
*
*
*
*
Semua keluarga yang menjenguk Alfiya sudah pulang kerumah. Termasuk Anggian, walaupun sempat rewel tidak ingin pulang dan lebih ingin menginap bersama sangat bunda namun Alfiya berhasil membujuknya.
Melihat keadaan Anggian yang seperti itu tentu saja membuat Alfiya berniat untuk cepat-cepat memulihkan keadaan fisik. Besok memang ia sudah boleh pulang ke rumah, akan tetapi kejadian yang ia alami saat ini membuatnya berpikir untuk lebih bisa menjaga diri lagi kedepannya. Karena biar bagaimana pun juga, sempat terlintas di benak Alfiya kalau kelalaiannya dalam menjaga kesehatan juga merepotkan orang disekitar. Walaupun kenyataan tidak seperti itu, justru orang-orang disekelilingnya sangat khawatir.
Sementara itu Elvan lah yang akhirnya memutuskan untuk terus mendampingi istrinya dirumah sakit. Ia melakukannya karena ingin menjaga Alfiya. Membantu istrinya itu dalam melakukan banyak hal seperti mandi, mengawasi Alfiya makan dan juga hal-hal kecil lainnya.
Seperti saat ini Alfiya baru saja menyisir rambut sementara itu Elvan yang baru mengakhiri panggilan telepon dengan rekan kerjanya segera menghampiri karena sang istri memanggil.
"Mas." Ujar Alfiya yang saat itu duduk pada sisi ranjang. Sisir yang ia gunakan tadi diletakkan pada paha sementara satu tangannya lagi menggenggam rambut yang tinggal dikuncir.
"Mas tolong cariin ikat rambut diatas meja." Masih menggenggam rambutnya yang sudah tersusun rapi. Tentu saja ia agak kesulitan kemana-mana karena tangannya masih tersambung pada infus yang masih dibutuhkan untuk pemulihannya.
Elvan lantas melangkah dan mengambil ikat rambut berwarna merah muda yang tergeletak diatas meja. Namun pandangan matanya kemudian beralih pada sebuah buket bunga mawar berwarna merah pada sofa dihadapannya. Sembari menggenggam ikat rambut yang akan ia berikan pada Alfiya, ia kemudian berniat untuk melihat buket bunga tersebut dengan rasa penasaran.
Dari siapa?
Bapak dan ibuk tidak mungkin akan memberikan buket bunga seperti ini, apa lagi Rian itu sangat mustahil. Elvan baru menyadari keberadaan buket bunga ini karena sedari tadi tidak terlalu ia perhatikan.
"Fi!" Panggil Elvan.
"Iya." Alfiya yang menunggu menyahut. "Ikat rambutnya ada mas?"
"Ini bunga...." Elvan menggantung ucapannya.
"Bunga apa mas?" Wanita itu lalu turun dari ranjang untuk menghampiri Elvan. Ia raih botol infus yang menggantung pada besi lalu membawanya.
"Bunganya kan sudah ada dari tadi." Ujar Alfiya karena memang begitu adanya.
"Sejak kapan?" Tanya Elvan sembari melepas kartu ucapan yang mengait pada pita bunga itu.
"Sejak aku bangun tidur." Iya Alfiya ingat tadi dia tertidur setelah meminum obat. Tepatnya ia tidur saat jam 2 siang setelah keluarga yang menjenguk pamit pulang.
Elvan terdiam sesaat, apalagi setelah ia membaca isi dari kartu ucapan itu.
__ADS_1
...Fi, aku yakin kamu tau ini aku. Temui aku di cafe Pelangi hari minggu ini disore hari. Aku yakin hari itu kamu sudah keluar dari rumah sakit. Ada hal penting yang harus aku bicarakan....
...Cepat sembuh ya,...
...J...
Dada Elvan memanas, namun ia berusia menguasai dirinya agar tidak tersulut amarah. Yang ada di dalam pertanyaan sekarang bagaimana bisa anak itu bisa masuk ke dalam ruangan ini. Namun tidak bisa Elvan pungkiri, tadi saat Alfiya tertidur dirinya memang sempat meninggalkan ruangan ini sejenak. Apa mungkin ia diam-diam masuk saat Elvan tidak ada?
Diremasnya pelan kertas berisi pesan singkat itu, lalu Elvan masukkan ke dalam saku celananya.
"Kenapa mas? Apa tulisannya? Memang bunganya dari siapa?"
Elvan lantas menoleh pelan ke arah Alfiya. Lelaki itu lalu tersenyum untuk menyembunyikan apa yang ia ketahui saat itu. "Dari teman kantor mas." Iya, lebih baik dirinya tidak memberi tahu dari siapa buket bunga tersebut.
Oh, Alfiya lantas mengangguk walau bingung melihat ekspresi Elvan yang agak aneh saat itu.
"Sini mas ikat rambut kamu." Elvan langsung berusaha mengalihkan situasi.
Lelaki itu lalu duduk pada sofa, kemudian menarik pinggang Alfiya untuk duduk di pahanya. Wanita itu memekik sesaat karena sedikit terkejut yang langsung membuat Elvan terkekeh pelan.
