
****
Keesokan hari, Alfiya mengerjap membuka matanya. Wanita itu sedikit merasakan pusing di kepala, dikarenakan semalam ia terlambat tidur. Tak hanya itu, ia juga meringis karena kakinya yang masih sakit. Ah, dia tidak percaya dengan apa yang barus saja terjadi tadi malam.
Apa yang pertama kali dipikirkan wanita itu saat baru terbangun dari tidurnya? Pertama soal pernikahan sandiwaranya dengan Elvan adalah hal yang selalu pertama kali timbul dikepalanya, kedua soal Joe yang terus mendesak dirinya soal lamaran, ketiga kedua masalah tersebut adalah hal yang akhir-akhir ini selalu bersemayam di kepalanya setiap waktu dan akhirnya mengganggu ia dikala melakukan aktivitas.
Banyak teman-teman kuliah Alfiya yang mengatakan kalau gadis itu akhir-akhir ini jadi lebih lebih pendiam dan banyak melamun. Tentu saja hal tersebut juga di sadari oleh Joe.
Huh, baiklah.... Alfiya menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Lebih baik tidak perlu terlalu dipusingkan. Ia takut jika masalah tersebut terlalu dipikirkan nantinya akan semakin menjadi beban.
Gadis itu kemudian menoleh kesamping. Dirinya seperti merasa ada sesuatu yang kurang. Seketika ia sadar kalau saat ini dirinya sedang berada didalam kamar Elvan untuk menemani Anggia. Lantas ia pun terkejut karena tidak ada Anggian disana.
"Gian!" Serunya panik. "Gian dimana?!" Gadia itu mencari dengan menyapu seluruh ruangan.
Tak berapa lama terdengar tawa cekikikan anak kecil dari lantai. Alfiya pun lantas menggeser tubuhnya kesisi ranjang arah Anggian tidur semalam. Dan, benar saja, terlihat dilantai Anggian tengah serius bermain dengan robot-robotan kesukaannya.
Huh, Alfiya pun mengelus dadanya lega. Dia pikir kemana anak ini tadi.
"Gian...." panggil Afiya.
Namun, anak laki-laki itu tidak menoleh ia masih saja asik bermain dengan robot-robotannya. Baiklah, pikir Alfiya saat itu Anggian sedang tidak ingin diganggu.
Tak lama gadis itu pun teringat akan sesuatu. Ia ingat dirinya telah berjanji tadi malam. Ia berjanji akan menjadi ibu yang baik untuk Anggian sebelum pernikahannya dengan Elvan berakhir.
Baiklah, jadi apa yang harus ia lakukan sekarang? Bagaimana caranya agar bisa menjadi sosok ibu yang baik?
Lalu Alfiya pun mulai mengingat-ingat apa saja yang di lakukan mendiang kakaknya sehari-hari sebagai seorang ibu. Gadis itu kemudian mencoba mengingat semuanya.Ia pun memutar otak.
Apa dia harus memandikan Anggian terlebih dahulu?
Tapi, ini masih sangat pagi. Seingatnya mendiang Anggita tidak pernah memandikan Anggian sepagi ini, disaat jam 05:00 fajar. Lagi pula akhir-akhir ini yang selalu memandikan Anggian setiap pagi adalah bi Mina.
Alfiya jadi bingung harus bagaimana memulainya. Baiklah, bagaimana kalau dia membuatkan susu untuk Anggian saja, sekaligus Alfiya akan memasak sarapan pagi.
Hah, Alfiya mendesah. Apa dia telepon ibu untuk menanyakan perihal apa saja yang harus dilakukan untuk menjadi ibu yang baik. Tapi, itu terlalu merepotkan.
Baiklah, mungkin dia harus bertanya pada om G*ogle. Alfiya kemudian meraih ponselnya yang terletak di atas nakas samping tempat tidur. Dia pun mulai mengetikan kata kunci disana.
Bagaimana menjadi seorang ibu yang baik?
Tak lama akhirnya timbul beberapa judul artikel di layar ponselnya. Alfiya kemudian membaca judul artikel tersebut satu persatu.
