
****
Sudah dua hari semenjak Alfiya berniat untuk menjadi ibu yang baik bagi Anggian, walau hanya sebentar sampai dia dan Elvan berpisah. Tapi agaknya wanita itu mulai menikmati peran yang ia jalani dengan serius.
Gadis tersebut juga masih selalu membaca artikel-artikel dengan judul tentang cara agar menjadi ibu yang baik. Bahkan saking ingin mendalami perannya sebagai ibu, Alfiya yang sangat jarang berkutat di dapur berkeinginan untuk memasak makan malam di rumah nantinya. Ingatkan saja satu poin utama dari peran seorang ibu yaitu, 'ibu adalah koki terbaik bagi keluarga'.
Sebagai seorang koki, maka ibu harus menyediakan makanan bagi keluarganya. Tapi, sayangnya Alfiya tidak terlalu pandai memasak seperti mendiang Anggita. Namun, karena ia mempunyai niatan yang tulus. Maka, gadis itu pun nekat untuk menghabiskan waktu di dapur nantinya.
Alfiya jadi sadar, ternyata tugas seorang ibu sangat berat dan tanggung jawabnya sangat besar bagi kelangsungan hidup sebuah keluarga.
Hingga kemudian, sepulang dari kuliah Alfiya pun mampir sebentar ke mini market didekat rumahnya yang hanya berjarak seratus meter. Gadis itu akan membeli bahan-bahan untuk ia masak tadi.
Akan tetapi, disaat Alfiya tengah asik memilih-milih sayuran, tiba-tiba ia mendengar suara bisik-bisik dua orang ibu-ibu paruh baya disampingnya.
"Ini toh tetangga yang baru pindah itu." ujar ibu berbaju merah dengan rambut ikal sebahu.
"Iya, mereka suami istri, kan?" ibu dengan kacamata tebal pun menyahuti.
"Nggak tahu. Tapi di rumahnya ada anak kecil, yang selalu dititipin sama asistennya kalau mereka lagi pergi kerja." sahut ibu-ibu baju merah lagi.
Ibu-ibu satunya lagi pun mangut. "Perasaan yang cewek masih kuliah. Soalnya saya sering lihat dia bawa-bawa buku kuliah gitu."
"Kuliah?! Berarti ceweknya nikah muda ya, masih kuliah udah punya anak umur tiga tahun hebat juga untuk anak jaman sekarang. Kalau anak saya, mana mau nikah usia muda, maunya lanjutin karir dulu."
"Ho,oh."
Begitulah ocehan ibu-ibu yang sangat mengusik telinga Alfiya. Hingga tanpa sadar gadis itu pun refleks menoleh sejenak kesamping, hingga membuat kedua ibu-ibu seketika menyungging senyum kepadanya. Alfiya membalas senyuman tersebut. Tapi nampaknya kedua ibu-ibu tersebut masih penasaran.
"Wah, pulang kuliah langsung belanja, rajin banget." ujar ibu-ibu berbaju merah dengan logat jawa medoknya berbasa-basi.
Ibu-ibu berkacamata pun menimpali. "Nggak capek, habis pulang kuliah langsung mengurus rumah tangga? Pasti susah kan ngatur waktunya."
"Ho oh, hebat loh kamu. Mau mengorbankan masa muda demi berkeluarga." timpal ibu satunya lagi tanpa memberikan Alfiya kesempatan untuk membalas ucapan mereka.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, waktu nikah usia kamu sama suami berapa? Atau lulus SMA, kamu langsung nikah ya?"
Alfiya menghela nafas jengah. Ia rasa kedua ibu-ibu ini terlalu kepo akan dirinya, rasanya ia tidak perlu terlalu mengurusi hal ini. Maka gadis itu pun langsung berbalik mengambil sayuran yang ia perlukan dan memasukkannya kedalam keranjang.
Sebelum pergi dari sana ia kembali menatap dua orang ibu-ibu yang ada disana sembari mengulaskan senyum.
"Saya permisi dulu ibuk-ibuk." ujarnya ramah, lalu berputar arah dan pergi. Namun, samar-samar sepertinya Alfiya masih bisa mendengat bisik-bisik kedua ibu-ibu tersebut.
"Ditanya gitu aja gak mau jawab, sombong!"
"Ho oh, anak jaman sekarang emang kurang sopan santun." jawab ibu berkacamata.
Alfiya hanya bisa geleng-geleng kepala. Dasar ibu-ibu rempong, sangat pandai memberikan penilaian terhadap orang yang tidak dikenal.
