
...FLASHBACK 1...
...ALFIYA : MBAK GITA KENAPA? ...
*
*
*
*
Ada sebuah alasan kenapa akhirnya Alfiya bisa berpacaran dengan Joe. Kenapa ia bisa bertahan menjalin hubungan lama dengan laki-laki itu hingga beberapa tahun lamanya.
Dan kisahnya bermula pada hari itu.
Pada teras belakang rumah yang langsung berhadapan dengan kolam ikan pada malam hari itu, Alfiya tengah duduk dengan Elvan yang saat itu tengah memperhatikannya mengerjakan tugas.
Lelaki itu baru saja pulang dari kampus, kebetulan kamarnya lewat teras itu. Jadilah ia pun menghampiri Alfiya sejenak untuk mencari tahu apa yang tengah gadis itu lakukan.
Kalau Elvan sudah menghampirinya begini, Alfiya pasti sangat senang. Karena tentu saja ia bisa bertanya dengan laki-laki itu tentang tugas-tugas yang tidak ia mengerti.
"Sebel deh sama gurunya, kan baru seminggu mulai sekolah tapi tugas yang dikasih udah sesulit ini." Alfiya menggerutu sebal menekuk wajah. Gadis yang memang baru saja menduduki bangku SMA itu nampaknya agak pusing dengan tugas kimia yang menurutnya sangat sulit dipahami.
Elvan yang berdiri di sampingnya pun tersenyum. "Nggak minta ajarin sama mbak Gita." Sarannya.
Mendengar hal tersebut Alfiya menggeleng pelan. Ia lalu mendongak menatap Elvan dengan senyum sumringah.
"Mas aja ya yang ajarin. Fiya nggak ngerti." Mata gadis itu membulat penuh permohonan. Terlihat lelah karena soal-soal pada buku pelajarannya membuatnya tertekan.
"Yang mana soalnya?" Tanya Elvan.
Menanggapi hal itu Alfiya pun langsung tersenyum sumringah. Dengan semangat ia langsung menggeser buku tugasnya pada Elvan, dimana laki-laki itu pun langsung meraih buku yang Alfiya sodorkan.
"Nomor berapa yang susah?" Ujar laki-laki itu sembari membaca soal-soal yang ada pada buku.
"Semuanya." Sahut Alfiya dengan santai.
"Semuanya nggak ada yang ngerti?" Tanya Elvan lagi.
__ADS_1
Alfiya menggeleng dan memang jujur adanya. "Susah mas." Ia lalu menunduk.
"Waktu dijelasin sama guru kamu perhatiin nggak?" Elvan bertanya lagi.
Gadis itu menganggukkan kepala. "Fiya perhatiin kok." Jawabnya jujur. "Tapi masih nggak ngerti mas. Padahal Fiya udah melotot tanpa kedip merhatiin gurunya ngejelasin."
Mendengar hal itu Elvan pun paham. Ia lantas berdiri, menggeser kursinya untuk lebih dekat pada Alfiya. Setelahnya mereka pun duduk bersebelahan dengan sedikit jarak.
"Ya udah mas jelasin cara menjawab soalnya. Kamu perhatiin." Menatap mata Alfiya yang membulat dengan seksama
Gadis berusia 16 tahun itu pun tersenyum, karena jujur saja ia sangat senang belajar bersama Elvan. Lelaki itu pasti akan mengajari sampai paham dan satu lagi yang Alfiya suka dimana Elvan akan tetap sangat sabar mengajarinya walaupun ia sangat susah mengerti.
"Coba mas Elvan aja yang jadi gurunya." Tutur Alfiya di sela menulis jawaban yang sudah selesai dikerjakan pada buku jawaban. "Guru yang ngajarin mata pelajaran ini galak."
"Terus kamu gimana kalau digalakin sama gurunya?" Tanya Elvan menanggapi curahan hati Alfiya.
"Diam." Sesingkat itu Alfiya menjawab. Karena masuk ke sekolahnya yang sekarang bukanlah keinginannya. Itu ia lakukan karena terpaksa menuruti permintaan ibu.
"Fiya cuma ngerti diajarin mas Elvan." Sembari matanya bergantian melihat jawaban yang telah selesai pada buku coretan untuk dipindahkan pada buku tugas. "Mbak Gita pun bisa kelepasan marah kalau Fiya nggak ngerti. Jadinya Fiya segan buat minta tolong diajarin ngerjain tugas sekolah lagi sama mbak Gita."
Bahkan terkadang hal itu bisa sampai pada terjadinya pertengkaran antara adik dan kakak, dan kalau sudah begitu Alfiya lebih memilih untuk tidak meminta bantuan pada Anggita lagi dan lebih baik mengerjakan tugas sendiri dan berusaha keras untuk mengerti semampunya saja.
Setiap perkataan yang keluar dari mulut Alfiya selalu Elvan dengankan dengan seksama dan ia cerna. Ada sesuatu yang membuatnya selalu ingin membantu Alfiya. Tapi saat itu Elvan tidak mengerti apa. Sebenarnya ia akan sangat kasihan ketika Alfiya sering diomelin ibu Ernika atau terkadang lebih memilih mengalah ketika bertengkar dengan Anggita. Ia juga sering merasa kalau Alfiya kurang betah berlama-lama berkumpul dan ngobrol bersama keluarga, gadis itu ia lihat lebih sering memilih mengurung diri di dalam kamar seperti lebih nyaman sendirian.
