DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Memberitahu Publik Tentang Pernikahan


__ADS_3

****


Sore hari itu, Alfiya baru saja selesai menemui dosen pembimbing dari ruangan dosen. Dia baru saja berkonsultasi tentang tugas akhir kuliahnya. Tadi gadis itu sedikit menggerutu, karena dosennya tersebut sangat sulit untuk ditemui. Memang benar kata senior-seniornya terdahulu. Menemui dosen pembimbing di akhir semester itu sabarnya harus ekstra kuat.


Nyatanya menjadi seorang sarjana diperlukan perjuangan yang tidak ada habisnya. Huh, dia jadi tidak sabar ingin segera wisuda.


Setelah mengucapkan salam sebelum keluar dari ruangan itu kepada sang dosen, Alfiya pun berlalu dari ruangan itu.


Tak berapa lama, ponselnya menerima sebuah pesan masuk.


Mas Elvan!


Elvan : Fi, pulangnya mas jemput ya.


Alfiya tertegun sejenak membaca pesan tersebut.


Tumben, mau jemput!


Tapi, tentu saja pesan itu membuat Alfiya berdecak sangat senang. Tak perlu banyak berpikir, maka ia pun langsung membalas pesan.


Alfiya : Iya mas, aku tunggu ya.


Ia menghela nafas sejenak, entah kenapa rasanya semakin hari Elvan selalu memberikan sesuatu pada perasaannya. Ia sudah menyatakan cinta, tapi perasaan yang ia rasakan lebih dari itu.


Alfiya merasakan denyut jantungnya sejenak, sebelum akhirnya ia beranjak.


Gadis itu akhirnya menunggu di halte kampus. Ia mengedarkan pandangannya sembari menanti. Hingga kemudian sebuah mobil mercy berwarna putih mendekat kearahnya.


Tak butuh waktu lama Alfiya pun langsung beranjak. Sebuah senyuman sumringah ia sunggingkan diwajahnya. Hingga kemudian mobil tersebut berhenti tepat didekatnya. Pintu pun mobil terbuka, Alfiya melangkahkan kaki kemudian memasukinya.


"Mas...." Begitulah ia menyapa sang pengemudi mobil setelah pintu terkunci rapat.


Elvan mebalas senyuman yang Alfiya lemparkan padanya, lantas mengelus pipi gadis itu pelan.


Alfiya memegang telapak tangan Elvan yang menyentuh wajahnya. "Mas kangen aku gak?"


Elvan mengernyit. "Kangen? Perasaan pagi tadi kita masih ketemu...."


Alfiya berde-em pelan. "Berarti cuma aku yang ngerasa...." tutur Alfiya kemudian meraih tangan Elvan dari pipinya dan memainkan jari-jari laki-laki itu sembari memanyunkan bibir mungilnya.


Elvan termangu. Jika awalnya ia menganggap perasaan Alfiya biasa saja. Namun kali ini rasanya ia tidak bisa menganggap ini terlalu santai. Mengingat Alfiya mempunyai seseorang yang masih menganggapnya sebagai seorang kekasih, sepertinya Elvan memang harus bertindak. Ia tidak bisa menunggu Alfiya untuk mengambil sikap atas anak itu.


Siapa lagi kalau bukan Joe, rasanya Elvan harus melakukan hal lain untuk membuat Alfiya tidak ragu lagi melepaskan Joe dengan caranya sendiri.


Elvan menatap Alfiya semakin dekat. "Mas juga kangen kamu." Lalu sebuah kecupan ia daratkan di kening Alfiya.


"Mas beneran kangen, atau cuma gak enak aja nih...." Alfiya bersungut.


Elvan menyunggingkan senyum, ia lantas tidak langsung menjawab ucapan tersebut.

__ADS_1


"Ah, mas Elvan orangnya gak romantis." mencebikan bibirnya.


Elvan terkekeh, lantas memandang tingkah Alfiya sejenak. "Memang romantis itu gimana?"


"Ya, romantis mas. Joe aja tiap hari bisa romantis sama aku." Ujarnya sengaja.


Elvan tersentak, namun ia tidak lantas emosi. Ia malah mencoba menelaah maksud ucapan tersebut. Benarkan, sepertinya ia memang perlu melakukan tindakan lain untuk membuat Alfiya berpisah dari anak itu. Hati orang siapa yang tahu, ini saja Alfiya sudah membandingkan dirinya dengan laki-laki tersebut.


Elvan lalu menarik dagu Alfiya untuk menghadapnya. "Memang Joe tiap hari gimana sama kamu?" mengelus-elus dagu Alfiya dengan jempolnya sembari menahan perasaan. "Em?" sedikit menggeram.


"Ya, pokonya bedalah dari mas. Dia masih muda, kita seumuran dan...."


Elvan lantas menyambar cepat. "Kamu juga berbeda dengan Anggita...."


Alfiya pun mengerjapkan matanya perlahan oleh ucapan itu.


"Anggita itu, wanita yang anggun, lembut dan pemalu." Elvan lantas menyunggingkan senyumnya. "Dia mana berani meminta jatah malam pertama lebih dulu sebelum mas yang mulai, awal-awal menikah dia juga gak berani cium mas duluan kayak kamu."


Alfiya tersentak sejenak merasa tersindir.


Elvan lantas menyunggingkan bibirnya. "Kenapa? Enak gak kalau dibanding-bandingin? Sekarang bilang, apa coba perbedaan mas sama pacar kamu itu?"