Beberapa saat kemudian sesampainya dirumah, bi Mina yang melihat Alfiya membawa sekantong besar bahan makanan mendadak kebingungan. Tumben! Begitu pikir wanita yang baru selesai menyapu itu.
"Gian mana bi?" Tanya Alfiya sekaligus memperhatikan raut wajah bingung bi Mina.
"Nak Gian tidur, mbak?"
Alfiya menghampiri Anggian yang tengah tertidur pulas. Ia lantas mendekati anak itu dan menciumnya keningnya lama, hingga akhirnya ia menarik diri dari Anggian.
"Tadi udah dikasih makan, bi?" tanyanya tanpa melepaskan pendangan dari Anggian.
Bi Mina lantas mengangguk.
"Tadi dia rewel nggak?"
Bi Mina menggeleng. "Nggak mbak, hari ini Gian pinter banget. Makannya juga banyak."
Alfiya pun mangut paham. "Oh, iya bi. Aku ke dapur dulu ya." Alfiya pun beranjak dari duduknya. "Mau masak buat makan nanti malam."
"Mbak Fiya mau masak?!" Seru bi Mina heran.
__ADS_1
"Iya." Alfiya mengangguk mantap.
Wah.... Sepertinya bi Mina melewatkan sesuatu. Ada kejadian besar apa sehingga tiba-tiba Alfiya ingin masak untuk makan malam.
Alfiya yang sudah sangat bersemangat untuk memasak pun segera menuju ke dapur, sekaligus membawa barang belanjaannya di mini market tadi.
Ia berencana untuk memasak ayam asam manis, dadar telur juga dan capcai yang kebetulan ketiga menu masakan itu adalah makanan kesukaan Elvan. Alfiya juga tidak sadar kenapa tiba-tiba ia ingin masak kedua menu tersebut. Yang jelaa ia hanya mengikuti instingnya saat ini.
Walau pun hampir tidak pernah memasak. Alfiya sudah mengerti dasar dari memasak itu seperti apa. Setidaknya ia bisa memasak nasi goreng simple, seperti menggoreng tempet, telur dan juga memasak mie instan.
Namun, karena sekarang zamannya sudah canggih, maka Alfiya pun akan melihat cara memasak melalui internet.
Hingga akhirnya, beberapa saat kemudian siaplah dua menu sederhana yang Alfiya masak dengan kerja keras tersebut. Alfiya lantas melihat jam di ponselnya. Hampir pukul enam sore. Agaknya dia harus menghubungi Elvan sekarang.
Gadis itu pun segera mengetikkan pesan, Alfiya pun bergegas mengirimkan sebuah pesan tersebut. Sembari menunggu balasan gadis itu pun membereskan dapur.
Setelah selesai membereskan dapur Alfiya kembali memeriksa ponselnya, siapa tahu ada balasan dari Elvan. Namun, sudah 30 menit dikirim, pesan tersebut belum juga terbaca. Hingga akhirnya Alfiya pun berniat untuk menghubungi Elvan melalui panggilan telepon.
Alfiya rupanya merasa agak kesal karena Elvan tidak bisa dihubungi sama sekali. Sesibuk apa sih laki-laki itu sampai mengabaikan panggilannya. Lagi pula biasanya Elvan sudah pulang sebelum langit mulai gelap. Elvan tidak memberinya kabar sama sekali kalau pulang terlambat.
Alfiya memejamkan matanya dalam-dalam. Jangan sampai Elvan makan diluar. Siapa nanti yang akan menghabiskan makanan yang ia masak lumayan banyak ini. Ini dia sudah lelah memasak dan perasaan ingin dihargai dan dipuji pun timbul.
Anehnya Alfiya juga tidak mengerti kenapa ia ingin Elvan untuk memuji masakannya. Huh, gadis itu menghela nafas. Memang kenapa kalau dia ingin dipuji dan dihargai, bukankah dirinya sudah bekerja keras memasak untuk pertama kalinya setelah pundah dirumah ini.
Tapi, Alfiya benar-benar berharap Elvan mencicipi makanannya. Maka tanpa pikir panjang gadis tersebut pun langsung menghujani Elvan dengan banyak pesan. Intinya Elvan harus merasakan masakan yang dirinya masak hari ini. Alfiya benar-benar bersemangat untuk membuat Elvan terpukau pada hasil karyanya ini.
*
*
*
*
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Komen, dan Vote Ges! Atau kalian bisa juga vote pakai koin.
Happy Reading, Ges!