DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Season 2 [Rian: Dia masih berani menemui mbak Fiya?]


__ADS_3

*


*


*


*


Pagi hari itu, Elvan memperhatikan dengan seksama dokter yang tengah memeriksa keadaan Alfiya. Mereka benar-benar tidur berdua semalam di sofa. Dengan selang infus yang ada masih ada ditangan Alfiya membuat Elvan cukup berhati-hati menjaga posisi semalam.


"Baik, warna matanya sudah mulai jernih." Ujar dokter Revina setelah melebarkan kelopak mata Alfiya dengan jari tangan dan memperhatikan teliti.


"Nafsu makannya juga mulai membaik ya." Tanya sang dokter dan Alfiya pun menganggukkan kepala. "Nampaknya sudah nggak terlalu banyak pikiran dan semalam tidurnya sudah nyenyak, betul?"


Alfiya tersenyum kembali. "Iya dok, saya sudah lebih tenang sekarang." Tentu saja karena tadi malam Elvan tidur di sampingnya. Dan juga ia sudah tidak banyak menyimpan rahasia lagi dari suaminya itu sehingga membuat hatinya lebih lapang.


"Saya bisa lihat itu, wajah kamu juga jauh lebih cerah dibanding hari sebelumnya." Dokter Revina sangat ingat kala itu Alfiya benar-benar syok berat dengan keguguran yang ia alami, psikisnya nampak sangat terganggu terlihat dari wajahnya yang nampak sangat tertekan. Dimana Alfiya juga memohon pada sang dokter agar melarang orang-orang untuk menemuinya dengan wajah cemas dan ketakutan.


Sang dokter lalu menoleh kearah Elvan dan tersenyum. "Usahakan bapak terus menjaga suasana hatinya dengan baik dan juga jauhkan dari hal-hal yang dapat membuat istri anda terganggu."


Elvan yang tengah berdiri tak jauh dari ranjang pun tersenyum tipis dan mengangguk mengerti. "Iya dok, saya tahu."


"Kalau kemungkinan hari ini bapak bekerja mungkin bisa mengambil cuti sebentar untuk menemani istri anda selama dia masih dirawat." Lalu melirik Alfiya yang senyumnya semakin mengembang seolah setuju dengan perkataan dokter.


Mendengar hal itu Elvan juga mengembangkan senyumnya. Tentu saja laki-laki itu mengerti.


"Dukungan anda sangat penting untuk perkembangan psikis istri. Dia baru saja keguguran, umumnya ibu yang baru kehilangan janin akan terus merasa bersalah dan menyesal serta kebanyakan takut mengecewakan suami, dan ditakutkan itu akan ia pikirkan sepanjang hari. Usahakan bapak terus menguatkan. Apa lagi istri anda sebelum ini tidak sadar akan kehamilannya. Saya hanya memberi edukasi, karena banyak sekali saya menemukan suami yang abai akan kesehatan mental istrinya." Jelas sang dokter. "Yang mereka tahu setelah dirawat dirumah sakit sang istri pasti akan langsung sembuh, padahal peran suami dan keluarga saat berusaha menjaga kesehatan mentalnya juga jauh lebih penting."


Seperti dinasehati oleh seorang ibu Elvan pun hanya terdiam mendengarkan. Karena memang, apa yang dikatakan oleh dokter itu benar adanya.


"Wanita itu pandai memendam perasaan loh pak, istrinya anda mungkin sudah bercerita tentang perasaannya tapi itu mungkin cuma sebagian saja. Jadi saran saya buatlah istri anda merasa bahwa anda akan selalu ada untuknya dan siap kapan pun dia butuh. Keguguran artinya kehilangan dan itu merupakan pukulan yang besar dan saya yakin bapak juga merasakan hal yang sama." Mengingat kejadian Alfiya yang benar-benar terganggu kecemasan beberapa hari yang lalu itu juga membuat jiwa ingin menolong dokter Revina semakin tergerak apalagi kepada sesama wanita.


"Iya dokter saya mengerti, terimakasih sudah mengingatkan. Saya semakin terbantu atas penjelasan dokter." Jawab Elvan, walau pun mereka semalam sudah saling berusaha memahami masing-masing namun penjelasan dari dokter semakin membuka pikirannya bahwa ia harus lebih memperdulikan Alfiya lagi.


