
****
Keesokan harinya tibalah saat keberangkatan Alfiya menuju pulau indah tempat ia akan menghabiskan waktu bersama Elvan selama beberapa hari ke depan sesuai yang ia inginkan.
Dengan diantar oleh Rian, ia dan Elvan pun sampai di bandara yang jaraknya sekitar dua puluh menit dari rumah orang tuanya. Jadi, memang sebelum berangkat tadi, Alfiya dan Elvan mampir kerumah orang tua mereka terlebih dahulu, untuk membawa Anggian kesana. Tentu saja, hal itu dilakukan karena mereka benar-benar hanya akan berdua saja nantinya. Semua hal apa pun akan dilakukan berdua.
Setelah mengantar pasangan yang akan berbulan madu itu, Rian pun lantas pamit untuk segera pulang kepada kedua pasangan yang rencananya akan memadu kasih di pulau dewata nanti.
"Mas, titipi Gian." ujar Elvan pada sang adik sebelum Rian benar-benar meninggalkan tempat itu.
Rian lantas tersenyum. "Beres mas, asal nanti pas pulang dapet kabar bagus." Ia terkekeh konyol. "Ponakan baru lagi misalnya."
Elvan menanggapi itu dengan senyuman yang tersirat penuh arti. Sementara Alfiya hanya menaikkan kedua alisnya tidak begitu menanggapi maksud ucapan Rian, karena jujur saja Alfiya sudah terlalu senang saat ini.
"Mbak, sukses ya!" Rian menaikkan kedua jempolnya sembari mengedipkan mata.
"Gak usah sok ngerti deh kamu!" tuturnya dengan gaya asal membuat Rian terkekeh geli.
Lalu,
Akhirnya Alfiya dan Elvan pun bergegas menuju pesawat yang akan membawa mereka.
Alfiya dan Elvan sudah masuk ke dalam sebuah pesawat dengan jurusan jakarta - bali dengan kemungkinan waktu perjalanan lebih dari dua jam.
Keduanya tentunya duduk bersebelahan. Namun ada satu hal yang Alfiya herankan saat itu, sedari semalam Elvan lebih banyak diam dan enggan untuk menatapnya kala ia berbicara.
Hal tersebut tentunya membuat Alfiya merasa kebingungan. Bahkan ketika ia mengajak bercerita Elvan malah seperti terus mengabaikannya dengan alasan yang tidak ia mengerti.
Menatap Elvan yang berada disampingnya untuk sesaat Alfiya pun berusaha untuk mengajak mengobrol.
"Mas...." tanyanya pada Elvan yang sedari memasuki pesawat tadi malah sibuk membaca sebuah buku yang cukup tebal.
Alfiya menunggu respon untuk beberapa saat.
Tidak ada jawaban, dan itu membuat Alfiya sebal. Ia lalu menghela nafas jengah. Ada apa lagi sih? Dia benar-benar tidak mengerti jika di diamkan seperti ini.
"Mas, aku ada salah ya?" tegurnya lagi pada sang suami. "Mas dari semalam loh, mas begini. Apa gara-gara aku minta pakai baju renang semalam?" Rasanya Alfiya ingin tertawa jika mengingat itu.
__ADS_1
"Hem?" Ia menatap wajah Elvan dari samping dalam-dalam. "Kan mas udah larang, aku bakal nurut kok. Lagian aku kan cuman becanda." jelasnya lagi.
Lalu menggoyang bahu Elvan kuat. "Ih, mas...."
Elvan menoleh sejenak. Untuk menatap mata Alfiya yang membulat jernih. Sangat menggemaskan, namun ia seperti tidak ingin langsung terbuai. Lantas laki-laki itu berbalik lagi menatap bukunya, seperti kertas-kertas yang rapat itu lebih menarik dimatanya, daripada seorang gadis yang tengah berusaha tersenyum manis itu.
"Mas kenapa, jangan gini deh...."
Cih, gak ada perdulinya.... Alfiya menggeram dalam hati.
Namun, ia masih berusaha menatapnya, hidung mancung, bibir tipis, mata yang memakai kacamata, serta wajahnya yang tegas. Membuat Alfiya sedikit berlama-lama memandangi itu sekaligus sengaja mencari perhatian.
Untung ganteng,
Alfiya mengepal kedua tangannya semakin geram sekaligus kesal. Nyatanya lebih mudah membujuk Anggian dari pada orang aneh ini.
Tak kunjung diperdulikan oleh Elvan, Alfiya pun lagi-lagi menghela nafas jengah. Ia sebal, benar-benar sangat sebal. Kenapa sih laki-laki disebelahnya ini? Apa jangan-jangan Elvan sebenarnya terpaksa untuk pergi bersamanya?
