yang sama.
Keduanya seperti kehilangan kendali. Elvan terus meregut kenikmatan dari Alfiya. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian dengan masih terengah ia pun melepaskan ciuman panas mereka.
Wajah gadis itu terlihat memerah dengan mata yang masih terpejam. Maka tat kala tubuhnya tiba-tiba terangkat, Alfiya sedikit memekik, Elvan tiba-tiba menggendongnya. Jantungnya masih berdegub dengan kencang setelah apa yang mereka lakukan tadi dan sekarang Elvan tengah mengangkat tubuhnya.
Mereka masih saling berisitatap. Alfiya hanya bisa terdiam. Membiarkan laki-laki itu membawanya berjalan menuju sebuah ruangan dengan lampu yang masih terang menyala.
Dengan tangan kokohnya Elvan terus menahan bobot tubuh gadis yang tengah melingkarkan tangan dilehernya itu.
"Kamu yang memulai ini." Ujar Elvan saat mereka tiba didepan pintu kamarnya.
Namun, lagi Alfiya hanya bisa termangu. Gadis itu benar-benar telah kehilangan kesadarannya. Ia hanya mengikuti apa yang akan dilakukan oleh Elvan padanya saat ini. Mengikuti nalurinya yang tidak bisa terkendali.
Hingga akhrinya, dengan perlahan Elvan pun dengan hati-hati membaringkannya ditepi ranjang.
Alfiya meneguk ludahnya lagi, gadis itu terus merasa gugup. Apa yang akan terjadi setelah ini?
Maka setelah membaringkan Alfiya diatas ranjang. Elvan kembali menatap Alfiya dalam-dalam. Seperti mencari sebuah keyakinan melalui sorot mata gadis itu.
Ragu-ragu akhirnya Elvan pun memulai, ia mulai mengecup kening Alfiya dengan mesra. Turun menuju pelipis, pipi, hidung dan rahang.
Alfiya benar-benar terpaku, tubuhnya tidak bisa menolak. Elvan seolah pandai mengendalikan tubuhnya disaat tangan laki-laki itu mulai merayap masuk kedalam kaos yang ia pakai. Ia benar-benar tidak bisa berpikir, tangan itu menyusuri kulit perutnya dengan lembut. Gadis pun itu semakin memejamkan mata kala Elvan mulai menyusuri lehernya dengan mengecup mesra.
Gila, ini benar-benar gila! Ia harus menolak, harus! Ini tidak benar!
Hingga Akhirnya ketika tangan Elvan mulai mulai semakin naik dan menangkup sebelah dadanya Ia tersentak.
"M-mas...." lenguhnya pelan.
*
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading, Ges!