"Oh iya, rasanya saya tidak perlu bicara pribadi kepada Anda tentang hal lainnya. Saya belum sempat memberi tahu soal ini." Dokter berusia 40 tahunan yang hampir akan keluar ruangan itu pun mengurungkan niatnya sejenak.


"Soal apa dokter?" Tanya Elvan.


"Karena baru saja keguguran tolong jangan berhubungan suami istri dulu. Walaupun seberapa kalian ingin dan saling merindukan, untuk yang satu itu tolong ditahan dulu sampai dua minggu kedepan setidaknya disaat pendarahan istri anda selesai."


Oh, Elvan pun mangut dan masih tersenyum. "Tentu saja dokter saya sangat memahami hal itu."


"Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu silahkan nikmati waktunya." Dokter Revina pun undur diri.


"Iya dokter."


Setelah sang dokter keluar dari ruangan Elvan mendekati Alfiya yang saat itu duduk pada ranjang dan sedari tadi juga mendengarkan penjelasan dokter Revina.


"Penjelasan dokter lebih luas dari pada pengakuan kamu semalam." Jelas Elvan lalu duduk disamping Alfiya.


Alfiya tersenyum menanggapi.

__ADS_1


"Tapi apa yang dibilang dokter tadi itu benar? Sesuai yang kamu rasakan?" Tanya Elvan penasaran.


"Iya. Semuanya benar. Waktu tau keguguran aku takut mengecewakan mas."


Elvan terdiam menyimak.


Alfiya menarik nafas lebih panjang. "Aku merasa gagal memberikan keturunan, dan juga sampai berpikir apa aku nggak bisa kasih keturunan buat mas. Soalnya kehamilan pertama saja udah begini."


"Mas nggak apa-apa Fi." Elvan pun tak lanjut bicara. Karena ia tidak ingin Alfiya malah menjadi tidak tenang jika dirinya membahas hal itu terus menerus.


"Sebentar lagi ibuk sampai." Elvan lantas langsung mengalihkan obrolan.


"Sudah berangkat?" Tanya Alfiya terkejut.


Anggukan pun Elvan berikan. "Iya, ibuk pasti nguatin kamu."


Untuk perkataan tersebut Alfiya terdiam. Dan raut wajahnya pun langsung berubah.


Melihat perubahan raut wajah itu pun Elvan langsung paham. Entah kenapa dadanya pun jadi sesak. Hingga kemudian ia berusaha untuk menguasai diri.


"Ibuk pasti akan sangat mengerti kamu, ibuk juga seorang ibu Fi. Dia juga yang melahirkan kamu, ibuk pasti paham rasanya." Apalagi ibuk juga pernah kehilangan Anggita dan saat itu juga Elvan tau bagaimana sangat terpukulnya ibuk.


"Iya mas." Lirih Alfiya, namun entah kenapa hatinya malah menciut. Kenapa? Padahal itu ibunya sendiri. Namun dihadapan Elvan Alfiya masih berusaha mengembangkan senyumnya. "Aku akan tunggu ibuk datang."


"Mas aku mau mandi." Ujar Alfiya kemudian.


"Gimana kalau sarapan dulu? Kan harus minum obat." Saran Elvan.


"Nanti aja habis mandi. Badan aku gerah."


"Mas nggak dengar penjelasan dokter ya." Dicubit nya kedua sisi wajah Elvan. "Aku masih pendarahan." Iya, Alfiya mengatakan itu karena mungkin saja Elvan ada tujuan lain.


Mendengarkan perkataan tersebut Elvan lantas terkekeh geli. "Mas tau Fi. Mas cuma mau mandi berdua, kamu jangan salah paham." Dan tawa geli itu masih berlanjut. Yang kemudian diteruskan dengan mengangkat tubuh sang istri dalam gendongannya. "Mas takut kamu kenapa-kenapa."


"Aku bukan anak kecil." Alfiya balik berbisik sembari mengeratkan pelukannya pada leher Elvan.


"Wanita itu pandai memendam perasaan." Elvan mengingat perkataan dokter tadi. "Jujur sama mas sebenarnya kamu senang kan kita mandi berdua." godanya.


Alfiya lantas menyambut perkataan itu dengan senyuman mengembang malu-malu.