•20 peran ibu dalam berkeluarga - detik.news Tips
•15 cara merawat anak bagi ibu baru - Beta.news Ibu Sehat
•5 Peran Utama Ibu Dalam Keluarga - Anugerah_kasih_bunda.com
dll....
__ADS_1
Hmmm.... agaknya Alfiya akan memilih judul artikel yang terakhir saja, karena ia masih pemula dan tipsnya juga hanya sedikit. Gadis itu lantas mengklik judul artikel tersebut. Hingga muncullah poin-poin penting yang ia cari. Gadis itu pun mulai membaca.
5 Peran Utama Ibu Dalam Keluarga
Pertama : Ibu bertugas memenuhi kebutuhan sang buah hati dalam bentuk apa pun, baik dari asih, asah dan asuh.
Kedua : Ibu dituntut memberikan teladan yang baik bagi buah hatinya yang artinya perilaku ibu dapat ditiru oleh sang anak.
Ketiga : Ibu sebagai pendidik bagi anak-anaknya dari masa usia dini
Keempat : Ibu sebagai perawat bagi anak-anaknya di saat dalam keadaan apa pun
Kelima : Seorang ibu adalah koki terbaik.
Setelah membaca poin-poin tersebut Alfiya agaknya masih bingung harus memulai dari mana. Tapi sepertinya wanita itu akan memulai dari yang pertama. Hm.... kira-kira apa yang dibutuhkan Anggian saat ini?
Sepertinya dia akan memberikan pelukan dan ciuman kasih sayang kepada Anggian di pagi hari ini. Kalau hal itu, Alfiya tentu saja sudah terbiasa melakukannya.
Gadis itu kemudian mendekati Anggian lalu memeluk dan mencium batita tersebut, seperti yang sering ia lakukan sebelum-sebelumnya.
"Bunda sayang Gian." ucap gadis itu saraya memeluk Anggian erat. "Gian sayang sama bunda?" tanya kemudian setelah melepas pelukan mereka untuk memberi jarak.
Anggian yang beralih melupakan mainan robot-robotannya untuk berfokus pada Alfiya pun mengangguk cepat seraya tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang putih.
"Gian sayang bunda...." balas anak mungil itu seranya memonyongkan mulutnya untuk membalas mencium Alfiya.
Alfiya pun tersenyum kembali, ia senang karena telah melakukan langkah pertama untuk menjadi ibu yang baik. Ia termangu sejenak dalam pikirannya, jadi begini rasanya mendalami peran seorang ibu.
Ia melirik Anggian sejenak. Tidak mungkin ia akan meninggalkan seorang diri. Tapi, Anggian sedang sibuk bermain. Jadi mungkin tidak apa-apa ia meninggalkan Anggian sebentar di dalam kamar. Akhirnya setelah meminta persetujuan Anggian, gadis itu kemudian bergegas keluar menuju dapur.
****
Saat itu di dapur.
Alfiya tengah mencari-cari sesuatu di lemari dapur bagian bawah. Wanita itu tampak kebingungan. Dia tidak tahu dimana biasanya tempat susu Anggian di simpan. Bodohnya ia tidak mengetahui itu selama ini.
"Duh, dimana sih...." Dengkusnya kesal. Akhirnya ia pun membuka lemari bagian atas. Dan benar saja disana ia melihat kaleng susu formula untuk batita.
Alfiya pun lantas menurunkan kaleng susu tersebut. Huh, akhirnya berhasil juga ia temukan.
Setelah mengambil botol susu milik Anggian, gadis itu kebingungan kembali. Dia tidak tahu takaran susu yang harus di seduh. Ia kemudian membaca petunjuk yang tertulis di kaleng.
Baiklah sekarang dia mengerti takarannya. Lalu ia mulai menyeduh susu tersebut dengan air panas.
"Lagi ngapain...." Sosok Elvan yang datang tiba-tiba sembari mengendong Anggian sontak mengagetkan Alfiya. Laki-laki itu sudah bangun rupanya.
"Aaaa.... mas Elvan." Gadis itu merengut karena saking terkejutnya. "Ngagetin tau, hampir aja susunya tumpah." Alfiya menatap botol susu yang sudah ia isi dengan air panas.
