DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Kenapa Kamu Mencintaiku?


__ADS_3

****


Dari pada terus merasa dongkol dan bosan sendirian dikamar. Alfiya pun berniat keluar, ia juga ingin melihat keindahan alam. Sekarang matahari sedang menguning dan dia akan menikmati keindahannya dibibir pantai.


Sendiri, dan tanpa Elvan, mungkin. Biarkan laki-laki itu melakukan apa yang ia mau, ia tidak akan perduli. Toh dia juga bisa membahagiakan diri sendiri.


Namun sebelum itu, Alfiya membuka koper miliknya. Memilah-milah baju yang ada dalam kotak besar itu. Sebuah dress cantik berwarna kalem pun ia keluarkan.


Alfiya mematut dirinya dicermin setelah mengenakan dressnya. Baju sejari itu sangat tipis dan minim. Bagian roknya pun terangkat jauh diatas lutut sehingga memperlihatkan pahanya yang mulus. Masih wajar dipakai saat dipantai.


Ia ingat Elvan tidak suka jika dia berpakaian yang terlalu seksi. Tapi, menurutnya ini masih masuk di akal. Dia tidak sedang memakai bikini, loh.


Mengambil sling bag dan memasukan ponsel disana. Lali memakai sendal santai berwarna hitam yang kontras dengan kulit kakinya yang putih mulus, Alfiya pun melangkah keluar dari kamar.


Lihat saja dia bisa bersenang-senang sendiri.


Beberapa saat kemudian....


Benar!


Pemandangan pantai begitu indah disenja itu. Angin semilir yang menerpa dengan lembut, diiringi dengan deru ombak yang terombang-ambing, juga pasir yang terhampar begitu luas membuat Alfiya berkaca-kaca menatapnya. Indah sekali, rasanya ia ingin menangis kagum.


Gadis itu terus melangkahkan kakinya hingga benar-benar dibibir pantai.


Tak apalah ia diacuhkan, asal semua ini bisa ia nikmati.


Alfiya melepas sendalnya, ia ingin merasai telapak kakinya menyetuh pasir halus sembari air pantai menyentuh kulitnya.


Mata Alfiya terpejam, seandainya ia bisa menikmati ini bersama seseorang. Tapi sayang, seseorang ia mungkin sedang ada pergulatan batin dengan dirinya sendiri sehingga melupakan apa tujuannya datang bersama dirinya kesini.


Uh, Alfiya mendadak tidak bersemangat.


Sedih!


Elvan memang menyebalkan, teganya melakukan hal ini pada dirinya. Nyatanya Alfiya tidak bisa untuk tak memikirkan perilaku yang mendadak aneh laki-laki tersebut


Sangat ingin berteriak, tapi disana sedang banyak orang. Nanti dirinya malah disangka tidak waras.


Siapakah yang bisa merasakan rasa sesak dihatinya saat ini?


****


Hari semakin gelap, Elvan yang entah dari mana tadi dia berada telah kembali memasuki hotel saat itu. Saat dikamar ia edarkan padangan keseluruh ruangan tersebut, mencari sosok yang ia sengaja tinggalkan tadi.


Dimana Alfiya? Gadis itu pergi kemana? Sejak kapan ia pergi?


Elvan lantas memeriksa ke dalam kamar mandi.


Tidak ada juga!


Ia panik, tentu iya. Dirinya sangat panik saat itu. Hatinya gamang pikirannya kalut. Dirinya tidak menyangka kalau sudah keterlaluan rupanya pada Alfiya.


Ini gara-gara si sialan itu!


" Argghh...."

__ADS_1


Benar-benar sial!


Elvan mengepal tangannya dengan kuat. Tapi, tunggu! Laki-laki itu berusaha untuk mengatur nafasnya. Dia harus menguasai diri. Siapa tahu Alfiya sedang keluar sebentar dan berada disekitar sini.