"Jawab jujur." Ujar Elvan sebelum mereka benar-benar melangkah masuk ke kamar mandi.


Dan anggukkan pun Alfiya berikan. "Iya." Dan sialnya Alfiya masih merasa gengsi dengan suaminya sendiri. Apalagi mengingat pengakuan Elvan tadi malam bahwa laki-laki itu juga mencintainya.


Lalu saat itu, ketika kedua tangan Elvan hendak membuka satu persatu kancing kemejanya. "Mas." Tutur Alfiya sembari senyum tertahan.


"Kenapa?" Gerakan tangan Elvan yang hendak membuka kancing kemeja rumah sakit Alfiya pun terhenti.


"Mas hari ini belum bilang."


Elvan termangu bingung sejenak.

__ADS_1


"Yang semalam." Alfiya berusaha mengingatkan.


Apa?


Oh, Dan Elvan pun kemudian paham. "Bukannya tadi waktu baru bangun tidur sudah mas bisikin?"


Alfiya menggeleng. "Tadi aku belum sepenuhnya sadar mas. Aku belum dengar jelas."


Elvan lantas terpaku dalam diam nya. Berhadapan dengan Alfiya entah kenapa membuat nya merasa seperti ABG kembali.


"Mas mencintai kamu." bisiknya Elvan akhirnya yang langsung membuat senyum Alfiya kembali mengembang.


Begitulah, tatkala Elvan mengungkapkan rasa cintanya maka entah kenapa Alfiya merasa hatinya akan semakin kuat.


...****...


Sementara itu dilorong sana, Ibu, bapak dan juga Rian yang tengah menggendong Anggian tengah berjalan melewati lorong rumah sakit menuju tempat Alfiya dirawat. Iya, mereka akan datang untuk mengunjungi Alfiya hari ini.


Langkah ketiga orang dewasa itu pun dihiasi oleh celotehan Anggian yang tampak sangat ceria sembari bertepuk-tepuk ringan dan sesekali bernyanyi riang.


"Gian mau ketemu siapa?" Tanya Rian.


"Mau temu bunda. Cama ayah juga." Jawabnya antusias.


"Kenapa bunda sayang?" Rian bertanya lagi.


"Bunda cakit."


Rian bertanya kembali. "Gian kangen sama bunda?" Dan anak kecil itu pun mengangguk.


"Iya om." Mendongak menatap wajah Rian dengan berkaca-kaca. "Gian lindu bunda. Udah lama gak temu."


Mendengar hal tersebut dengan gemas Rian langsung mencium pipi gembul Gian. "Sabar ya, sebentar lagi kita ketemu bunda."


Sementara itu bapak dan ibu terlihat diam berjalan agak di belakang Rian. Kedua pasutri itu tengah bergandengan tangan.


"Kenapa buk?" Tanya bapak yang sadar kalau ibuk terus melamun.


Menanggapi itu ibuk pun menggeleng pelan. "Ibuk mikirin Fiya. Semoga dia nggak kenapa-kenapa ketemu kita nanti." Ingatan ucapan Elvan soal Alfiya yang enggan menemui semua orang nampaknya sangat terpikirkan oleh ibuk.


"Sama bapak juga khawatir." Lalu merangkul ibuk. "Nggak apa-apa buk, mudah-mudahan nanti dia senang bertemu kita." Mengelus bahu ibuk menenangkan.


"Iya pak." Ibuk menganggukkan kepala.


Hingga kemudian saat mereka hampir sampai pada ruangan tiba-tiba Rian melihat seorang lelaki memakai Topi yang agak menutupi wajah tengah berjalan menuju ruangan yang sama dengan mereka.


Lelaki itu membawa satu tangkai bunga mawar merah. Namun tiba-tiba Rian sadar, dia kenal orang itu. Bahkan agaknya lelaki tersebut juga terkejut saat melihat Rian bersama ibuk dan bapak, hingga akhirnya terlihat kemudian lelaki itu bergegas memutar tubuh dan pergi.


"Dia masih berani menemui mbak Fiya?" Gumam Rian dengan perasaan yang tiba-tiba khawatir.


...****...

__ADS_1


...Happy Reading!...


...Semoga kalian menikmati cerita ini....


__ADS_2