
****
Wajah Alfiyah memerah padam, ujung dressnya mungkin sudah sangat kusut karena diremas kuat-kuat. Dadanya memanas naik turun tak menentu. Sementara laki-laki yang ada dihadapannya itu masih menyorotinya dengan kuat menuntut jawaban.
Ia tahan perasaannya yang membuncah, rasa berdenyut dihatinya atas keraguan Elvan tentang perasaan yang ia miliki.
Harusnya saat ini mereka bersenang-senang, bukan. Setidaknya makan berdua atau mengobrol di dalam kamar dari pada bersitegang seperti ini sekarang.
Apa-apaan, Alfiya mendengkus
Seingatnya mereka sudah terlalu sering membicarakan ini. Apa perlu terus-terusan dibahas, sementara dirinya sudah menyerahkan diri sepenuhnya kepada sosok yang jelas berstatus suaminya. Apa lagi yang kurang, hanya gara-gara sebuah panggilan telepon yang hanya beberapa detik itu, Elvan begini dan telah merusak moodnya, merusak suasana liburan mereka, membuat perasaannya tak karuan.
Gadis itu kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar berusaha menahan diri saat itu agar tidak ikut dikendalikan emosi.
"Ternyata mas masih belum memahami aku...." lirihnya kemudian dengan suara yang tiba-tiba bergetar menahan tangis. Matanya pun terasa perih, entahlah mungkin angin yang membuat begini.
"Mas maunya gimana?" jujur Alfiya sangat lelah bertanya seperti ini.
Elvan nampak terdiam sejenak, memang benar tidak ada yang bisa memahami apa maksudnya saat itu. Mungkin juga dirinya sendiri, tidak paham kenapa terus-terusan meluapkan amarah
Alfiya jengah, ia tidak suka keadaan ini. "Hah.... terserah mas kalau begitu." Ia pun memutar tubuhnya cepat.
Benci! Benci!
Sialan!
Tega sekali laki-laki itu memperlakukannya seperti ini. Dia juga lelah terus berusaha untuk mengerti dan memahami.
Bodoh,
Percuma Alfiya terus menahan perasaan untuknya, menahan diri untuk mengalah agar perdebatan mereka tidak terus berlanjut.
"Terserah kamu mas, terserah...." ia terus berteriak kencang sepanjang jalan. Ah, kenapa juga air matanya harus jatuh seperti ini. Kenapa dia harus menangis. Alfiya mengusap tetesan bening yang mengalir dipipi dengan punggung tangannya.
"Terserah apa mau kamu.... aku gak tau harus gimana lagi." Ia menghentak kuat kakinya saat memasuki memasuki hotel, mengabaikan beberapa orang yang memperhatikan. Menuju lift dan memencet tombol dengan cepat. Lalu membuka kamar dengan kunci yang ia bawa dengan gerakan cepat dan masuk kedalam.
Gadis itu menghidupkam lampu kamar, bergegas menuju koper miliknya. Ia membenahi pakaian dan barang miliknya yang sedikit berantakan, lalu kembali menutup koper tersebut dengan rapat.
Pulang saja!
Dia akan pulang malam ini juga! Biarkan laki-laki itu, biarkan dia dengan segala hal dalam dirinya yang tidak Alfiya mengerti. Biarkan dia semaunya sendiri. Untuk apa dia disini kalau hanya menjadi pelampiasan amarah.
Setelah selesai memasukan barang-barang, Alfiya mencoba mengangkat koper. Namun berat, tubuhnya yang sudah bergetar kesusahan untuk mengangkatnya. Demikian, Alfiya tidak perduli dan terus mengangkat koper itu menuju pintu keluar, hingga kemudian tiba-tiba Elvan memasuki kamar.
Mereka saling menatap untuk beberapa saat, saling menerka.
Namun tidak, Alfiya sadar. Jangan berusaha untuk memahami laki-laki itu lagi, lantas ia pun segera menggeret koper. Hingga hampir di ambang pintu, Elvan seketika menutup pintu kamar itu kembali dengan rapat.
Alfiya tercengang, langkahnya terhenti, seketika ia lemas dan terduduk dibalik koper besar itu. Ia seketika menunduk pelan, keningnya menyentuh koper.
Alfiya ingin berteriak, sangat ingin.
__ADS_1
Apa maunya? Apa?
Sekilas ia dapat melihat bayang itu mendekat dari balik lantai. Membuat Alfiya seketika mendongak kemudian memundurkan tubuhnya.
"Mau apa?" Gadis itu terus berjalan mundur ke belakang. "Jangan dekati aku." tatapnya gamang. "Aku mau pulang aja, tolong...." ujarnya memelas.
Elvan mengehentikan langkahnya sejenak, termangu dengan tatapan bersalah.
"Aku mau pulang ke rumah ibuk dan bapak, aku disini, aku gak mau bersama orang yang gak mengerti apa maunya. "Mata Alfiya memerah, sekarang ia menatap laki-laki itu dengan pandangan berbeda. Seolah benar-benar menolak keberadaannya.
"Aku gak perduli lagi mas mau apa." tambahnya lagi. "Aku mau pulang, aku mau ketemu ibuk."
"Aku takut sama mas Elvan...." seketika perasaan mengganjal dihati Alfiya sedikit menghilang, karena telah meluapkan apa yang ia rasa. "Aku gak mau, aku gak suka mas Elvan yang terus marah sama aku...."
Elvan masih terdiam seperti masih ngotot dengan egonya.
Melihat tatapan itu Alfiya menggeleng pelan menolaknya. Sementara Elvan terus berjalan mendekati.