Pacar?


Alfiya tersenyum, tadi Elvan bilang apa? Pacar? Alfiya lantas menunduk seperti menahan tawanya. Jadi, laki-laki yang ada ini akhirnya cemburu, begitukah?


Aduh, rasanya Alfiya tidak bisa lagi menahan tawa. Kok, imut banget ya. Ia lalu menatap Elvan dengan mata yang membulat.


Elvan memiringkan wajahnya. "Kamu lagi ngeledek mas?"


Melihat itu, Alfiya kemudian melepaskan apa yang ita tahan sedari tadi, gadis itu lantas tertawa.


"Fi!" Elvan berseru. Alfiya begitu sengaja mempermainkannya. "Alfiya." ujarnya berusaha menghentikan tawa.


Alfiya pun lantas berusaha menghentikan tawanya. "Ih, kok mas lucu banget sih." ujarnya gemas.


Elvan mengernyit bingung. "Kamu kenapa sih." melihat Alfiya kembali tertawa Elvan pun berdecak sebal. "Udah, kita pulang aja kalau begitu." berbalik menatap kedepan. "Padahal tadi mas mau kasih kamu kejutan."


"Oh iya, kejutan apa? Romantis gak kejutannya." Alfiya mulai lagi, rasanya ia sangat suka menggoda Elvan.


Menunggu jawaban Elvan, gadis itu malah mendapat tatapan tajam.


"Marah?" Godanya lagi.


Elvan benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Alfiya. Bisa-bisa gadis ini bercanda seperti ini terhadapnya.


Lalu Elvan berujar. "Kita akan berangkat kebali, sesuai apa yang kamu minta. Selama tiga hari, dan selama tiga hari jangan sampai kamu menyebut laki-laki itu lagi." Elvan mendengus sebal. "Kalau kamu coba-coba sebut nama dia, kamu gak mas ajak pulang."


"Sebut nama siapa?" Alfiya memancing.

__ADS_1


"Pacar kamu!"


Alfiya kembali tersenyum, benar-benar cemburu rupanya.


"Emang kenapa kalau aku selalu sebut nama pacar aku." sepertinya Alfiya benar-benar sengaja meloloskan kalimat itu dari mulutnya.


Sudut hati Elvan lanyas berdenyut. "Fi!" Elvan mendengus kasar, Alfiya benar-benar menyebalkan. Anak ini rupanya sengaja membuat emosinya naik.


"Mas, maaf ya." Gadis itu lalu beranjak dari duduknya. Lalu mendekati Elvan. Dan dengan santainya ia melangkah dan duduk dipangkuan Elvan dengan kedua kaki terbuka lebar.


"Harusnya mas gak marah kalau aku sebut nama pacar aku tiap hari." Alfiya semakin sengaja memancing reaksi Elvan. Cup, cup, sembari mengelus-elus bahu Elvan pelan dengan senyuman di bibirnya.


Elvan lagi-lagi tersentak. "Oh, jadi kamu benar-benar masih anggap dia pacar. Terus mas? Mas kamu anggap apa?" Emosi Elvan benar-benar tidak bisa terkendali. Kenyataannya setiap kali Alfiya mengingatkannya pada anak itu harga dirinya serasa direndahkan.


Melihat itu Alfiya lantas melingkarkan tangannya pada leher Elvan.


Elvan kembali bingung, sementara masih berusaha menahan diri. Maunya apa sebenarnya anak ini.


Alfiya berbisik pelan. "Sekarang kan pacar aku itu mas."


"Mas Elvan itu suami rasa pacar." gadis itu kemudian semakin mengeratkan pelukannya.


Elvan melemas, tidak tahu saja Alfiya bahwa perasaan laki-laki itu cenat-cenut tadi. Anak jaman sekarang gombalannya benar-benar tidak masuk akal.


"Jangan begini, Fi. Candaan kamu keterlaluan."


"Aku cuma mau tau perasaan mas sebenarnya buat aku...."


Elvan memejamkan mata sejenak hatinya masih kelu saat itu oleh tingkah Alfiya barusan. "Bukannya mas udah bilang, kalau mas menyayangi kamu...."


"Cuma sayang? Mas gak cinta aku?" protesnya.


Elvan lalu memberi penjelasan. "Sama seperti kamu, mas juga butuh waktu, Fi."


Alfiya lalu melepaskan pelukannya sejenak. "Ya udah, mas usaha buat bisa cinta sama aku." pintanya. "Dan, aku juga akan berusaha untuk membuat mas mencintai aku."


"Mas akan berusaha mencintai kamu. Sekaligus berusaha membuat kamu lepas dari laki-laki itu dan memberitahu publik tentang pernikahan kita secepatnya. Kita gak perlu menunggu sampai satu tahun. Lebih cepat semua orang tahu, lebih baik bukan." Elvan mengakhiri ucapannya dengan senyum yang sulit diartikan.


Alfiya termangu sejenak niatnya ia yang mengerjai Elvan tapi malah dirinya yang merasa terhenyak. Mau bagaimana lagi, sesungguhnya ia belum siap untuk memberitahu publik tentang pernikahan mereka secepat itu, apa lagi dengan Joe.


Alfiya belum siap menghadapi apa konsekuensinya nanti.


...Happy Reading!...


...Komen dong yang mau lanjut! Aku agak lesyu nih buat nulis 😅 Iya, gak semangat gitu....


...Kasih like, Vote, koin juga boleh....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2