"Mundur lagi, Fi." Pinta Elvan pada Alfiya karena duduk wanita itu terlalu diujung paha sehingga membuat Elvan kesulitan untuk mengikat rambut.
"Iya mas." Agak kesusahan sebenarnya Alfiya untuk duduk pada kedua paha Elvan yang menyatu seperti ini. Namun ia berusaha duduk tenang sementara Elvan akan mengikat rambutnya.
"Mas bisa?" Tanya Alfiya yang sedikit meringis karena tenaga Elvan yang tengah mengikat rambutnya terlalu kuat sehingga membuat sebagian rambutnya tertarik sangat kencang.
"Sakit?" Tanya Elvan menghentikan gerakan tangannya sejenak.
"Sedikit." Sahut Alfiya.
"Ya udah, mas pelanin. Maaf ya." Lirihnya.
Alfiya ber-em pelan atas permintaan maaf itu. "Iya nggak apa-apa."
Hingga kemudian dapat dirasakan gerakan tangan Elvan pun menjadi lebih pelan dan sangat hati-hati. Walaupun lama karena Elvan memang tidak ahli dalam mengikat rambut namun Alfiya tidak banyak protes dan tetap sabar menunggu sampai selesai.
Lain Elvan, pikirannya masih melayang pada kiriman buket bunga mawar merah yang terletak diujung sofa. Agaknya memang ia harus lebih bertindak untuk menangani anak yang tidak ingin ia sebut namanya itu.
Elvan khawatir kalau Alfiya kembali bertemu anak itu takutnya akan mempengaruhi pikiran lagi. Elvan tidak ingin Alfiya kembali memikirkan banyak hal dan akhirnya berakhir buruk lagi pada fisiknya, seperti beberapa hari lalu terjadinya keguguran yang Alfiya alami ternyata adalah dampak dari masalah yang bertumpuk dan banyak dipendam. Dan sesungguhnya hal tersebut juga pukulan berat bagi Elvan. Ia tidak tahu kalau Alfiya yang terlihat baik-baik saja ternyata selama ini memendam semua perasaan tidak enaknya.
"Sudah Fi." Ujar Elvan karena akhirnya berhasil mengikat rambut Alfiya yang menurutnya sudah rapi.
__ADS_1
Alfiya lalu menoleh kebelakang. "Makasih ya mas." Sembari menyentuh rambutnya yang terikat.
Senyum Elvan mengembang saat itu. Lalu yang keduanya lakukan hanya saling bertatapan dengan posisi yang belum berubah, yaitu Alfiya masih berada di pangkuan Elvan dengan posisi tubuh membelakangi.
"Kenapa melihatnya begitu?" Tutur Alfiya. "Aku cantik ya." Lalu tertawa tipis.
Alfiya tidak tahu saja kalau saat itu sebenarnya Elvan tengah memendam khawatir. Bagaimana ia tidak khawatir kalau saat ini istrinya masih diincar lelaki lain yang membuatnya harus memikirkan cara lagi untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.
"Mas kenapa?" Sentak Alfiya akhirnya karena menurutnya Elvan nampak melamun saat itu.
Apa jangan-jangan anak itu sedang berkeliaran disini saat ini? Atau mengintip mereka dari sela-sela kaca pintu. Elvan terus bertanya dalam hati.
Dan Elvan menjadi semakin sebal karena pikiran buruk dan rasa curiga akhirnya terus menghampiri sejak membaca pesan dari kartu ucapan pada buket bunga tadi.
"Fi." Akhirnya Elvan bersuara. "Hadap sini."
"Iya." Sahut Alfiya, sementara kedua tangan Elvan tengah menyetuh pinggangnya mengubah posisi untuk duduk miring.
Alfiya berpegang pada kedua bahu Elvan. Dan yang terjadi selanjutnya adalah kedua tangan laki-laki itu memegang kedua sisi wajah Alfiya.
Elvan lantas menyunggingkan bibir yang langsung membuat Alfiya bingung melihatnya.
"Mas Elvan kenapa?"
Berani mengganggu istrinya, berarti harus berani berhadapan dengannya. Elvan lalu menghadapkan wajahnya pada pintu. Benarkah 'anak itu' sedang mengintip mereka saat ini atau hanya perasannya saja?
"Mas?" Alfiya masih binggung dengan keanehan raut wajah sangat suami. "Mas Elvan kenapa si? Kok aku nanya di cuekin." Wajahnya pun berubah sedikit sebal.
Sadar lelaki itu lalu menoleh kembali pada Alfiya. "Nggak apa-apa." Ujar Elvan tersenyum penuh arti.
Setelah itu tak banyak pikir lagi, lelaki itu lantas mendekatkan wajahnya pada Alfiya. Selintas keduanya saling berbalas senyum yang penuh makna. Lalu Elvan menyatukan bibir mereka dengan lembut yang membuat Alfiya langsung memejamkan mata. Mereka pun saling bertaut dan mengecap mesra. Hingga lambat laun berubah menjadi ciuman panas seperti sedang kehausan.
...Happy Reading!...
...Semoga Kalian semua menikmati cerita ini....
*
*
*
__ADS_1
*