"Mas!" Ia semakin ketakutan lantas berdiri dari duduk. Kemudian bergerak terus mundur kebelakang seiring dengan Elvan yang melangkah kearahnya.
Alfiya benar-benar tidak bisa berkutik, langkahnya terhenti saat tubuhnya terbentur dinding. Nafasnya tersendat ia tersengal. Apa yang akan dilakukan Elvan setelah ini? Membentaknya lagi atau menyakiti secara fisik, mungkin. Tiba-tiba saja ia jadi berpikiran buruk.
Ia jadi over thinking, apa jangan-jangan menyakiti hatinya menjadi hobi baru bagi Elvan dan membuatnya memiliki kepuasan tersendiri.
Kalau benar begitu, Gila!
"Mas Elvan...." Gadis itu menciut. Dirinya perempuan, kalau diapa-apa kan tentu tidak bisa melawan. "Izinin aku pulang.... tolong." matanya terus berkaca dengan suara hampir menghilang.
"Mas yang bikin aku begini...."
"Lebih baik aku menghindar, aku mau pulang.... percuma kalau melihat aku hanya menyulut amarah kamu mas."
Wajah Elvan semakin menurun terlihat ada kecemasan disana.
"Aku benci kamu yang begini.... kamu udah nyakitin perasaan aku."
Elvan masih bungkam.
"Mas?" tatapnya penuh tanya. "Mungkin, kita gak usah ketemu dulu untuk beberapa saat."
"Izinin aku pulang, aku akan pesan tiket. Malam ini aku akan melakukan penerbangan ke jakarta. Kamu bisa habisin waktu disini. Sementara aku pergi."
Elvan seketika menggeleng pelan. "Jangan...." ia nampak tersengal.
"Terus mas maunya apa?" Huh, Alfiya rasa hatiya benar-benar tangguh masih bisa menanyakan itu saat ini.
Elvan tidak lantas menjawab. Kedua tangannya lalu meraih kedua tangan Alfiya dan menarik kepinggangnya hingga gadis itu menubruk tubuhnya dengan sempurna.
Elvan kemudian mempelkan kedua telapak tangannya di pipi Alfiya. "Jangan pulang...."
"Em...." Alfiya berde-em pelan menanggapi. Kepalanya yang mendongak sempurna membuat ia dapat dengan jelas melihat gurat-guratan wajah yang tadi sangat ia takutkan itu kini berubah sendu.
__ADS_1
"Fi...." Elvan nampak menelan ludahnya kaku.
Sementar Alfiya nampak masih menunggu.
"Fi, mas butuh kamu...." Ia tersengal. "Mas hanya takut. Bagaimana kalau perasaan kamu hanya sementara?"
"Em...." Alfiya memilih diam. Ia sudah kehabisan jawaban.
Kenapa harus ditanyakan lagi. Gadis itu bersamanya saat ini. Elvan bahkan bisa melakukan apa pun sekarang. Apa yang harus di takutan. Alfiya ada disana bersamanya.
Melihat Alfiya yang lebih memilih diam sekarang, Elvan lantas tak banyak berpikir lagi. Dengan cepat ia membungkam bibir ranum itu. Melum*tnya perlahan-lahan hingga semakin memaksa.
Alfiya yang sepertinya paham segera membuka mulutnya. Membiarkan Elvan memasukkan lidahnya dalam-dalam di rongga mulutnya. Gadis itu juga membalas dengan sama gilanya.
Jadi begini!?
Mereka harus berdebat dulu hingga bisa seperti sekarang.
Keterlaluan!
Keterlaluan kalau mereka hanya seperti ini.
Dengan cepat, Alfiya kemudian menaikkan kedua tangannya lantas mengaitkan dileher Elvan dengan sangat erat. Semakin erat hingga kemudian laki-laki itu mengangkat tubuhnya dengan kaki yang berhasil melingkar kuat dan sempurna di pinggangnya.
Keduanya saling menatap dengan mata berkabut setelah pagutan mereka terlepas sejenak untuk mengatur nafas yang memang sudah tidak berarturan.
Jantung keduanya berdegub kencang dengan darah yang mengalir cepat.
Tak lama, Elvan kembali mendekatkan wajah mereka. Melakukan kegiatan menguras kalori itu kembali dengan penuh gairah. Sementara ia dapat merasakan tangan Alfiya sedikit menarik rambut dan menekan kepalanya untuk memperdalam penyatuan lisan mereka.
Elvan membawa Alfiya ke ranjang dengan duduk miring dipangkuanya tanpa melepas ciuman mereka. Tanganya bergriliya, meraba-raba dibawah sana. Menyingkap kain tipis itu lalu menyusupkan tangannya untuk menyentuh sesuatu yang sudah basah.
Dan, disaat Elvan hampir menarik untuk melepas kain itu. Alfiya seketika menghentikannya.
"Aku mau mandi dulu...." Walau ia paham Elvan sudah dikuasai gairah dan tidak bisa menahannya lagi. "Ini pertama buat aku, aku butuh persiapan mas-." Gadis itu mengigit bibir dengan rona malu.
Elvan tersenyum, ia suka jika Alfiya sudah terlihat malu-malu begitu. Dia sangat suka mendominasi gadisnya. "Iya, mas tunggu...." ujarnya setelah memberikan kecupan dibibir itu sekilas dan mengisap pipinya pelan
Dan, Alfiya pun mengangguk dengan cepat.
*
*
*
*
...🤪🤪🤪🤪...
...Like, Vote, Komen ges?...
__ADS_1