
****
Alfiya saat itu tengah terduduk diatas ranjang didalam kamarnya. Ia memandang suasana sekitarnya dengan tatapan nanar. Ia seka air mata yang sedari tadi mengalir keluar dari sudut mata. Entahlah dia benar-benar sensitif saat ini.
Dia benar-benar tidak menyangka kalau Elvan akan memperlakukannya seperti tadi. Ia benci sangat benci. Ia tidak tahu yang jelas benci karena apa. Yang ia tahu tadi Elvan memaksanya untuk memutuskan hubungan dengan Joe, Elvan juga menggertak dan mengancamnya dengan ancama yang tidak pernah ia sangka-sangka.
Bagaimana bisa Elvan berpikir untuk melakukan nafkah batin terhadapnya. Ia sadar mereka adalah suami istri. Tapi, apa laki-laki itu tidak ingat kesepakatannya, kalau mereka menikah hanya demi ibu.
Apa yang salah darinya. Benar kan, kalau mereka memang harus menjaga jarak. Biar bagaimana pun mereka adalah dua orang dengan jenis kelamin yang berbeda. Siapa yang tahu nanti apa yang akan terjadi. Ditambah lagi dengan status mereka saat ini.
Mungkin mereka terlihat seperti mempermainkan pernikahan, tapi mau bagaimana lagi. Dasar dari pernikahan ini adalah paksaan dan tuntutan demi ibu yang bisa kapan saja kambuh akibat trauma yang dirasakan oleh kepergian mendiang kakaknya.
Tak lama Alfiya meraih ponselnya. Ia buka folder yang ada disana. Dipandanginya sebuah poto seorang wanita yang sangat ia kenal, yang ia rindukan senyum dan suaranya.
"Mbak...." ujar Alfiya dengan suara gemetar. "Aku minta maaf...." Alfiya memejamkan mata. "Mbak nggak benci kan sama aku?" Ia pandangi poto tersebut lama-lama.
"Ibuk benci sama aku mbak, aku juga terpaksa nikah sama mas Elvan demi ibuk." Ujar Alfiya lagi. "Mbak jangan benci ya sama aku." ia mengusap poto tersebut pelan dengan jarinya.
Beberapa saat kemudian poto yang ia padangi tersebut beralih pada sebuah pesan masuk diponselnya.
Setelah menyeka sudut matanya sekali Alfiya kemudian melihat notifikasi dari ponsel tersebut. Joe! Tanpa membukanya Alfiya sudah tahu apa isi dari pesan tersebut.
Joeshua : Sayang, kamu bisa keluar sebentar. Aku ada didepan rumah kamu.
Bagaimana ini? Bisa gawat kalau Joe tahu kalau dia tidak lagi tinggal di rumah itu saat ini. Apa yang harus ia lakukan sekarang.
Tiba-tiba sebuah pesan kembali masuk. Maka tanpa membuka membukanya kembali Alfiya sudah tahu isi pesannya.
Joeshua : Fi, aku di depan rumah. Kamu ada di rumah kan sayang?
Alfiya semakin gelagapan. Bagaimana ini? Rumah orang tuanya sangat jauh dari sini. Tidak mungkin Alfiya menghampiri Joe disana. Sepertinya ia tahu kemana harus meminta bantuan. Ia cari sebuah nomor di ponselnya. Dia harus meminta bantuan kepada Rian, dia akan menelepon laki-laki itu sekarang.
Setelah memencet tombol hijau Alfiya pun menunggu jawaban.
"Ayo Rian angkat!" gumamnya. Alfiya menunggu dengan cemas. "Rian angkat, angkat, aku mohon...."
__ADS_1
"Halo mbak...."
Mengetahui Rian menjawab panggilannya Alfiya mendadak sangat senang dan lega.
"Rian mbak bisa minta tolong nggak...."
****
Saat itu di kediaman rumah bapak imran. Rian yang baru saja menerima telepon dari Alfiya bergegas keluar rumah menuju pintu pagar. Dan benar saja ada seorang laki-laki yang tengah menunggu diluar pagar.
Rian pun membuka kunci pagar rumah. Lalu keluar dari pagar untuk menghampiri Joe.
