DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Season 2 [Tidak Ingin Ditemui]


__ADS_3

*


*


*


*


Elvan mendatangi rumah sakit dengan tergesa-gesa. Jantungnya berdegup-degup kencang karena perasaan cemas dan khawatir. Bagaimana mana tidak, disaat ia tengah sibuk rapat bersama investor perusahaan ponselnya miliknya tak henti-henti bergetar.


Kejadian ini membuat dirinya mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Dimana hari itu ia kehilangan Anggita.


Ia berlari kencang melewati lorong-lorong rumah sakit. Keringat dingin bahkan mengucur deras.


Elvan menghentikan langkah terengah-engah saat sudah mendekati ruang tempat Alfiya dirawat sesuai pesan Jenny.


Ada sosok dua orang yang cukup Elvan kenal tengah menunggu di depan ruangan. Begitu banyak pertanyaan dikepalanya saat ini, yaitu mereka yang membawa Alfiya kerumah sakit.


Kedua kaki Elvan pun kembali melangkah untuk sampai pada ruangan. Disaat itu juga ia melihat tatapan mata Jenny menyambut kedatangannya, kecuali untuk satu orang yang tengah memalingkan wajah darinya duduk pada bangku tunggu.


"El." Tutur Jenny dengan wajah cemas saat Elvan sudah menghampiri.


Elvan masih terdiam dengan sorot mata menaruh banyak pertanyaan saat berhadapan dengan Jenny.


"Syukurlah kamu sudah sampai." Dibalik ucapannya nampak Jenny seperti menaruh ketakutan.


Hingga tak berapa lama pintu ruangan pun terbuka bersamaan dengan seorang dokter wanita yang keluar setelahnya.


"Bisa saya berbicara dengan wali pasien?" Tutur dokter dengan rambut sebahu itu.


"Saya suaminya." Ujar Elvan takut-takut. Ia sangat takut dengan berita yang akan ia dengar setelah ini.


"Bapak bisa ikut saya sebentar. Ada yang perlu saya jelaskan." Ujar dokter itu kembali.


"Baik."


Elvan kemudian mengikuti langkah dokter tersebut menuju ruangan pribadinya. Hatinya cemas tak menentu.


Sampai pada ruangan dokter pun mempersilahkan Elvan untuk duduk.


"Sudah berapa lama menikah?" Tanya dokter itu kemudian.


"Kurang lebih empat bulan." Jawab Elvan.


"Istri bapak mengalami keguguran karena kondisi fisiknya yang lemah. Ditambah lagi setelah diperiksa ternyata pasien kekurangan nutrisi selama masa kehamilan."


Elvan tercengang. Alfiya kekurangan nutrisi? Bagaimana bisa?


"Saya sejujurnya baru tahu kalau istri saya hamil dok." Namun, Elvan sebenarnya menyadari kalau ada keanehan pada Alfiya beberapa hari ini.


"Saya memaklumi itu, ini kehamilan yang pertama bagi pasien jadi bisa jadi dia tidak menyadarinya." Satu lagi sepertinya dokter tersebut memahami sesuatu yang lain.


"Selain itu dalam pemeriksaan tadi saya bisa menyimpulkan kalau beberapa waktu belakang ini istri anda kurang istirahat dan juga kurang tidur." Jelasnya. "Sehingga ia jadi gampang lelah, mudah lupa akan sesuatu dan efeknya menjadi buruk pada kesehatan serta kehamilannya."

__ADS_1


Evan terdiam. Dirinya memang melihat keanehan pada Alfiya tapi, kenapa Alfiya bisa sampai kurang tidur. Yang ia ingat istrinya itu selalu terbaring disampingnya saat sebelum tidur bahkan saat ia terbangun di pagi hari.


"Mohon maaf, apa ada masalah dengan rumah tangga bapak?" Tanya dokter itu kembali.


Gelengan pelan kembali Elvan berikan. Setiap pertanyaan dokter tersebut tentu saja membuat Elvan heran.


"Lalu apa ibu Alfiya punya riwayat stres berat atau semacamnya?"


"Tidak." sahut Elvan. "Setahu saya istri saya tidak pernah memiliki penyakit seperti itu." Iya Elvan sangat tahu kalau Alfiya jarang sekali terkena penyakit apa pun apalagi sampai stres berat sekali pun.