Laki-laki itu pun kemudian berniat untuk mencari. Mungkin Alfiya hanya pergi di sekitaran hotel.


Elvan bergegas mencari, ia keluar dari gedung hotel. Bertanya pada setiap orang dengan cemas serta memperhatikan orang-orang yang ia lihat.


Tak kunjung menemukan, laki-laki itu menghentikan langkahnya sejenak dengan nafas tersengal. Lantas merogoh ponsel disakunya. Sebuah nomor pun ia cari. Lalu segera menghubungi, berharap kabar akan seseorang disana sembari menjenggut rambutnya kasar.


Elvan sedikit lega tak kala nomor ponsel tersebut aktif.


Ayo angkat!


Elvan semakin cemas kala nomor tersebut tidak ada jawaban. Akhirnya sembari masi menghubungi, Elvan terus melangkah dan mencari sosok wanita yang telah membuat hatinya gelisah itu.


"Angkat, Fi...." Elvan tersengal, dengan bayangan masa lalu yang menghampiri.


Hingga akhirnya disebuah tepi pantai yang sudah sangat sepi dan hanya diterangi oleh cahaya bulan yang benderang, ia menemukan sosok tengah duduk dibawah pohon kelapa. Pandangannya lurus kedepan, dengan tangan yang tengah melingkar memeluk lutut.


Elvan terenyuh sejenak oleh pemandangan itu. Namun, sektika ia sadar, dengan cepat kakinya pun melangkah. Sangat cepat hingga kemudian....


"Ayo balik ke hotel!" ia berhasil menggapai tangan Alfiya secepat itu juga.


Gadis itu awalnya sedikit tersentak. Namun, seperti tidak medengar Alfiya enggan mengalihkan perhatiannya pada orang yang sedang tersulut emosi tersebut.


"Alfiya!!" Sentak Elvan karena merasa diabaikan.


Alfiya terlihat tetap bergeming. Gadis itu masij berusaha mengeraskan hatinya.


Mendengar sentakkan itu dengan cepat Alfiya berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari Elvan. Namun, laki-laki itu sepertinya lebih kuat. Alfiya tidak bisa melepaskan diri, tapi ia tetap meronta ingin melepas tangannya dengan tangan satunya lagi masih posisi duduk tanpa melirik Elvan sedikit pun.


"Aw...." Alfiya mengaduh. Pergelanhan tanganya sakit, ia memejamkan mata untuk menahannya.


Lantas terdengar geraman dari Elvan. "Alfiya, kamu dengarin mas!" Dengan segera ia menurunkan tangannya, menyentuh kedua bahu Alfiya sedikit mengangkat untuk membuatnya berdiri.


"Ih...." Alfiya menepis kedua tangan Elvan karena kesal. "Masih perduli?!" tanyanya tegang, lalu menatap Elvan dengan sorot matanya seperti menantang.


Elvan sedikit tersentak. "Alfiya...." Elvan menegang tidak menyangka. "Kamu benar-benar...."


Alfiya tak bisa menatap lama, kembali memalingkan wajahnya. Bergegas memasukan ponselnya kedalam sling bag Alfiya pun berdiri.


"Kamu sengaja gak angkat telpon mas?" Elvan semakin menggeertak, nyatanya saat itu ia melihat Alfiya membawa ponsel yang artinya gadis itu tahu dia menghubunginya tadi bukan.


Alfiya tetap diam sengaja mengacuhkan sembari membersihkan pasir yang menempel dipakaiannya.


"Siapa yang suruh kamu pakai baju begini?" ujar Elvan memelototi dress diatas lutut itu.


Gadis itu masih bungkam sembari dengajn tangan menyapu pasir-pasir yang menempel pada bagian kulit tubuhnya yang terbuka.


"Mas udah bilang kan, kalu mas gak suka." tekan Elvan.


Kembali, Alfiya acuh. Telinganya mungkin mendengar namun perasaannya tengah berusaha ia tutup saat itu. Tubuhnya kemudian melengos, melewati Elvan begitu saja.


