DILEMA - Turun Ranjang

DILEMA - Turun Ranjang
Terimakasih Sudah Mencintaiku


__ADS_3

****


Sementara itu di dalam kamar. Gadis yang masih terus terbayang-bayang akan kata yang entah kenapa terus-terusan terbesit dalam pikirannya itu tengah duduk disisi ranjang sambil sesekali memandangi sosok kecil yang tengah tertidur pulas disampingnya.


Ia benar-benar sakit hati atas ucapan dan perilaku Elvan tadi. Kenapa coba harus marah-marah. Lalu dia harus bagaimana? Menelepon Joe, lalu mengatakan putus pada laki-laki itu malam ini juga dengan alasan bahwa dirinya sudah menikah, begitukah?


Menghayal memang gampang, tapi apa semudah itu ia mengatakannya dan apa semudah itu juga Joe akan menerima keputusannya.


Elvan benar-benar menyebalkan. Apa-apaan laki-laki itu. Membentaknya, mengatainya selingkuh, mengabaikannya lalu malam ini ia pergi begitu saja. Dan, lagi pula siapa yang mencoba mempermainkannya.


Selingkuh?!


Mempermainkan?!


Kata-kata tersebut terus terngiang-ngiang ditelinga Alfiya. Ah, Elvan benar-benar berhasil membuat jantungnya terus berdenyut-denyut.


Lihat saja nanti kalau laki-laki itu pulang, dia akan bersikap masa bodoh. Percuma kan dia memperdulikannya, kalau hanya akan dibalas dengan kata-kata menyakitkan. Lihat saja dia tidak akan meperhatikannya lagi, tidak akan menoleh jika dia memanggil dan dia tidak akan menatap matanya sedikit pun.


Dan, tiba-tiba disaat Alfiya tengah sibuk menggerutu dalam hati.


Cklek! Tiba-tiba terdengar suara knop pintu.


Laki-laki itu sudah pulang rupanya. Sebentar juga ternyata dia pergi. Kenapa tidak sampai besok saja baru pulang?


Benar saja, setelah pintu kamar terbuka lebar. Disana Elvan berhenti sejenak dan menatapnya.


Sial, lagi-lagi jantung Alfiya berdegub kencang. Ayo dong, dia sudah berjanji untuk tidak memperdulikannya. Jangan terpesona Alfiya.


Dengan masih belum melepas tatapannya, Elvan berjalan mendekat setelah menutup pintu kamar.


Namun, sebelum Elvan benar-benar menghampiri, Alfiya seketika beranjak. Ia lantas langsung memalingkan wajah, enggan untuk melihat Elvan sedikit pun. Ingat dia akan bersikap bodoh amat bukan.


Gadis itu lalu melangkah, jelasnya niatnya saat ini untuk menghindari laki-laki menyebalkan itu.


"Fi!"


Alfiya tak menghiraukan panggilan tersebut, langkahnya tetap berjalan dan berhasil melewati Elvan.


Tau Alfiya akan keluar Elvan segera mencekal lengan gadis itu. "Fiya!" panggilan itu terdengar memelas, seperti menyesali sebuah kesalahan.


Alfiya tak menjawab, dia tidak ingin luluh saat itu juga. Dengan pelan ia melepaskan cekalan tangan Elvan dari pergelangannya.


"Mau kemana?"


Masih tak menjawab, Alfiya lantas membuka pintu kamar dan lagi Elvan menahannya.


"Mas, Elvan kenapa sih?" wajah gadis itu lantas langsung memerah ada emosi yang tertahan disana.


"Malam ini tidur sini ya...."


"Nggak mau!" sambar Alfiya cepat.

__ADS_1


"Fi!" Masih berusaha mencekal pergelangan Alfiya.


"Mas, Elvan kenapa sih!" Menarik tangan. "Aku mau keluar, tugas aku udah selesai, kan?"


"Tugas?!"


"Iya!" Seru Alfiya. "Tadi mas cuma nyuruh aku jagain Gian sampai mas pulang, sekarang tugas aku udah selesai aku mau balik kekamar."


"Tunggu, Fi." Elvan terus menampakkan raut wajah bersalah.


Alfiya lantas menoleh. "Mas, mau ngapain? Mau ngatain aku selingkuh lagi, iya?"