Dokter kandungan bernama Revina itu nampak terdiam sembari berpikir memperhatikan Elvan.


Hingga tak berapa lama seorang bidan pun memasuki ruangan. Berjalan melangkah mendekati dokter.


"Ada apa?" Tanya dokter Revina saat bidan tersebut sudah berdiri di dekatnya.


"Pasien sudah siuman."


Mendengar penjelasan bidan tersebut, Elvan yang terus dilanda kecemasan seketika menjadi lega.


"Baik, bagaimana keadaannya sekarang?" Karena dokter Revina tau, jika bisa sudah menghampirinya pasti ada sesuatu yang penting.


"Pasien sudah mulai mau berbicara. Dan dia sekarang ingin berbicara dengan dokter."


Mendengar hal tersebut, dokter Revina pun paham. "Saya akan kesana sekarang." Lalu melihat kearah Elvan yang sepertinya sudah tidak sabar lagi untuk menemui Alfiya. "Bapak silahkan, kita akan melihat keadaan ibu Alfiya."


Elvan pun hanya mangut menyetujui. Ia lantas berdiri, bergegas mengikuti dokter dan bidan dari belakang. Ia ingin segera memberikan perhatian pada wanita yang telah menjadi istrinya itu. Menanyai kabarnya bahkan apa yang dirasakan wanita tersebut sekarang.


Dalam pikiran Elvan mungkin saja Alfiya merasa amat terpukul karena telah kehilangan calon anak mereka dan ia ingin berusaha untuk menenangkan serta meminta maaf atas kelalaiannya selama ini.


Elvan akhirnya berdiri di depan ruangan, namun akhirnya ia menyadari sesuatu masih ada orang lain disana. Hal itu membuat Elvan akhirnya teringat kembali untuk menanyakan, kenapa Alfiya bisa dibawa kerumah sakit oleh Jenny dan adiknya itu.


Jenny yang duduk pada kursi tunggu bersama Joe yang terus memasang wajah kaku, lantas berdiri dan berjalan mendekati Elvan.


Elvan menegang karena Joe masih berada disana. Nampaknya ia mulai paham kalau sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan.


"El." Tutur Jenny saat berdiri berhadapan dengan Elvan.


Mata Elvan menatap tanpa berkedip Jenny yang ada dihadapan. "Apa yang terjadi sampai kalian bisa membawa Alfiya kerumah sakit. Kenapa kalian yang membawanya kesini."


Jenny terdiam untuk sesaat. Sementara itu telinga Joe yang menangkap percakapan tersebut mulai membuatnya menegang.


Tarikan nafas sejenak, dan Jenny mulai berbicara. "Alfiya tadi menemui Joe."


Elvan termangu dalam diamnya dengan mata menusuk, jelas ada kemarahan disana.


"Aku yang memintanya." Jelas Jenny lagi. "Aku memohon pada Alfiya untuk menemui Joe sekitar dua minggu yang lalu."


Elvan masih terdiam, namun dadanya mulai naik turun terasa panas.


"Setiap hari dia datang kerumah sakit untuk merawat Joe." Melihat mata Elvan yang mulai memerah dan berkaca-kaca Jenny merasa sangat bersalah. "Aku melakukan itu karena saat itu keadaan Joe sedang buruk, aku gak tega melihat Joe terus terusan terpukul. Cuma Alfiya yang bisa membuatya lebih baik."


Melebarkan kelopak matanya, Elvan lalu berjalan semakin mendekat pada Jenny. Tak ada kalimat yang keluar dari mulutnya karena saat itu yang ada hanya adalah emosi yang tertahan.

__ADS_1


Tapi karena tak tahan lagi, Elvan lantas menarik kerah baju Jenny hingga wanita itu terangkat dengan kaki berjinjit.


"El...." Tutur Jenny ketakutan. "Aku minta maaf, aku gak punya pilihan." Kedua tangannya berusaha melepas cengkraman Elvan.


Mata Elvan semakin memerah, tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya saat itu. Hancur, iya laki-laki itu merasa sangat hancur.