Elvan memutar tubuhnya. "Kamu dengar mas gak!"

__ADS_1


Sang gadis tetap melangkah, terlihat angin membuat dress yang ia pakai sedikit terangkat. Dan ia membiarkan itu, lagaknya gadis itu memang sengaja membuat Elvan meradang.


"Alfiya!!" Nyatanya teriakan dari Elvan masih tidak ia gubris, membuat laki-laki itu kemudian mengejarnya.


Seketika Alfiya dapat merasakan langkah kaki yang semakin mendekat, ia mempercepat langkahnya, sengaja menghindar. Jangan harap ia mau diajak berdebat lagi saat ini.


"Berhenti kamu...." Nafas Elvan tersengal, ia berhasil berdiri didepan Alfiya. Ia lihat gadis itu kembali membuang muka. Elvan kemudian berusaha menguasai diri. Ia paham dirinya yang jadi penyebabnya.


Lalu yang selanjutnya Elvan lakukan adalah meraih pergelangan tangan gadis itu dan berusaha menariknya pergi.


"Gak usah sok perduli!" Alfiya menepis tangan itu kembali, kini matanya mulai berkaca-kaca. "Aku bener-bener gak ngerti mas maunya apa...."


Elvan tertegun.


"Mas terlalu mementingkan ego!" Alfiya lalu mengigit bibirnya menahan seperti tangis. "Kenapa mas acuh sama aku dari semalam?" Alfiya sebenarnya jengah untuk selalu bertanya. Namun, kalau tidak begini permasalahan tak akan terselesaikan.


Elvan masih bungkam dengan tatapan mata yang sulit diartikan.


Alfiya mengangkat ponselnya. "Apa karena ini?" Menunjukan riwayat panggilan masuk dari ponsel itu dengan waktu tidak sampai satu menit.


Wajah Elvan menegang, mungkin karena nama yang tertera diponsel itu


"Mas...." Alfiya menekan ucapannya. "Harus berapa kali aku bilang, kasih aku waktu."


Lalu suara datar itu kembali keluar. "Sampai kapan?"


Pertanyaan yang sama, Alfiya benar-benar jengah menjawabnya.


"Apa sampai mas sakit hati karena terus merasa di permainkan?" Elvan berkata pelan namun mampu membuat hati Alfiya berdenyut.


Ya Tuhan, Alfiya tidak tahu harus bagaimana lagi. "Harus berapa kali mas bilang itu?"


"Alfiya tolong.... jelaskan kenapa kamu akhirnya mau menerima mas sebagai suami kamu. Padahal awalnya kamu dengan keras menolak. Awalnya mas bisa menerima saat kamu menyatakan cinta. Tapi, mendengar suara laki-laki itu semalam membuat mas ragu...."


"Dia masih pacar kamu Alfiya.... dia bahkan masih panggil kamu dengan sebutan sayang...." Elvan lalu tertawa sinis. "My Joeshua...." memalingkan wajah sejenak setelahnya. "Kamu masih menamai nomornya dengan sebutan itu...." mata Elvan benar-benar membulat tajam. Membuat siapa saja yang melihatnya tak bisa berkutik.


"Apa salah kalau akhirnya mas merasa dipermainkan?"


Alfiya benar-benar terhenyak sedalam-dalamnya.


"Sekarang jawab, bagaimana mas bisa yakin kalau kamu benar-benar memiliki rasa untuk mas, Alfiya...."


Alfiya meremas erat ujung dressnya tegang dengan menahan sesak dihatinya. Sementara Elvan terus mengunci tatapan matanya.


"Kenapa kamu mencintai mas, Alfiya...."


...----------------...


...Idenya mentok, Ges! Besok laginya. Sekarang mau bikin tugas dulu😘...


...Happy Reading!...


...Vote, Like Komen kalau suka....


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2