Melihat tingkah merajuk Alfiya lantas Elvan pun tersenyum geli, laki-laki itu lantas mendudukan Anggian yang tengah sibuk memandangi robot-robotan ditangannya seraya meracau.
__ADS_1
"Dol.... dol.... (dor.... dor....) ayo kita melawan musuh...." Begitulah Anggian yang tengah meracau dalam dunia hayalnya. Hingga ia kemudian bermain dengan berdiri diatas kursi sambil menggerak-gerakkan robot mainannya kesana kemari.
Elvan kemudian mendekati Alfiya. Masih terngiang dalam ingatannya bagaimana ia sesenggukan menangis didalam pelukan gadis itu semalam. Agaknya hal tersebut membuat dirinya memandang gadis tersebut sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Bisa bikin susunya?" tanya Elvan seraya fokus pada botol susu yang di pegang Alfiya.
Alfiya mengangguk ragu-ragu. Karena sesungguhnya ia hampir tidak pernah membuatkan susu untuk Anggian. Hanya sekali ia melakukannya dan itu pun dia dimarahi oleh ibu karena airnya telalu panas.
Elvan pun lantas menyentuh botol susu itu sejenak. "Ini airnya terlalu panas, Fi." jelas Elvan.
"Oh, ya?!" Seru Alfiya sambil memperhatikan botol susu ditangannya. Benarkan ia memang tidak pandai melakukan hal ini. "Tapi aku udah ikutin aturan yang tertulis di kaleng susunya mas." jelas gadis itu kecewa pada diri sendiri. "Kan katanya pakai air panas." ujar gadis itu polos.
Astaga gadis ini! Elvan pun geleng-geleng kepala.
"Sini, biar mas ajarin cara bikin susu yang benar."
Namun sebelum itu, tiba-tiba tatapan Elvan beralih pada layar ponsel yang tergeletak disamping kaleng susu milik Anggian. Penasaran ia pun membaca tulisan dari ponsel tersebut dengan cepat.
"Lima peran utama ibu dalam keluarga...." mulut Elvan lantas membaca isi artikel tersebut. "Satu, Ibu bertugas memenuhi kebutuhan sang buah hati dalam bentuk apa pun, baik dari...." belum sempat Elvan selesai membaca isi artikel tersebut tiba-tiba Alfiya tersadar dan langsung menyambar ponselnya.
"Apaan sih mas Elvan kepo!" ujar gadis itu cemberut dengan wajah memerah padam.
Elvan pun hanya tersenyum mesam-mesem menanggapi itu. Lagaknya ia tidak menyangka kalau Alfiya benar-benar akan melakukan hal yang ia ucapkan tadi malam. Menjadi ibu yang baik?! Ah, kenapa Elvan jadi senang begini ya.
"Mas, Elvan kenapa senyam-senyum!" ketus Alfiya.
Elvan tidak menggubris, laki-laki itu malah semakin tersenyum berdiri disamping gadis itu seraya memperhatikan raut wajah Alfiya yang semakin memerah.
"Ih, mas Elvan." Alfiya melotot seraya mendengkus. Duh, kenapa dia jadi salah tingkah begini sih. Apa salahnya jika Elvan mengetahui ia membaca artikel berusaha untuk menjadi ibu yang baik.
"Semangat ya!" Ujar Elvan tersenyum lebar. "Sekalian juga..." bisiknya pelan.
Alfiya mendongak menantap Elvan. "Sekalian apa?" tanyanya penasaran.
"Sekalian kamu baca artikel tentang cara menjadi istri yang baik untuk suami...." candanya kemudian, yang di sambut dengan tonjokkan ringan refleks Alfiya dilengannya. Tapi, agaknya laki-laki itu agak tersentak oleh ucapannya sendiri. Bisa-bisanya tanpa sadar ia mengatakan hal tersebut kepada Alfiya.
Alfiya memejamkan matanya dalam-dalam. Dasar Elvan! Pagi-pagi begini sudah membuatnya sebal.
Tapi, kenapa ia jadi penasaran ya untuk membaca artikel itu. Artikel dengan judul 'cara menjadi istri yang baik untuk suami'.
*
*
*
*
Like, Vote, Komen Ges!
__ADS_1
Selamat Membaca!