Ck, Alfiya pun sengaja berdecak dengan keras agar Elvan mendengar dan nengerti kalau ia sedang keasal. Namun lagi seperti sengaja Elvan terus tidak memperdulikannya.
Bilang dong kalau ada salah, bukannya diam begini!
Gak asik! Gak ngerti apa maunya!
Huh, Alfiya mendengkus dengan rasa sakit yang menyudut di jantung.
"Percuma! percuma! Percuma pergi liburan kalau bakalan dianggurin begini." ocehnya menyindir.
Huh, menyesakkan, bilang begitu apa kesalahan yang dia perbuat. Jadi dirinya tidak perlu menerka-nerka kesalahannya seperti ini.
Memandang keluar dibalik kaca lebih menarik saat ini, memandang awan-awan putih yang seperti kapas, menatap keindahan alam dibawah sana lama sehingga menciptakan kesejukan, rasanya lebih baik untuk hatinya yang sedang panas.
Hingga mungkin karena kebosanan yang terus berlanjut Alfiya pun memutuskan untuk tidur. Iya, tidur lebih baik untuk sebuah perjalanannya terasa sangat tidak menyenangkan ini.
*****
Sekitar dua jam kemudian, Alfiya tegerak dengan mata yang mengerjap saat merasakan pesawat mulai landing. Mereka sudah sampai rupanya. Nyenyak juga ia tertidur. Matanya pun refleks menoleh kearah Elvan sejenak.
__ADS_1
Dan, lagi semenjak mereka turun dari pesawat dan tiba dihotel, laki-laki yang memang telah membuat hati Alfiya berdenyut-denyut dongkol tak menentu itu pun tak kunjung berubah. Wajahnya masih datar seolah memang tidak ada rasa dalam hidupnya.
"Mas...." Alfiya meraih lengan Elvan dan menggandengnya setelah mereka melakukan check-in hotel "Em?" memperhatikan raut wajah laki-laki itu. "Seneng kan, kita udah sampai disini?"
"Hmm...." Elvan menjawab singkat.
Owh, Alfiya memalingkan wajahnya. "Masih ada suaranya ternyata." cicitnya pelan.
Tinggal jawab saja apa susahnya. Alfiya jadi penasaran apa jangan-jangan dulu mendiang kakaknya juga mengalami hal yang sama seperti dirinya saat ini.
Mereka pun berjalan menuju lift untuk sampai ke kamar. Sembari seorang pegawai hotel membantu membawa salah satu koper milik mereka.
Sesampainya di kamar, pegawai hotel pun membukakan pintu. Lalu setelahnya pamit undur diri dari sana.
Memasuki kamar tersebut, gadis itu begitu senang kegirangan, ia lalu langsung berjalan dan mendudukan diri diatas atas ranjang, merasai empuknya kasur dengan sprei berwarna putih. Hidungnya pun menghirup wangi khas yang menenangkan juga sensual. Hm, memang cocok untuk pasangan yang sedang berbulan madu.
Kasurnua juga benar-benae empuk dan nyaman. Alfiya pun lantas menghempas tubuhnya. Kemudian gadia itu memiringkan diri, ia pandangi sosok yang baru saja meletakkan koper disudut lemari itu. Alfiya mencoba memperhatikan raut wajahnya dalam-dalam. Sampai kapan laki-laki itu akan begini, mempertahankan rasa gengsi untuk menatapnya.
Awas saja punya istri cantik dianggurin....
Lalu yang Alfiya pantau selanjutnya adalah, Elvan mendudukan diri diatas sofa sembari melepas sepatunya. Setelah melepas sepatu Elvan kemudian membuka satu kancing kemeja atasnya, lalu berdiri dari duduknya sembari membawa sepatu ke tempatnya.
Oke, baiklah, Alfiya mencoba menebak. Apa Elvan akan menghampiri dirinya yang tengah terbaring aduhai ini setelahnya?
Oh, tidak rupanya. Laki-laki itu malah membuka pintu dan melangkahkan kakinya keluar.
Ish, Alfiya bangkit dan duduk, ia benar-benar terabaikan, tidak diperdulikan dan tidak diperhatikan.
Apa sih yang terjadi dengan laki-laki yang gak bisa dimengerti apa maunya itu?
Sebal!
Kesal!
...----------------...
...Hai semoga suka, kemungkinan nanti malam up lagi😘...
__ADS_1
...Terimakasih banyak buat yang masih baca...
...Kasih vote, komen and like kalau suka ceritanya ya, Ges!...