Jelas Elvan tahu hal itu kenapa, karena lelaki tersebut sering melihat Alfiya yang terdiam menunduk kala ibu sudah mengomel tentang apa yang dilakukan Alfiya tat kala ibu tidak setuju.
Tangan Elvan tiba-tiba terangkat, entah kenapa ia kemudian mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut.
Merasa Elvan menyetuh puncak kepalanya Alfiya menoleh. "Mas kenapa?" Tanya gadis itu polos.
Elvan masih terdiam sesaat. Lantas, "Nggak boleh ya." Namun tangannya masih mengelus puncak kepala Alfiya.
"Boleh. Fiya cuma nanya kok mas." Kembali ia bertutur kata apa adanya.
Elvan lalu tersenyum. "Semangat terus ya." Ujarnya dengan suara halus.
Menanggapi itu Alfiya pun mengangguk. "Makasih mas Elvan semangatnya." Yang ia pahami dari kalimat yang baru saja Elvan ucapkan, lelaki itu hanya ingin membuat ia termotivasi.
"Mas belum mau balik ke kamar?" Tanya Alfiya kemudian. "Belum mau mandi? Kan baru pulang kuliah. Pasti capek, keringetan."
"Mas mau nungguin kamu sampai selesai." Sahut Elvan.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut Alfiya tersenyum. "Bener." Ia nampaknya sangat senang. "Mas serius mau nemenin sampai Fiya selesai nyalin jawabannya."
"Iya Fi." Sahut Elvan.
Akhirnya, Elvan benar-benar menemani Alfiya saat itu. Sembari mendengarkan Alfiya bercerita, mulai dari kejadian di sekolah, pengalaman ospek, teman-teman barunya, sampai makanan kantin yang menurutnya enak, semua tak luput Alfiya ceritakan pada Elvan.
Dengan antusias Alfiya juga bercerita kalau dirinya ikut ektrakurikuler seni tari, selain itu ia juga mengikuti pelatihan public speaking dan juga mendaftarkan diri mengikuti seleksi paduan suara sekolah. Menurut Alfiya kegiatan-kegiatan tersebut lebih menyenangkan dan tidak membosankan seperti mata pelajaran yang biasanya membuat ia pusing dan menguras otak.
Lama waktu yang mereka habiskan tidak terasa, bahkan saat Alfiya sudah selesai mengerjakan tugas pun gadis itu masih betah bercerita pada Elvan. Biasanya Alfiya memang tidak banyak bicara pada orang dirumah, namun ketika bersama Elvan wanita itu bisa menceritakan banyak hal bahkan hal tidak penting sekali pun akan mengundang tawa.
Hingga beberapa saat kemudian.
"Ngantuk?" Tanya Elvan saat melihat Alfiya menguap untuk beberapa kalinya.
Alfiya menautkan alis dan mengangguk.
"Sudah malam, kamu harus tidur." Ujar Elvan kala gadis yang duduk disampingnya mulai terdiam dan tidak lagi bercerita seheboh sebelumnya. "Takutnya besok bangunnya kesiangan." Apalagi Elvan melihat Mata Alfiya sudah memerah dan gadis itu pun sudah menguap beberapa kali.
"Eh, iya mas." Sahut Alfiya. "Soalnya cerita sama mas Elvan asik si, jadi Fiya lupa waktu." Tambahnya lagi.
Menanggapi itu Elvan tersenyum. "Beneran langsung tidur ya. Nggak bagus anak sekolah tidurnya terlalu malam."
"Iya mas." Sahut gadis itu. "Mas juga jangan lupa mandi." Ucapnya sedikit meledek. "Bau tau."
Perkataan itu membuat tangan Elvan kembali terangkat untuk mengacak-acak puncak kepala Alfiya.
"Ih mas Elvan." Protes gadis itu karena rambutnya dibuat berantakan.
Menanggapi itu Elvan lantas terkekeh pelan. Sementara Alfiya mendekat berusaha membalas dengan cara yang sama yaitu mengacak-acak rambutnya.
Hingga beberapa saat kemudian, saat Elvan berjalan ke kamarnya, Alfiya melangkah dengan arah yang berlawanan. Hingga tiba pada dapur, saat itu gadis tersebut tercekat kaget saat melihat Anggita berdiri menatapnya dengan mata memerah sembab bahkan tatapan itu belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Mbak Gita kenapa?" Alfiya bertanya heran. "Mbak habis nangis."
Tak menjawab itu, Anggita yang memasang aura aneh kemudian berlalu dari hadapan sang adik tanpa sepatah kata pun.
"Mbak Gita kenapa si? " Gumam Alfiya setelah sangat kakak berlalu. Tentu saja perilaku tadi meninggalkan pertanyaan di kepalanya. Nyatanya ia masih polos dan lugu pada waktu itu.
...****...
Bersambung....
__ADS_1