Kali ini Elvan memilih diam. Hingga sesaat keheningan pun terjadi.


Lantas oleh keheningan itu Alfiya pun menginterupsi. "Udah, aku mau keluar." Kemudian bergegas.


Namun, tidak Elvan malah menarik punggung gadis itu dan mengunci Alfiya dalam pelukannya.


Tak pelak, sebelum Alfiya memberontak, ia pun langsung mengangkat tubuh Alfiya. Membuka pintu kamar lalu membawanya keluar.


Alfiya kebingungan saat Elvan membawanya keluar dari kamar. Baik laki-laki ini benar-benar tidak sabar untuk mengusirnya keluar dari kamar.


"Mas, turunin!" Alfiya memberontak. "Turunin gak!" Akhirnya dengan gerakan sekuat tenaga ia pun berhasil turun dari gendongan Elvan.


"Mas gak perlu gini buat usir aku, aku bisa kok keluar sendiri dari kamar mas." Alfiya pun lantas memutar tubuhnya. Tega! Benar-benar kejam. Sebegitu tidak inginkah Elvan akan kehadirannya dikamar itu. Bahkan ia sudah berniat keluar sendiri tapi laki-laki itu malah menggendonya agar ia cepat keluar.


"Ngeselin!" umpatnya.


Elvan yang mendengar umpatan itu lantas berdecak. Ia lalu berjalan cepat hingga berhasil mendahului gadis itu dan berada tepat didepannya. Mencekal pergelangannya dengan segera lalu menariknya masuk ke dalam kamar Alfiya.


Elvan berusaha mendekati Alfiya. Namun gadis itu menolak dan memundurkan tubuhnya.


"Aku gak mau lihat mas disini." Ujarnya tersengal.


Pada akhirnya Elvan kembali menarik Alfiya ke dalam pelukannya. "Mas, minta maaf. Malam ini kamu tidur sama mas dan Gian, ya?"


"Gak, mau!" Alfiya berusaha mendorong tubuh Elvan." Buat apa? Bukannya mas bilang aku berselingkuh dan mainin perasaan mas Elvan." ujarnya berontak.


Elvan terdiam sejenak, ia tahu ini salahnya. "Fi...." laki-laki itu memeluk semakin erat. Jangan, mohon.... jangan seperti ini." Ia hanya takut, Elvan takut kehilangan lagi.


"Kita ke kamar, sama Gian. Mas janji gak akan bilang begitu lagi."


"Gak, mau! Nanti mas bentak aku lagi." masih berusaha lepas dari pelukan Elvan.


"Nggak akan, Fi. Mas minta maaf karena udah ngebentak kamu, mas juga salah karena gak mau memahami kamu."


"Kenapa mas gak marah aja sampai besok, atau tiap hari sekalian. Marah aja terus biar aku terus-terusan nahan sakit hati." lirihnya didalam pelukan itu.


Elvan masih tidak menggubris. Laki-laki itu malah menghembuskan nafas berat karena perasaannya juga sesak saat ini. Sesak di karenakan melihat Alfiya yang sakit hati oleh perbuatannya. Hah, bagaimana ia harus membuat gadis ini luluh. Padahal beberapa hari ini Alfiya lah yang berusaha untuk terus menarik perhatiannya.


"Aku mau mas Elvan keluar sekarang." Dengan air mata yang tiba-tiba menetes. "Aku bener-bener gak mau lihat mas sekarang, mas itu nyebelin!" Ujarnya, seolah itu adalah pembalasan dendamnya terhadap laki-laki dihadapannya ini.

__ADS_1


"Hmm.... maafin mas." ujarnya sembari mengecup puncak kepala gadisnya.


"Aku kesel sama mas. Aku gak mau lihat mas apalagi disentuh...." lirihnya, padahal nyatanya ia tengah berada di pelukan Elvan saat itu.


Elvan lantas memejamkan matanya dalam-dalam, ia memeluk Alfiya semakin erat. Seolah benar-benar tidak ingin lepas dari gadis itu.


Wajah Elvan terbenam diceruk leher Alfiya yang mulus. "Mas, sayang kamu, Fi."