Hingga kemudian Elvan pun tersentak kaget saat di dorong kuat hingga genggamnya pada kerah baju Jenny pun terlepas.


"Jangan sakiti mbak Jenny." Tutur Jenny dengan tatapan seperti menantang Elvan. "Setelah merebut Alfiya lalu kamu ingin menyakiti kakak saya." Senyum merendahkan pun Joe berikan.


"Alfiya istri saya sekarang." Tutur Elvan. "Dia milik saya. Kamu tidak tahu malu meminta istri seseorang untuk menemui kamu setiap hari."


Joe kembali menyunggingkan senyum dengan sinis. "Oh iya, tapi Alfiya sendiri yang secara sukarela mau mendatangi saya setiap hari." Ujarnya bangga seolah itu adalah suatu kemenangan. "Itu artinya dia perduli pada saya bahkan masih sangat mencintai saya."


Kepala kuat tangan Elvan sudah tidak bisa lagi ia tahan, maka dengan cepat ia ayunkan kepalan tangan itu kearah Joe.


Panas dan sakit Joe rasakan seketika, wajahnya yang sontak tertoleh kesamping karena pukulan keras itu ia arahkan lagi kearah Elvan. Salah satu tangan Joe merasai pipinya sejenak, masih berdiri di depan Elvan seolah tidak terjadi apa-apa Joe tersenyum dan tertawa tipis mengejek.


"Saran saya anda harus sadar, Alfiya masih memiliki masa lalu bersama saya yang belum terselesaikan." Ujar Joe yang membuat Elvan semakin meradang. "Kami masih saling mencintai."


Elvan sontak mengangkat kedua tangannya untuk mencengkram kerah baju Joe, namun tiba-tiba Jenny sudah menarik kuat lengan adiknya itu hingga berhasil menjauh dari Elvan.


"Sudah Joe." Jenny berusaha memisahkan. "Lebih baik kita pulang sekarang."


Joe menoleh kearah Jenny. "Mbak!" protesnya.


"Joe sudah." Wajah Jenny memerah. "Mbak mohon, kita pulang sekarang. Ini rumah sakit."


Namun Joe seperti masih belum puas. Ia lalu kembali menatap Elvan, dengan sirat mata seolah masalah ini belum selesai. "Alfiya masih mencintai aku."


"Joe!!" Teriak Jenny akhirnya. "Kamu bikin mbak malu." Bahkan ia sudah menitikkan air mata. "Mbak mohon ayo kita pulang sekarang."


Joe pun akhirnya berusaha mengendalikan diri. Melangkah pulang dengan digandeng paksa oleh Jenny.


Tak berapa lama dokter Revina pun keluar dari ruangan dan langsung melihat kearah Elvan yang masih diselimuti rasa emosi.


"Bapak Elvan."


Panggilan tersebut membuat Elvan langsung menoleh. "Dokter boleh saya menemui istri saya sekarang?" Tanya Elvan seketika antusias..


Dokter Revina sejenak memandang Elvan penuh arti. Hingga kemudian ia pun mulai menjelaskan. "Istri anda tidak ingin ditemui oleh siapa pun." Jelas sang dokter.


Elvan membelalak bingung. "Kenapa? Saya ingin menemuinya dokter."


"Mohon maaf pak. Istri anda bilang dia benar-benar sedang tidak ingin ditemui, baik oleh keluarga, kerabat atau siapapun yang mengenalnya kecuali para tim medis."


"Kenapa?" Tekan Elvan. "Apa masalahnya."


"Belum diketahui apa masalahnya. Istri anda enggan memberikan tahu apa alasannya. Ibu Alfiya benar-benar memohon sambil menangis agar kami tidak mengizinkan siapa pun untuk datang menemuinya." Jelas dokter Revina.


"Tapi saya suaminya." Elvan mulai frustasi.


"Saya mengerti." Jelas sang dokter. "Tapi demi kebaikan pasien, lebih baik untuk saat ini bapak beri istri anda waktu, sampai nanti ia siap untuk ditemui."

__ADS_1


Astaga, kenapa? Elvan benar-benar tidak mengerti. Ada apa dengan Alfiya? Ada apa ini Tuhan?


...****...


__ADS_2