Joeshua yang tengah sibuk dengan ponselnya mendongak lalu tersenyum melihat Rian datang menghampirinya.
"Hai Rian...." Sapa Joe sembari menepuk pundak laki-laki remaja dihadapannya. "Sehat lo?!" lalu ia basa-basi.
Rian mengangguk seraya tersenyum tipis. "Kalau lo kesini mau ketemu mbak Fiya, mending lo pulang aja, karena mbak Fiya, sudah tidur." Ujar Rian tanpa basa basi.
"Tidur?" tanya Joe seperti tidak yakin. "Serius?! Ini masih jam delapan malam."
Mendengar itu Joe membuang muka sejenak. Tidak bisa dipungkiri bahwa perkataan Rian ada benarnya. Dia memang sering mengajak Alfiya kabur dan juga selama hampir tujuh tahun mereka berpacaran orang tua Alfiya memang terlihat kurang suka padanya.
"Kalau lo gak ada keperluan lain, gue bakal masuk sekarang. Lo bakalan pulang sekarang kan, karena percuma juga lo nunggu disini ngabisin waktu." tambah Rian lagi.
Mendengar Rian bernada mengusir membuat Joe menegang. Namun, ia berusaha untuk tersenyum. "Oke, oke. Baiklah kalau Fiya udah tidur." ujar Joe akhirnya. "Gue bakalan pulang sekarang, bilang ke dia kalau gue kesini."
Rian hanya menautkan alisnya menggubris perkataan Joe.
"Gue pulang kalau gitu." menepuk bahu Rian pelan lalu tersenyum basa-basi.
Rian memandangi lajunya motor Joe sembari bersidekap. Lagaknya ia benar-benar tidak menyukai sosok itu.
****
Kembali lagi di kamar Alfiya. Gadis itu tengah was-was sembari menunggu pesan dari Rian di ponselnya. Apakah Rian berhasil mengatasi Joe disana. Ia benar-benar gugup saat ini. Hanya Rian yang bisa ia andalkan. Karena Rian juga merupakan salah satu orang yang tahu seperti apa sebenarnya pernikahan dirinya dan Elvan.
__ADS_1
Walau sebenarnya Alfiya dapat melihat kalau Rian seperti tidak setuju dengan pernikahan sandiwara ia dan kakaknya.
Hingga akhirnya tak berapa lama kemudian. Alfiya bergerak cepat menggeser layar ponselnya saat ada panggilan masuk dari Rian.
"Halo Rian gimana?" sambar Alfiya gugup.
"Beres mbak. Dia udah pergi." suara Rian terdengar sangat datar.
Alfiya menunduk merasa lega. Namun mendengar suara Rian yang sepertinya sangat terpaksa melakukan semua ini membuat ia hanya bisa merasa bersalah. Ia tahu Rian sangat benci mendengar ia masih berhubungan dengan Joe setelah pernikahannya dengan Elvan.
"Makasih ya Rian." ujar Alfiya dengan suara rendah.
"Iya mbak sama-sama. Gue harap semoga semua kebohongan ini cepat berakhir."
Suasana hening sesaat seperti ucapan Rian barusan yang menyebabkan itu. "Iya Rian mbak harap juga begitu. Sekali lagi terima kasih."
"Hm.... Gue minta mbak Fiya untuk selalu jagain mas Elvan dan juga keponakan gue disana dengan baik."
"Mbak tau maksud kamu...." sahut Alfiya pelan. "Mbak akan berusaha untuk jagain mereka dengan baik." ujarnya dengan suara semakin merendah seolah tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Karena sejujurnya ia baru saja bertengkar dengan Elvan. Bertengkar karena alasan bagi sebagian orang mungkin bisa melihat itu adalah kesalahan darinya.
"Gue berharap banyak sama lo mbak." Suara tersebut terdengar sangat pelan namun mampu membuat Alfiya berpikir dalam.
Akhirnya panggilan Alfiya dengan Rian pun berakhir. Ia juga berharap semua ini cepat berakhir. Cepat-cepat berakhir dan dia bisa menjalani kehidupan dengan normal kembali.
*
*
*
*
Happy Reading Ges!
Like, Vote, and Komen.
__ADS_1