Deg! Jantung Alfiya berdegub. Ini pertama kalinya Elvan berkata kalau laki-laki itu menyayanginya.


"Mas, sayang kamu. Mau cuma gak mau kamu pergi, mas takut kamu pergi dan kembali lagi dengan laki-laki itu."


Alfiya lantas meremas baju kaos Elvan dengan kuat, ia begitu terenyuh mendengar kata-kata itu. "Mas...." lirihnya.


"Berjanjilah, kamu akan selalu disisi kami, disisi aku dan Gian. Mas butuh kamu, Fi." ucap Elvan penuh ketulusan. "Mas, benar-benar takut kamu pergi. Mas takut gak bisa menghadapi masa depan jika tanpa kamu, mas takut Gian akan benar-benar kehilangan bundanya. Mas, gak mau melepaskan kamu. Mas gak sanggup rasanya jika hidup tanpa kamu...." Elvan meneguk ludahnya kelu oleh ucapan yang penuh harapan itu.


"Cukup Anggita yang pergi meninggalkan mas dan Gian, jangan kamu." Elvan tak bisa menahan rasa sesaknya.


"Mas sudah ikhlas melepas Anggita pergi, mas sudah mengikhlaskannya. Tapi jika kamu meninggalkan mas dan Gian. Rasanya mas gak akan sanggup menghadapi hidup ini, Fi...."


Alfiya benar-benar tidak kuat lagi mendengar ucapan itu. Ia lantas mendorong tubuh Elvan sejenak memberi jarak untuk saling menatap. Dadanya tersentak, ia tak kuasa lagi menahan air matanya oleh ucapan itu. Sungguh kata-kata itu membuatnya terharu. Ia tidak menyangka dengan ucapan Elvan barusan.


"Mas...." Kali ini Alfiya benar-benar tidak bisa menahan air matanya keluar. "Aku...." ia terisak sejenak. "Aku gak akan ninggalin mas dan Gian...." Alfiya menggeleng. "Gak akan mas...."


Mata Elvan lantas menatap haru. "Terimakasih, Fi. Terimaksih...." lirih Elvan.


Alfiya sudah tidak tahan lagi, dengan cepat ia menarik tengkuk leher Elvan lalu mendaratkan kecupan dibibir laki-laki itu, sementara Elvan memejamkan matanya dalam menerima sentuhan dari dari bibir ranum tersebut.


Lalu setelah kecupan itu selesai. "Aku mencintai mas Elvan." Akhirnya kalimat yang sudah tertahan itu pun berhasil ia ucapkan. "Aku cinta kamu mas, aku akan terus mencintai kamu, dan juga Gian...." ia rasanya tidak cukup sekali Alfiya mengucapkan kalimat itu. Rasanya tidak cukup untuk mengungkap rasa yang ia tahan selama ini.


Elvan lantas menurunkan kepalanya. Ia perlahan membalas kecupan yang Alfiya tadi dengan lembut. Memagutnya dengan penuh kemesraan seraya memejamkan mata. Hingga Alfiya pun membalas tak kalah mesra penuh perasaan cinta.


Lalu saat ciuman itu terlepas. "Terimakasih...." Elvan membuka matanya yang tadi terpejam. "Terimakasih karena telah memberikan cinta kamu untuk mas dan Gian.... Maafkan mas karena tadi telah menyakiti kamu. Mas, menyayangi kamu, Fi."


Alfiya mengangkat tangannya. Lalu mengusap air mata yang mengalir dari sudut mata Elvan. Sekarang ia paham kenapa tadi Elvan bersikap seperti itu padanya. Elvan hanya tidak ingin dia pergi dari hidupnya dan Anggian. Sekarang ia sadar mereka hanya perlu memahami satu sama lain.


Elvan kembali memeluk Alfiya dengan erat. Merengkuh tubuh gadis itu dengan hangat. "Terima kasih sudah mencintai mas, Fiya."


Alfiya membalas pelukan Elvan dengan air mata haru yang masih mengalir, sungguh perasaan yang Elvan curahkan saat ini benar-benar berhasil meluluhkan hati dan perasaannya.


*


*


*


*


...Happy Reading!...


...Jangan lupa untuk Vote, Like and Komen, Ges!...

__ADS_1


...Kasih koin juga boyeh!...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2